Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 74


__ADS_3

Alexa tersenyum penuh haru saat melihat semua keluarganya hadir. Malam tadi, Alexa melahirkan tiga bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Sebuah anugerah yang luar biasa karena dirinya bisa melahirkan tiga bayi sekaligus meski ia harus menjalankan operasi cesar.


Kini ruang rawat Alexa benar-benar di penuhi sanak saudaranya. Mereka semua sengaja terbang dari Berlin sejak dua hari lalu karena tak ingin kehilangan momen di mana Alexa melahirkan. Semua orang tampak gembira menyambut anggota baru mereka. Beruntung ruangan VVIP itu sangat luas, jadi bisa menampun semua keluarga besar.


"Aku rasa kita tidak perlu berebut cucu." Kata Sweet untuk besannya.


"Kau benar, kita punya jatah masing-masing." Sahut Nyonya Winston mengusap pipi cucunya dengan lembut. Kedua wanita paruh baya itu terlihat bahagia.


"Lihat, mereka sangat menggemaskan. Marvel dan Melvin pasti senang punya adik baru. Wah, sepertinya akan seru jika mereka semua berkumpul. Kita bisa membuat rumah anak. Sekarang tinggal menunggu Xella melahirkan." Ujar Sabrina panjang lebar. Sedangkan yang dibicarakan masih setia menyuapi buah untuk sang Kakak.


Alexa tersenyum menatap Alexella. "Apa kau gugup?" Tanyanya.


"Ya, kau juga gugup bukan sebelum mereka lahir?"


"Hm... tapi semua itu terbayar saat melihat mereka lahir dengan selamat."


Alexella menghela napas panjang sambil mengusap perutnya. "Aku harap bayiku juga lahir dengan sehat."


"Aamiin."


"Sab, sepertinya putriku yang paling cantik sekarang." Ujar Sky yang kini tengah menyusui bayi mungil bernama Qiandra Azzalea Digantara yang lahir dua hari setelah kelahiran baby twins.


"Tenang saja, masih ada satu orang lagi. Aku rasa Xella akan melahirkan bayi cantik yang akan mengalahkan si cantik Lea." Sahut Sabrina seraya duduk di sisi brankar Alexa.


"Aku setuju denganmu, Sab. Apa kau benar-benar tak ingin memberi tahu kami jenis kelaminnya?" Alexa menatap sang adik lekat.


"Jangankan kalian, aku saja Ayahnya tidak boleh tahu jenis kelamin anakku." Sambar Jarvis yang berhasil mengundang tawa semua orang. Kecuali Arez dan Alexella tentunya.


"Itu akan menjadi kejutan." Sahut Alexella masih setia menyuapi sang Kakak.


"Honey." Panggil Arez untuk Sabrina.


"Ya?" Sabrina pun menoleh.


"Mereka terbangun," jawabnya saat melihat baby twins mulai rewel di dalam stroller. Dengan langkah cepat Sabrina menghampiri kedua bayinya.


"Wah, dua jagoan Mommy sudah bangun ya?" Sabrina mengusap pipi gembul keduanya bergantian. Kemudian membawa si kecil Marvel dalam dekapan. Bayi itu memang lebih cengeng dibandingkan Melvin sang Kakak. Karena itu Sabrina lebih sering menggendongnya.


Sedangkan Arez mengangkat Melvin, mengendongnya dengan hati-hati. Lelaki itu masih terlihat canggung padahal sudah hampir dua bulan mereka lahir.


"Sab, biarkan aku menggendongnya. Aku belum sempat bermain dengan mereka. Kau tahu aku mulas sejak tiga hari sebelum tripel lahir." Pinta Alexa.


"Tentu saja, Aunty." Sabrian pun membawa putranya dan memberikannya pada Alexa.


Alexa terlihat bahagia, mengecupi bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang. "Harum sekali."


"Siapa nama mereka?" Tanya Sabrina pada Alexa dan Winter yang terkantuk-kantuk di sofa. Lelaki itu sepertinya kelelahan. Sabrina tersenyum geli melihatnya. Ia mengingat Arez yang mengalami hal yang sama saat dirinya melahirkan si kembar dulu.


"Aku dan Winter sudah sepakat untuk memberi nama mereka baby Mike, Lucas dan Dustin."

__ADS_1


"Wow, keren. Aku rasa tidak sulit membedakan mereka." Seru Sabrina.


"Ya, mereka punya ciri khas masing-masing. Mike si pemilik mata biru, Lucas si rambut pirang dan Dustin memiliki lesung pipi yang indah." Ujar Alexa tersenyum senang.


"Beruntung sekali kau, Lexa.


Lihat putraku, mereka sulit dibedakan. Hampir semuanya ikut Ayahnya dan aku hanya kebagian warna rambut." Keluh Sabrina.


"Kau bisa membuat yang lain." Kata Sky ikut menimpali.


"Tidak, aku masih kapok dengan rasa sakitnya. Sepertinya dua sudah cukup." Sabrina melirik Arez yang masih sibuk dengan putra mereka. Ya, sekarang perhatian Arez memang lebih condong pada si kembar dari pada dirinya.


"Sekarang kau bicara seperti itu. Jangan sampai aku mendengar kau hamil lagi saat si kembar belum cukup usia." Ledek Alexa.


"Itu tidak akan tejadi."


"Aku tidak yakin." Timpal Alexella.


"Terserah kalian, yang jelas aku tidak mau hamil lagi." Pungkas Sabrina berjalan menuju box triple twins. Alexa dan Alexella cuma bisa menggelengkan kepala melihat tingkah Kakak iparnya yang satu itu.


