Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 73


__ADS_3

Selesai salat Subuh, Alex kembali memboyong anak dan istrinya ke Jakarta. Meski sebenarnya Buk Astuti begitu berat melepas kepergian anak dan cucunya. Karena akan sangat lama untuk bertemu mereka kembali.


"Mas, kamu lihat wajah Ibu tadi? Sepertinya Ibu sangat sedih," ujar Sweet. Alex melirik Sweet sekilas, lalu menggengam tangan Sweet. Sedangkan sebelah tangannya yang lain ia gunakan untuk menyetir.


"Tidak ada seorang Ibu yang ingin jauh dari anaknya, Sayang. Tapi apa boleh buat? Kita juga tidak mungkin terlalu lama di sana. Masih banyak urusan yang harus kita selesaikan. Waktu kita di sini tidak banyak, jika terlalu lama juga kasihan anak-anak. Mereka akan terus tertinggal pelajaran sekolah."


Sweet mengangguk, "iya Mas."


Alex tersenyum, tanpa melepas genggaman tangannya. Sweet menoleh ke belakang. Ketiga anaknya masih tertidur pulas.


"Suhu di sini sangat cocok untuk mereka," ujar Alex yang di jawab anggukan oleh Sweet.


"Lebih-lebih Alexa, dia tidak bisa terkena panas terlalu lama. Jadi tempat dingin sangat cocok untuknya."


"Musim dingin sudah tiba, aku rasa mereka akan senang di sana." Kata Alex lagi.


"Hm, terutama Arez. Anak itu sangat menyukai hal baru yang belum pernah dilihatnya, ia selalu membuat eksperimen sendiri." Jelas Sweet.


"Mereka cerdas sepertimu," puji Alex.


"Tidak, Arez lebih mirip kamu, Mas. Dia sangat suka melukis. Mungkin aku belum mengatakan ini padamu," timpal Sweet.


Alex sedikit tersentak mendengarnya, ia baru tahu semua itu. "Benarkah?"


"Iya, Mas. Apa pun yang Arez gambar sangat bagus. Jika tidak percaya, kamu bisa tes dia nanti."


Alex terdiam sejenak.


"Ana, aku juga tidak pernah menceritakan ini padamu. Sejak kecil, aku sangat senang melukis. Semua yang aku lihat seakan terpotret di kepalaku. Aku sangat mudah mengingat apa yang sudah aku lihat sebelumnya. Tapi sayang, dalam keluargaku mencintai seni adalah hal tak berguna. Aku besar di lingkungan yang keras, Kakak selalu melarangku untuk sekedar melukis." Alex menjeda ucapannya sejenak.


"Kakakku akan memberikan hukuman jika tahu aku melukis, tapi kadang aku tidak peduli. Aku tetap melukis, karena itu adalah bakatku. Oleh karena itu aku membangun ruang rahasia di bawah tanah. Agar Kakakku tidak tahu, aku bisa bebas melakukan apa saja di sana. Sekarang semua itu mengalir dalam darah putra kita, aku tidak akan mengulang hal yang sama. Aku akan membantunya mengembangkan bakat itu, tidak ada batasan untuk mereka." Lanjut Alex panjang lebar.


Sweet tertegun mendengar semua penjelasan Alex. Ia tidak pernah tahu, jika masa kecil Alex juga kelam. Sama seperti masa kecilnya yang begitu pahit.


"Aku selalu mendukung keputusanmu, Mas." Sweet mencium punggung tangan Alex.


"Aku sangat berterima kasih padamu, Ana. Kamu sudi mengandung dan melahirkan mereka untukku, padahal kamu tahu aku selalu menyakiti hatimu."


Sweet menatap wajah Alex lamat-lamat. "Dulu aku memang membencimu, Mas. Tapi aku juga tak dapat memungkiri perasaanku padamu, rasa cinta itu seakan mengalahkan segala kebencianku padamu. Aku tidak tahu alasanku bisa mencintaimu, mungkin karena kamu lelaki pertama yang selalu menaruh perhatian padaku. Meski aku tahu caramu itu salah."

__ADS_1


Alex tersenyum getir, ia mengingat kembali saat-saat pertama dirinya mengenal Sweet. Bagaimana sikapnya pada Sweet. Jujur, saat itu Alex memang tidak menyukai Sweet. Ia selalu berpikir negatif terhadapnya. Namun, Alex juga tak dapat membohongi dirinya. Perlahan ia mulai tertarik pada Sweet, mulai memperhatikan gerak gerik gadisnya itu. Walau terkadang sikapnya berbanding terbalik dengan hatinya.


"Aku minta maaf," ucap Alex.


"Itu masa lalu, Mas. Sekarang saatnya kita menikmati masa depan bersama trio kurcacimu itu. Perlahan mereka akan tumbuh dewasa dan kita akan semakin menua."


"Dan aku lebih mirip kakek untuk mereka," gurau Alex.


"Tidak, kamu masih terlihat tampan." Ucap Sweet seraya menyandarkan kepalanya di bahu Alex.


"Itu artinya aku bisa memiliki tiga istri lagi, bukan?"


