Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (78)


__ADS_3

Emilia langsung terkejut saat dirinya yang terbangun dan sudah berada di sebuah tempat asing. Terakhir kali ia ingat, seseorang menariknya dengan tiba-tiba, padahal ia baru saja hendak masuk ke dalam taksi karena ingin kembali ke hotel. Setelahnya ia pun tak sadarkan diri karena orang itu membiusnya.


Wajahnya juga pucat pasi saat menyadari dirinya terikat di sebuah kursi besi. Lalu pandangannya pun mulai mengedar, dan semuanya benar-benar asing.


Ya Tuhan, apa aku akan berakhir di sini. Batinnya.


Tidak lama, pintu pun terbuka. Seorang pria tampan masuk, tentu saja Emilia kaget karena orang itu tak lain adalah Marvel.


"Ka__kau?" Kagetnya seraya menatap lelaki itu tajam.


Marvel berdiri di depannya dengan kedua tangan berada di saku celana. Ditatapnya gadis itu lamat-lamat. "Siapa kau?" Semburnya dengan tatapan membunuh yang kental.


"Ah, aku Em...." belum selesai gadis itu bicara. Marvel sudah lebih dulu mencekal lehernya kuat. Sontak gadis itu langsung kesulitan bernapas.


"Apa yang kau lakukan pada adikku hm?"


Emilia menggeleng dengan wajah memerah karena mulai kehabisan napas. Air matanya pun perlahan merembes karena berusaha meraup udara. Tangannya yang terikat membuat Emilia tak bisa melakukan apa-apa.


Sayangnya lelaki itu seolah tak peduli dan terus mencekiknya tanpa ampun.


Tubuh Emilia perlahan melemah, ia benar-benar pasrah jika memang harus mati sekarang. Namun, disaat itu Marvel langsung melepaskan cengkramannya. Seketika Emilia pun langsung terbatuk dengan napas tercekat.


"Kau tidak akan mati begitu saja." Bisik Marvel. Ditatapnya Emilia yang masih terbatuk. "Katakan siapa yang mengirimmu?"


Mata Emilia perlahan bergerak ke arah Marvel, lalu menggeleng pelan. Tentu saja emosi lelaki itu semakin memuncak. Dan kembali mencekik wanita itu lebih kuat.


"Ple__ase." Emilia memohon sebisanya. Bahkan ia mulai menangis karena ketakutan.


Ya Tuhan, apa kau akan mencabut nyawaku sekarang? Batin Emilia pasrah.


Brak!


Marvel terkejut saat pintu ruangan itu didobrak paksa. Dan pelakunya tak lain adalah Lucas. Terlihat jelas kemarahan di mata lelaki itu.


Marvel menjauhkan tangannya dari Emilia. Seolah memberikan ruang pada Lucas.


"Terima kasih karena kau membawa j*l*ng ini padaku." Ucap lelaki itu dengan tatapan membunuhnya yang kental ke arah Emilia.


Seketika Emilia ketakutan bukan main. "Tolong, bukan aku pelakunya. Aku...."


Plak!


Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Emilia hingga sudut bibir dan hidungnya mengeluarkan darah. Bahkan wanita itu hampir tak sadarkan diri sangking kuatnya tamparan itu.


"Kau menyerahkan nyawamu sendiri, J*l*ng." Geram Lucas seraya menjambak rambut Emilia. Ia benar-benar murka, karena semua bukti memang mengarah pada wanita itu. Tidak ada orang lain yang masuk ke kamar Eveline selain wanita itu. Bahkan sidik jarinya juga cocok sebagai tersangka.


"Katakan apa motifmu?" Geram Lucas ingin mencabik wajah Emilia sangking murkanya. Ia harus kehilangan calon anaknya dan saat ini Eveline juga belum sadarkan diri.


Emilia menangis. "Aku mohon, aku tidak berniat melakukan itu."


"Katakan siapa yang menyuruhmu?" Bentak Lucas semakin mengeratkan cengkramannya di rambut Emilia. Bahkan rasanya rambut Emilia seperti ingin lepas.

