Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 53


__ADS_3

Sabrina melenguh saat ia mulai tersadar, kepalanya juga terasa begitu sakit dan berat. Bukan hanya itu, ia juga merasa kedua tangannya terasa sangat sakit. Dan benar saja, saat ini posisi tangannya terikat ke belakang dengan mulut tertutup sebuah kain. Apa ia sedang diculik? Ingatan Sabrina pun kembali terputar, dimana ia bertemu Alexella dan wanita itu menembakkan sesutu padanya. Dan saat itu juga kesadarannya menghilang.


Sabrina mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Di sana terdapat sebuah meja kayu panjang dan sebuah kursi usang. Sabrina terus mengedarkan pandangan, sampai matanya menangkap seseorang. Netra abu itu membulat saat menangkap sosok yang sangat ia kenali juga ada di sana dalam kondisi sama seperti dirinya, yaitu terikat dengan mulut tersumpal. Hanya saja penampilannya begitu berantakan. Rambut indah itu terlihat kusut dan dua kancing kemaja yang terbuka.


Alexella? Bagaimana mungkin? Lalu siapa yang menembakku saat itu? Pikir Sabrina membuat kepalanya sangat pusing. Ya, wanita yang ia lihat itu adalah Alexella. Lalu siapa Alexella yang ada di luar sana?


"Hmmm...." Sabrina berusaha mengelurkan suara untuk mencari perhatian Alexella yang belum sadarkan diri. Perlahan wanita itu bergerak dan membuka matanya. Sabrina tersenyum senang. Meski senyuman itu terhalang kain penutup.


Alexella tampak kaget saat melihat keberadaan Sabrina. Ia menggeleng seolah mengisyaratkan untuk diam. Sabrina melihat ke arah pintu yang sudah terbuka sedikit, kemudian menatap Alexella yang kembali mengisyaratkan untuk menutup mata kembali. Sabrina pun menurut dan dengan cepat memejamkan matanya kembali.


"Mereka masih belum sadar?" Terdengar suara berat seseorang.


"Sepertinya belum, apa kita terlalu banyak memberikan obat bius?" Kini suara itu lebih ringan. Menadakan yang bicara seorang wanita.


"Bagaimana perkembangannya? Apa mereka sudah bergerak?" Lelaki itu kembali bersuara seraya menatap Alexella. Kemudian tersenyum penuh kemenangan.


"Belum ada perkembangan, Zhia masih berperan menjadi Alexella dengan baik. Dia memberi informasi bahwa belum ada pergerakan di sana." Jawab wanita itu.


Zhia? Bukankah dia model yang aku jebak saat itu? Sialan! Jadi wanita itu Zhia? Dasar j*l*ng. Alexella mengumpat dalam hati.


"Lelaki sialan itu tak mungkin berdiam diri saat istrinya kita culik. Apa lagi wanita ini sedang mengandung anaknya." Lelaki itu mengalihkan perhatian pada Sabrina.


Baik Sabrina maupun Alexella terkejut mendengar itu.


Apa yang mereka bicarakan itu aku? Aku hamil? Jadi dugaanku benar? Ya Tuhan. Pikir Sabrina dalam hati.


Sabrina hamil? Kenapa Kak Arez sama sekali tak memberitahu keluarga besar? Ck, bahkan aku tak begitu yakin siapa yang tengah mereka bicarakan. Aku atau dia. Nicholas sialan. Aku tak akan mengampunimu setelah ini. Pikir Alexella.


Kemarin....


Setelah pertengkaran dengan Jarvis, Alexella beranjak menuju pemakaman keluarga. Jujur, ia sangat merindukan sang Daddy. Alexella berjongkok di sisi makam Alex. Mengusap batu nisan itu dengan lembut.


"I miss you, Dad." Alexella pun menangis. Ia benar-benar merindukan Daddynya. Lelaki yang selalu mendengarkan keluh kesahnya. Sejak kecil dirinya memang lebih dekat dengan sang Daddy dibanding Mommynya. Tak heran jika dirinya sangat kehilangan sosok itu.

__ADS_1


"Dad, aku hamil. Maafkan aku karena tak langsung memberitahumu saat itu. Harusnya aku memberi kabar baik ini padamu, anak macam apa aku ini?" Keluhnya dengan tubuh gemetar. Cukup lama Alexella terdiam dalam posisi itu. Dan tak menyadari seorang wanita berjalan mendekatinya.


