Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 31


__ADS_3

Mentari mulai menampakkan diri dibalik awan jingga, menyapa para penghuni alam dengan kehangatannya. Memberi kekuatan bagi mereka yang sedang berjalan kaki untuk menggapai tujuan.


Berbeda halnya dengan suasana mansion milik Alex, seperti biasanya, bangunan mewah itu tampak sepi. Hanya terlihat beberapa pelayan yang berlalu lalang. Di kamar berukuran besar, terlihat seorang wanita tengah berdiri di depan cermin dan mengucir kuda rambut panjangnya. Wajahnya tampak fresh dengan sentuhan make up tipis. Mata bulat dengan bulu yang lentik alami tak membutuhkan sentuhan apa pun.


Sweet sedikit memiringkan badan, meneliti penampilannya dari balik cermin. Balutan pakaian formal membuatnya terlihat lebih anggun. Kali ini Sweet mengenakan celana kain yang dipadukan dengan blazer warna senada, merah maroon. Mata bulat itu menajam saat menangkap sosok lelaki yang berdiri dibelakangnya, bergerak pasti dan menyapu jarak antara mereka.


"Sudah aku katakan, jangan mengikat rambutmu. Aku tidak ingin lelaki lain melihat lekukkan tubuh indahmu," ujar Alex menghirup aroma manis tubuh Sweet. Sekali tarikan, rambut hitam panjang itu tergerai indah. Sweet hendak protes, namun jari telunjuk Alex lebih dulu menahan bibirnya.


"Aku suamimu, dengarkan apa pun perintahku, mengerti?" timpal Alex menyelipkan helaian rambut dibalik telinga Sweet.


"Ini masih pagi, aku tak ingin berdebat denganmu," sahut Sweet menepis lengan Alex. Ia pun bergerak untuk mengambil tas dan langsung bergegas keluar kamar.


"Hah, perdebatan itu tak akan terjadi jika kau patuh, Ana." Alex pun mengikuti jejak istrinya keluar dari kamar.


"Morning, Sweet." Sapa Mala yang sudah berada di ruang makan bersama ibunya.


"Morning," balas Sweet datar. Ia duduk di tempat biasa, mengambil sehelai roti tawar. Para pelayan sudah menyiapkan segelas susu untuknya.


"Sweet, kau sangat cantik dengan pakaian formal. Sangat cocok dengan kepribadianmu," ujar Mala tersenyum tulus. Senyuman itu pun menular pada Milan yang sedang menyantap roti isi. Disaat bersamaan Alex pun muncul.


"Tentu, dia istriku dan harus telihat cantik. Bukan begitu, Sayang?" Alex ikut menimbrung. Mala dan Milan ternganga melihat sikap hangat Alex. Apa lagi rencananya kali ini? Pikir Milan yang merasa heran dengan perubahan sikap Alex. Sedangkan gadis itu masih seperti biasanya, acuh tak acuh dengan sikap Alex.


"Cherry," panggil Alex saat melihat Cherry berjalan ke arah mereka dengan penampilan yang cukup rapi. Wanita itu tersenyum lebar, lalu duduk di posisi biasa.


"Pagi, Sweet." Cherry bersikap akrab, seulas senyuman ia berikan pada Sweet. Seakan semuanya benar-benar tulus. Bahkan tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya ada dalam benak Cherry.


"Pagi," sahut Sweet malas. Tangannya bergerak untuk mengambil susu, menyesapnya perlahan, dan meletakkan kembali gelas susu di atas meja.


"Pukul berapa kau berangkat, Cherry?" tanya Alex yang mendapat perhatian semua orang.


"Setengah jam lagi," jawab Cherry begitu antusias. Alex mengangguk pelan, dan melanjutkan kembali sarapannya. Suasana kembali hening seperti biasa.

__ADS_1


"Pagi ini ada jadwal meeting dengan klien dari Jepang, selanjutnya kunjungan ke Brilian Hotel. Setelah makan siang, masih ada jadwal meeting dengan jajaran tinggi perusahaan cabang, dilanjutkan dengan acara pelelangan." Sweet memaparkan jadwal padat Alex hari ini, mereka masih dalam perjalanan menuju sebuah hotel. Karena meeting kali ini akan berlangsung di luar perusahaan. Sesuai dengan keinginan klien sendiri.


Pertemuan dengan klien dari Jepang berjalan lebih cepat dari yang diperkirakan. Mereka harus mengejar penerbangan selanjutnya, jadi pertemuan kali ini hanya sekedar berbincang kecil dan langsung tanda tangan kontrak. Kedua perusahaan pun merasa sangat cocok, jadi tak perlu banyak basa basi untuk mengajukan kerja sama.


"Berhenti di sebuah butik," perintah Alex pada sang driver. Sweet yang mendengar itu langsung menoleh, menatap Alex penuh tanda tanya. Saat ini mereka memang dalam perjalanan untuk kembali ke kantor.


"Kamu perlu sebuah gaun untuk acara pelelangan malam nanti, kebetulan kita memiliki waktu kosong satu jam. Aku perlu seorang istri, bukan sekretaris." Jelas Alex seakan mengerti dengan tatapan Sweet.


"Memang apa salahnya dengan pakaianku saat ini? Tidak buruk," omel Sweet tak terima dengan perkataan Alex seakan menyiratkan bahwa penampilannya saat ini jelek. Gadis itu memalingkan wajahnya ke jendela.


"Pakaianmu terlalu formal, aku ingin mereka tahu jika kau istriku, bukan sekedar sekretaris."


"Hah, pernikahan kita hanya di atas kertas. Tidak perlu orang tahu, tidak ada yang perlu dibanggakan dari hubungan kita," timpal Sweet dengan nada lemah. Namun masih dapat didengar oleh Alex. Lelaki itu tersenyum penuh arti.