"Boleh, tapi aku akan mundur perlahan." Sahut Sweet dengan nada santai.


"Ah, lebih baik kehilangan seribu gadis cantik dari pada kehilanganmu, Ana. Kau tidak tahu betapa gilanya aku saat kau pergi jauh dari hidupku. Separuh nyawaku seakan hilang," ujar Alex begitu tulus.


"Itu salahmu," cerca Sweet.


"Aku tahu, kamu tidak akan pernah salah dalam hal ini." Gurau Alex yang berhasil mendapat cubitan pedas dari Sweet. Ia hanya bisa meringis, menahan rasa perih dibagian perutnya.


***


Kurang lebih satu jam lamanya perjalan mereka dari Bogor ke Jakarta Timur. Alex membangunkan ketiga anaknya untuk turun. Setelah itu ia beranjak ke belakang untuk menurunkan beberapa buah tangan pemberian Pak Ujang dan Buk Tuti.


"Ayo," ajak Sweet seraya membantu Alexa turun dari mobil. Sedangkan dua jagoannya mengekor di belakang.


Dika keluar dari rumah dan langsung membantu Alex membawa beberapa barang ke dalam rumah.


"Bagaimana kabar mereka?" Tanya Nissa pada Alex.


"Alhamdulilah mereka semua sehat," jawab Alex apa adanya.


"Syukurlah," ucap Nissa.


"Ayo sarapan, kalian pasti lapar kan?"


"Iya, Bunda. Perut Arel terus bersuara sejak tadi." Ujar Arel seraya mengusap perutnya.


"Bagaimana kamu tahu itu? Daddy lihat kalian tidur sepanjang jalan." Ledek Alex.

__ADS_1


"Arel tidak tidur, Dad. Tadi cuma tutup mata aja karena pusing." Arel berusaha membela dirinya. Nissa, Dika maupun Alex terseyum mendengar alasan logis Arel.


"Ya sudah, ayo sarapan dulu. Ayo sayang," ajak Nissa mengandeng tangan Arel dan Arez.


"Huh, andai saja kemarin Dika tidak sekolah. Pasti Dika ikut ke sana," keluh Dika. Alex tersenyum mendengarnya, lalu merangkul pundak Dika.


"Lain waktu kita akan pergi lagi," ucap Alex yang langsung dijawab anggukan oleh Dika. Mereka pun mengikuti jejak Nissa ke ruang makan.


"Mommy, kepala Lexa sakit." Alexa mengeluh saat ia selesai dari kamar mandi. Sweet menyejajarkan tubuhnya dengan tinggi Alexa.


"Oh ya? Sepertinya anak Mommy mabuk perjalanan, sini Mommy lihat." Sweet mengecup pucuk kepala. "Nah, sudah sembuh kan?"


Alexa tersenyum sambil mengangguk. Sweet terkekeh melihatnya, Alexa selalu saja berhasil membuatnya merasa gemas. "Sudah?"


"Sudah, Mom." Jawab Alexa dibarengi dengan anggukkan. Lalu Sweet pun membawa Alexa keluar.


Mendengar suara riuh di ruang makan, Sweet beranjak ke sana untuk bergabung.


"Ana, ayo sarapan dulu." Titah Nissa yang kini tengah melayani suaminya untuk sarapan.


"Terima kasih, Mbak." Ucap Sweet. Lalu ia pun membantu Alexa duduk di kursi. Alex dan yang lainnya sudah mulai makan.


"Mommy, Lexa mau makan omlet sayur." Rengek Alexa. Hal itu berhasil menarik perhatian semua orang.


"Kalau begitu biar Bibik yang buatkan ya?" Tawar Nissa.


"Lexa mau omlet buatan Mommy," rengek Alexa seraya memegang lengan baju Sweet. Semua orang tersenyum melihat tingkah menggemaskan Alexa.


"Iya Sayang, tunggu sebentar." Ucap Sweet yang langsung bergerak menuju dapur.


Setelah beberapa saat, Sweet kembali membawa sepiring omlet pesanan Alexa. "Dihabiskan ya?"


"Mommy yang suap," rengek Alexa lagi. Alex yang sedang makan pun mengalihkan pandangan pada putrinya.


"Lexa, kamu bisa makan sendiri kan? Biarkan Mommy sarapan, jika tidak Mommy akan sakit. Apa kamu suka Mommy sakit?"


Alexa langsung menggeleng, ia mengambil sendok di atas piring. "Lexa bisa makan sendiri, Mom." Ada sedikit nada kecewa saat Alexa mengucapkan itu. Sebagai seorang Ibu, tentu saja Sweet menyadari itu.


Sweet menghela napas berat. "Tidak apa-apa, Sayang. Mommy bisa makan sambil suapin Lexa kok."

__ADS_1


Alex kembali membuka mulutnya, tetapi Sweet langsung menahan agar Alex tidak melajutkan ucapannya. "Tidak apa-apa, Mas." Sweet sedikit berbisik.


Alex menghela napas panjang, lalu ia pun melajutkan sarapannya. Tidak ada lagi ocehan yang terdengar. Semua orang begitu pokus menyantap sarapan pagi mereka.


__ADS_2