
Brillian Jewelry, Surabaya.
Mala melangkah pasti menuju perusahaan suaminya. Siang ini ia sengaja datang untuk mengajak Bian makan bersama. Perutnya yang mulai membuncit menyembul dibalik gaun merah yang ia kenakan.
"Siang, Nyonya Pramana." Sapa para karyawan yang berpapasan dengannya.
"Siang," balas Mala dengan senyuman ramah. Karena sudah terbiasa keluar masuk perusahaan, semua karyawan tentunya sudah mengenal Nyonya besar mereka.
Mala tampak santai memasuki lift khusus sang suami. Hanya dirinya yang berani menaiki lift itu. Tidak akan ada yang berani melarangnya. Karena pekerjaan yang menjadi taruhan mereka.
Senyuman di bibir wanita itu terus mengembang. Apa lagi saat ini ia sudah berdiri di depan pintu ganda yang sudah sering ia masuki. Tanpa ragu, Mala membuka pintu itu. Namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok wanita yang saat ini berada di atas suaminya. Ya, saat ini Bian terbaring di sofa dan wanita asing itu berada di atasnya.
Mala yang melihat itu mengeratkan rahangnya. Lalu melangkah cepat menghampiri dua manusia itu. Dengan kasar Mala menarik sang wanita agar menjauh dari suaminya. Membuat wanita itu terkejut. Bukan hanya sang wanita, Mala juga terkejut melihat wajah itu.
"Angel?"
"Mala?"
Kedua wanita itu saling memberikan tatapan bingung. "Apa yang kau lakukan di sini, Angel? Kenapa kau...." Mala sengaja menjeda ucapannya saat melihat dua kancing kemeja atas wanita itu terbuka. Lalu pandangannya ia alihkan pada sang suami. Di sana Bian terlihat gelisah dengan keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Namun mata lelaki itu tertutup rapat. Mala yang cemas pun segera duduk disisi suaminya.
"Mala, apa yang kau lakukan? Menjauhlah dari kekasihku." Angel hendak menarik lengan Mala. Namun pergerakannya tertahan saat Mala melayangkan tatapan membunuh. Angel tahu betul siapa wanita yang saat ini ada dihadapannya. Wanita itu bisa dengan mudah membunuhnya.
"Dia suamiku, Angel!" Bentak Mala mulai tersulut emosi. Melihat kondisi suaminya, ia tahu apa yang sedang terjadi.
Angel tersentak kaget saat mendengar perkataan temannya itu. "Impossible."
"Keluar dari sini sebelum aku memanggil security, Angel. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada suamiku. Aku bukan orang awam yang bisa kau bodohi dengan trik kunomu." Sinis Mala seraya mengusap kening suaminya yang sudah dibanjiri keringat.
"Dia lelaki yang aku sukai sejak lama, Mala. Dan sekarang kau mengatakan dia suamimu? Apa aku harus percaya padamu?" Angel mengacak rambutnya frustasi. Sudah susah payah ia menyusun rencana untuk menjebak Bian agar jatuh dalam pelukannya. Dan sekarang rencana itu harus pupus. Yang lebih menyakitkan lagi, Mala adalah istri dari lelaki itu?
"Keluar Angel!" Teriak Mala yang berhasil membuat Angel tersentak kebelakang. Mala terlihat sangat mengerikan saat sedang marah. Tanpa banyak bicara lagi, wanita berwajah bule itu meninggalkan ruangan Bian dengan perasaan kecewa.
"Sayang," panggil Mala menepuk pipi suaminya pelan. Kemudian ia melihat dua buah botol minuman di atas meja. Membuatnya semakin yakin, jika Bian diberi obat perangsang. Karena lelaki itu terlihat gelisah dan mengeluarkan banyak keringat. Sangat mirip dengan apa yang ia alami dulu. Dan itu sangat menyiksa.
Sepertinya Bian sengaja menahan diri, karena itu ia terlihat begitu tersiksa. Mala percaya Bian tak akan melakukan hal kotor dibelakangnya.
"Sialan kau, Angel. Ternyata sifatmu tak pernah berubah. Aku akan mencarimu setelah ini." Kesal Mala sambil membantu suaminya bangun.
"Bian, aku mohon buka matamu. Ini aku, istrimu." Mala terus menepuk pipi suaminya.
Bian membuka matanya perlahan, ia menatap Mala dengan tatapan sayu dan bola mata yang menggelap. "Sebaiknya kita ke kamar." Mala membantu Bian bangun dan memapahnya menuju sebuah kamar rahasia dengan susah payah. Kamar yang hanya diketahui olehnya dan sang suami.
Sesampainya di kamar, Bian mendorong tubuh istrinya hingga terlentang di atas ranjang. Mala tahu lelaki itu sudah sepenuhnya dikuasi obat perangsang. Dan hanya dirinya yang bisa membantu Bian.
"Bian, tolong pelan-pelan. Bayi kita akan kesakitan." Lirih Mala merasa waswas karena mendapat tatapan nakal dari suaminya. Benar saja, lelaki itu langsung menyerangnya tanpa ampun.
