Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (90)


__ADS_3

Sejak pertemuan malam itu, Bara pun kerap datang ke mansion Digantara untuk bertemu anaknya sekaligus Zhea tentunya. Bohong jika dirinya tak menyukai wanita itu. Sejak pertama kali mereka bertemu lagi, Bara mulai tertarik dengannya. Wajah cantik Zhea terus membayanginya hampir setiap saat.


Tentu saja semua penghuni mansion sudah tahu statusnya sebagai Ayah kandung Prince. Karena sejak awal Bara tak berniat menutupinya. Saat pertama kali tahu, semua orang tentu terkejut karena tak menyangka Prince putra konglomerat seperti Bara.


Dan hari ini lelaki itu pun datang lagi. Sky tersenyum saat melihat Bara berdiri membelakanginya di teras depan dengan sebuket mawar merah di tangannya.


"Ekhem." Dehamnya yang berhasil membuat Bara berbalik. Lelaki itu pun tersenyum ramah.


"Ingin bertemu Zhea?" Tanyanya dengan senyuman menggoda.


Bara tersenyum, lalu mengangguk. "Aku sudah membuat janji dengannya."


Sky mengangguk paham. "Ayo tunggu di dalam, perempuan memang lumayan lama jika ingin kencan. Masuklah." Ajaknya. Tentu saja Bara tak bisa menolak dan ikut masuk.


"Duduklah, aku akan panggilkan anak itu. Kau harus sabar, kami wanita tidak mau terlihat jelek di depan orang spesial." Kata Sky yang dijawab anggukan oleh Bara. Lelaki itu tersenyum malu karena mendengar kalimat terakhir Sky.


Tanpa menunggu lagi Sky pun bergegas ke kamar putri angkatnya. Diketuknya pintu kamar Zhea. Dan tidak lama pintu pun terbuka, wajah cantik Zhea pun langsung terlihat.


"Wah, cantik sekali." Puji Sky tak bohong jika Zhea sangat cantik hari ini. Jika biasanya Zhea hanya tampil sederhana tanpa riasan, kali ini berbanding terbalik karena Zhea memakai dress dan memoles wajahnya.


"Harusnya sejak lama kau dandan seperti ini, Sayang. Lihat, aku seperti melihat bidadari yang sudah lama tenenggelam di balik rembulan." Sky mengusap pipi Zhea lembut.


Zhea tertawa kecil. "Aunty bisa saja. Oh iya, Bara sudah di bawah ya?"


Sky mengangguk. Seketika wajah Zhea pun merona. Tentu saja Sky tersenyum geli melihatnya.


"Ekhem, sepertinya ada yang sedang jatuh cinta hem?"


"Aunty." Zhea meringis kecil.


Sky pun tertawa lagi. "Ya sudah, sana temui kekasihmu. Kasihan kalau menunggu terlalu lama."


"Aunty, dia belum jadi kekasihku." Zhea memasang wajah cemberut karena Sky terus meggodanya.


"Ck, sama saja. Sebentar lagi juga jadi. Sudah sana pergi." Sky mengulas senyuman penuh arti. "Bagaimana rasanya dikencani pria tampan huh? Pasti jantungmu berdebar kencang kan?"


Seketika wajah Zhea pun semakin bersemu. "Aunty please." Rengeknya. Sky pun tertawa puas.


"Tidak perlu malu, Aunty juga pernah muda sepertimu. Tahu rasanya saat jatuh cinta seperti apa. Sudah sana, kau sudah cantik. Jangan buat si tampan menunggu terlalu lama."


Zhea mengangguk. Tidak lama Prince pun keluar. "Mami, apa kita akan pergi sekarang?" Tanya anak itu sambil mendongak.

__ADS_1


Mata Sky pun langsung berbinar saat melihat Prince yang sudah tampan dengan pakaian semi formalnya. Sky pun berjongkok agar mereka sejajar. "Wah, cucu Nenek sudah tampan. Mau kemana hem?"


Prince tersenyum lebar. "Daddy ingin mengajakku dan Mommy jalan-jalan, Nenek. Daddy berjanji akan membawaku naik pesawat."


Mendengar itu Sky pun langsung melihat ke arah Zhea. "Kalian mau ke mana sebenarnya hem?"


Zhea mengedikkan bahunya, karena memang tidak tahu ke mana Bara akan membawanya. Lelaki itu hanya mengatakan akan mengajaknya dan Prince jalan-jalan. Dan tak tahu soal pesawat yang Prince katakan barusan.


****


"Mom, Dad."


Sabrina dan Arez yang saat ini tengah bersantai di rooftop pun menoleh bersamaan. Di sana Marvel sudah berdiri sambil menggendong Noah, juga menggenggam tangan Emilia yang sedikit bersembunyi dipunggungnya.


Sabrina bangkit dari duduknya, lalu menatap mereka bingung. Sedangkan Arez sendiri tampak santai karena sejak awal sudah tahu jika putranya itu memiliki seorang anak. Namun tidak untuk Sabrina, wanita itu tidak tahu apa-apa.


Marvel menarik Emilia untuk mendekati kedua orang tuanya. Meski ragu, Emilia tetap mengikutinya. Bahkan sejak tadi ia terus menunduk karena merasa takut.


"Siapa mereka, Marvel?" Tanya Sabrina sembari memperhatikan wajah Noah. "Sebentar, kenapa anak ini sangat mirip denganmu?" Seketika ia sadar sesuatu.