"Semuanya jadi kacau setelah kau pergi, Mommy sering sakit karena kehilanganmu. Kami semua belum siap kau tinggalkan, Dad. Jika ada sebuah keajaiban, aku akan memintamu kembali." Imbuhnya.


"Tapi sayang, keajaiban itu hanya dalam anganmu saja, Alexella. Tanganku sendiri yang menekan pelatuk itu, lalu peluru menembus tepat di jantung Ayahmu. Hebat bukan?"


Alexella terperanjat kaget dan langsung berbalik. Namun dalam waktu bersamaan ia kembali dikagetkan dengan wajah yang saat ini ia lihat. Wajah yang begitu mirip dengannya. "Kau?"


Wanita dengan wajah sama sepertinya itu tersenyum miring. "Alexella, anggap saja itu aku. Dan kau hanya akan menjadi Alexella yang tak diketahui semua orang. Jarvis milikku, Alexella. Dan kau merebutnya dariku."


"Siapa kau? Bagaimana wajahmu sama persisi denganku?" Seru Alexella bangkit dari posisinya.


"Ini zaman teknologi, Xella. Bahkan aku bisa merubah wajahku ribuan kali." Jawab wanita itu mendekati Alexella. Namun hal itu sama sekali tak menggoyahkan Alexella.


"Kau pikir dengan mengubah wajah, kau bisa mengelabui keluargaku huh? Jika kau berpikir seperti itu, itu artinya kau bodoh." Tukas Alexella tersenyum licik.


"Oh, kita lihat sebodoh apa diriku huh? Akan aku pastikan tak akan ada yang mengingatmu lagi, Xella." Wanita itu menodongkan senjata tepat di kening Alexella.


"Aku terima tantanganmu, kita lihat dan saksikan sendiri. Seberapa jauh kau bisa membohongi keluargaku. Berhari-hatilah, karena nyawamu berada di ujung tanduk." Ujar Alexella memprovokasi wanita itu.


"Apa yang kau lakukan? Sudah aku katakan jangan sakiti wanitaku." Seru seseorang yang berhasil mengejutkan kedua wanita itu. Terutama Alexella.


"Uncle Nich?"


Lelaki itu tersenyum lebar. Nicholas Aldrick Maloree, anak bungsu dari mendiang Holand Maloree yang sudah lama tak pernah muncul di Berlin. Terakhir kali mendengar kabarnya itu tiga tahun silam saat lelaki itu meminta bantuan pada keluarga Digantara. Setelah mendapat penolakan itu ia hilang bak ditelan bumi.


"Lama tak berjumpa, Baby." Sapa Nicholas yang menyukai Alexella sejak wanita itu kecil. Lelaki itu mendekat dan mengusap pipi mulus Alexella. Namun wanita itu mundur beberapa langkah.


"Cih, jadi kau dibalik semua ini huh?" Sinis Alexella.


"Ya, Baby. Aku akan mengulang kembali sejarah silam. Salahkan Kakak sombongmu itu, dulu aku pernah meminta bantuan padanya. Tapi dia menolakku dan pada akhirnya aku harus merangkak sendirian di negara asing, beruntung aku menemukan wanita kaya raya yang bisa aku manfaatkan. Mengirim beberapa pembunuh bayaran disekitar lelaki sialan itu. Dan sekarang aku bisa melihat wajah cantikmu lagi, Baby." Ujar lelaki itu terus mendekati Alexella.


"Cih, isi kepalamu sama kotornya dengan mendiang Ayahmu. Jangan sentuh aku." Hardik Alexella menepik tangan Nicholas yang hendak meraih rambutnya. "Sudah seharusnya Kakakku menolak untuk membantumu, karena kau pengecut sialan. Kau menghabiskan uangmu untuk berjudi. Jika aku di posisi Kakakku, aku akan melakukan hal yang sama."

__ADS_1


Nicholas tertawa renyah. "Kau tidak berubah, Baby. Aku suka itu. Aku tak sabar untuk membawamu naik ke atas ranjang."


"Mimpi saja. Aku tak sudi disentuh lelaki brengsek sepertimu." Ketus Alexella.


"Kita lihat bagaimana reaksimu saat juniorku menembus milikmu, Baby. Aku tak sabar mendengar suara indahmu."


