
"Ada apa, Al?" Tanya Sabrina saat melihat suaminya terlihat gelisah dalam tidurnya. Sepertinya lelaki itu tidak benar-benat tidur. Arez membuka matanya, menatap sang istri lamat-lamat. Wanita itu merapatkan diri pada Arez, kemudian memeluknya dengan erat.
Arez membalas pelukan istrinya. Mengecup kening Sabrina dengan lembut.
"Katakan apa yang mengganjal pikiranmu? Kau bisa mengatakannya padaku."
Arez menatap Sabrina lamat-lamat. "Penyakit Lexa kembali kambuh, sore tadi Winter menghubungiku."
"Penyakit? Lexa sakit apa, Al?"
"Saat kecil dulu, Lexa pernah sakit Leukimia."
"Ya Tuhan." Kaget Sabrina.
"Sekarang penyakit itu kambuh lagi. Winter akan membawa Lexa menjalani pengobatan intensif. Aku harus ke sana. Arel juga menghubungiku, dia juga akan pergi bersamaku."
"Pergilah, Lexa membutuhkanmu. Jangan khawatirkan aku dan anak-anak di sini. Kami baik-baik saja."
Arez mengangguk kecil dan kembali mengecup kening istrinya. "Kemungkinan besar aku akan menjadi pendonor untuk Lexa."
"Lakukan apa pun yang bisa membuat Lexa sembuh, Al. Aku percaya kalian bisa melewati semuanya."
"Ya, aku akan melakukan apa pun caranya untuk kesembuhan Lexa. Sudah cukup kita kehilangan Daddy. Dan tidak untuk yang kedua kalinya. Meski aku tahu Tuhanlah yang menetukan umur seseorang. Tidak ada salahnya kita mencoba." Ujar Arez.
"Hm. Pergilah dan lakukan yang terbaik untuk saudarimu, karena hanya keluarga terdekatlah kekuatan terbesarnya. Aku akan mendoakan keselamatan kalian di sini."
Arez mengangguk, memeluk Sabrina begitu erat.
"Kapan kau akan pergi?"
"Mungkin besok."
"Kalau begitu aku harus menyiapkan pakainmu."
"Tidak perlu, aku bisa membeli yang baru di sana."
"Ck, itu pemborosan."
"Uangku banyak."
"Cih, kau sombong sekali. Bagaimana kalau kau tiba-tiba bangkrut?"
"Meski aku tidak berkerja, uangku masih cukup untuk menghidupi anak cucu kita."
Sabrina mendengus sebal. "Sombong sekali."
Arez tersenyum tipis. "Tidrulah, ini sudah larut malam."
Sabrina mengangguk dan semakin merapatkan diri. "Aku selalu nyaman saat dalam pelukanmu. Jangan lepaskan pelukanmu sampai aku tertidur."
"Hm. Tidurlah."
****
Pagi hari Arez dan Arel berangkat menuju California. Keduanya terlihat cemas. Bagaimana pun Alexa adalah bagian hidup mereka.
"Pantas saja aku merasa tak enak hati akhir-akhir ini. Rupanya ini masalahnya." Ujar Arel mengusap wajahnya kasar. Kemudian menengadah ke langit-langit pesawat. "Ya Tuhan, jangan kau ambil nyawanya. Biarkan dia hidup lebih panjang."
Sedangkan Arez sejak tadi terdiam.
__ADS_1
"Mommy akan sangat terpukul jika terjadi sesuatu padanya, Rez. Aku harap di antara kita bisa menyelamatkan hidupnya. Aku percaya Tuhan mendengar doa kita. Meski aku begelimang dosa, tapi aku yakin Tuhan mendengar semua doaku."
"Lexa akan baik-baik saja." Sahut Arez.
"Ya, dia si wanita aneh dan selalu berhasil melewati masalah dalam hidupnya." Arel mencoba meyakinkan dirinya. Meski sejujurnya ia masih takut akan kehilangan saudarinya itu.
Di mansion, Sweet terus menangis dalam dekapan Sabrina. Ia amat terpukul mendengar kabar soal kondisi Alexa. Sabrina dan Sky pun saling menatap.
"Mom, percayalah Lexa bisa melewati semuanya." Ujar Sky seraya mengusap punggung Ibu mertuanya.
"Ini yang Mommy takutkan sejak lama. Kini ketakutan itu benar-benar terjadi. Kenapa harus Lexa yang merasakan rasa sakit itu lagi. Kenapa bukan Mommy saja yang sudah tua ini? Anak-anaknya masih sangat kecil." Keluh Sweet menangis sesegukkan dalam dekapan Sabrina. Sky yang melihat itu ikut memeluk Ibu mertuanya.
