Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 40


__ADS_3

"Hey, kau lihat Deena?" Tanya Sabrina pada salah satu teman kampusnya.


"Tidak, sepertinya sudah beberapa hari aku tidak melihatnya."


"Owh, thank you." Ucap Sabrina kembali melangkahkan kaki untuk mencari keberadaan sahabatnya yang sudah lama tak ditemuinya. Bahkan Sabrina sudah coba menghubunginya beberapa kali, tetapi ponsel Deena sepertinya off.


"Kau di mana De? Jangan membuatku cemas." Sabrina terus menyusuri kampus, berharap dapat melihat batang hidung sahabatnya.


"Apa dia marah padaku karena aku menghilang beberapa hari?" Sabrina tampak berpikir keras. Lalu ia mengingat perkataan suaminya beberapa waktu lalu. Di mana Arez memintanya untuk menjauhi Deena.


"Jangan bilang Deena mendapat ancaman dari lelaki otoriter itu? Tapi apa salah Deena?" Sabrina menggigit ujung bibirnya. Sampai dipelataran kampus, matanya tak sengaja menangkap sosok Deena memasuki sebuah mobil mewah milik seseorang.


"Deena." Teriaknya. Namun wanita itu sepertinya tak mendengar. Karena mobil itu sudah melaju dengan cepat. "Ck, kemana dia akan pergi?"


Sabrina menghela napas gusar. Kemudian bergegas kembali memasuki gedung. Karena sebentar lagi ia harus menemui dosen pembimbingnya.


Sore hari, Sabrina memasuki lobby apartemen dengan langkah gontai. Hari yang begitu melelahkan baginya, karena ia harus mengulang kembali beberapa bagian tugas akhirnya.


"Hey anak haram." Seru seseorang yang berhasil menarik perhatian Sabrina karena dia mengenali suara itu. Seketika manik abu itu melebar saat melihat keberadaan Ibu dan adik tirinya yang kini tengah duduk di sofa. Memandang Sabrina dengan tatapan sinis.


"Sedang apa kalian di sini?" Tanya Sabrina menghampiri kedua orang itu. Dua wanita beda usia itu bangun dari posisinya.


"Cih, jadi kau semakin sombong setelah menikah dengan seorang billionaire tua itu huh? Apa yang kau berikan sampai dia ingin membelimu dengan harga mahal?"


Sabrina mengerut bingung mendengar pertanyaan yang dilontarkan Ibu tirinya.


Siapa yang wanita ini sebut tua? Pikir Sabrina.


"Mom, semua lelaki menginginkan hal yang sama. Apa lagi pria tua seperti suaminya saat ini. Tinggal mengangkang saja didepannya, dia sudah bisa menghasilkan uang banyak. Benarkan, Kakak cantik?"


Sabrina memutar bola matanya malas. "Apa yang kalian inginkan sampai menyusulku ke sini?" Tanyanya dengan ekspresi datar.


"Berikan aku satu miliar, aku rasa uang sebanyak itu tidak ada harganya bagimu. Kau goda saja lelaki tuamu itu, lalu minta padanya. Bahkan dia sanggup memberikan uang berjumlah besar pada Daddymu."


"Apa?" Kaget Sabrina.


"Cih, tidak perlu berpura-pura kaget. Berikan aku uangnya, aku rasa kau punya kan? Mana kartu limitid suamimu? Berikan itu padaku." Perintah wanita paruh baya itu dengan nada angkuh.


"Aku tidak punya alasan untuk memberikan sepeser uang pun pada kalian." Ketus Sabrina hendak pergi dari sana.


"Sialan! Aku akan membongkar siapa kau sebenarnya di depan suamimu. Kalau kau itu sebenarnya j*l*ng, sama seperti Ibumu."


Langkah kaki Sabrina tertahan saat mendengar hinaan itu. Mungkin dirinya tak akan marah mendengar hinaan yang ditujukan untuknya, tetapi wanita itu menghina mendiang Ibunya. Ia tak terima itu. Sabrina berbalik dan kembali mendekati wanita itu.


"Kau bilang apa tadi?" Sabrina melayangkan tatapan tajam pada wanita itu.


"Kau j*l*ng, sama seperti Ibumu." Ulang wanita itu seraya melipat kedua tangannya di dada. Seolah menantang Sabrina.

__ADS_1


Sabrina mengepalkan tangan dan berusaha menahan emosinya. Matanya memerah karena emosinya yang sudah sampai ubun-ubun.


"Cih, kenapa kau diam? Kau baru menyadari jika sifat j*l*ng Ibumu turun dalam dirimu huh?"


Plak!


Sabrina melayangkan sebuah tamparan keras di pipi wanita itu. Membuat adik tirinya ternganga.


"Kau boleh menghinaku, tapi jangan Ibuku." Desis Sabrina dengan tatapan membunuh.


"Dasar wanita sialan, berani sekali kau menamparku." Wanita itu hendak membalas tamparan pada Sabrina. Namun tangan itu melayang di udara karena seseorang menahannya. Sontak mereka pun menoleh dan menemukan seorang lelaki tampanlah pemilik tangan besar itu.