Marvel menatap Sabrina lekat. "Dia memang putraku, Mom. Dan dia istriku." Ditariknya Emilia agar berdiri sejejar dengannya.


"Istrimu?" Kagetnya yang langsung menatap Emilia. Sedangkan yang ditatap masih setia menunduk.


Sabrina menatap keduanya tak percaya, seketika ia kembali mengingat masa lalu di mana Arez menikahi dirinya tanpa sepengetahuan orang tua. Sabrina pun menoleh ke arah suaminya.


"Kau lihat sakarang, dia mengikuti jejakmu, Arez. Kalian berdua tidak ada bedanya." Omelnya dengan wajah sebal.


"Karena dia memang putraku." Sahut Arez dengan santainya.


"Cih, menyebalkan." Sabrina kembali menatap Marvel dan Emilia bergantian dengan ekspresi kesal.


Emilia menggenggam erat tangan suaminya karena takut dirinya akan ditolak. Marvel melepaskan genggaman tangannya. Lalu merengkuh pundaknya seolah memberi dukungan. "Aku meminta restumu, Mom."


Sabrina menghela napas panjang. "Apa gunanya restuku sekarang? Kalian sudah menjadi suami istri. Sebegitu tidak pentingnya aku bagimu hem? Bahkan kau menikah tanpa sepengetahuanku. Kau sama brengseknya dengan Daddymu."


Marvel memberikan Noah pada Emilia, lalu melangkah maju dan langsung memeluk sang Mommy. "Bukan seperti itu, Mom. Aku sangat mencintaimu melebihi apa pun. Tapi mereka juga sama pentingnya untukku. Tolong restui kami."


Sabrina kembali menghela napas panjang, lalu membalas pelukan putra sulungnya itu. "Baiklah, Mommy merestui kalian. Menikahlah secara resmi dan daftarkan pernikahan kalian."


Marvel mengangguk. "Thank you, Mom."

__ADS_1


"Sama-sama, Sayang." Sabrina mengusap punggung anaknya itu dengan lembut.


Kali ini Arez bangun dari duduknya, lalu mendatangi Emilia. "Jadi ini cucuku?" Tanyanya yang berhasil membuat Emilia gugup setengah mati.


Noah melihatnya dengan tatapan polos. Dan itu membuat seorang Arez merasa gemas. Ia jadi ingat putranya saat kecil dulu.


"Kemari, biarkan Kakek menggendongmu." Pintanya seraya mengulurkan kedua tangan pada cucunya itu.


Noah memeluk Emilia karena belum mengenal sang Kakek. Juga merasa takut.


"Dia kakekmu, Sayang. Jangan takut." Bisik Emilia pada putranya. Mendengar itu Noah pun kembali menatap Arez.


"Aku tidak akan menyakitimu, Son." Arez coba membujuknya. Sabrina yang melihat itu pun tersenyum geli.


"Kau harus tersenyum supaya cucumu tak takut, Arez." Katanya. Arez pun mendengarkan perkataannya dan coba tersenyum. Benar saja, Noah pun akhirnya mau digendong.


"Oh, ternyata cucuku sudah sebesar ini. Sepertinya kau sedikit mirip denganku. Ayo, aku akan membelikan banyak mainan. Kau mau?" Untuk pertama kalinya Arez banyak bicara pada anak seusia Noah.


Noah mengangguk kecil.


"Baiklah, ayo kita cari mainan baru. Kau bebas memilihnya sendiri. Kau suka mainan apa huh? Apa perlu aku membelikan tokonya?" Tanpa banyak berpikir lagi ia pun langsung membawa cucunya itu pergi.


Emilia merasa lega karena pemikirannya selama ini terpatahkan setelah melihat sikap Arez pada putranya.


Sabrina terkekeh lucu melihat tingkah suaminya itu. "Lihat, padaku saja dia tak pernah bicara banyak. Tapi dengan cucunya dia bisa sehangat itu."


"Tidak ada yang bisa menolak ketampanan putraku, Mom." Sahut Marvel merengkuh sang Mommy.


Sabrina mencubit perut putranya kesal. Marvel tersenyum tipis dibuatnya. "Kau sama narsisinya dengan Daddymu. Sudahlah, mommy juga ingin bermain dengannya. Siapa namanya?"


"Noah." Sahut Marvel.


Sabrina pun mengangguk, lalu meninggalkan Marvel dan Emilia di sana.


Marvel menatap istrinya lamat-lamat. "Sekarang kau sudah melihatnya sendiri, keluargaku tak seburuk yang kau pikirkan bukan?"


Emilia menunduk malu. "Maaf." Ucapnya penuh rasa bersalah.


Marvel menghela napas lalu mendekati istrinya itu. Ditariknya dagu sang istri perlahan. Sampai netra mereka pun saling bertemu satu sama lain. "Berhenti menundukkan kepalamu, Emilia. Saat ini kau sudah menjadi bagian keluarga ini. Apa pun yang terjadi, aku akan ada dipihakmu. Jadi berhenti memandang rendah dirimu. Kau istriku, aku tidak suka wanita lemah."


Emilia menatapnya begitu dalam. "Aku memang lemah, Marvel."

__ADS_1


"Maka jadilah kuat." Marvel menarik tengkuk Emilia secara tiba-tiba dan langsung m*l*m*t bibir seksi istrinya itu. Membuat sang empu hampir jantungan sangking kagetnya. Namun, permainan Marvel perlahan membuat Emilia lupa diri dan ikut tenggelam ke dalamnya.


__ADS_2