
Alexa memasuki kamar sang adik dengan ragu. Di sana terlihat Alexella tengah duduk di ujung ranjang. Alexa menoleh ke belakang di mana kekasihnya berada. Winter tersenyum dan menganggguk. Lalu ia pun beranjak pergi dari sana. Memberikan waktu untuk Alexa dan Alexella bicara.
Alexa ikut duduk di sisi sang adik. Lalu merangkul gadis itu dengan erat. "Kenapa kau tak menolaknya, Xella?"
Alexella menatap sang Kakak lamat-lamat. "Lalu aku harus melukai hati Daddy? Sejak aku lahir, Daddy selalu memberikan cinta yang lebih padaku. Apa aku harus menolak keinginannya kali ini? Bahkan selama ini Daddy tidak pernah meminta apa pun dariku, Kak."
"Xella...."
"Kau lupa, Kak? Daddy selalu memegang sumpahnya. Apa aku harus mematahkan prinsipnya hanya untuk memenuhi egoku?"
Alexa yang mendengar itu langsung memeluk sang adik. Tangisannya pun pecah. Ia masih tak rela jika Alexella masuk dalam keluarga yang tak memiliki aturan itu.
"Aku yang akan menikah dengannya, kenapa kau yang menangis, Kak?" Tanya Alexella merasa heran pada sang Kakak. Seharusnya dirinya yang menangis bukan?
Alexa melerai pelukannya dan menatap sang adik penuh iba. "Aku tak rela kau menikah dengan lelaki brengsek seperti Jarvis. Kau tahu kan dia itu sering tidur dengan wanita berbeda setiap harinya."
"Aku tahu, lalu apa urusannya denganku? Aku bisa menjalankan pernikahan kontrak dengannya."
Alexa cukup kaget mendengar itu. "Apa maksudmu?"
Alexella menatap sang Kakak penuh arti. "Aku akan membuat kontrak sebelum pernikahan. Dia tak bisa menyentuhku sesuka hatinya."
"Apa kau yakin, Xella? Bagaimana jika Daddy tahu?"
"Daddy tak akan tahu selama kau tak bicara, Kak." Jawab Alexella dengan santai.
Alexa menghapus jejak air matanya dan menggantinya dengan senyuman. "Aku janji tak akan bicarakan hal ini pada siapa pun."
"Termasuk Kak Arez dan Arel, berjanjilah." Alexella menjentikkan jari kelingkingnya pada Alexa. Dengan senyuman lebar, Alexa pun mengaitkan jadi kelingkinya.
"Ya, aku janji. Kau juga harus berjanji satu hal denganku, jangan menyembunyikan hal apa pun setelah kau menikah nanti. Oh ya satu lagi, biarkan kami menikah lebih dulu." Kata Alexa.
"Bagaimana dengan Kak Arez? Dia tidak mungkin menikah dalam waktu dekat." Tanya Alexella menatap Alexa penuh tanya.
"Entahlah, aku rasa dia sudah memiliki seseorang dihatinya. Dia sangat tertutup pada kita soal kisah cintanya."
Alexella mengangguk pelan.
"Bagaimana dengan Mommy?" Tanya Alexa saat mengingat sang Mommy.
"Aku akan mencoba bicara dengan Mommy. Aku rasa Daddy bisa membujuknya."
"Tapi kali ini beda, Mommy kelihatan sangat marah."
"Tenang saja, aku akan bicara dari hati ke hati dengan Mommy."
Alexa mengangguk sambil tersenyum.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan rencana pernikahan kalian?" Tanya Alexella mengalihkan pembicaraan.
"Sejak lama aku dan Winter sudah merencanakan pernikahan di akhir tahun ini. Aku tidak sabar hari bahagia itu benar-benar terjadi."
"Semoga rencana kalian berhasil kali ini."
"Aamiin."
Keduanya pun sejenak melupakan masalah perjodohan itu. Hingga suara deringan ponsel milik Alexa mengusik ketenangan mereka. Dengan cepat Alexa melihat nama orang yang menelponnya.
"Siapa?" Tanya Alexella penasaran.
"Ansel." Jawab Alexa segera mengangkat teleponnya.