Sabrina tersenyum saat melihat orang itu yang tak lain adalah suaminya, Alfarez.


"Berani menyentuh wanitaku, itu artinya kau mengusik ketenanganku. Kau harus membayar mahal." Kata Arez menepis tangan wanita itu dengan kasar. Arez mengambil sapu tangan di saku jasnya, lalu mengelap tangannya dengan gaya sensual.


"Siapa kau? Berani sekali mengancamku." Sinis wanita paruh baya itu menatap Arez tajam.


"Hey, kau membela j*l*ng ini? Harus kau tahu, dia itu istri dari seorang pengusaha tua. Jangan percaya dengan kata-kata manisnya, kau sedang dijebak olehnya." Ujar adik tiri Sabrina dengan begitu lantang.


Arez mengangkat sebelah alisnya kala mendengar hal itu. Lalu tangan kekar itu


melingkar di pinggang ramping sang istri. "Sayang, apa benar suamimu sudah tua?" Tanya Arez menatap sang istri.


"Hey, Tuan. Kau harus percaya padaku. Dia ini wanita yang sudah bersuami. Dan suaminya itu tua bangka, jelek dan gendut. Dia hanya ingin menjebakmu. Bahkan aku lebih baik darinya." Timpal gadis muda itu memberikan tatapan nyalang pada Sabrina.


"Sayang, siapa mereka?" Tanya Arez dengan nada dingin.


"Suamiku?" Pekik Ibu tiri Sabrina menatap Arez nyaris tak percaya.


"Hm. Dia suamiku yang kalian katai tua, jelek, dan gendut. Aku berhasil merubahnya menjadi setampan ini. Oh iya, suamiku. Perkenalkan ini Ibu tiriku, Belinda. Dan yang cantik ini adikku, Queenella." Ujar Sabrina dengan senyuman miring.


Seketika dua wanita itu mundur beberapa langkah. Gadis bernama Queenella itu menatap Arez dengan tatapan memuja.


Sial! Kenapa anak haram ini selalu saja dikelilingi keberuntungan. Bahkan dia menikahi lelaki setampan ini. Bahkan lelaki ini mampu meneggakkan kembali perusahaan Daddy yang hampir tumbang.


"Apa tujuan mereka ke sini, Sayang?" Tanya Arez masih setia menatap sang istri. Seolah enggan untuk menatap kedua wanita itu.


"Mereka ingin meminta uang." Jawab Sabrina dengan jujur.


"Uang? Apa kita pernah meminjam uang pada mereka?"


"Tidak, mereka membutuhkan uang satu miliar. Mungkin stok di rumahnya sudah habis, atau mereka ingin membayar tagihan yang sudah membengkak. Mereka takut ketahuan Daddy jadi datang padaku." Jelas Sabrina yang sudah bisa menebak akal busuk Ibu dan adik tirinya itu.


"Sembarangan. Jangan dengarkan dia, tampan. Wanita ini sangat licik, dia bukan wanita baik-baik. Dia itu anak haram yang lahir dari rahim seorang wanita penghibur. Dia j*l*ng berkedok dewi." Ujar Belinda menatap Arez dengan wajah memelas.


"Mommyku benar, saat kecil dulu dia selalu membuliku. Bahkan dia merebut semua lelaki yang dekat denganku, dia itu sangat licik. Kau pasti sudah dijebak olehnya kan? Dia itu sangat jahat." Queenella terus memprovokasi Arez agar percaya padanya.

__ADS_1


"Kau benar, dia memang sangat licik dan jahat." Sahut Arez yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Sabrina. Sedangkan dua wanita itu tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi aku suka itu, karena menjadi istri seorang Alfarez harus memiliki jiwa licik dan jahat. Agar tidak mudah ditindas orang-orang rendahan." Imbuh Arez yang berhasil membuat pipi Sabrina merona. Beruntung setengah wajahnya tertutup topeng.


Berlinda dan Queenella menggeram kesal. Seolah tak terima Sabrina mendapat pria tampan dan kaya raya seperti Arez.


"Al, aku sangat lelah. Bisa kita pergi dari sini?" Pinta Sabrina sedikit merengek.


"Tentu, Sayang." Arez mengeratkan rengkuhannya. Sebelum pergi, ia menatap kedua wanita itu dengan tatapan dingin dan menusuk. "Kalian akan membayar mahal karena sudah berani menghina istri dan mendiang Ibunya. Besok, kalian akan mendapat hadiah sepesial dariku."


"Al, hantikan itu. Ayok pergi." Ajak Sabrina menggandeng tangan suaminya. Lalu keduanya pun beranjak dari sana. Meninggalkan dua wanita yang tengah memendam emosi.


"Mom, aku tak terima dia mendapat suami setampan itu. Kau bilang suaminya sudah tua bangka, jelek dan gendut. Lalu kenapa bisa jadi setampan itu?" Kesal Queenella.


