
Alexa terbaring lemah di atas brankar. Winter melarikan istrinya ke rumah sakit karena Alexa pingsan dengan hidung yang mengeluarkan darah. Lelaki itu terlihat begitu frustasi. Ketakutan kini tengah menghantuinya.
Arel dan Arez pun ada di sana karena keduanya tiba sejak beberapa jam yang lalu. Arel menepuk pundak Winter.
"Istrimu baik-baik saja. Kau tidak boleh lemah seperti ini. Saat ini kita adalah kekuatan untuknya. Kami sudah melakukan tes kecocokan, sumsum tulang belakang Arez sangat cocok untuk istrimu. Secepatnya kita akan melakukan transplantasi. Aku harap semuanya berjalan dengan lancar, dan operasinya berhasil. Dulu saja berhasil, aku harap kali ini juga berjalan dengan mulus."
Winter menatap Arez yang kini tengah bersandar di dinding dengan wajah datarnya yang khas.
"Aku tidak tahu harus berbuat apa lagi, aku terlalu mencintainya. Aku tak bisa kehilangannya." Lirih Winter.
"Yakinlah, istrimu akan baik-baik saja." Arel terus memberikan motivasi pada Winter.
Tidak lama dokter pun keluar. Winter yang notabennya panik pun bergegas bangun dan menghampiri sang dokter.
"Istri Anda sudah melewati masa kritisnya. Aku sudah menyarankan padanya untuk segera kemotrapi, tapi dia terus menolak." Ujar sang dokter menatap Winter lekat.
"Aku akan mendonorkan sumsung tulang belakangku." Kata Arez pada sang dokter.
"Itu lebih baik, transplantasi adalah jalan terakhir. Semoga semuanya berjalan sesuai yang diinginkan. Banyaklah berdoa. Segera urus jadwal operasi, kita harus segera melakukan transplantasi sebelum terlambat. Meski sebenarnya ini sudah terlambat karena kankernya sudah menyebar ke seluruh tubuh. Tapi tidak ada salahnya kita coba."
Ketiga lelaki itu pun mengangguk bersamaan.
"Silakan temui pasien. Berikan dia semangat, jangan sampai kondisinya down lagi."
"Baik, Dok. Terima kasih banyak." Ucap Arel. Kemudian mereka pun bergegas masuk ke dalam. Di mana Alexa terbaring lemah di atas brankar. Winter duduk di sisi sang istri. Mengecup keningnya dengan penuh perasaan.
Arel dan Arez hanya bisa menatap kembarannya yang terbaring lemah itu dengan denyutan sakit dihatinya. Sebagai anak kembar tentu saja mereka seakan merasakan rasa sakit yang saat ini Alexa rasakan.
"Aku membenci ocehannya, tapi lebih baik dia banyak bicara dari pada terbaring lemah seperti ini." Ujar Arez menatap sang adik iba. Sedangkan Arel ikut duduk di sisi lain brankar.
"Bangunlah, kami ada di sini untukmu." Bisik Winter. Arel pun ikut mengusap kepala Alexa.
"Buka matamu, Lexa. Aku merindukan ocehanmu. Kau selalu memarahiku sepanjang waktu. Aku merindukan itu, dasar gadis bawel."
Mata Alexa pun mulai bergerak dan terbuka perlahan. Ia mengerang kesakitan.
"Apa yang sakit, sayang?" Tanya Winter.
"Semuanya." Suara Alexa pun tenggelam.
"Itu tidak akan lama, kau akan baik-baik saja." Ujar Arel tersenyum tulus. Alexa menatap Arel begitu dalam.
"Apa kau menyesal memiliki kembaran cerewet sepertiku, Arel?" Tanya Alexa menarik ujung bibirnya. Arel pun langsung menggeleng.
"Tentu saja tidak. Kau memang cerewet, tapi aku menyayangimu melebihi siapa pun. Bahkan kau lebih perhatian padaku dari pada Mommy. Bagaimana mungkin aku tak menyayangimu huh? Kau harus sembuh, semua orang menunggumu kembali."
Alexa mengangguk yang diiringi dengan senyuman menawan. Kemudian matanya bergerak ke arah Arez yang masih berdiri di sisi brankar. "Kau tidak ingin mengatakan apa pun padaku? Ah, aku lupa. Kau kan tak suka bicara padaku."
Arez menghela napas berat. "Aku senang mendengar ocehanmu lagi."
Alexa tertawa renyah. "Sejak kapan kau senang mendengar ocehanku huh? Bukankah kau selalu menjauhiku saat aku mengomel?"
"Ya, kau sangat berisik."
__ADS_1
Alexa tersenyum lebar. "Aku ingin memelukmu, seumur hidupku kau tak pernah memelukku."
Arez terdiam sejenak. "Tidak ada alasan untukku memelukmu."
"Sekarang aku sakit, kau bisa jadikan itu sebagai alasan."
Arez mendengus sebal. "Kau selalu memanfaatkan keadaan." Arez pun mendekati sang adik. Winter sedikit menjauh, membiarkan Arez menggantikan posisinya. Lelaki kaku itu pun memeluk sang adik dengan lembut. Tanpa sadar Alexa menitikan air mata.
"Aku tidak pernah menyangka pelukanmu sehangat Daddy. Padahal kau sangat dingin. Jika tahu seperti ini, aku akan memintamu memelukku saat aku merindukannya." Tangisan Alexa pun pecah. Ia kembali mengingat sosok Daddynya yang amat ia rindukan.
"Hari ini aku membiarkanmu memelukku sampai puas." Arez memberikan kecupan di kening Alexa. Membuat sang empu semakin tersedu dan mengeratkan pelukannya. Arel yang tak kuasa melihat itu pun ikut memeluk Alexa.