"Brengsek!" Alexella hendak lari dari sana. Namum dengan sigap di tahan oleh Nicholas. Dan diwaktu bersamaan ponsel Alexella pun berdering. Nicholas merenggut tas milik Alexella dan memberikannya pada Alexella palsu. "Tangani para bedebah itu. Aku akan bermain lebih dulu dengannya."


"Aku tidak mau, lepaskan aku. Sialan kau." Alexella terus memberontak. Namun dengan mudah lelaki itu membopongnya ke dalam mobil. Seolah Alexella bukanlah lawan untuknya.


Nicholas melempar tubuh Alexella ke dalam mobil. Menindihnya dengan gaya sensual. Alexella terus menjerit dan berusaha lepas dari kukungan lelaki itu. Namun tenaga lelaki itu bukanlah tandingannya.


Anak buah Nicholas pun langsung menutup pintu mobil dari arah luar.


"Jalan," titah Nicholas pada sang driver. Dengan gerak cepat ia menarik tirai agar sang driver tak melihat apa yang akan dilakukannya pada Alexella.


"Sial! Kenapa kau menggunakan celana panjang, Baby? Akh, tapi aku suka tantangan." Lelaki itu tersenyum nakal dan hendak meraih bibir Alexella. Dan lagi-lagi wanita itu menghindar. Membuatnya kesal setengah mati.


"Jangan membuatku marah, Xella. Aku tak akan bermain lembut pada pembangkang."


Alexella sama sekali tak menyahut dan terus menghindari ciuman lelaki berusia tiga puluh delapan tahun itu. Namun Nicholas tak ingin membuang waktu. Dengan gerak cepat ia mengunci tangan Alexella dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya satu lagi terus bergerak membuka kancing celana Alexella. Lalu menariknya dengan sekali sentakan. Seolah sudah terbiasa melakukan itu pada banyak wanita.


"Lepaskan aku, sialan kau!" Hardik Alexella ingin menggerakkan kakinya. Tetapi lelaki itu menghimpitnya dengan erat. Dan pergerakan Alexella itu mengakibatkan perutnya terasa nyeri. Alexella tak menangis atau pun mengeluarkan suara ringisan.


Tubuh Alexella tersentak kuat saat lelaki itu menghentakkan miliknya dengan kasar. Air mata Alexella mentes saat merasakan perih yang luar biasa di bagian intinya.


Jarvis. Seketika wajah lelaki itu yang terlintas dalam benaknya. Ia merasa bersalah pada lelaki itu. Kini dirinya benar-benar kotor dan tak pantas menjadi istri lelaki itu lagi. Alexella terdiam seribu bahasa. Matanya menatap nanar ke atas atap mobil. Alexella tak merasakan apa pun saat lelaki itu terus menggencarkan aksinya. Air matanya terus mengalir tiada henti. Menahan rasa sakit yang mendalam di hatinya.


Maafkan aku, Jarvis. Maafkan aku. Pertahanan Alexella pun runtuh. Tubuhnya bergetar karena menahan isakkan.


"Bagaimana, Sayang? Kau menyukainya?" Lelaki itu tertawa puas setelah berhasil menebar benihnya dalam rahim wanita itu. Sedangkan Alexella menggigit ujung bibirnya karena menahan rasa sakit di perut bawahnya. Tubuhnya sangat lemas. Perutnya terasa seperti diperas kuat.


Mommy mohon, bertahanlah, Sayang. Alexella berharap anak dalam kandungannya akan baik-baik saja. Perlahan pandangannya pun mengabur dan sedikit demi sedikit kesadarannya ikut menghilang.

__ADS_1


"Baby? Ck, kau payah sekali. Baru saja satu ronde sudah kalah. Bahkan aku belum mendengar suaramu, Sayang. Tidak jadi masalah, aku masih memiliki waktu untuk terus menyentuhmu." Ujar lelaki itu yang tak tahu akan kehamilan Alexella. Kemudian Nicholas mengecup bibir tipis Alexella sekilas. Selanjutnya ia merapikan kembali pakaian wanita itu. Juga pakaiannya.


Mobil hitam milik Nicholas pun terlihat berhenti di depan sebuah gedung. "Ikat dia dan jangan biarkan kabur. Nyawa kalian taruhannya." Titah lelaki itu meninggalkan Alexella yang masih pingsan di dalam mobil.


__ADS_2