
"Bagaimana perasaanmu hari ini?" tanya Sweet seraya menyuapi bubur ke mulut suaminya.
"Perasaanku sangat baik, karena kau yang merawatku." Alex tersenyum dan menatap Sweet begitu dalam.
"Dokter bilang besok sudah boleh pulang," ujar Sweet. Alex pun mengangguk dan kembali menerima suapan dari tangan Sweet.
"Aku harus kembali ke kantor," lanjut Sweet.
"Pergilah, Josh ada di sini bersamaku." Alex mengambil mangkuk bubur dari tangan Sweet. Dan meletakkan di atas nakas.
Sweet menatap Alex cukup lama. "Rumah itu milik Kak Bian. Aku takut dia menyakitimu lagi," ucap Sweet begitu cemas.
"Jangan cemas, tidak akan terjadi apa pun. Meski dia ingin menyakitiku, itu memang haknya. Aku menyakitimu sebagai adiknya. Jika aku berada dalam posisinya, aku akan melakukan hal yang sama."
"Tidak, aku tidak mau melihat kamu terluka lagi, Mas. Sudah cukup dengan apa yang kamu rasakan selama ini. Aku tidak ingin kehilanganmu, jangan membuatku takut." Sweet menggenggam tangan Alex begitu erat. Alex pun tersenyum mendengar kekhawatiran Sweet padanya.
"Tidak akan terjadi apa pun padaku, percayalah." Alex mengecup kening Sweet dengan lembut.
"Berjanji padaku, jangan biarkan orang lain menyakitimu lagi. Aku benci saat kamu terbaring lemah seperti ini." Sweet memeluk Alex begitu erat.
"Kau sangat cerewet, Sayang. Sudah aku katakan, tidak akan terjadi apa pun padaku." Alex merasa senang karena Sweet menyimpan perhatian yang begitu dalam.
"Aku percaya padamu," ucap Sweet yang begitu menikmati pelukan hangat suaminya.
"Anak-anak sekolah?" tanya Alex yang langsung di jawab anggukkan oleh Sweet. Tanpa berniat untuk melepaskan pelukannya.
"Tidak jadi ke kantor?" tanya Alex lagi. Sweet mengangkat kepalanya. Memberikan tatapan menusuk pada Alex.
"Apa kamu begitu ingin aku pergi? Kamu ingin selingkuh dariku, kan?" tuduh Sweet yang berhasil membuat Alex kaget.
"Selingkuh?" tanya Alex bingung.
"Ya, aku tahu wanita itu selalu datang padamu." Sweet mengerucutkan bibirnya. Dan memasang tatapan intimidasi.
"Wanita mana maksudmu?" tanya Alex semakin bingung dengan arah pembicaraan Sweet.
"Ck, aku harus pergi ke kantor." Sweet melepas pelukan dan bangun dari posisinya. Sikap aneh Sweet membuat Alex gusar.
"Sayang, katakan dengan jelas. Siapa wanita itu?" tanya Alex menarik tangan Sweet.
"Itu tidak penting, aku harus segera ke kantor. Jangan mencoba bermain di belakangku," jawab Sweet penuh penekanan. Sebelum pergi, Sweet mencium kedua pipi Alex.
"Ini belum," ucap Alex seraya menunjuk bibirnya.
"Lain kali saja," ucap Sweet berlalu pergi. Membuat Alex semakin gusar.
Apa aku melakukan kesalahan? Pikir Alex
Sweet keluar dari kamar inap Alex. Namun, ia langsung berpapasan dengan wanita yang ia bicarakan tadi. Sweet memasang wajah datar, melewati wanita itu tanpa niat untuk menyapa.
Joshua yang melihat itu merasakan ada aura dingin pada Nyonya besarnya.
"Ada perlu apa anda kemari?" tanya Joshua pada wanita itu.
"Ah, aku hanya ingin bertemu dengan Tuanmu." Wanita itu tersenyum penuh arti.
"Maaf, sebaiknya Anda tunggu di sini."
Joshua pun masuk, menghampiri Alex yang sudah berbaring. "Tuan, istri Tuan Gerald ingin bertemu dengan Anda."
Alex menautkan alisnya. Dan kembali mengingat perkataan Sweet. Ck, aku mengerti sekarang. Tapi itu tidak buruk, aku menyukai sikap posesifnya. Alex tersenyum penuh arti. Joshua yang melihat itu pun tampak bingung.
"Maaf, Tuan. Sepertinya hari ini sangat cerah?" Joshua sedikit meledek Tuannya.
"Ya, aku memang sedang bahagia." Alex kembali memberikan senyuman. Suasana hatinya benar-benar sedang baik. Joshua turut senang melihatnya.
