
Santa Fe, New Mexico.
"Omg, ini bisa dijadikan spot melukis. Aku mencintaimu, Al. Kau selalu tahu apa yang aku sukai." Pekik Sabrina memuji keindahan tanah mempesona Santa Fe. Juga berterima kasih pada suaminya karena membawanya ke tempat seindah ini.
"Jika kau ingin, aku akan membelikan satu set alat lukis untukmu. Tapi sekarang kita harus istirahat." Tawar Arez yang kini tengah mendorong stroller baby twins.
"Aku mau. Mungkin besok saja kita mencari tempat yang lebih cocok."
Arez pun mengangguk. Sedangkan Sabrina merengkuh tangan suaminya. Mereka melangkah pasti memasuki resort. Saat memasuki tempat mewah itu, mereka disuguhi bunga dan stroberi yag dicelupkan pada cokelat. Sabrina tersenyum bahagia menerima perlakuan spesial itu.
"Wah, jadi mereka juga menyiapkan tempat tidur untuk baby twins?" Seru Sabrina saat memasuki kamar mewah yang langsung disuguhkan pemadangan indah. Karena seluruh dinding terbuat dari kaca. Sehingga langsung memperlihatkan keindahan kota.
"Aku yang memintanya." Arez memindahkan kedua putranya di dalam box bayi. Sedangkan Sabrina tengah menyusuri setiap inci kamar. Wanita itu berjalan menuju balkon yang langsung menampakkan taman indah dengan berbagai jenis bunga di sana.
"Aku rasa di sini spot yang bagus untuk melukis, Al." Sabrina tersenyum lebar sambil menikmati setiap hembusan angin. "Besok aku akan memulainya dari sini."
Arez menghampirinya dan memeluk wanita itu dari belakang. Tangannya beregerak untuk menyibak rambut sang istri. Kemudian mengecup punggung halus Sabrina dengan penuh sensual.
"Aku menyukai tempat ini, Al." Kata Sabrina memeluk tangan Arez yang masih setia melingkar diperutnya. Namun matanya masih setia menerawang kesetiap penjuru taman.
"Aku senang jika kau menyukainya." Arez terus mengecupi pundak istrinya. Menghirup aroma strowberry yang menyeruak dari kulit halus sang istri.
"Berapa lama kita di sini?"
"Seminggu cukup?"
Sabrina mengangguk pelan. "Aku ingin mengunjungi galeri seni besok."
"Ya." Arez kembali mengecupi pundak, leher dan pipi istrinya.
"Thank you for everything."
"You're welcome, honey."
"Al, apa kau bahagia memiliki istri sepertiku?" Tanya Sabrina penasaran karena ia tak pernah melihat Arez tersenyum lebar atau sekadar tertawa renyah saat bersamanya. Ia berpikir suaminya itu tidak bahagia.
"Menurutmu?"
Sabrina memutar tubuhnya. Menatap Arez cukup lama. "Aku tidak tahu, hidupmu terkesan datar."
"Aku bahagia." Jawab Arez seraya mengecup bibir Sabrina sekilas.
"Wajahmu sulit terbaca, Al. Aku belum bisa memahami kapan kau sedih atau senang. Hanya saat kau marah aku bisa melihatnya."
__ADS_1
"Kau akan memahamiku cepat atau lambat." Kali ini Arez menarik tengkuk Sabrina. ******* bibir tipis sang istri dengan lembut.
Sabrina mengalungkan tangannya di leher Arez. Dan keduanya pun tenggelam dalam pesona cinta yang membara.
Arez tersenyum tipis saat melihat wajah merona Sabrina dengan napas tersengal. Wanita itu selalu membuatnya gemas dan ingin terus menyentuhnya semakin jauh.
"Aku juga masih belum bisa mengimbangi ciumanmu. Kau selalu menuntut, apa kau sering melakukannya dengan wanita lain?"
"Hm."
Sabrina melotot saat mendengar jawaban suaminya. "Kau bilang aku satu-satunya wanita yang kau sentuh, Al."
"Kau sudah tahu, lalu apa gunanya bertanya."
"Ck, aku hanya memastikan. Dan aku juga ingin mendengar kau bicara panjang lebar. Sejak kita menikah, kau tidak pernah bertukar cerita padaku." Keluh Sabrina seraya mengusap rahang tegas Arez.
"Apa kau akan mendengar semua keluhanku huh?" Arez menoel hidung istrinya gemas.
"Tentu, aku akan menampung semua keluhanmu. Katakan saja, telingaku selalu terbuka untuk mendengar keluh kesahmu." Sabrina melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arez. Kemudian mengecup leher jenjang suaminya.
"Sejak kecil aku tidak pandai bercerita. Aku selalu menyimpan semuanya sendiri. Karena itu aku tidak terlalu menyukai orang cerewet. Alexa sama seperti dirimu, berisik dan selalu membuat ulah. Aku tidak suka kebisingan dan lebih suka berdiam diri di studio milik Daddy. Aku menyukai seni sejak usiaku tiga tahun."
"Dasar intovert. Tapi aku suka itu, dengan sifatmu itu kau tidak banyak digilai wanita. Atau mungkin hanya aku satu-satunya wanita asing yang ada dalam hatimu."
Arez mengangguk pelan. "Aku tidak pernah memikirkan pernikahan sebelumnya. Dan kau datang dalam hidupku. Saat pesta dansa itu, aku mulai mencari tahu siapa dirimu. Aku terkejut karena dirimu putri dari Uncle Hanz yang selama ini Daddy cari."
