
"Mas! Gimana caranya kita melupakan Arez? Ya Allah." Sweet bangun dari posisinya dan hendak pergi untuk mencari putranya. Ia benar-benar takut jika Arez hilang. Namun langkah Sweet tertahan saat melihat Arez berjalan dengan santai bersama dua anak laki-laki tampan lainnya. Juga sepasang suami istri dibelakang mereka. Mereka tak lain adalah Arlan dan Ara juga kedua putranya. Kehadiran mereka juga tentunya menjadi sorotan mata semua orang, juga beberapa media.
"Arez?" Sweet pun langsung menghampiri anaknya. "Kemana saja kamu huh? Buat Mommy cemas tahu gak sih?"
"Tante, sejak tadi Arez bersama kami. Paman juga tahu kok." Kata Ara yang berhasil membuat Sweet kaget. Ia pun langsung menoleh ke arah suaminya. Namun Alex seolah-olah tak tahu apa pun. Pantas saja Alex terlihat santai saat tahu Arez tak ada bersama mereka. Ternyata lelaki itu mengerjainya.
Ara dan Arlan pun tertawa renyah saat melihat wajah kesal Sweet. "Kami tidak menyangka Paman sejahil itu?"
"Huh, bahkan ini bukan yang pertama kalinya, Ara. Aku ingin membunuhnya sekarang." Kesal Sweet melangkah cepat ke arah suaminya.
Ara dan Arlan yang melihat itu hanya saling menatap.
"Mereka memang seperti itu, masih kekanakan." Ujar Arez yang kemudian berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang tengah beradu argumen. Diikuti oleh Ichal dan Faraz yang mengekorinya di belakang. Sedangkan Ara dan Arlan masih terpaku di tempat.
"Ya ampun, Ara merasa ada yang aneh dengan sikap Arez. Apa Hubby menyadari sesuatu?" Tanya Ara pada Arlan.
"Hubby rasa Arez mirip dengan Tante Ana. Kamu masih ingat kan cerita Mama?"
Ara pun mengangguk dan kembali mengulas senyuman geli. Lalu ia pun menyusul kedua putranya. Sedangkan Arlan beranjak menuju meja akad, sebagai wali dari Mala.
Lain halnya dengan Alex dan Sweet. Mereka masih cekcok hanya karena masalah Arez tadi.
"Aku membencimu, Mas. Satu bulan ini jangan minta jatah." Kesal Sweet sambil melipat kedua tangannya di dada. Arez yang duduk di sebelahnya pun memilih diam dan menutup telinga rapat-rapat.
"Apa kau yakin, Sayang? Bukankah dirimu yang selalu merengek dan memintanya padaku huh?" Goda Alex. Meski semua itu benar adanya.
"Itu kesalahanku, besok tidak lagi." Ketus Sweet dengan wajah kusutnya.
"Itu artinya masih ada malam ini." Sweet memukul lengan Alex dengan keras. Ia benar-benar kesal dengan suaminya. Sudah ribuan kali Alex mengerjainya. Sampai mereka tak menyadari jika salah satu kamera sejak tadi mengarah ke sana. Mungkin besok akan ada gosip panas tentang kemesraan pengusaha Alexander Digantara dengan sang istri di pernikahan putri mereka.
Akad nikah pun berjalan dengan lancar. Kini Mala sudah sah menyandang status sebagai istri Bian. Wanita itu sedikit melirik lelaki di sebelahnya. Ia bingung harus melakukan apa sekarang.
"Mala, cium tangan Bian." Bisik Milan yang sejak tadi menunggu Mala melakukan itu. Namun wanita itu terdiam seperti patung dan membuat Milan merasa heran. Pada akhirnya ia harus bangun dari posisinya dan menghampiri Mala.
Dengan ragu Mala meraih tangan suaminya, lalu mengecupnya dengan singkat. Mala hendak mengangkat kepalanya, tetapi tangan Bian lebih dulu meraih tengkuknya. Tentu saja Mala kaget dan hendak berontak. Namun tubuhnya seketika kaku saat benda kenyal itu lebih dulu menempel dikeningnya. Perlahan ia juga merasakan sebuah kehangatan menyusup kehatinya, dan tanpa sadar matanya tertutup.
"Aku harap kau selalu bahagia di sisiku, my lovely wife." Bisik Bian yang berhasil mengejutkan Mala. Wanita itu langsung membuka matanya dan sedikit mendorong tubunya ke belakang. Bian tersenyum geli saat melihat keterkejutan di mata Mala.
"Kau sangat menggemaskan, Sayang." Dengan sengaja Bian menautkan jemarinya di jari lentik sang istri.
"Jangan berontak, semua kamera mengarah pada kita." Bisik Bian saat Mala hendak menolaknya. Dan itu berhasil membuat Mala patuh. Bian tersenyum smirk, ternyata istrinya itu begitu patuh dengan sebuah ancaman.
