Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (76)


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian, mansion utama keluarga Digantara kembali mengadakan pesta besar-besaran. Di mana hari ini merupakan pernikahan Dustin dan Violet.


Terlihat jelas pancaran kebahagiaan diwajah kedua mempelai. Karena hari yang mereka nantikan benar-benar terlaksana. Yaitu saling mengikat janji suci dalam ikatan pernikahan.


Suasana semakin meriah saat Violet dan Dustin hendak melempar bunga. Tentu saja para gadis dan pemuda yang belum menikah saling berkerumun untuk menangkap bunganya.


"Satu, dua, tiga." Seru MC yang dibarengi lemparan bunga oleh Dustin dan Violet. Dan ternyata bunga itu pun berhasil ditangkap oleh seorang gadis cantik bersurai coklat. Tentu saja semua mata langsung tertuju padanya.


Mata Violet langsung melebar karena mengenali gadis itu, yang tak lain teman dekatnya saat sekolah dulu. "Emilia!" Pekiknya kegirangan. Pasalnya sudah lama mereka tak bertemu, dan tak menyangka gadis itu benar-benar datang dihari besarnya.


Setelah lulus sekolah, keduanya harus terpisah karena keluarga Emilia pindah ke Swiss. Dan keduanya sempat hilang kontak hingga sampai sekarang tak pernah bertukar kabar. Entah siapa yang memberi tahu gadis itu soal pernikahan Violet.


Gadis berlesung pipi itu menatap Violet sambil tersenyum. Tanpa menunggu lagi, Violet langsung berlari kecil ke arahnya dan memeluk gadis itu penuh rindu. "Ya Tuhan, aku sangat merindukanmu, Em. Kau kemana saja selama ini?"


Emilia membalas pelukan sahabatnya tak kalah hangat. "Aku juga merindukanmu, Vi." Balasnya.


Violet langsung menarik diri, lalu menatapnya penuh kerinduan. "Aku bahagia kau datang." Tanpa sadar air matanya menitik.


Emilia tersenyum begitu manis seraya menyapu lembut air mata sahabatnya. "Kejutan, Sayang. Maaf karena lama tak menghubungimu. Aku juga sangat merindukanmu. Tidak menyangka juga kau benar-benar menikahi lelaki pujaan hatimu." Katanya seraya melirik Dustin yang masih berdiri di atas pelaminan.


Violet tersenyum. "Kau tidak tahu begitu banyak yang harus aku dan dia lewati sebelum ke tahap ini."


"Benarkah? Maaf karena aku tidak ada bersamamu, sayang." Ucap Emilia penuh penyesalan.


"Tidak apa, aku tahu kau punya alasan sendiri kan? Bagaimana denganmu, kau datang bersama siapa hm?" Violet melihat sekeliling, mencari seseorang yang mungkin datang bersama Emilia.


"Aku datang sendiri." Jawab Emilia yang berhasil membuat Violet kaget.


"Ya ampun."


Emilia tersenyum. "Tidak apa, Swiss tidak terlalu jauh, Vi. Selamat untukmu ya? Aku turut bahagia. Sempat kaget saat mendengar kau akan menikah."


"Dari mana kau tahu?" Tanya Violet penuh selidik.


"Aku bertemu salah satu teman sekelas kita, Roy. Dia memberitahuku, karena itu aku datang. Maaf sekali lagi karena aku mengabaikanmu, bukan begitu maksudku. Aku...."


"Lupakan itu. Aku tidak mau tahu alasanmu, yang penting kau sudah ada di sini sekarang dan aku bahagia. Lalu, kenapa kau menangkap bunganya hm? Kau sudah siap menikah sekarang?" Goda Violet yang berhasil membuat sahabatnya tertawa kecil. Pasalnya sejak dulu Emilia sering mengatakan tak ingin menikah. Sepertinya ia trauma setelah perceraian orang tuanya. Ya, saat ini ia memang tinggal bersama ibu dan Ayah tirinya.


"Awalnya aku cuma iseng, siapa sangka bunga ini jatuh ke arahku." Jawab Emilia apa adanya, seraya mengangkat buketnya.