Ansel Drye Brianta, seorang pemuda yang saat ini menjabat sebagai asisten pribadi Arez dan Arel sekaligus. Ansel mengikuti jejak sang Ayah, Joshua Brianta. Yaitu menjadi pengikut setia keturunan Digantara. Tentu saja semua itu atas permintaan sang Ayah karena keluarganya terlalu banyak berhutang budi pada keluarga Alex. Ansel cukup andal dalam segala hal. Termasuk menguntit ke mana pun Arel pergi. Bisa dikatakan ia kaki tangan Alexa. Saat Arel membuat ulah. Ansel akan melaporkan itu pada Alexa.
"Halo."
"Datang ke Diamond Hotel, Kakakmu membawa seorang wanita ke sana."
"What? Okay, terima kasih, Ansel."
Tut! Sambungan telepon itu pun terputus.
Alexa menatap sang adik. "Arel membuat ulah lagi. Dan kali ini dia menggunakan Diamond Hotel. Hotel milikku, Xella. Sialan anak itu."
"Kau benar, aku harus pergi sekarang." Alexa bangun dari posisinya dan bergegas pergi dari kamar sang adik.
****
Diamond Hotel.
Dengan rasa percaya diri Arel menggandeng wanita asing ke dalam hotel. Wanita itu adalah pasangan dansanya tadi.
"Baby, kenapa kita ke hotel ini? Apa kau tidak takut keluargamu tahu?" Tanya wanita itu merasa terintimidasi dengan tatapan semua orang yang ada di hotel. Tentu saja wanita itu tahu siapa lelaki yang saat ini merangkulnya.
"Kau takut, Honey? Ada aku di sini, jadi tidak perlu takut." Arel menujukkan kartu identitasnya pada sang resepsionis. Kemudian wanita berpakaian seragam itu langsung menyerahkan kunci kamar president suite sesuai pesanan Arel. Karena sebelum datang ke sana, Arel sudah memesan kamar itu lebih dulu.
"Ayok, Sayang." Ajak Arel membawa wanita itu menuju lift. Tidak perlu lama, mereka sudah berada di lantai sepuluh. Arel berjalan santai semabari menggandeng wanita itu menuju kamar hotel. Namun langkah kakinya tertahan saat melihat seorang wanita berpakaian seragam hitam yang tengah mendorong sebuah trolly berisi pakaian kotor melewatinya.
"Berhenti!" Seru Arel yang berhasil menahan langkah wanita berseragam itu. Namun sedetik kemudian wanita itu melanjutkan langkahnya. Langkah itu lebih cepat dari sebelumnya. Arel langsung berbalik saat mendengar suara roda trolly.
"Hey kau, aku bilang berhenti!" Ulang Arel yang sama sekali tak dihiraukan oleh wanita itu. Arel menggeram kesal dan langsung mengejarnya. Mengabaikan panggilan wanita yang tadi ia bawa.
Arel berhasil meraih sebelah tangan wanita itu. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menarik wanita itu ke dalam toilet ujung. Lalu mengunci pintu itu dengan kasar. Bahkan Arel tak berniat melepaskan cengkraman tangannya pada wanita asing itu.
"Tu...tuan. Apa yang Anda lakukan?" Suara wanita itu bergetar. Arel memutar tubuhnya, menatap wanita yang masih setia menunduk.
__ADS_1
"Angkat wajahmu, Sky." Titahnya. Namun wanita itu masih saja bergeming. Dengan kasar Arel menarik dagu sang wanita sampai ia bisa melihat wajah itu. Wajah yang sudah sangat lama tak ia lihat, dan tentunya ia rindukan. Wanita itu tak berani menatap Arel dan memilih untuk memejamkan matanya.
"Buka matamu, Sky." Perintah Arel dengan suara lembut. Perlahan mata wanita itu terbuka. Tatapan Arel pun seketika teduh saat melihat netra biru langit sang wanita. Netra biru langit itu masih sama seperti dulu, sebelum wanita itu lari dari kehidupannya. Tanpa ragu, Arel membawa wanita itu dalam pelukkannya. Wanita itu tak menolak atau pun membalas pelukkan Arel.
"Kemana saja kau, Sky? Aku sangat tersiksa setelah kepergianmu. Bicaralah, Sky."