__ADS_1


"A__ku tidak tahu." Jawab Emilia menangis tersedu. "Aku mohon, lepaskan aku."


Lucas mengeratkan rahangnya. "Bicara dengan jelas, j*l*ng!"


Mata Emilia bergerak ke arah Marvel yang sejak tadi hanya menonton. Bibirnya bergetar seolah mulutnya terkunci saat ingin bicara sesuatu.


Bugh!


Lucas memukul perut wanita itu karena tak bisa lagi menahan kemarahannya. Seketika Emilia pun muntah darah. Namun matanya masih tertuju pada Marvel seolah ingin menyampaikan sesuatu, tetapi begitu sulit terucap karena rasa sakit yang teramat dalam.


Di waktu bersamaan Violet pun datang bersama suaminya. Wanita itu langsung memekik kaget saat melihat kondisi sahabatnya yang sudah mengenaskan.


"Emilia!" Dustin menahan istrinya yang hendak mendatangi Emilia. "Lepaskan aku, Dustin! Dia sahabatku, apa yang kalian lakukan padanya?"


Emilia menatap Violet sendu. Tubuhnya terasa remuk dan tak berdaya. Violet langsung menatap kedua sepupunya untuk bertanya. "Apa yang kalian lakukan?"


"Dia orang yang menyebabkan istriku menderita, Vi." Desis Lucas dengan kilatan amarah di matanya.


Mendengar itu Violet pun langsung menatap Emilia yang sudah lemah tak berdaya. Ditepiknya tangan sang suami, lalu bergegas mendekati Emilia.


"Katakan padaku, Em. Itu tidak benar kan?" Tanyanya seraya menepuk pelan pipi Emilia. Wanita itu menatap Violet dengan tatapan lemahnya.


"Maaf." Hanya itu yang keluar dari mulutnya meski sangat pelan.


Violet memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal, lalu berbalik dan melayangkan tatapan tajam pada Lucas dan Marvel.


"Kalian bisa bertanya baik-baik bukan? Kenapa harus memukulnya? Dia wanita." Kesal Violet.


"Aku tak pernah memandang gender untuk musuh, Vio." Desis Lucas.


Violet berbalik, lalu dibukanya tali yang mengikat tubuh Emilia. "Kau masih kuat kan, Em?"


Emilia menatap Violet sendu. "Tinggalkan aku, Vi." Lirihnya yang kemudian batuk darah. Sepertinya pukulan Lucas begitu kuat hingga melukai organ vitalnya.


"Berhenti omong kosong, kau harus mendapat perawatan. Peduli setan dengan mereka, aku percaya kau tidak bersalah, Em."


Emilia menahan tangan Violet, dan itu membuat Violet berhenti bergerak. "Aku yang melakukannya, Vi. Aku memang bersalah." Bisiknya yang berhasil membuat Violet tercengang.


"Kenapa, Em?" Lirih Violet masih tak percaya sepenuhnya.


Emilia memeluk Violet. "Terima kasih." Ucapnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang.


"Em!" Kaget Violet berusaha menahan tubuh sahabatnya. "Cepat bantu aku, bawa dia ke rumah sakit." Paniknya. Dengan sigap Dustin pun membantunya.


Lucas mendengus sebal, dan meninggalkan tempat itu begitu saja. Sedangkan Marvel hanya menatap Emilia tanpa ekspresi.


****


Emilia mengerang kesakitan saat mulai sadarkan dari tidur panjangnya. Sudah dua hari lamanya ia pingsan akibat kehilangan banyak darah, karena saat pingsan wanita itu juga terus muntah darah.


Violet terus menggenggam tangannya erat. "Em?"

__ADS_1


Emilia mengerjapkan matanya untuk menyesuiakan cahaya. Lalu meringis saat merasakan bagian perutnya sakit bukan main.