Setelah urusan akad selesai, kedua mempelai pun naik ke atas pelaminan. Menyambut tamu undangan dari berbagai kalangan. Baik kolega Bian maupun dari sebelah Mala. Namun mereka tak menyangka, jika Alex mengundang beberapa orang penting negara. Termasuk salah satu teman Mala yang kini menjabat sebagai komandan militer. Juga teman-teman kuliah Mala yang hampir semuanya sudah menjadi orang terpandang.
Apa aku mati saja sekarang? Pikir Mala mulai mual saat melihat teman-temannya naik ke atas pelamianan. Ia sangat tahu seperti apa watak mereka semua.
__ADS_1
Seorang wanita dengan penampilan glamour sedikit berlari menghampiri Mala. "Mala... Ya tuhan, akhirnya kau menikah lagi. Dan lihat, kau mendapatkan lelaki tampan dan seksi. Aku bisa melihatnya, meskipun dia duduk di kursi roda. Tapi tenaganya diranjang tak bisa diragukan, lihat ototnya itu. Owh... aku tak bisa membayangkan." Wanita itu terus mengoceh dengan bahasa Prancis. Berharap lelaki yang ia bicarakan tak mengerti ucapannya. Wanita itu merupakan teman dekat Mala saat kuliah dulu.
"Hentikan itu, Nancy. Otakmu tak pernah berubah, dasar mesum." Kesal Mala yang disambut tawa oleh Bian. Sontak kedua wanita itu pun terkejut dan menoleh ke arah Bian.
"Maaf, Nona. Hanya istriku yang boleh membayangkan kehebatanku di ranjang. Lagi pula dia yang akan merasakannya." Sahut Bian dengan bahasa Prancis yang begitu fasih. Membuat dua wanita itu menganga.
"Ya tuhan, kau memilih suami atau penerjemah? Bagaimana bisa dia mengerti bahasa Prancis?" Bisik wanita bernama Nancy itu. Dan sekarang ia menggunakan bahasa Italia.
"Aku juga tidak tahu." Sahut Mala tidak habis pikir. Ia benar-benar tidak tahu jika Bian mengerti bahasa asing selain Jerman dan Inggris.
"Aku juga bukan penerjemah, hanya saja mengerti beberapa bahasa, Nona." Balas Bian kembali membuat keduanya memekik kaget. Lagi-lagi Bian menggunakan bahasa Italia dengan fasih.
"Sebaiknya aku pergi dari sini. Selamat untuk kalian berdua, segera lahirkan anak jenius sepertinya. See you, Mala." Pungkas Nancy mencium pipi kanan dan kiri Mala. Lalu beranjak turun dari pelaminan.
"Nona, dikeningmu sudah ada sedikit kerutan. Sebaiknya Anda segera mencari pasangan hidup." Gurau Bian menggunakan bahasa Belanda. Sontak Nancy menahan langkahnya dan berbalik.
"What?" Tanyanya bingung. Pasalnya ia tak memahami bahasa Belanda.
"Tidak ada Nancy, dia cuma mengagumi kecantikanmu." Sahut Mala tak ingin membuat temannya malu. Tentu saja ia memahami ucapan Bian, karena ia juga mengerti bahasa itu. Sedangkan Nancy yang sudah kepalang malu pada Bian pun hanya memberikan jempol. Lalu bergegas pergi dari sana.
"Bagaimana kau bisa berbagai bahasa?" Tanya Mala pada suaminya. Ia juga sangat heran dengan suaminya itu yang memahami beberapa bahasa dengan begitu fasih.
"Kau akan tahu jika kita sudah benar-banar menjadi istriku." Bisik Bian. Mala yang mendengar itu mendengus kesal.
"Selamat, Mala. Semoga kalian selalu diberkahi kebahagiaan. Aku tidak berani mengatakan apa pun. Suamimu membuatku tercengang." Ujar teman Mala yang lainnya. Padahal mereka berniat untuk memuji ketampanan yang di miliki suami temannya itu. Sepertinya mereka trauma dengan apa yang Nancy alami.
"Sebaiknya kita langsung berfoto saja bagaimana? Untuk mempersingkat waktu. Aku lihat ribuan tamu undangan sedang menunggu giliran." Ujar wanita itu yang dijawab anggukan oleh Mala.
"Tunggu! Di mana Nancy? Apa dia benar-benar pulang?"
"Jangan pedulikan dia, sejak dulu mulut blongnya itu tak pernah diperbaiki."
Mala tersenyum geli mendengar ocehan teman-temannya. Dan tak menyadari jika sejak tadi Bian terus memperhatikannya. Bian selalu menyukai senyuman itu, senyuman yang selalu membuat jantungnya berdetak kencang.
Setelah selesai berfoto, semua teman-taman Mala pun turun setelah mengucapkan selamat. Dan kini giliran keluarga besar yang naik ke pelaminan.
"Mala," sapa Arlan menghampiri adik kembarnya.
"Kak," balas Mala yang langsung memeluk sang Kakak. Bahkan kini air matanya menetes. Arlan melerai pelukan mereka. Lalu menghapus jejak air mata sang adik.
"Jangan menangis, sekarang kamu sudah punya pundak untuk bersandar. Aku sudah tenang sekarang," kata Arlan mengecup kening adiknya. "Berbahagialah. Segera beri adik untuk Ichal dan Faraz."