Sky Aurellia Evvender, gadis cantik pemilik netra biru langit yang berhasil memikat hati seorang Alfarel sejak dibangku kuliah dulu. Keduanya terjebak cinta berbeda kasta. Namun entah hal apa yang membuat wanita itu memilih menikah dengan lelaki lain dan pergi dari kehidupan Arel tanpa sebuah penjelasan. Merubah hidup lekaki itu menjadi seburuk ini.
"Arel... lepaskan aku." Suara wanita itu masih bergetar.
"Aku tak akan melepaskanmu lagi, Sky. Tak akan pernah. Dua tahun lamanya aku mencarimu, dan sekarang kau datang sendiri padaku. Aku tak akan melepasmu lagi." Arel mengeratkan dekapannya.
"Tapi aku sudah menikah, Arel." Tegas Sky yang berhasil membuat Arel melepaskan pelukannya. Lelelaki itu menatap wajah Sky dengan seksama.
"Katakan sekali lagi." Pinta Arel.
Sky menghela napas gusar. "A--aku sudah menikah."
Arel tersenyum mendengarnya. "Lalu?"
Sky menatap Arel bingung. "Aku sudah menikah, Arel. Hubungan kita sudah kandas sejak dulu."
"Aku tidak pernah memutuskan hubungan denganmu, Sky. Jadi jangan pernah berpikir aku akan melepaskanmu kali ini. Aku tak peduli kau sudah menikah atau belum." Ujar Arel menyentuh pipi tirus gadisnya itu. Sampai kapan pun Sky akan tetap menjadi gadisnya.
"Cukup Arel, aku...."
"Ikut denganku." Potong Arel menggenggam tangan Sky dan membuka pintu dengan kasar. Lalu ia pun menarik Sky ke dalam lift. Gadis cantik itu ingin memberontak, tetapi hatinya seolah enggan melakukan itu. Jujur, ia juga sangat merindukan lelaki yang saat ini menggenggam tangannya dengan penuh kehangatan.
Arel mendorong tubuh kurus Sky hingga menyentuh dinding baja yang dingin. "Arel, aku mohon. Jangan seperti ini."
"Shut... aku tak memintamu bicara, Sky." Arel mendekatkan wajahnya dengan wajah Sky hingga hidung mancung mereka pun saling beradu. "Katakan kau merindukanku, Sky."
Sky memalingkan wajahnya dan mengabaikan permintaan Arel.
Arel menarik dagu sang kekasih dengan lembut. Memperhatikan wajah kekasihnya yang sudah banyak perubahan. Tidak ada lagi pipi cubby kesukaannya, tak ada lagi rona merah yang selalu membuatnya gemas. Kini hanya tersisa wajah putih pucat dengan tulang pipi yang mencuat. Hati Arel terasa perih melihat itu. Apa sebenarnya yang sudah dialami gadisnya itu?
"Apa yang membuatmu jadi sekurus ini, Sky? Katakan, Sky."
Sky mulai meneteskan air matanya. "Please, lepaskan aku, Arel."
"Berhenti memintaku untuk melepaskanmu, Sky." Bentak Arel merasa muak dengan permintaan gadisnya itu. Sky memejamkan matanya saat mendengar suara keras Arel. Sepengetahuannya, Arel tak pernah kasar dengan wanita.
Suara dentingan penanda pintu lift terbuka pun menyadarkan Arel. Beberapa orang yang hendak masuk pun mengurungkan niatnya. Sampai pintu itu pun tertutup kembali. "Maafkan aku. Jangan memintaku untuk melepaskanmu lagi, Sky. Karena aku tak akan pernah melepaskanmu sampai aku mati."
Sky menatap netra coklat pekat Arel begitu dalam. Ia bisa melihat luka yang begitu dalam di sana. Membuatnya tak berani lagi bicara.
"Ikutlah denganku, jangan menolak lagi."
__ADS_1
Sky pun mengangguk pelan. Arel tersenyum dan langsung ******* bibir manis sang kekasih yang sudah sangat ia rindukan. Tak ada lagi penolakan dari gadis itu. Membuat Arel semakin gencar untuk memperdalam cecapannya. Melepaskan segala rasa rindu yang sudah lama membuncah dihatinya.