"Mom, Allah ada bersama kita. Lexa akan baik-baik saja. Percayalah pada-Nya, Mom." Imbuh Sky meyakinkan Sweet.
Tidak lama dari itu Alexella pun datang bersama Jarvis. Ibu hamil itu lagsung menghampiri sang Mommy. Sky pun bangun dari posisinya, dan Alexella pun menggantikan posisinya. Sedangkan Jarvis memilih duduk di tempat lain.
"Mom." Alexella membawa Sweet dalam pelukannya. "Jangan menangis, Lexa akan baik-baik saja. Aku yakin, Mom. Dia wanita yang kuat, buktinya dia ikut andil dalam penyelamatan kami. Dia akan melewati semuanya. Kita harus memberikannya dukungan. Jangan bersedih, Mom. Lexa akan ikut sedih."
Tangisan Sweet pun mulai reda. "Mommy ingin menghubunginya, Xella. Mommy ingin bicara padanya."
"Aku sudah mencobanya, Lexa masih belum mau dihubungi. Winter mengatakan padaku untuk menunggu. Biarkan Lexa menenangkan dirinya lebih dulu, Mom." Ungkap Alexella. Sweet yang mendengar itu kembali menangis.
"Dia pasti kesakitan, Xella. Belum lagi dia akan memikirkan anak-anaknya. Pengobatan membutuhkan waktu yang panjang. Dia harus terpisah dengan anak-anaknya dalam waktu yang tak bisa ditentukan. Sebagai seorang Ibu, kalian pasti mengerti perasaanya."
"Ya, Mom." Sahut Sky dan Sabrina bersamaan.
"Apa pun itu, kita harus menjadi kekuatan untuknya. Jangan menambah beban pikirannya. Tersenyumlah dan berikan dukungan saat Lexa sudah bisa dihubungi nanti. Aku harap tidak ada yang menangis saat melihat kondisinya." Jelas Jarvis.
"Ya, Mom. Kita harus memberinya dukungan penuh."
"Mommy akan terbang ke sana, Mommy harus ada disisinya, Xella."
"Aku tidak setuju, kondisimu tidak memungkinkan untuk bepergian jauh lagi, Mom. Kita akan pergi jika kondisimu jauh lebih baik. Percayalah, Lexa akan memahami kondisimu." Sanggah Alexella mendekap sang Mommy erat.
Alexella pun mengangguk. "Jarvis, tolong hubungi Winter." Pintanya. Jarvis pun mengangguk dan langsung menghubungi Winter.
"Mom." Jarvis memberikan ponselnya pada Sweet. Wanita paruh baya itu dengan cepat menerimanya. Ditatapnya layar ponsel Jarvis yang memunculkan wajah Alexa.
"Mom." Sapa Alexa.
"Dasar anak bodoh. Kau mencoba menghindariku huh? Kau lupa aku Ibumu?" Omel Sweet mengusap jejak air matanya dan disusul dengan senyuman lebar.
"Maafkan aku, Mom." Alexa terlihat menitikan air mata.
"Jangan menangis. Kau gadis Mommy yang kuat. Dulu saja kau selalu tersenyum dan tertawa meski berada di rumah sakit berbulan-bulan. Bahkan kau memarahiku saat aku menangis."
Alexa tertawa renyah mendengar itu. "Aku ingin memelukmu, Mom."
"Mommy akan menemuimu nanti. Berjanjlah untuk tetap menjadi Alexa yang kuat. Sekarang kau punya tanggung jawab besar, yaitu anak-anak. Pikirkan mereka, terutama Winter. Mereka membutuhkan dirimu. Kau harus sembuh, dengar itu."
"Ya, Mom. Aku merindukanmu."
"Bersabarlah. Aku akan ke sana setelah kondisiku membaik. Arez dan Arel sedang dalam perjalanan. Mereka akan menemanimu di sana."
"Ya, Mom. Mereka sudah memberi kabar pada Winter. Di mana Alexella?"
"Ini dia." Sweet memberikan ponsel itu pada Alexella.
"Hei, kau terlihat sangat jelek." Ledek Alexella mencoba mengundang senyuman sang Kakak. Dan itu berhasil, Alexa tersenyum geli.
__ADS_1
"Ya... ya... kau memang yang paling cantik. Bagaimana kabar keponakanku?"