Tidak lama dokter yang bertanggung jawab merawatnya pun datang dan langsung memeriksanya. "Tolong jangan banyak bergerak dulu, jahitannya masih belum kering."


Emilia mengerut bingung mendengar perkataan dokter. Violet yang melihat itu pun angkat bicara. "Ginjalmu mengalami cedera parah akibat pukulan Lucas. Dokter harus mengangkat sebelah ginjalmu, Em."


Emilia memejamkan matanya. Tanpa sadar air matanya kembali menetes. Dan itu membuat Violet merasa iba.


Dokter yang sudah selesai memeriksanya pun langsung beranjak dari sana.


"Kau harus bicara padaku, Em. Kenapa kau lakukan semua ini?" Lirih Violet seraya mengusap rambut Emilia.


Emilia menoleh perlahan dengan mata berkaca-kaca. Violet pun langsung memeluknya. Seketika tangisan Emilia pun pecah. "Orang itu menculik putraku, Vi." Ucapnya disela tangisan.


Sontak Violet pun kaget dan melerai pelukannya. "Pu__putra? Putra siapa yang kau maksud, Em?"


Emilia menatapnya sendu. "Aku melahirkan seorang putra dua tahun lalu, Vi. Sekarang dia ada di tangan orang itu, dia mengancamku akan membunuh Noah jika aku gagal menjalankan perintahnya. Aku tidak tahu kenapa mereka menargetkan putraku." Tangisan Emilia pun semakin pecah.


Violet terhenyak mendengarnya. Pasalnya ia tak pernah tahu soal kehidupan Emilia beberapa tahun ini karena memang keduanya sama-sama hilang kontak. Violet tampak bingung dan mencoba mencerna semuanya.


"Siapa orang itu?" Tanya Violet pada akhirnya. Dan diwaktu bersamaan Lucas dan yang lain pun masuk. Mendengar kabar Emilia siuman, mereka pun langsung turun ke rumah sakit.


Melihat Lucas dan Marvel, tubuh Emilia pun bergetar ketakutan. Tentu saja Violet yang menyadari hal itu pun menggengam erat tangannya. "Jangan takut, aku ada untukmu."


Lucas duduk di sofa, menatap Emilia penuh intimidasi. "Jika bukan karena Violet, mungkin aku sudah menghancurkan tubuhmu."


Mendengar itu Emilia meremat tangan Violet.


"Luc!" Violet memperingati. Namun Lucas malah berdecih sebal.


Lea ikut duduk di tepi brankar, ditatapnya Emilia penuh selidik. "Sejak awal aku sudah curiga padamu. Hanya saja kecurigaanku meluap saat tahu kau teman baik Violet. Tapi, setelah apa yang kami temukan, semua dugaanku tidak salah sepenuhnya. Siapa kau sebenarnya hm?"


"Le." Violet menatap Lea penuh permohonan. "Dia baru saja sadar."


"Jangan melindungi pembunuh, Vi." Geram Lea.


"Dia terpaksa melakukan semua itu. Seseorang menyandra putranya, kalian puas?" Tegas Violet yang berhasil membuat semua orang kaget.


"Putra? Dia sudah menikah?" Lea menatap Emilia semakin dalam.


"Siapa orang itu?" Kali ini Marvel pun angkat bicara. Mendengar suara itu, Emilia pun bungkam.


Melihat keterdiaman Emilia, Violet pun menyentuh lengannya. "Katakan saja jangan takut, putramu pasti baik-baik saja."


Emilia memilin selimut sangking takutnya. "Aku tidak tahu dia siapa." Gugupnya.


"Jangan berbohong, Em. Katakan saja, kami di sini pasti membantumu." Tegas Violet terus mendesak sahabatnya agar bicara.


Emilia menggigit bibirnya.


"Katakan, please. Agar kita tidak salah paham padamu." Mohon Violet.

__ADS_1


Emilia memejamkan matanya sejenak, lalu menunjuk Marvel takut-takut. "Kekasihnya."


Sontak semua mata pun langsung tertuju pada lelaki itu.


__ADS_2