
Eveline menangis histeris saat dirinya siuman dan mengetahi bayinya tak dapat diselamatkan. Lucas pun memeluknya dengan erat, mencoba menenangkan istrinya.
"Bagaimana mungkin ini terjadi padaku, Luc?" Eveline memukuli punggung suaminya karena merasa sakit hati atas kehilangan anaknya. Yang terakhir kali ia ingat, ia masih mengelus perutnya. Bahkan bayinya masih bergerak lincah. Sampai tiba-tiba ia merasa mulas dan sakit yang luar biasa. Setelah itu ia pun tak mengingat apa pun lagi. Dan saat bangun, kenyataan pahit langsung menamparnya. Hati ibu mana yang tak sakit saat kehilangan calon buah hatinya.
Lucas mengecup kepala istrinya itu penuh sayang. "Tenanglah, mungkin dia memang bukan takdir kita, Baby. Tenang okay?"
"Bagaimana aku bisa tenang, Luc? Aku selalu menjaganya dengan baik, tapi kenapa Tuhan tetap mengambilnya dariku? Itu tidak adil." Histeris Eveline terus memukuli suaminya.
Sabrina yang baru saja masuk pun terkejut saat melihat kondisi putrinya. "Eve." Sapanya seraya mendekati sang putri.
"Mom." Eveline beralih memeluk sang Mommy dan mengis kencang. "Bayiku, Mom."
Sabrina mengusap rambut putrinya penuh sayang. "Sabar, Sayang. Kau harus ikhlas."
Eveline menggeleng dan terus menangis tersedu. Lucas yang melihat itu cuma bisa mengepalkan tangannya. Ia benar-benar murka pada keadaan, tak kuasa melihat istrinya terluka seperti ini.
Perlahan tangisan Eveline pun mereda. Lalu menarik diri dari dekapan sang Mommy. Ditatapnya Lucas penuh emosi. "Siapa orang itu, Luc? Siapa yang sudah membunuh anakkku?" Terlihat jelas kemarahan di matanya.
Lucas dan Sabrina pun saling pandang, sebelum kembali menatap Eveline. "Kau tidak perlu memikirkan itu, Sayang. Aku sudah memberi orang itu pelajaran."
Eveline mengepalkan kedua tangannya. "Siapa dia?" Tanyanya penuh penekanan.
"Baby."
"Siapa, Luc?" Ulangnya dengan nada tinggi. "Berani sekali dia mencelakai anakku, nyawa harus dibayar nyawa."
Sabrina langsung menatap Lucas, lalu menggeleng. Tentu saja Lucas langsung paham maksud ibu mertuanya itu. Bagaimana pun kondisi Eveline saat ini belum membaik, jika ia tahu Emilia terlibat dalam pembunuhan bayinya. Sudah pasti Eveline akan membunuh wanita itu saat ini juga.
Lucas menghela napas. "Aku sudah membunuhnya, Eve. Seperti yang kau bilang, nyawa dibayar nyawa."
"Siapa?" Geram Eveline tidak puas dengan jawaban suaminya.
"Rose." Jawab Lucas melirik Sabrina sekilas. "Aku sudah membunuhnya."
Gigi Eveline gemertak. "Sudah kuduga wanita j*l*ng itu akan menargertkanku. Kenapa kau harus berhubungan dengan wanita sialan itu, Luc? Lihat sekarang, anakmu yang jadi sasarannya. Sudah sering aku ingatkan dirimu, jauhi wanita licik itu. Tapi kau tak percaya padaku, dan menganggap dia temanmu. Cih, teman n*fs*mu."
"Eve!" Lucas memperingati.
"Kenapa? Kau marah aku mengatakan wanita itu j*l*ng hm? Kau menyesal sudah membunuhnya? Ah, atau kau masih melindungi wanita itu? Di mana kau sembunyikan dia hm?" Sembur Eveline yang masih diselimuti amarah.
Sabrina memberikan kode pada Lucas untuk diam. Bagaimana pun saat ini emosi Eveline masih belum stabil.
__ADS_1
Lucas menghela napas. "Sebaiknya kau istirahat, Baby. Dokter mengatakan kau tidak boleh banyak bergerak dulu."