Mala tersenyum dan mengangguk pelan. Kemudian Arlan pun beralih pada Bian. "Tolong jaga adikku, aku percaya kamu bisa menjaga dan membahagiakannya." Arlan menepuk pundak Bian. Sedangkan Bian mengangguk sebagai jawaban. Lalu Arlan pun bergegas turun dari pelaminan.
"Mala, selamat ya?" Ucap Ara memeluk adik iparnya. "Aku bahagia bisa menyaksikan kamu menikah. Dan kamu harus tahu, karena acara kamu ini. Akhirnya impianku untuk berkunjung ke Jerman menjadi kenyataan. Thank you so much, kamu memang adik pembawa keberuntungan untukku. Semoga kalian selalu bahagia dan diberikan momongan yang soleh dan solehah."
__ADS_1
"Aamiin... terima kasih, Kak." Balas Mala seraya menarik diri dari dekapan Ara. Lalu matanya beralih pada dua anak tampan yang berdiri di depannya. Ia pun membungkuk.
"Hey, kalian tidak merindukan Aunty?"
"Rindu," sahut Ichal dan Faraz kompak. Lalu mereka juga mengecup pipi Mala secara bersamaan. Mala terkejut dengan sikap manis keponakannya itu. Lalu Mala pun membalas kecupan mereka.
"Umi bilang Aunty bakal tinggal di Surabaya, itu artinya kita bisa ketemu terus." Ujar Faraz begitu menggemaskan.
"Tentu, Sayang. Kalian bisa kapan saja main ke rumah Aunty." Kali ini Bian yang membalasnya. Mala pun menoleh, lalu memberikan tatapan tak suka. Bian selalu saja menganggu kesenangannya.
"Sudah-sudah, kasian yang lain masih antri. Sebaiknya kita turun sambil menunggu sesi foto." Ujar Ara menggengam tangan kedua putranya.
"Kami turun dulu ya?" Mala pun mengangguk pelan. Ara langsung membawa kedua putranya turun.
"Kakak cantik, Papa Bian." Suara satu oktaf milik Alexa pun menggema. Mala dan Bian yang mendengar itu tersenyum senang.
"Sayang, mulai sekarang kamu bisa panggil Kakak cantik dengan sebutan Mama cantik. Karena Kakak cantik sudah menjadi istri Papa Bian." Ujar Bian menarik Alexa dalam pangkuannya.
"Papa, istri itu apa?" Tanya Alexa dengan polosnya. Semua orang yang mendengar itu tersenyum geli.
"Istri itu seorang wanita yang selalu menemani Papa tidur, makan dan kemana Papa pergi, istri harus ikut." Jelas Bian.
"Owh... kayak Mommy dong? Mommy juga selalu tidur dengan Daddy, ikut kemana Daddy pergi." Semua orang yang mendengar itu tertawa riang.
"Anak Daddy memang pintar," puji Alex mengusap kepala putrinya. "Sekarang turun dari sana, karena Papa Bian harus melayani tamu yang datang."
Alexa pun turun dari pangkuan Bian. Lalu memeluk kaki Alex.
"Hanya satu yang aku minta padamu, Bian. Jangan membuat putriku kecewa, buktikan kau pantas untuknya." Ujar Alex mengusap bahu Bian.
"Tentu, aku akan selalu menjaga dan mencintainya dengan segenap hatiku." Balas Bian mengenggam tangan istrinya.
Alex menatap Mala begitu dalam. "Berjanjilah untuk bahagia."
Mala mengangguk, lalu berhambur dalam pelukkan Alex. "Terima kasih... terima kasih karena sudah mau menjadi Ayah terbaik."
"Sudah, sampai kapan pun aku akan tetap menjadi Ayahmu." Alex tersenyum dan mengecup pucuk kepala putrinya.
"Hey, aku juga ingin memeluknya." Hardik Sweet sedikit mendorong suaminya agar menjauh dari Mala. Tentu saja Mala dan Bian terkejut dengan apa yang Sweet lakukan.
"Apa kalian sedang bertengkar?" Tanya Mala penuh selidik.
"Tidak, aku hanya kesal padanya. Selamat untukmu, Mala. Berbahagialah, aku akan selalu mendoakan kalian bisa hidup sampai Kakek Nanek." Ucap Sweet memberikan pelukan singkat.
"Terima kasih, Mom."
__ADS_1
"Ck, sekarang aku bingung harus memanggilmu apa, Kak? Istrimu memanggilku Mom, lalu kau Kakakku. Posisi apa yang sebenarnya kalian berikan padaku huh?"
"Aku rasa kau lebih cocok aku panggil Mom, Ana. Kau sangat cerewet dan mirip Ibu-ibu." Ledek Bian yang disambut tawa semua orang. Sedangkan Sweet mengerucutkan bibirnya karena kesal. Alex pun merangkul istrinya yang begitu menggemaskan. Lalu kehangatan itu pun terus berlanjut sampai acara resepsi usai di pertengahan malam.