"Mommy juga tidak tahu dia akan mendapat lelaki setampan ini. Kau jangan khawatir. Lelaki itu pasti tidak benar-benar mencintainya. Mungkin saja dia akan membuangnya setelah bosan." Sahut Belinda penuh keyakinan.


"Aku tetap tidak terima, bagaimana pun caranya aku akan merebut lelaki itu seperti sebelumnya. Semua lelaki yang dekat dengannya akan berpindah hati padaku. Mana mungkin lelaki itu sudi memiliki istri dengan asal usul tak jelas sepertinya." Gadis muda itu tersenyum licik.


"Kau benar, dia hanya anak haram yang tak diakui oleh keluarga Ayahnya sendiri. Aku yakin kau akan mendapatkan lelaki itu. Kau ratu dari semua ratu di dunia ini, Queen." Kedua wanita itu tertawa bersama. Dan tak menyadari jika mereka sedang mengusik singa tidur.


...****...


"Al." Sabrina naik ke atas pangkuan suaminya yang tengah duduk bersandar di sofa. Arez menatap wanita itu lamat-lamat.


"Apa kau malu memiliki istri sepertiku? Aku hanya anak haram yang...." perkataan Sabrina terpotong karena Arez lebih dulu menarik tengkuknya. M*lum*t bibir manis sang istri dengan lembut. Sabrina yang awalnya sempat kaget pun kini mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Arez. Mulai terbuai dan membalas ciuman manis dari suaminya. Dan adegan itu berlangsung cukup lama.


Arez mengakhiri pagutannya dengan penuh sensual. Menatap wajah sang istri yang merah padam dengan napas yang terputus-putus. Arez mengusap bibir istrinya yang sedikit membengkak. Lalu mencecap singkat bibir itu lagi. "Jangan mengatakan apa pun yang menyakiti dirimu sendiri, Sabrina."


Sabrina menatap netra suaminya begitu dalam. Lalu tapa sadar air matanya menitik begitu saja. Arez yang melihat itu terkejut tentunya. Ia mengusap jejak air mata itu dengan lembut.


"Sejak dulu aku sangat takut, Al. Bagaiman jika lelaki yang menjadi suamiku tak bisa menerima statusku? Karena setiap lelaki yang mendekatiku pada akhirnya akan membenciku karena status itu. Aku juga tak ingin terlahir dengan status itu. Ibuku juga bukan wanita murahan, aku percaya itu, Al." Tangisan Sabrina pun pecah. Ia membenamkan wajahnya di dada bidang Arez. Dan lelaki itu membiarkan Sabrina menumpahkan air matanya.


"Jika aku bisa memilih, aku ingin terlahir dari keluarga sempurna. Di mana Ayah dan Ibuku ada di dalamnya, menjadikan aku buah hati yang diinginkan." Isak tangisan Sabrina pun terdengar begitu pilu.


"Tidak ada yang menginginkan aku hadir di dunia ini, kata-kata itu sering aku dengar sejak kecil. Dan itu sangat menyakitkan, Al. Aku benci mereka, aku ingin menghilang di muka bumi ini. Tidak ada yang menginginkan aku, Al."


"Aku menginginkanmu, Sabrina." Perkataan Arez pun berhasil menghentikan tangisan Sabrina. Wanita itu menegakkan tubuhnya. Menatap Arez begitu dalam dan penuh perasaan.


"Jangan pernah tinggalkan aku, Al. Aku mencintaimu." Ucap Sabrina yang kemudian langsung meraih bibir suaminya. Mececap bibir itu dengan penuh gairah. Arez mendorong Sabrina dengan lembut. Mengunci pandangan istrinya rapat-rapat.


"Jangan menjadi wanita lemah, Sabrina. Jadilah wanita tegas dan kuat jika kau ingin terus bersamaku. Tak selamanya aku bisa berdiri di dekatmu. Bahkan aku tak keberatan kau menjadi wanit jahat dan licik sekalipun." Tegas Arez mencengram kedua bahu istrinya.


Sabrina mengangguk pelan. Dan itu berhasil mengundang senyuman tipis di wajah suaminya. Sabrina berhambur dalam pelukan Arez. "Aku mencintaimu, Al. Kau memang kasar, tapi kau selalu menjadi pelindungku. Kadang-kadang kau bersikap manis dan aku menyukai itu. Kau laki-laki pertama yang membuatku merasa nyaman. Bahkan Daddy tak bisa memberikan kenyamanan seperti ini."


"Alasanmu mencitaiku tidak masuk akal, Sabrina." Sahut Arez dengan nada datar seperti biasanya.


Sabrina tertawa renyah. "Mungkin karena kau juga sangat tampan, Al. Karena itu aku mencintaimu dengan mudahnya."

__ADS_1


"Aku menginginkanmu." Bisik Arez yang berhasil membuat Sabrian menarik diri dari dekapannya.


"Aku juga menginginkanmu, Al." Sabrina tersenyum nakal dan kembali mencium bibir suaminya. Dan keduanya pun terus terhanyut dalam perasaan masing-masing. Saling memberikan kepuasan dan kenikmatan yang tiada tara.


__ADS_2