"Ya, Daddyku, Daddymu dan Uncle Gerald adalah teman dekat. Namun ada sedikit kesalahpahaman yang membuat hubungan mereka renggang. Dulu Daddymu membawa kabur Mommy ke Indonsia, dan saat itu sedang hamil. Anak itu tak lain adalah aku, Arel dan Lexa."
"Bagaimana bisa?"
"Aku belum selesai bicara." Arez mencubit geram pipi istrinya.
"Lanjutkan, aku tidak pernah tahu soal itu."
"Empat tahun Daddy dan Mommy terpisah. Banyak hal yang Daddy lewati di Berlin tanpa kehadiran Mommy, Daddy nyaris kehilangan nyawa karena terkena peluru di jantungnya. Hampir satu tahun ia terbaring di rumah sakit. Masih banyak kisah yang belum kau dengar. Aku akan melanjutkannya nanti. Ini bukan waktu yang tepat untuk bercerita panjang lebar."
Sabrina pun mengangguk paham. "Aku akan menunggu cerita selanjutnya. Senang rasanya kau mau bicara lebih dari sepuluh kata padaku. Aku selalu menantikan itu, Al."
"Bersabarlah."
"Ya."
"Kau tidak lapar?"
"Lapar. Tapi kita makan di sini saja ya? Kasihan anak-anak kalau harus dibawa keluar lagi."
__ADS_1
"Aku akan memesan makanan."
"Sebentar lagi. Aku masih ingin memelukmu seperti ini. Akhir-akhir ini kau selalu sibuk kerja. Sekarang aku akan menyita waktumu selama satu minggu. Kau tidak boleh jauh dariku walau satu meter."
Arez tersenyum tipis. "Kau bisa mengikatku."
"Aku sudah mengikatmu dalam hatiku. Lalu bagaimana denganku dihatimu?" Tanya Sabrina dengan mata menyipit.
"Aku tidak tahu." Sahut Arez datar. Sabrina merasa kesal mendengar jawaban suaminya itu.
"Lupakan saja." Ketus Sabrina mengerucutkan bibirnya. Membuat Arez gemas setengah mati. Tanpa ragu lagi ia kembali memyambar bibir istrinya. Tetapi kali ini tak berlangsung lama. Arez melepaskan pagutannya, membingkai wajah sang istri dengan kedua tangan.
"Aku mencintaimu." Ucap Arez dengan tulus. Sabrina bahagia mendengarnya.
"Aku juga mencintaimu, Al." Balas Sabrina dengan senyuman menawan. Namun tiba-tiba suara gemuruh perut Sabrina mengacaukan suasana. Spontan pipi wanita itu merona karena menahan rasa malu pada suaminya.
"Sebaiknya kita masuk dan memesan makanan."
"Maafkan aku, perutku tak pernah bisa diajak kompromi. Apa lagi sejak menyusui anak-anak. Sebentar-bentar cacing diperutku berdemo."
"Tidak jadi masalah." Arez pun membawanya masuk ke kamar. Setelah itu ia pun memesan makanan.
Setengah jam kemudian makanan pun sampai. Keduanya menikamati hidangan bersama sambil bercanda ria. Tentu saja Sabrina lah yang lebih banyak bicara. Arez hanya menanggapinya dengan anggukan kecil. Meski begitu, Sabrina tetap menikmatinya. Ia bahagia karena keluarga kecilnya terasa begitu lengkap. Sabrina bersyukur karena anak-anaknya lahir dalam keadaan keluarga yang utuh. Bahkan baby twins mendapat kasih sayang yang lebih.
****
Keesokan paginya, Sabrina terlihat serius di depan kanvas yang sudah dipenuhi goresan cat. Bahkan wajah cantiknya kini dihiasi oleh beberapa noda cat. Dan ia tak menyadarinya. Sesekali ia menatap pemandangan yang terlihat dari balkon kamarnya itu. Melukiskan keindahan itu di dalam kanvas tanpa cacat sedikit pun.
"Perfect." Puji Arez yang sejak tadi memperhatikan lukisan sang istri. Sabrina pun berbalik dengan senyumannya yang khas.
"Aku akan menghadiahkan ini pada Daddy. Menurutmu bagaimana?" Tanya Sabrina begitu antusias.
"Not bad. Kita bisa mampir sebentar jika kau mau."
"Beneran?" Seru Sabrina sangking senangnya.
"Ya, aku harap kau senang."
"Aku ingin mengunjungi makan Mommy, apa boleh?"
"Ya." Arez mengusap kepala istrinya dengan lembut.
"Terima kasih, Al. Bagaimana bisa aku tak mencintaimu? Kau selalu menuruti semua keinginanku. Aku bahagia bisa memiliki suami sebaik dirimu. Aku tidak peduli kau itu cuek, jarang senyum atau irit bicara sekali pun. Aku akan tetap mencintaimu. Kau orang pertama yang menyuguhkan padaku rasa kasih sayang keluarga yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Thank you my hubby. I love you so much."
"Kau sangat cerewet, aku harap anak-anak tak ikut dengan sifatmu."
__ADS_1
"Dan aku tidak mengizinkan mereka memiliki sifat seperti Daddynya. Kasihan wanita yang akan menjadi pasangan mereka nantinya. Beruntung kau memiliki istri sesabar diriku, Al."
"Kau banyak sekali bicara. Lanjutkan kesenanganmu," sahut Arez menoel hidung istrinya dan beranjak mendekati kedua anaknya yang masih tertidur di atas ranjang. Sedangkan Sabrina tersenyum sambil menatap punggung suaminya. Kemudian ia pun melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat terjeda. Wanita itu terus bersenandung ria. Arez menoleh, dan hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah lucu istrinya.