Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (38)


__ADS_3

Melvin meletakkan makanan di atas meja, lalu ditatapnya Claire yang sedang serius berkutat dengan laptop. Ya, kini keduanya memang berada di apartemen Melvin. "Makan dulu."


"Sebentar, aku hampir dapat." Sahut Claire. Suara keyboard yang bertemu jemari lentiknya terdengar begitu nyaring.


Melvin duduk di sebelah kekasihnya itu dengan segelas jus ditangannya. Dan perlahan menyesapnya sambil memperhatikan kinerja Claire. Sedangkan yang ditatap terlihat begitu serius.


"Aku mendapatkan sebuah kode khusus, El. Aku rasa ini kunci untuk mengetahui keneradaan mereka."


"Apa itu?" Melvin merapatkan diri pada gadisnya itu.


"Kanopi palem, kau tahu maksdunya?" Claire melirik Melvin.


Melvin tampak berpikir. "Aku rasa tahu di mana mereka berada."


Claire langsung memberikan tatapan serius. "Kau yakin?"


Melvin mengangguk. "Itu sebuah pulau, hanya ada satu pulau yang banyak ditumbuhi pohon palem."


Mata Claire berkaca-kaca. "Jadi aku akan segera bertemu Mommy? Ya Tuhan, jantungku berdebar, El."


Melvin menatap wajah kekasihnya itu. "Kapan kau ingin pergi?"


"Apa boleh secepatnya? Aku ingin bertemu Mommy, El." Claire merebut gelas di tangan Melvin. Lalu meneguknya dan hanya menyisakan sedikit. Melvin yang melihat itu tersenyum geli.


"Besok kita berangkat, kau siap?"


Claire menatap Melvin lekat. "Apa Mommy akan menerimaku, El?"


"Kau putrinya."


"Aku takut, El. Bagaimana jika mereka tidak percaya aku anaknya?"


"Kita bisa tes DNA."


Claire semakin gamang.


"Kau gugup?" Melvin meraih tangan kekasihnya itu.


"Sedikit," sahut Claire meremat tangan Melvin. "Aku tidak tahu akan bicara apa saat bertemu dengan mereka."


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan."


Claire mengangguk. "Aku tidak sabar untuk bertemu mereka."


"Besok pagi kita langsung berangkat. Kau siap?"


"Ya."


Keesokan harinya, mereka berdua pun melakukan penerbangan dengan sebuah helikopter, karena tempat itu hanya bisa ditempuh oleh helikopter dan kapal kecil.


Sepanjang penerbangan, Claire terlihat gelisah. Ia gugup karena akan bertemu langsung dengan ibu kandungnya. Melvin yang melihat kegelisahan itu pun menyatukan jemari mereka. "Tidak perlu gugup, mereka pasti menerimamu."


Claire menoleh yang diiringi anggukkan kecil. "Terima kasih sudah membantuku, El." Dipeluknya lelaki itu dengan erat.


Terima kasih juga karena kau sudah membantuku menemukan sibedebah itu, Claire. Melvin tersenyum miring.


Beberapa jam kemudian, helikopter yang mereka naiki pun mendarat dilandasan. Dan sekarang mereka akan menaiki sebuah speed boat.


"Apa hanya ini kendaraan yang bisa dipakai untuk ke sana?" Tanya Claire takut-takut.

__ADS_1


"Ya, namanya juga pulau terpencil. Ayo, jangan cemas. Boat ini tidak akan menenggelamkanmu."


"Aku tidak bisa renang kau tahu?"


"Aku ada bersamamu, kemari." Melvin yang sudah lebih dulu naik ke atas speed boat pun mengulurkan tangannya pada sang kekasih. Dengan ragu Claire menerima uluran tangan Melvin, dan berhasil naik ke atas boat.


Tidak ingin menunggu lama, Melvin langsung meminta pemilik boat itu berangkat.


"Berapa lama lagi, El?"


"Hanya setengah jam lagi. Sepertinya kau sudah tidak sabar ya?" Melvin tersenyum kecil. Sedangkan Claire hanya menjawab dengan anggukan.


"Aku hanya gugup." Claire menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Sedangkan Melvin tidak lagi memberikan tanggapan.


Dan kini boat yang mereka naiki sampai dititik perhentian. Dengan hati-hati Melvin membantu Claire turun. Ia bisa merasakan kegugupan dari kekasihnya itu, tangannya terasa begitu dingin.


"Kita harus memcari Villa yang banyak ditumbuhi pohon palem. Aku dengar di sini terdapat beberapa Villa." Kata Melvin.


"Tempat ini sangat indah, El. Pantas Mommy memilih tempat ini untuk bersembunyi. Tapi yang selalu menjadi pertanyaanku, kenapa Mommy bersembunyi?"


Melvin merengkuh pinggang Claire. "Kita akan mencari tahu jawabannya sebentar lagi." Keduanya pun mulai menyusuri pulau kecil itu.


"Apa yang ini, El? Hanya Villa ini yang memiliki kanopi palem." Claire memperhatikan sebuah Villa megah di depan matanya.


"Aku rasa." Melvin mendekati gerbang, lalu menekan bel. Sayangnya tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana.


"Sepertinya tidak ada orang, El. Apa kita terlambat?"


"Aku tidak tahu." Sahut Melvin.


"Siapa kalian?" Tanya seorang dari arah belakang mereka.


Deg!