"Tetap saja di mata hukum kau istriku," sahut Alex.


"Tapi tidak dalam agama," sahut Sweet ketus.


"Tapi aku peduli," kesal Sweet.


Lalu keduanya terhanyut dalam perdebatan singkat. Sang driver yang menjadi saksi bisu pertengkaran kecil bosnya, hanya bisa menghela napas beberapa kali, dan menutup telinga rapat-rapat.


"Tuan, Nyonya, kita sudah sampai," ucap sang driver berhasil menghentikan perdebatan keduanya. Mereka pun terdiam sesaat.


"Turun," perintah Alex untuk Sweet. Gadis itu yang masih dalam mood kesal langsung turun dari mobil, dengan wajah tanpa ekspresi. Sweet berjalan mendahului Alex, padahal lelaki itu sudah memberikan tangannya untuk digandeng. Bukan Sweet namanya, jika sehari saja tak membuat Alex kesal atau marah karena menahan sabar. Beruntung Alex mampu menahannya kali ini.


"Berikan gaun terbaik untuk istriku, jangan terlalu terbuka." Alex mengeluarkan perintah pada karyawan butik. Sedangkan Sweet memilih untuk duduk disebuah sofa panjang, menyaksikan Alex berinteraksi dengan karyawan.


"Baik, Tuan." Wanita dua puluhan tahun pun bergerak untuk mengambil barang seusai permintaan Alex. Tidak lama, wanita itu kembali dengan sebuah gaun hitam panjang ditangannya.


"Ini gaun pesta malam terbaru kami, Tuan. Sangat cocok dengan istri anda yang miliki tubuh ramping dan imut," ujar wanita itu menatap Sweet kagum.

__ADS_1


"Honey, sepertinya kau harus mencoba gaun ini." Alex menatap Sweet dengan senyuman mautnya. Sweet bangun dengan malas saat sang karyawan menunjukkan ruang ganti pada Sweet.


Hanya butuh lima menit, Sweet keluar dengan gaun indah yang melekat pas ditubuhnya. Gaun itu benar-benar cocok untuknya. Seperti yang Alex inginkan, gaun itu sama sekali tak ada celah untuk memperlihatkan tubuh mulus Sweet. Geraian rambut hitam menambah kesan anggun pada gadis itu. Alex terkesiap melihat kecantikan alami istrinya.


"Bagaimana, Tuan?" tanya sang karyawan yang berhasil mengejutkan Alex. Lelaki itu jadi salah tingkah. "Ambil yang itu."


Alex mengeluarkan black card miliknya dan memberikan itu pada sang karyawan.


"Aksesorisnya, Tuan?"


"Tidak perlu, istriku sudah cantik tanpa aksesoris apa pun," sahut Alex sambil terus menatap Sweet. Gadis itu merasa jengah dengan tatapan Alex, dan berlalu untuk mengganti pakaiannya kembali.


Sweet bukanlah tipe wanita yang mudah terbuai dengan perkataan manis lelaki. Baginya, semua itu hanya bualan lelaki yang tak pantas untuk dipercaya.


Selepas dari butik, mereka pun langsung bergegas ke kantor karena masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Sesampainya di kantor, Sweet cukup kaget saat mendapat berita jika ibu angkatnya sejak tadi menunggu dirinya. Spontan Alex memberikan tatapan tajam padanya.


"Urus semuanya dengan cepat," tegas Alex kembali bersikap dingin dan langsung pergi meninggalkan Sweet. Sweet menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Melangkah pasti menuju ruang tunggu. Dari kejauhan ia melihat seorang wanita paruh baya sedang duduk dengan wajah cemas. Entah apa yang ada dalam pikiran wanita itu.


"Nyonya Santonio," sapa Sweet pada wanita itu. Sontak wanita itu terkejut dan bangun dari duduknya. Wajah cemasnya kini berubah ceria, menatap Sweet penuh kerinduan. Tidak ada yang tahu tatapan rindu itu tulus atau tidak.


"Sweety, I miss you so much." Wanita itu langsung berhambur dalam pelukkan Sweet. Sweet tak dapat memberikan respon apa pun. Bohong jika Sweet tak merindukan ibu angkatnya, karena ia benar-benar sangat merindukannya. Hanya saja, saat ini Sweet masih kecewa dengan semua yang terjadi.


"Apa Tuan Santonio yang meminta anda datang ke sini?" tanya Sweet dingin. Wanita itu langsung melerai pelukannya. Menatap Sweet penuh rasa kecewa karena panggilan Sweet padanya sudah berubah.


"Momny ingin bicara, bisa ikut Mommy sebentar?"


"Cukup bicara di sini," sahut Sweet memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tak ingin Charlotte melihat raut sedih diwajahnya. Charlotte menarik kedua tangan Sweet, mengusapnya penuh kelembutan.


Sweet duduk terdiam mendengar semua penjelasan ibu angkatnya. Perasaannya kini kembali kacau. Bingung harus mempercayai siapa untuk saat ini. Karena kepercayaan itu hampir sirna setelah apa yang Jeremy lakukan.


"Sebaiknya anda pulang, karena aku tidak akan pernah kembali. Hubungan di antara kita hanya sebatas mantan ibu dan anak, tidak akan pernah berubah." Sweet bangun dari posisi duduk, melangkah pasti meninggalkan wanita paruh baya itu dengan perasaan kacau.

__ADS_1


Berbeda halnya dengan Charlotte, seulas senyuman sinis ia terbitkan dari bibirnya. Tangannya bergerak untuk menghapus sisa air mata di pipi, lalu beranjak pergi dari tempat yang sebenarnya enggan ia datangi.


__ADS_2