__ADS_1


Violet tertawa geli, lalu berbisik. "Kau masih menyukai Marvel?" Sontak Emilia memelototinya.


"Vi! Bagaimana jika ada yang dengar?" Kesal gadis itu sembari memukul lengan Violet. Ia benar-benar takut ada yang mendengar, pasti sangat memalukan. Bagaimana pun Marvel lelaki yang tak mungkin bisa ia gapai.


Violet terkekeh lucu. "Sebentar, di mana si es balok itu?" Matanya mulai bergerak untuk mencari keberadaan sepupunya, Marvel. Hingga pandangannya pun berhenti saat menemukan Marvel yang sedang berdiri sendirian sambil menyesap minuman ditangannya. "Aw! Kebetulan dia sendirian."


Spontan Emilia pun mengikuti arah pandangan sahabatnya. Seketika semburat merah dipipinya perlahan muncul karena tak sengaja bertemu tatap dengan lelaki tampan itu. Hanya saja Marvel terlihat acuh dan memutus pandangan begitu saja.


Violet menatap Emilia dengan senyuman jahilnya. "Oh, jadi benar kau masih menyukainya hm? Dia juga masih single tahu."


Mendengar itu Emilia pun langsung menatap Violet tak percaya. Lau tertawa kecil. "Aku tidak percaya lelaki setampan dia benar-benar masih sendiri."


"Ck, aku tidak bohong. Setelah dicampakkan oleh wanita yang dia sukai, dia tidak pernah lagi dekat dengan wanita mana pun." Jelas Violet melirik ke arah Marvel lagi.


"Oh." Sahut Emilia tersenyum kikuk. "Kalau begitu aku tidak berani mendekatinya, aku trauma dengan lelaki yang masih dibayangi masa lalu."


Violet menghela napas. "Apa salahnya kau coba, Em?"


Gadis itu menggeleng. Dan itu membuat Violet kecewa. "Padahal aku sangat berharap kau benar-benar menjadi Kakak iparku. Dengan begitu kita akan terus bersama."


"Ck, kau terlalu benyak berharap. Sudah sana, lihat suamimu sejak tadi terus melirik ke sini." Titahnya seraya mendorong Violet agar kembali naik ke pelaminan.


Bukan hanya Violet yang dikejutkan dengan kedatangan sahabatnya. Tapi hal itu juga dialami oleh Sabrina. Deena, sahabat yang sudah lama menghilang tiba-tiba muncul di hadapannya. Tentu saja wanita paruh baya itu syok bercampur haru. Seketika suasana pun dipenuhi kehangatan dan haru atas pertemuan kembali mereka.


"Dee, kau dari mana saja? Ya Tuhan, aku mencarimu sejak lama." Histeris Sabrina memeluk sahabatnya begitu erat. Menumpahkan segenap rasa rindu yang selama ini terbendung.


Deena tersenyum dan memeluk Sabrina tak kalah erat. "Maaf, banyak hal yang harus aku ceritakan padamu, Sab. Setelah ini ayo bicara empat mata." Sabrina mengangguk. Dan keduanya pun berpelukan hangat cukup lama. Arez yang melihat itu cuma bisa tersenyum tipis.


Masih di tempat yang sama, Claire memicingkan matanya saat melihat Melvin dikerumini banyak wanita seksi. Dengan penuh emosi, gadis itu menghampirinya. Dan Melvin masih belum menyadarinya, lelaki itu terlalu asik dengan wanita-wanitanya hingga tak sadar jika kekasihnya hadir di sana.


"Ekhem." Claire berdeham untuk mencuri atensi lelaki itu. Namun rupanya lelaki itu hanya menoleh sekilas dan kembali fokus pada wanita-wanitanya.


Claire terkesiap, lalu melipat kedua tangannya di dada dengan tatapan terus tetuju pada lelaki itu. Dan kembali berdeham, kali ini lebih keras.


Melvin kembali menoleh ke belakang, dan seperti sebelumnya lelaki itu tetap abai.


"El!" Kesal Claire menurunkan kedua tangannya.


Melvin berbalik, lalu menatapnya dengan alis yang terangkat sebelah. Para ladies yang ada di sana pun ikut menatap Claire.