Jantung Claire berpacu hebat saat melihat sosok di depan matanya.


Mommy?


Terlihat jelas keterkejutan di wajah wanita itu saat melihat Claire. Sampai barang yang ada ditangannya pun terjatuh berantakan. "Dayana?"


Claire menoleh ke arah Melvin. Ia bingung dengan nama asing yang Deena sebutkan. Wanita paruh baya itu mengikis jarak antara dirinya dan Claire. Bahkan tangannya bergerak untuk menyentuh pipi Claire. Seketika Claire merasa ada gelenyar hangat menjalar sampai nadinya.


"Ya Tuhan. Apa aku bermimpi?" Deena terus mengucap sambil memperhatikan wajah cantik Claire yang hampir mewarisi dirinya.


"Aku nyata, Mom." Lirih Claire langsung berhambur dalam pelukan sang Mommy. Bahkan tangisan keduanya pun pecah.


"Thanks God! Kau mengabulkan doaku, putriku masih hidup." Deena mengcupi pipi Claire bertubi-tubi. "Maafkan Mommy yang tidak bisa melindungimu, sayang. Maafkan Mommy."


Claire mengangguk seraya mengeratkan pelukannya. "Aku merindukanmu, Mom."


"Bahkan rinduku tak bisa tertampung lagi, Dayana."


Claire terdiam sejenak. "Apa itu nama asliku, Mom?"


Deean melerai pelukan mereka. Lalu melihat kiri dan kanan seolah mengawasi sekitar. Setelah itu dengan cepat memungut barang belanjaan yang tercecer. "Sebaiknya kita masuk." Ajaknya menarik Claire masuk. Sedangkan Melvin mengekori mereka dari belakang.


Claire melihat-lihat foto dirinya saat bayi yang terpajang di dinding. Hingga matanya tertuju pada foto seorang pria tampan berambut pirang.


"Siapa dia?" Tanyanya.

__ADS_1


Deena tersenyum. "Kakakmu."


Spontan Claire menoleh. "Aku punya Kakak?"


"Ya, tapi saat ini dia sedang diluar. Mencari obat Ayahmu." Deena pun mengalihkan perhatian pada Melvin. "Kau...."


"Melvin, kekasih putrimu." Melvin memperkeanlkan diri.


Deena langsung menatap putrinya. Claire pun mengangguk. "Mom, apa aku boleh bertanya satu hal?"


"Apa itu?"


"Apa aku anak kandungmu dengan Daddy?"


Deena terdiam sejenak, dan itu membuat Claire cemas.


"Aku tahu kau pasti akan bertanya hal ini. Ya, kau putriku, dan dia Ayahmu." Deena menunjuk foto suaminya.


Claire bernapas lega. "Syukurlah. Aku pikir, aku...."


"Ikut dengan Mommy." Deena meraih tangan Claire, lalu menatap Melvin. "Tunggu saja di sini."


Melvin mengangguk patuh. Kemudian Deena membawa Claire pergi. "Mom, apa kau sudah mengenal Melvin?"


Deena tidak menjawab.


"Ah, lupakan itu." Claire menarik napas panjang. Ia masih terlihat canggung meski Deena adalah Ibu kandungnya.


"Aku dan Ibu Melvin sahabat baik. Tentu saja aku tahu siapa anak-anaknya."


Claire menoleh. "Apa Mommy tidak marah aku membawanya ke sini?"


Deena menahan langkahnya saat tiba di depan sebuah pintu kamar. Lalu keduanya pun saling berhadapan. Bahkan pandangan keduanya saling bertemu. "Dia membawa kembali putriku, apa aku harus marah?"


"Mom." Claire meraih tangan Deena, lalu mengecupnya dengan lembut. Deena menarik Claire dalam dekapannya.


"Mommy janji, kali ini Mommy tidak akan membiarkan orang lain membawamu lagi, Dayana. Maaf karena Mommy tidak bisa melindungimu. Mommy pikir, kau sudah tiada."


Claire mengecup pundak Deena. "Aku tidak pernah menyalahkanmu, Mom. Aku menyayangimu meski baru hari ini aku bisa memelukmu."


"Oh... kehilanganmu saja membuat hidupku hancur, Dayana. Kau tidak akan pernah tahu segila apa aku saat lelaki brengsek itu menculikmu." Jelas Deena.


Spontan Claire kembali mengingat sosok Daddy yang selama ini merawatnya. Ia menarik diri dari dekapan Deena. "Mom, siapa sebenarnya Daddy?"


Deena terdiam sejenak. "Aku akan memberi tahumu, tapi temui Daddymu dulu."


Claire mengerut bingung. "Apa Daddy baik-baik saja?"


Deena tidak menjawab, tetapi membuka pintu kamar itu. "Mausklah."


Dengan ragu Claire masuk ke dalam. Seketika tubuhnya membeku saat melihat sosok lelaki yang terbaring lemah di atas pembaringan. Dengan berbagai alat rumah sakit yang terpasang ditubuhnya yang lemah. Claire menutup mulutnya tak percaya.


"Daddymu tertembak dan jatuh dari tebing saat ingin menyelamatkanmu. Sampai detik ini hidupnya hanya bergantung pada obat dan alat rumah sakit."


Claire terkesiap. "Jadi ini alasan Mommy bersembunyi?"


"Bukan hanya ini, masih ada yang lain."


"Hah? Apa itu?"

__ADS_1


"Kau akan tahu nanti."


__ADS_2