****


Winter terus mengusap rambut Alexa yang sudah tertidur sejak sore tadi dan sekarang sudah pukul sembilan malam. Sepertinya Alexa kelelahan karena seharian mengurus ketiga putranya. Tiga hari pasca melahirkan Alexa memang diperbolehkan pulang. Wanita itu terlihat pucat dan begitu pulas dalam tidurnya. Winter pun merasa iba melihatnya. Untuk yang kesekian kali ia menghadiahi kecupan di kening sang istri.


Tidak lama terdengar suara rengekan bayi. Winter memindahkan kepala Alexa ke atas bantal. Ia pun bangkit dari sana dan beranjak menuju box bayi. Benar saja, Lucas terlihat gelisah dalam tidurnya. Seolah sudah terbiasa, Winter mengecek popok putranya.


"Sudah penuh. Biarkan Daddy membantumu menggantinya." Winter tersenyum seraya membuka popok putra kecilnya itu dengan hati-hati.


Usai menggantikan popok. Winter pun bergegas untuk membuatkan susu. Ia tidak ingin putranya menangis dan membangunkan sang istri.


"Ini dia, minumlah dan tidur. Kau sangat tampan sepertiku, son."


Tanpa Winter sadari, sejak tadi Alexa sudah terbangun. Wanita itu tersenyum saat melihat tingkah suaminya yang menggemaskan.


"Kenapa kau tidak tidur huh? Biasanya kau memejamkan mata saat Mommymu


mengusap bagian ini." Winter terus mengomel seraya mengusap dada Lucas dengan lembut. Namun putra kecilnya itu tak kunjung tidur. Bahkan susu hampir habis setengah botol.


"Kau sangat rakus, sama seperti Mommymu. Atau jangan-jangan kaulah yang memakan semua makanan yang Mommymu makan saat kalian masih dalam perut huh? Lihat pipimu sudah seperti bakpau. Padahal baru seminggu kalian lahir."


Alexa menahan tawanya saat mendengar ocehan Winter. Ocehan lelaki itu benar-benar menggelitik hatinya. Alexa bangun dari posisinya, menghampiri Winter yang masih asik mengoceh. Sontak Winter pun terkejut saat melihat sang istri sudah terbangun dan berdiri di sisinya.


"Dia tidak akan tidur jika dirimu terus mengoceh. Putramu yang ini sangat sensitif dengan suara."


"Sama sepertimu," sahut Winter tersenyum lebar.


Alexa mengangkat Lucas dan menempelkannya di dada. "Dia akan tidur saat kita mengusap punggungnya. Kau harus belajar, bagaimana jika nanti aku tidak ada?"


"Memangnya kau mau kemana huh?"

__ADS_1


"Ck, mana tahu aku pergi. Cobalah belajar memahami mereka, Winter. Mike dan Dustin memang tidak serewel Lucas. Mereka akan tertidur hanya dengan mengusap dadanya." Jelas Alexa.


"Dan aku akan tidur setelah kau manjakan."


Alexa berdecih sebal mendengarnya. "Aku serius, honey."


"Aku juga serius. Aku akan lebih cepat tidur saat kau memanjakanku."


"Terserah kau saja, honey."


Pagi hari, mansion keluarga Winston kembali diramaikan oleh keluarga besar Digantara yang masih ingin berlibur di sana. Kini suasana ruang makan benar-benar penuh dan cukup riuh. Di tambah si kecil Gabriel yang terus mengoceh meminta semua makanan yang ada di meja.


"Didi." Rengek Gabriel seraya menunjuk ayam goreng.


"Nope. Kamu sudah menghabiskan dua potong tadi. Makan ini saja." Tolak Arel memberikan puding susu pada putranya.


"No... Didi." Gabriel menggelengkan kepala dan kembali menunjuk ayam goreng. Semua orang yang melihat itu tertawa geli karena kelucuannya.


"Panggil aku Daddy, bukan Didi."


"Didi." Ulang Gabriel. Arel pun menghela napas berat.


"Terserah Anda saja Tuan kecil."


"Mommy." Gabriel menarik tangan sang Mommy yang sedang asik menyantap makanan karena ia memang sangat lapar. Sky pun menoleh. "Ada apa, Sayang?"


"Lihat, kau memanggil Mommymu dengan begitu lancar." Protes Arel.


"Gabriel masih kecil, Arel. Berhenti menuntutnya, sejalannya waktu dia akan memanggilmu dengan benar." Kali ini Sweet ikut menimpali.


"Ya, Mom."


"Oh iya, aku dengar kalian akan bulan madu lagi ya?" Tanya Alexa yang ditujukan pada Sabrina dan Arez.


"Ya, jauh-jauh kami datang ke sini. Kalau tidak memanfaatkan waktu sekarang, kapan lagi aku bisa berlibur? Suamiku terlalu sibuk." Jawab Sabrina melirik suaminya yang memasang wajah datar seperti biasanya.


"Lalu bagaimana dengan si kembar?" Tanya Alexella menatap Sabrina dan Arez bergantian.


"Kami akan membawanya. Lagian mereka mana bisa jauh dariku." Jawab Sabrina lagi.


"Baby, apa kita juga sebaiknya honeymoon lagi?" Tanya Jarvis menatap sang istri.


"Dan aku akan melahirkan di tengah jalan." Ketus Alexella.


"Ah, aku lupa kau sedang hamil besar. Padahal aku sudah membayangkan second honeymoon kita." Jarvis mendapatkan tatapan tajam dari Alexella.


"Lanjutkan makanmu, Jarvis." Titah Alexella.


"Baik, Tuan putri." Jarvis pun mengalah dan tak ingin memperkeruh suasana. Ia tahu istrinya itu sangat sensi sejak hamil.

__ADS_1


Mereka yang hadir di sana pun hanya bisa menggeleng melihat pasangan suami istri yang satu itu.


__ADS_2