Mala bersyukur karena dirinya datang lebih cepat. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada suaminya? Mungkin wanita itu sudah... akh... Mala tidak bisa membayangkan itu. Semuanya sangat menyakitkan jika itu benar-benar terjadi.
Pagi hari, Mala terbangun dari tidurnya karena mendengar suara orang muntah-muntah di kamar mandi. Ia meregangkan ototnya yang kaku, bahkan tubuhnya terasa remuk akibat perbuatan suaminya dari siang kemarin dan berlanjut sampai malam. Beruntung bayi dalam perutnya tidak apa-apa. Sepertinya bayi itu selalu berpihak pada sang suami.
__ADS_1
Mala turun dari tempat tidur, memakai kemeja besar milik Bian yang masih tergeletak di lantai. Lalu berjalan pelan menuju kamar mandi. Di sana Bian terus memuntahkan isi perutnya di wastafle. Mala menghampiri Bian, lalu memijat tengkuknya.
"Aku pikir mualnya sudah hilang," kata Mala merasa kasihan pada Bian. Karena sejak awal kehamilan, Bian yang selalu mengalami morning sickness. Bahkan mengidam pun Bian yang mengalaminya. Sedangkan Mala sama sekali tak merasakan hal aneh selama empat bulan ini.
Bian membasuh mulut dan wajahnya. Lalu berbalik menatap sang istri begitu dalam.
"Apa kemarin aku terlalu kasar padamu?" Tanya Bian menyentuh pipi istrinya.
Mala pun menggeleng pelan. "Kita pulang ya?"
Bian mengangguk, lalu memeluk istrinya dengan erat. "Maafkan aku, Mala. Tidak seharusnya aku membawa wanita itu ke ruanganku."
Mala terdiam, hampir saja ia melupakan tentang wanita itu. "Kau hutang cerita padaku, Bian."
"Maafkan aku."
"Bian, aku tahu ini bukan kesalahanmu sepenuhnya. Sebaiknya kita pulang, kamu juga harus istirahat."
Bian melerai pelukannya, mengunci netra coklat istrinya. "Dia hanya model yang aku pakai untuk launching produk baru. Aku mengenalnya saat kuliah di Jerman dulu. Dia adik kelasku."
Mala mengusap pipi suaminya dengan lembut. "Aku percaya padamu, Honey. Kita pulang, setelah itu kamu ceritakan semuanya ya?"
"Hm." Bian mengecup kening istrinya begitu dalam. Kemudian mereka pun memutuskan untuk pulang.
Kini sepasang suami istri itu terlihat begitu mesra di atas pembaringan. Mala duduk dipangkuan suaminya dengan kepala menyandar di dada sang suami. Sedangkan Bian terus tersenyum sambil mengelus perut buncit istrinya.
"Kenapa besar sekali? Usianya empat bulan bukan?"
Bian tersenyum. "Tentu saja aku ingat, Sayang. Aku hebat bukan? Sekali cetak bisa menghasilkan dua bayi sekaligus. Seharusnya saat itu aku mencetaknya sepuluh kali, jadi bisa menghasilkan dua puluh bayi sekaligus."
"Ck, kamu pikir aku kucing apa? Dua saja aku merasa takut saat melahirkan mereka nanti."
"Jangan takut, aku akan selalu berdiri disampingmu. Bahkan Mommymu bisa melahirkan tripel sekaligus."
"Ck, jangan samakan aku dengan Mommy, Bian. Aku takut, kamu tidak akan merasakan rasa sakit itu."
"Kalau begitu biar aku saja yang merasakan sakitnya, seperti morning sickness yang aku alami saat ini."
Mala terkekeh geli mendengarnya. "Kalau itu bisa, aku sangat bersyukur."
Bian memeluk istrinya begitu posesif.
"Bian, kamu belum ceritakan masalah kemarin." Mala mengangkat wajahnya dan menatap Bian penuh harap.
"Aku hampir lupa" Bian terkekeh geli. "Seperti yang aku katakan, dia hanya teman saat kuliah dulu. Kami bertemu secara langsung hanya sekali di perpustakaan kalau tidak salah. Aku tahu dia seorang model papan atas, jadi memintanya untuk menjadi ambassador perusahaan."
Mala mengubah posisinya, duduk di atas kasur menghadap sang suami.
"Kemarin dia datang ke kantor untuk menandatangi kontrak. Aku pikir dia akan membawa asistennya. Rupanya dia datang sendirian, katanya ingin bicara empat mata denganku. Tentu saja aku setuju karena berpikir dia ingin membahas masalah pekerjaan. Diluar dugaanku, ternyata dia mengutarakan isi hatinya. Aku sangat terkejut dan tentu saja menolaknya."
__ADS_1
"Lalu obat perangsang itu?" Tanya Mala penasaran.