"Ada apa wanita itu datang kemari?" tanya Alex merubah air wajahnya menjadi datar.
"Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin seperti biasa, dia membawakan makanan untuk Anda."
"Cih, dasar wanita tidak tahu malu. Suruh dia pulang, aku tidak ingin diganggu. Dia benar-benar wanita rubah, suami sedang pergi dan dia berani menemui lelaki lain?" Alex terlihat kesal.
Hampir setiap hari Gilly datang ke rumah sakit untuk bertemu Alex. Bahkan tidak jarang ia mendekati Alex. Meski ia harus menerima penolakan setiap kali bertemu. Sudah dua hari, Gerald sibuk dengan bisnisnya. Meninggalkan Gilly sendirian. Membuat wanita itu merasa bebas melakukan segala hal.
"Mungkin dia belum melihat kemarahan Tuan Gerald yang sebenarnya." Sahut Joshua. Alex tersenyum kecut mendengarnya.
__ADS_1
"Ya, dan dia akan segera melihat itu. Gerald hanya menginginkan anaknya, setelah itu aku sendiri tidak tahu apa yang akan wanita itu alami." Alex sama sekali tidak memberikan ekspresi.
"Tuan, bagaimana dengan rencana kita untuk membawa Nyonya kembali?" tanya Joshua sedikit menyinggung rencana awal mereka.
"Aku akan tetap membawa mereka kembali. Tapi tidak sekarang, Josh. Aku harus memperkenalkan dia pada keluargaku."
Joshua pun mengangguk tanda mengerti.
"Kau bisa keluar, Josh. Aku sangat lelah, jangan lupa untuk mengusir wanita itu. Aku tidak ingin istriku salah paham."
"Baik, Tuan. Selamat beristirahat." Joshua pun langsung undur diri. Membiarkan Alex untuk istirahat.
Joshua langsung di sambut oleh Gilly. "Bagaimana?"
"Maaf, Nona. Tuan butuh istirahat, dan tidak dapat diganggu."
"Tapi...."
"Nona, sebaiknya anda kembali. Sebelum Tuan Gerald tahu apa yang Anda lakukan di sini," potong Joshua.
Gilly tampak kesal mendengar perkataan Joshua. Namun, ia juga merasa terancam dengan perkataan Joshua.
"Berikan ini padanya," perintah Gilly seraya memberikan sebuah paper bag pada Joshua. Lalu beranjak pergi dari sana.
Joshua menggeleng, merasa tidak habis pikir dengan orang seperti Gilly. Setelah Gilly pergi, Joshua melempar paper bag itu ke dalam tong sampah. Karena ia tahu, Alex akan menolak pemberian wanita itu.
***
Keesokan hari, Sweet membawa Alex pulang ke rumah. Saat sampai di depan rumah, mereka disambut dingin oleh dua laki-laki yang tengah berdiri di depan pintu. Yaitu Bian dan Hanz yang sejak tadi menunggu mereka. Melempar tatapan tajam pada Alex dan Joshua. Bian mendapatkan kabar jika Alex akan pulang bersama adiknya. Hal itu mendorong dirinya untuk menemui Alex secara gamblang.
"Kak, tolong jangan membuat keributan." Sweet memohon agar Bian tidak mengganggu suaminya lagi.
Mendengar itu, Bian menggerakkan kursi rodanya. Terus bergerak hingga jarak di antara mereka pun menipis.
"Ah, aku pikir kau mati. Jika di lihat dari kondisimu, sangat mustahil untuk hidup. Ternyata kau masih bisa bernapas dengan baik rupanya."
"Kak...." Sweet memperingati Kakak sepupunya agar tidak membuat keributan.
"Aku tidak memintamu untuk bicara, Sweet." Tegas Bian. Sweet pun terdiam.
"Hanz, bawa adikku ke dalam. Urusanku dengan lelaki ini belum selesai," perintah Bian pada Hanz. Lelaki itu pun mengangguk.
"Kau boleh membawanya, tapi jangan pernah menyentuh wanitaku." Ancam Alex saat melihat Hanz hendak menyentuh lengan Sweet.
Ancaman Alex berhasil menahan Hanz untuk menyentuh Sweet.
"Pergilah." Alex mengecup punggung tangan Sweet. Sweet mengangguk. Sebelum benar-benar pergi, Sweet memberikan tatapan penuh ancaman pada Bian. Dan berlalu tanpa sepatah kata pun.
Kini keduanya saling melempar tatapan dingin.Bahkan Joshua yang melihat itu merasakan aura dingin yang begitu kuat.