__ADS_1


"Kau siapa?" Tanya Melvin yang lagi-lagi berhasil membuat gadis itu kaget.


Claire memasang wajah sedih, bahkan matanya mulai berkaca-kaca. "Lupakan." Lalu berbalik dan hendak pergi. Namun dengan gerak cepat ditahan oleh lelaki itu. Spontan gadis itu menoleh.


Melvin tersenyum gemas. "Aku hanya bercanda, Baby." Dibawanya gadis itu ke dalam pelukan. Sontak Claire pun memukulnya keras. "Aw! Sakit, Sayang."


"Rasakan itu, siapa suruh kau mengerjaiku. Brengsek." Umpat Claire membalas pelukan lelaki itu karena sangat merindukannya. Beberapa tak bertemu dan berkomunikasi membuat rasa rindunya semakin menggebu. Selama itu Claire menahan diri untuk tidak menghubungi kekasihnya. Karena ia ingin memberikan kejutan padanya.


Melvin menghirup dalam aroma tubuh kekasihnya yang amat ia rindukan. "Aku tersiksa karena berusaha tak menghubungimu, Sayang. Aku menghargai keputusanmu."


Claire tersenyum. "Menyebalkan, aku tahu kau sudah mengetahui sejak lama aku akan datang kan?"


Melvin mengangguk. "Aku tahu kau tidak bisa jauh dariku." Godanya.


"Brengsek kau, El!" Kesal Claire seraya mengeratkan pelukannya. "Hah, aku sangat merindukanmu, El. Sungguh."


"I miss you too." Balas Melvin mengecup pundak Claire yang polos karena gadis itu memakai dress dengan belahan dada rendah.


Para ladies yang sejak tadi bersama Melvin pun satu per satu pergi karena tak ingin mengganggu mereka berdua. Karena sejak awal mereka memang cuma teman biasa Melvin.


"Ayo menikah, aku sudah mendapat restu." Ajak gadis itu tanpa rasa malu sedikit pun jika ucapannya akan didengar banyak orang.


Melvin tersenyum tipis. "Kau yakin? Lalu bagaimana dengan sekolahmu hm?"


Claire tertawa kecil. "Aku tidak mau sekolah lagi. Bagaimana jika kau berpaling saat aku sedang sibuk menyelesaikan pendidikan, hah? Aku tidak rela, El." Rengeknya manja.


Melvin tertawa geli seraya melerai pelukan mereka. "Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu hm? Aku tidak akan berpaling selama kau berjanji untuk setia padaku. Justru aku yang khawatir kau akan berpaling pada lelaki yang lebih muda."


Gadis itu tersenyum lucu. "Tidak mungkin aku berpaling, kau cinta partamaku, El. Ayo menikah." Diusapnya pipi mulus sang kekasih dengan lembut.


Melvin yang merasa gemas pun mengecup bibir gadis itu sekilas. "Sekolah dulu yang benar, aku akan menunggumu. Kau harus menjadi Ibu yang pintar untuk anak-anakku kelak."


Mendengar itu hati Claire berdesir hangat. Kata 'anak-anakku' yang Melvin ucapkan membuatnya melayang ke udara. Ia belum bisa membayangkan seperti apa kehidupannya kelak bersama Melvin. Mungkinkah mereka sampai ke tahap itu? Ah, Claire selalu berharap mereka benar-benar berjodoh karena sejak awal ia sudah jatuh dalam pesona lelaki itu. Meski usia mereka terpaut lumayan jauh. Tapi tak menutup kemungkinan kan untuk bersama?


Claire mengangguk seraya mengunci pandangan Melvin. "Aku janji akan menjadi wanita hebat di masa depan, supaya aku bisa memberikan keturunan terbaik untukmu, El. Tunggu aku, jangan pernah berpaling dariku. Karena aku akan membunuhmu jika berani berpaling." Kecamnya tak main-main.


Alih-alih takut, Melvin justru merasa gemas sendiri mendengar ancaman kekasih kecilnya itu. "Aku rela menyerahkan nyawaku untukmu, Sayang."


Claire tersenyum, lalu keduanya pun berciuman mesra seolah melepaskan rasa rindu masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2