"Aku senang bisa berkumpul seperti ini. Apa saat di perut Mommy kita berpelukan seperti ini?"
"Tidak, kau selalu menendangku." Sahut Arez mencoba bergurau. Meski terkesan kaku, tetapi Alexa tertawa mendengarnya.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Aku tahu segalanya."
Lagi-lagi Alexa tertawa lepas. "Aku menyayangi kalian." Alexa memberikan kecupan di pipi Arez dan Arel. Ketiganya pun berpelukan dalam diam. Winter yang melihat itu menangis haru. Namun dengan cepat ia menyapu air matanya. Tak ingin terlihat lemah di mata istrinya. Meski kenyataanya ia sedang dalam fase lemah karena tenggelam dalam rasa takut.
****
"Bagaiamana kondisinya, Al?" Tanya Sabrina dari balik telepon. Saat ini Arez berada di kursi tunggu karena sang istri meneleponnya.
"Beberapa hari ini dia jauh lebih baik, dia tertawa lepas seperti biasanya. Aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Jadwal operasi sudah ditentukan."
"Minggu depan."
Tidak ada sahutan di sana.
"Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, aku tidak akan mati semudah itu."
Terdengar suara tawa diseberang sana. "Aku selalu melihat Mommy berdoa sepanjang waktu. Pagi, siang dan malam, tanpa henti. Jadi aku tidak terlalu cemas. Tidak ada doa terbaik selain doa seorang Ibu bukan?"
"Ya. Jaga Mommy untukku. Tolong perhatikan pola makannya." Pinta Arez.
"Ya, aku dan Sky akan melakukan yang terbaik. Kau juga jaga kesehatan di sana, aku tidak bisa berada disisimu. Kau tahu anak-anak tak mungkin melakukan perjalan jauh lagi."
"Aku tahu. Tidak perlu memikirkanku. Aku baik-baik saja dan akan kembali secepatnya.
"Aku akan merindukanmu, Al. Berapa lama kira-kira kau di sana?"
"Satu bulan, setelah itu aku akan kembali."
"Jangan memaksakan diri jika kau belum sepenuhnya sehat. Tunggu sampai kau benar-benar pulih."
Arez tersenyum tipis. "Kau sanggup menunggu huh?"
"Entahlah, jika tak sanggup aku akan menyusulmu."
"Baiklah. Aku sudahi dulu, sepertinya dokter ingin bicara padaku." Pamit Arez saat melihat dokter yang menangani Alexa menghampirinya.
__ADS_1
"Ya, jaga dirimu baik-baik. Aku mencintaimu, Al."
"Aku juga." Arez pun segera menutup sambungan telepon. Kemudian ia pun terlibat pembicaraan serius dengan sang dokter.
Di dalam ruangan, Alexa terus tertawa saat Arel memberikan beberapa lelucon. Sambil sesekali menyuapi buah ke mulut sang adik. Kemudian mata Alexa pun tertuju pada sang suami yang tengah duduk di sofa sambil menatapnya begitu dalam.
"Kemari, honey." Pinta Alexa dengan senyuman termanisnya. Winter pun menurut, mendekati Alexa dan duduk disebelahnya.
"Aku senang kau sebahagia ini." Winter mengecup kening Alexa dengan penuh perasaan.
"Aku merindukan anak-anak, Winter."
"Mereka baik-baik saja. Aku baru menghubungi Mommy, katanya mereka sedang tidur. Lucas sepertinya mengerti, dia tak serewel biasanya."
"Hm. Beruntung Ele ada di sana. Jadi aku tidak terlalu khawatir."
"Ya." Winter mengusap kepala Alexa dengan lembut. Kemudian kembali menghadiahi kecupan dikeningnya.
"Di mana Arez?"
"Aku di sini." Sahut Arez yang baru saja memasuki ruangan. Lelaki itu pun duduk di ujung brankar.
"Bagaimana perasaanmu hari ini?"
Alexa tersenyum. "Jauh lebih baik, aku juga bahagia karena kalian ada di sini. Aku merasa spesial karena dikelilingi lelaki tampan dan tentunya menyayangiku."
Arez tersenyum tipis. "Aku sanang jika kau senang."
"Aku ingin tidur, tapi kau harus memelukku." Pinta Alexa menatap Arez penuh harap.
"Di sini ada suamimu." Arez pun menatap Winter.
"Tidak jadi masalah, aku tidak akan camburu pada Kakak iparku sendiri." Alexa dan Arel pun tertawa bersamaan.
"Cepat sedikit, aku ingin memelukmu." Rengek Alexa seperti anak kecil.
"Baiklah. Selain cerewet, kau juga sangat manja."
"Hanya karena aku sakit kau mau memanjakanku. Jika tidak, aku yakin kau enggan sekadar menyapaku." Alexa menyebikkan bibirnya.
"Berisik." Kata Arez yang berhasil membuat Alexa semakin kesal.
"Jika kau bukan Kakakku, aku akan mencoret namamu dihatiku."
"Lakukan saja."
"Kau... sudahlah, cepat kemari dan peluk aku. Aku sangat mengantuk."
"Dia tak akan berubah, Rez. Cerewet, manja dan pemaksa." Ledek Arel.
"Diam kau." Ketus Alexa memberikan tatapan tak bersahabat pada Arel. Sedangkan yang ditatap hanya menjulurkan lidahnya meledek.
"Berhenti berdebat." Arez pun segera mendekap Alexa agar wanita itu cepat tidur dan tidak membuat kebisingan. Lama-lama ia pusing juga mendengar ocehannya.
__ADS_1