"Jangan kau pikir aku akan menerimamu dengan mudah. Karena tidak ada tempat untuk kalian di rumah ini," ujar Bian penuh penekanan.
"Ya, aku tahu itu. Karena pada dasarnya rumah kami bukan di sini. Aku akan membawa istri dan anak-anakku kembali ke asalnya." Alex terlihat begitu tenang dalam menghadapi Bian. Berbeda dengan Bian, ia tampak kaget saat mendengar perkataan Alex.
"Kau tidak punya hak untuk melarangku, mereka milikku. Dan aku akan mengambil kembali apa yang seharusnya aku miliki," timpalnya.
"Tidak ada milikmu di sini. Aku peringatkan kau, untuk tidak mengusik kehidupannya lagi." Bian benar-benar kehabisan kata-kata.
"Sebaiknya kau tanyakan pada istriku, ah maksudnya adikmu. Apakah dia bersedia atau tidak ikut bersamaku, sebagai suaminya."
Bian mengeratkan rahangnya, merasa kesal dengan semua perkataan Alex. "Ingat, kau masih berhutang nyawa padaku."
"Kau salah, aku dan keluargaku memang mempunyai banyak hutang pada keluargamu. Tapi tidak untuk hutang nyawa. Mungkin Kakakku adalah salah satu penyebab kematian orang tuamu. Seharusnya kau sudah tahu dengan jelas apa yang sebenarnya terjadi, bukan?"
Kedua tangan Bian mengepal erat. Benar, ia memang mengetahui siapa dalang dalam pembunuhan kedua orang tuanya.
"Aku sudah membayar semua itu, dengan mengirim mereka ke neraka. Jangan pernah lupa, aku maupun dirimu adalah korban utama. Kita kehilangan orang tua yang disebabkan oleh orang yang sama."
"Tidak, kau dan Kakakmu sama saja. Jika Kakakmu tidak menekan keluargaku, orang tua dan Pamanku tidak mungkin mati. Mereka harus merenggang nyawa hanya untuk mencari bukti. Jika saja kau dan Kakakmu ikut mati, mungkin orang tuaku masih hidup saat ini."
"Dasar bodoh!" Umpat seseorang yang berhasil membuat Bian maupun Alex terkejut. Dan menghentikan perdebatan mereka.
"Mau sampai kapan kalian terus ribut?" tanya seorang wanita lanjut usia, Nyonya Sasmitha. Wanita bertongkat itu bergerak menghampiri keduanya bersama Arnold.
"Nenek," sapa Bian seraya mencium punggung tangan Nyonya Sasmitha. Begitu pun dengan Alex, mengecup lembut punggung tangan yang sudah dipenuhi kerutan.
__ADS_1
"Berhenti berdebat, sebagai saudara seharusnya kalian saling mendukung satu sama lain. Bukan saling memusuhi," ujar Nyonya Sasmitha.
"Dia bukan saudaraku," hardik Bian. Dan berhasil mendapatkan pukulan tongkat dari Nyonya Sasmitha. Bian mendesis, menahan rasa sakit di kepalanya yang terkena tongkat.
"Dia adik iparmu, jangan lupa itu. Hentikan dendam bodohmu itu, dan minta maaf padanya. Kau hampir membunuh suami adikmu," ujar Nyonya Sasmitha. Bian terlihat kesal mendengar perintah sang Nenek.
Minta maaf padanya? Lebih baik aku mati. Pikir Bian.
"Apa kabar, Nek?" tanya Alex seraya tersenyum tulus. Nyonya Sasmitha tersenyum senang melihat kondisi Alex saat ini.
"Kabarku baik, setelah mendengar kau baik-baik saja." Nyonya Sasmitha mengusap kepala Alex dengan lembut.
"Lihat, sekarang siapa yang cucunya? Aku atau dia?" Bian menggerutu sambil terus mengusap kepalanya yang sedikit benjol.
Nyonya Sasmitha yang mendengar itu memilih untuk tidak peduli. "Aku harap tidak ada lagi konflik dalam keluarga kita. Lihat, Allah begitu adil. Rencana-Nya begitu indah, mempersatukan kembali dua keluarga yang hampir hancur. Melalui kau dan Ana. Aku harap kalian terus hidup bahagia."
"Aamiin. Terima kasih, Nek." Alex kembali memberikan kecupan di punggung tangan Nyonya Sasmitha. Membuat wanita itu tersenyum begitu lebar.
"Dan kau, Bian. Semuanya sudah selesai, tidak perlu menganggu rumah tangga adikmu. Sudah saatnya kau membangun rumah tangga sendiri," timpal Nyonya Sasmitha.