Eveline menatap suaminya penuh kebencian. "Bawa aku melihat jasadnya, Luc. Aku ingin memastikan sendiri dia mati."
Lucas terkejut mendengar permintaan istrinya itu. "Jangan gila. Kau masih sakit, Eve."
"Hatiku lebih sakit, Luc! Kau tahu? Hampir setiap detik aku gelisah karena kau masih saja berhubungan dengannya. Persetanan dengan gengmu itu, dia wanita yang memiliki perasaan padamu. Bagaimana mungkin dia diam saja setelah kau mencampakkannya, hah? Sekarang kau tahu di mana letak kebodohanmu, Luc? Aku rasa sejak lama kau memiliki perasaan padanya."
"Eve!" Kali ini Lucas pun tak bisa menahan diri lagi. Ia bangkit dari duduknya, lalu melayangkan tatapan tajam pada Eveline. "Terserah apa yang kau katakan. Kau yang tahu bagaimana perasaanku padamu, Eve. Pulihkan dirimu, supaya kau bisa membunuhku karena kebodohan yang aku lakukan."
Setelah mengatakan itu Lucas pun langsung pergi dari sana. Seketika tangisan Eveline pun kembali pecah.
Sabrina menghela napas, lalu memeluknya lagi. Diusapnya punggung Eveline dengan lembut. "Eve, tenangkan dirimu ya?"
Eveline mengeratkan pelukannya. "Kenapa harus anakku, Mom? Apa dia tidak punya hati sebagai seorang wanita?"
Lagi-lagi Sabrina menghela napas kasar. "Hati setiap orang itu tidak sama. Sudahlah, kau harus ikhlas dengan apa yang terjadi. Jangan bertengkar dengan suamimu. Dia juga sama terpukulnya sepertimu. Jangan menghakiminya seperti itu. Kau ingat bagaimana perjuangan cinta kalian? Jangan sampai hubungan kalian hancur hanya karena kehilangan satu anak. Kalian masih bisa memilikinya lagi. Mungkin menyakitkan, tapi kita harus terima itu, Sayang. Jangan salahkan keadaan ya? Ini takdir yang Tuhan berikan sebagai ujian untuk kalian berdua."
Eveline pun perlahan mulai tenang. Bahkan ia merasa menyesal karena melempar kesalahan pada suaminya, padahal harusnya mereka sama-sama terpukul karena kehilangan anak yang sudah mereka nantikan kelahirannya. "Maaf, Mom. Aku benar-banar tak bisa menahannya tadii."
"Sudah, tidak apa. Kau harus istirahat. Jangan terlalu stres. Ingat kondisimu saat ini ya?" Sabrina terus mengelus punggung putrinya, ia tahu saat ini Eveline masih terguncang.
"Iya, Sayang. Mommy akan menemanimu di sini. Kau lapar?"
Eveline menggeleng. "Aku pusing, ingin tidur."
Sabrina pun mengangguk. Lalu membantu putrinya berbaring. Ditatapnya Eveline yang masih menitikan air mata. Sebagai seorang Ibu, hatinya pun ikut merasakan sakit yang tengah Eveline rasakan. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memberi dukungan penuh pada putrinya itu.
****
Di tenpat yang sama, Emilia terbangun dari tidurnya saat sayup-sayup mendengar celotehan kecil yang amat ia rindukan. Namun matanya terasa berat untuk terbuka, karena ia pikir itu hanyalah sebuah mimpi. Jika ia membuka mata, maka suara itu akan hilang seperti yang sudah-sudah.
Ah, bahkan mimpi ini terasa nyata. Aku bisa mendengar suara putraku dengan jelas. Ya Tuhan, aku sangat merindukannya. Kembalikan putraku. Batin Emilia masih terejam.
Marvel terus memperhatikan wajah gelisah wanita itu. Sampai suara anak ini pun berhasil menarik atensinya.
"Papa." Panggil Noah seraya duduk dipangkuannya. Lalu menunjukkan mainan baru yang mereka beli sebelum ke rumah sakit tadi. Marvel sendiri tidak tahu kenapa dirinya dan sang putra bisa sedekat itu padahal baru bertemu beberapa jam yang lalu. Sepertinya ikatan batin ayah dan anak itu begitu kuat.