"Aku tidak menyangka minuman yang dia bawa sudah dicampur dengan obat sialan itu. Kebodohan yang sangat sering aku lakukan, aku terlalu percaya pada orang lain. Andai kamu tidak datang saat itu, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin kamu tidak akan percaya padaku dan meninggalkanku kan?" Bian menghela napas kasar. Mala meraih tangan suaminya, lalu menggenggamnya dengan erat.
"Aku percaya padamu, suamiku. Aku juga tahu siapa dia, wanita itu masih saja menggunakan trik lamanya. Sejak sekolah, dia selalu menjebak lelaki yang diinginkannya. Dia benar-benar gila. Dan bodohnya aku tak menyadari, jika lelaki yang sering ia ceritakan padaku itu dirimu, Bian."
"Jadi kalian saling mengenal?" Tanya Bian terkejut.
Mala mengangguk pelan. "Dia temanku, bahkan beberapa bulan yang lalu kami sempat bertemu." Jawab Mala jujur. Bian menatap istrinya seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Meski begitu, dia sangat baik padaku. Dia teman yang selalu ada saat aku butuh. Hanya saja kali ini ia melakukan kesalahan besar, dia hampir merebutmu dariku. Aku harus memberinya pelajaran."
Bian terkejut mendengar nada suara istrinya yang penuh ancaman. "Jangan melakukan hal bodoh, aku tak akan mengizinkanmu melakukan hal yang akan membahayakanmu dan anak-anak."
Mala memutar bola matanya jengah. "Anda melupakan siapa istrimu ini, Tuan? Bahkan aku bisa membunuh orang dengan mata tertutup."
Bian yang mendengar itu langsung menyentil kening istrinya. Spontan Mala menjerit kesakitan sambil mengusap keningnya.
"Sakit, Sayang." Rengek Mala dengan bibir yang mengerucut. Keningnya masih berdenyut sakit.
"Itu peringatan, jangan sampai aku mendengar kamu melukai seseorang." Ancam Bian.
"Ck, aku tidak akan melukainya. Hanya memberikan pelajaran, supaya dia tak lagi mencoba menggangumu. Kau hanya milikku, Bian. Aku akan membunuh siapa pun yang mencoba merebutmu dariku." Sinis Mala kembali duduk dipangkuan suaminya. Sedangkan Bian mendadak meriding mendengar perkataan istrinya.
"Kamu tahu? Sepertinya aku sudah salah menikahi wanita dan malah menikahi seorang psikopat."
"Benarkah? Apa kau takut?" Mala mendekatkan wajahnya dengan sorot mata tajam. Bian tersenyum miring, lalu memberikan kecupan dadakan dibibir istrinya. Sontak Mala melotor karena kaget.
"Aku tidak pernah takut, justru aku senang memiliki istri posesif sepertimu. Itu artinya kamu mencintaiku."
"Ck, menyebalkan." Kesal Mala karena tak berhasil mengerjai suaminya.
Bian menatap wajah merengut istrinya. Lalu menarik dagu Mala. Mengunci netra indah itu rapat-rapat.
"Kamu ingat? Saat itu kamu terus mengataiku lelaki brengsek. Mecerca diriku dengan perkataan manismu. Dan sekarang, aku berhasil menumbuhkan benihku dalam rahimmu. Suatu kebanggaan bukan? Aku bisa mengubah rasa bencimu menjadi cinta yang begitu manis."
Mala tersenyum masam. "Itu terjadi karena kamu berlaku curang, Sayang. Kamu terus menggodaku setiap saat, memperlakukanku dengan manis dan hampir setiap detik menebar cintamu di penjuru hatiku. Bagaimana bisa aku tidak luluh huh? Hanya wanita bodoh yang tak jatuh cinta pada lelaki sepertimu."
"Itu artinya kamu bodoh saat itu?"
Mala melotot mendengar pertanyaan suaminya. "Tentu saja tidak, saat itu aku tidak tahu kamu lelaki jelek dengan sejuta cinta."
"Lelaki jelek?" Tanya Bian seraya menyentuh pipinya. Ia sama sekali tak merasa jelek. "Aku rasa kamu orang pertama yang mengataiku jelek."
"Hm. Dan aku juga orang pertama yang duduk disinggasana hatimu kan? Cinta pertama dan terakhirmu. Jangan pernah hadirkan cinta lain. Aku akan marah." Ketus Mala seraya melipat kedua tangannya di dada.
Bian yang mendengar itu tertawa renyah. "Sepertinya kamu harus kecewa Sayang, karena saat ini sudah ada cinta lain di hatiku."
"What?" Mala memekik kaget. "Katakan siapa itu, Bian?"
__ADS_1
Bian tersenyum jahil. Kemudian tangannya bergerak untuk menyentuh perut buncit sang istri. "Mereka akan menjadi cintaku selanjutnya."
"Bian! Kau mengerjaiku lagi?" Kesal Mala menarik rambut suaminya. Bian tertawa kencang. Sedangkan Mala terus menghajarnya sampai puas. Kehangatan itu terus berlanjut sampai mentari berganti posisi dengan sang rembulan. Tak ada lagi kegelapan dalam hati Mala, kini hidupnya dipenuhi dengan ribuan warna cinta sang suami.