"Aku tidak akan menikah. Aku hanya memiliki kalian, itu sudah cukup." Bian merasa malu di hadapan Alex dan Arnold.
"Kau mengatakan itu, karena belum ada wanita yang berhasil mengetuk hatimu. Suatu saat, pikiran dangkal itu akan menghilang secara perlahan." Kali ini Arnold ikut menimpali.
"Aku tidak butuh nasihatmu," ketus Bian.
"Dan kau... Sekali saja kau menyakiti adikku, aku akan benar-benar membunuhmu. Dengan kedua tanganku sendiri," ujar Bian yang penuh dengan ancaman seraya menunjuk Alex.
"Tidak perlu kau minta, aku akan menjaga mereka dengan nyawaku sendiri." Alex tersenyum penuh arti. Membuat Bian semakin jengah. Ia pun menggerakkan kursi rodanya dan berniat untuk pergi. Namun, pergerakannya tertahan saat melihat seorang wanita cantik berjalan mendekat.
"Ayah," panggil wanita sedikit berlari dan melewati Bian. Lelaki itu pun berbalik, begitu penasaran siapa yang sebenarnya wanita itu panggil. Mata lelaki itu hampir keluar saat melihat sang wanita memeluk Alex.
Ayah? Tanya Bian dalam hati. Karena penasaran, Bian mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Mala khawatir banget," ucap Mala melerai pelukannya. Menatap Alex penuh rasa cemas.
"Sudah aku katakan, aku baik-baik saja. Di mana Ibumu?"
"Mama menunggu di mobil dengan Tante Nissa. Kami akan ke rumah Kak Alan. Mama sangat merindukan mereka," jawab Mala.
Pagi tadi, Mala dan Milan tiba di Surabaya. Mereka langsung terbang ke Indonesia saat mendengar kabar kesembuhan Alex. Mala memang bekerja di kantor Alex. Menggantikan posisi Sweet. Oleh karena itu ia sangat sulit untuk meninggalkan perusahaan. Karena selama Alex di Indonesia, ia yang memegang tanggung jawab.
Mala mengedarkan pandangan, hingga matanya bertemu dengan netra kelam milik Bian. Mala langsung mengubah air wajahnya.
"Ayah, apa lelaki itu yang mencoba menyakitimu?" tanya Mala. Belum sempat Alex menjawab. Wanita itu sudah bergerak menghampiri Bian. Menarik kursi roda Bian dengan kasar dan memberikan tatapan membunuh. Kedua tangan jenjangnya ia letakkan di bibir kursi roda. Dengan tubuh yang mencondong ke arah Bian.
Bian terpana dengan tatapan tajam milik Mala. Bahkan ia belum pernah melihat wanita seberani ini. Bian juga bisa merasakan hembusan napas wanita itu. Karena jarak wajah mereka cukup dekat.
"Mungkin kali ini aku mengampunimu, Tuan cacat. Sekali lagi kau menyakiti Ayahku, maka aku yang akan membunuhmu tanpa belas kasihan." Mala mengatakan itu dengan penuh penekanan. Bian bisa merasakan aura kemarahan darinya.
Deg!
Bian menyentuh dadanya. Untuk pertama kalinya, ia merasakan jantungnya berdetak kencang.
Mala yang menyadari tatapan aneh dari Bian pun langsung menjauh. "Ingat! Aku tidak pernah main-main."
Mala pun meninggalkan Bian yang masih mematung. Dan kembali pada Alex.
"Aku tidak akan pernah memaafkannya," kesal Mala.
"Sudah cukup, jangan membuat keributan. Mala, perkenalkan ini Nyonya Sasmitha. Seharusnya kau masih mengenal siapa beliau ini, bukan?"
"Tentu, Ayah. Salam kenal, Nyonya. Saya Mala, putri angkat dari cucu menantu Anda. Kita sudah pernah bertemu beberapa tahun yang lalu." Mala memperkenalkan diri dengan penuh rasa hormat.
"Mala, namamu sangat cantik." Puji Nyonya Sasmitha.
"Terima kasih Nyonya...." Mala sedikit canggung dan bingung harus memanggilnya apa.
"Panggil saja aku Nenek," ucap Nyonya Sasmitha dengan tatapan penuh arti.
"Sepertinya akan ada kisah baru," bisik Arnold seakan mengerti arti tatap Nyonya Sasmitha.
"Ah, rupanya kau menyadari itu. Kau memang hebat, sangat mirip dengan mendiang Ayahmu." Nyonya Sasmitha melirik Bian yang sejak tadi terus mengawasi Mala.
Sepertinya aku akan mendapat menantu baru. Pikir Nyonya Sasmitha dalam hati. Ia tersenyum bahagia.
__ADS_1