"Mereka baik-baik saja." Sahut Alexella.
"Xella, aku merindukanmu. Doakan aku supaya bisa bertemu dengan kalian lagi. Aku ingin berkumpul kembali seperti dulu."
Semua orang terdiam mendengar itu. Namun dengan susah payah Alexella menarik ujung bibirnya, kemudian mengangguk pelan.
"Ah, sudah lama aku tak melihat senyumanmu, Xella. Kau sangat cantik saat tersenyum. Aku ingin kau suapi lagi, datanglah ke sini jika memungkinkan."
"Tentu, kami akan datang ke sana. Dan kau harus berjanji untuk sembuh. Aku akan menyuapimu sampai kau puas."
Alexa tertawa lagi. "Di mana Sky dan Sabrina? Apa mereka sedang sibuk dengan anak-anaknya."
"Kami ada di sini, Lexa." Sahut Sabrina dan Sky bersamaan. Alexella pun mengarahkan kamera pada kedua Kakak iparnya.
"Apa kabar kalian?" Tanya Alexa.
"Seperti yang kau lihat, timbanganku semakin bertambah." Sahut Sabrina yang berhasil mengundang tawa Alexa.
"Kelihatan, pipimu bulat seperti bakpau. Dan kau Sky, kenapa aku perhatian kau agak kurusan huh?"
"Ya, aku memang seperti ini saat menyusui. Dulu juga timbanganku turun saat menyusui Gabriel."
"Kau sangat beruntung karena tidak perlu diet. Lihat Sabrina, aku rasa dia harus diet ketat." Ledek Alexa.
"Aku rasa tidak perlu. Suamiku menyukai diriku yang seperti ini, katanya lebih enak dipeluk."
"Wow, jadi si es balok bisa romatis juga huh? Aku penasaran seperti apa malam pertama kalian."
Semua orang tertawa geli mendengar itu. Sedangkan Sabrian mendadak malu.
"Jangan membuatku malu, Lexa. Tidak ada yang spesial dimalam pertama kami. Kakakmu sama sekali tidak romantis." Kesal Sabrina.
"Oh ya? Lalu bagaiman bisa hadir dia bayi gembul itu huh?"
Sabrina menghelan napas. "Aku tidak tahu, sepertinya aku lupa bagaimana anak-anak bisa hadir sekarang."
"Kau ini bisa saja. Tapi aku senang si es balok itu menemukan pasangan yang cocok, dia sangat pendiam dan kau cerewet sepertiku. Aku rasa kalian pasangan terpanas di antara kami." Ujar Alexa terlihat begitu antusias. Sejenak ia melupakan rasa sakitnya.
"Tidak, kalianlah yang cocok mendapatkan gelar itu. Kau dan Winter selalu terlihat romantis dan saling mencintai. Bahkan suamiku harus dipaksa hanya untuk mengatakan cinta. Menyebalkan, tapi aku mencintainya."
Lagi-lagi Alexa tertawa lepas. Sedangkan yang lain hanya tersenyum dan menggeleng mendengar ocehan Sabrina.
"Kau benar-benar wanita hebat, Sab. Kau berhasil melelehkan es balok yang satu itu. Padahal dia selalu menanamkan prinsip untuk tidak menikah. Dan lihat sekarang, Melvin dan Marvel bukti kebrengsekannya."
Sabrina tertawa renyah. "Kau mengatai Kakakmu sendiri, Lexa."
"Ya, aku sudah biasa memakinya. Hanya saja dia tak pernah mendengarkanku. Wajahnya selalu datar dan tak tersentuh. Aku sering bosan saat bersamanya."
"Berhenti membicarkan putraku. Dia memang dingin dan cuek, tapi perhatiannya melebihi siapa pun." Sela Sweet yang tak terima putranya dibicarakan.
"Lihat, Sab. Nyonya besar sedang membela putra kesayangannya." Ledek Alexa.
"Kalian semua anak kesayanganku." Sanggah Sweet lagi.
"Kami juga menyayangimu, Mom. Sudah dulu ya? Lucas menangis, cucumu yang satu itu selalu membuat ulah, Mom." Adu Alexa. Terdengar jelas suara tangisan bayi diseberang sana.
"Ya, urus dulu putramu itu." Sahut Sweet.
__ADS_1
"Ya, Mom. Aku pamit dulu. Love you, all."
"Love you to." Sahut semuanya kompak. Kecuali Jarvis tentunya. Lelaki itu hanya menjadi penonton setia.