"Kau suka?"
Noah mengangguk dengan senyuman polosnya. Tentu saja senyuman itu menular pada Marvel. Bahkan lelaki itu sampai lupa bagaimana ekspresi wajahnya sebelum ini. Karena saat bersama putranya itu, Marvel tak henti-hentinya tersenyum.
__ADS_1
Perlahan Emilia membuka mata karena merasa suara itu benar-banar nyata. Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat Noah duduk dipangkuan Marvel. Memainkan pesawat mainan barunya.
"Noah?" Lirihnya menutup mulut tak percaya. Spontan sepasang anak dan Ayah itu pun menoleh bersamaan. Seketika Emilia sadar sesuatu. Wajah Noah begitu mirip dengan Marvel.
Ya Tuhan! Apa jangan-jangan.... pikiran Emilia pun langsung buyar karena Noah memanggilnya.
"Mami!" Dengan langkah lucunya anak itu berlari ke arah brankar, diikuti oleh Marvel yang terus menatap Emilia.
"Aku mau naik." Pinta anak itu pada Marvel seraya menunjuk brankar. Dengan sigap Marvel mengangkat tubuh mungilnya ke atas brankar. Tanpa diduga Noah pun langsung menubruk Emilia. Sontak wanita itu menjerit kesakitan karena bekas jahitannya mengenai kaki Noah.
Refleks Marvel pun langsung menarik Noah dalam gendongannya. Dan itu membuat Noah merengek minta turun. "Aku mau Mami."
Sedangkan Emilia masih meringis kesakitan.
Tanpa basa-basi Marvel pun menekan tombol darurat. Kemudian menenangkan putranya. "Mamimu sedang sakit. Lihat, dia kesakitan karenamu."
Noah menatap Emilia yang masih medesis kesakitan seraya memegangi bagian perutnya. "Mami sakit?"
Emilia menatap Noah, lalu mengangguk kecil. Tidak lama dari itu dokter pun masuk. Melihat keadaan Emilia, dokter itu tidak banyak bertanya lagi dan langsung memeriksanya. Beruntung tidak terjadi hal fatal pada bekas lukanya. Rasa sakit itu bisa terjadi karena lukanya yang masih basah terkena sentuhan. Dokter juga menyarankan Emilia untuk istirahat dan jangan banyak bergerak dulu.
Sepeninggalan dokter, Marvel duduk di tepi brankar dengan Noah yang terus memeluknya.
Emilia menatap putranya penuh kerinduan. "Kemari." Pintanya. Namun tanpa diduga anak itu menggeleng.
"Mami sakit, aku tidak mau Mami sakit lagi." Lirihnya. Emilia tersenyum penuh haru.
"Mami sudah tidak sakit, kemari. Biarkan Mami memelukmu." Jawab Emilia penuh harap. Ia benar-benar ingin memeluk putranya sekarang juga. Rasa rindunya sudah mencapai ubun-ubun,
Noah menata Marvel untuk meminta jawaban. Lalu lelaki itu pun mengangguk. "Tapi kau harus hati-hati, perut Mamimu sedang sakit."
Noah mengangguk patuh.
"Good boy. Pergilah." Ucap Marvel mengacak rambut putranya itu. Lalu Noah pun kembali mendekati Emilia. Hanya saja kali ini penuh hati-hati. Dan akhirnya Emilia pun bisa memeluknya lagi. Dikecupnya pipi anak itu bertubi-tubi, dan itu berhasil membuat Noah tertawa karena geli.
"Mami merindukanmu, Sayang. Syukurlah kau baik-baik saja." Lirih Emilia mendekap putranya erat. Tentu saja Noah paling senang saat dipeluk Maminya.
Mata Emilia pun tergerak ke arah Marvel, lalu tersenyum dan berkata. "Terima kasih, kau mengembalikan putraku."
Marvel terdiam sejenak. "Dia juga putraku."
"Hah?" Emilia terhenyak mendengarnya.
__ADS_1