
Sweet menatap lama wajah lelaki yang saat ini duduk di sebelah Alexa. Menggenggam tangan mungil putri kecilnya yang tertidur karena lelah bermain. Tiga puluh menit lamanya, tidak ada satu pun yang memulai pembicaraan. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Beberapa menit yang lalu Alex datang ke rumah sakit. Lebih tepatnya setelah kepergian Ara dan kedua anaknya. Kehadiran Alex tentu saja menciptakan perasaan canggung.
Sweet menghela napas panjang. Kemudian memulai pembicaraan. "Apa tujuanmu datang ke sini?"
Alex masih terdiam, menggerakkan kedua matanya untuk menatap Sweet. Tatapan yang begitu dalam. Terlihat jelas perasaan rindu dipelupuk matanya.
Sweet kembali menarik napas panjang, menunggu jawaban Alex. Namun lelaki itu seakan membisu. Membuat suasana hati Sweet yang awalnya membaik kini kembali meradang.
"Baiklah, kau hanya punya waktu tiga puluh menit," lanjut Sweet. Dan memilih untuk menunggu di luar. Ia tidak ingin kehadiran Alex kembali menyulut emosinya.
"Minggu depan, operasi akan dilakukan." Langkah kaki Sweet terhenti saat mendengar perkataan Alex. Yang pertama kali ia rasakan adalah perasaan lega, itu artinya Alexa akan segera sembuh dari rasa sakit.
Sweet berbalik, dan membalas tatapan mendalam dari Alex. Sweet sempat terdiam. Hingga akhirnya ia memutuskan pandangan.
"Itu bagus, Alexa akan segera sembuh dan kembali ke rumah." Sweet menanggapinya dengan santai.
Alex bangkit dari posisinya, berjalan perlahan mendekati Sweet. Matanya yang sayu seakan menyembunyikan sesuatu yang begitu menyakitkan.
"Bagaimana denganku jika Alexa sudah kembali ke rumah?" ujar Alex seraya menghapus jarak antara mereka. Sweet menatap Alex tajam.
"Itu bukan urusanku," ketus Sweet. Sedangkan Alex malah tersenyum mendengar jawaban Sweet. Ditariknya lengan Sweet, lalu meletakkannya di dada. Sweet kaget, saat merasakan detak jantung Alex yang cukup kencang.
"Kau merasakannya? Saat melihatmu, jantungku terus berdetak tak menentu. Aku... merindukanmu, Ana." Suara Alex yang terdengar lirih, berhasil mengetuk pintu hati Sweet. Tanpa sadar, buliran bening itu kembali meluncur.
Tersadar. Sweet mendorong dada Alex sekuat tenaga. Alex berdesis kecil, menahan rasa sakit. Tentu saja Sweet tidak mendengarnya.
"Di antara kita sudah berakhir. Pergilah jika sudah tidak ada urusan." Sweet menekan setiap kata yang ia ucapkan. Menahan luapan emosi yang ada dalam hatinya. Karena ia masih sadar, ada Alexa di sana yang masih terlelap.
"Pergilah," Sweet mendorong tubuh Alex agar menjauh darinya. Tidak ada perlawanan dari Alex.
"Aku akan pergi, jika kau juga pergi bersamaku, Ana." Alex menatap Sweet begitu dalam. Mendekat dan merengkuh pinggang ramping Sweet.
"Apa kau tuli? Sudah aku katakan tidak ada lagi hubungan di antara kita." Sweet mulai kesal dan terus meronta agar Alex melepasnya. Sweet mengawasi Alexa, ia takut gadis kecil itu terbangun.
"Kau masih istriku, Ana. Sampai kapanpun kau adalah istriku," ujar Alex membawa Sweet dalam pelukkan.
"Brengsek! Lepaskan aku Alex." Sweet terus memberontak. Namun Alex semakin memperdalam pelukkannya. Tidak peduli betapa marahnya Sweet.
"Aku akan membunuhmu jika kau tetap memelukku, aku katakan lepas!"
Alex masih bergeming dengan mata terpejam. Lalu berbisik. "Aku rela mati untukmu, Ana."
"Kau...." Perkataan Sweet terhenti saat seseorang menarik paksa tubuh Alex.
"Kau memang brengsek! Bugh!" Sebuah pukulan keras mendarat di pipi Alex. Membuat sang empu tersungkur ke lantai. Sweet terkejut dan langsung menahan tangan lelaki yang hendak melayangkan pukulan kedua untuk Alex.
"Jangan halangi dia, Sweet."
Sweet menoleh, dan mendapatkan Bian sudah berada di ambang pintu. Mereka sudah ada di sana beberapa menit yang lalu. Tentu saja melihat semua pertengkaran Alex dan Sweet. Namun tidak ada yang menyadari kehadiran mereka. Karena keduanya terhanyut dalam emosi masing-masing.
"Tidak perlu memakai kekerasan," sanggah Sweet tidak suka dengan sikap kasar Bian. Lalu pandangan Sweet beralih pada sosok lelaki yang masih mencengkram leher Alex. Ia bisa melihat wajah Alex yang tak berdaya.
__ADS_1
"Lepaskan dia, Tuan Hanz." Sweet mendorong tubuh Hanz sekuat tenaga. Dengan spontan ia membantu Alex bangun.
"Aku memang membencinya, tapi tidak perlu menggunakan kekerasan. Kalian pikir aku senang melihat ini, huh?" Protes Sweet. Alex tersenyum, ia tahu Sweet masih menyimpan rasa peduli padanya.
Sweet membawa Alex untuk duduk di sofa. Melihat bagian ujung bibir Alex yang robek akibat pukulan Hanz. Wajahnya seketika berubah cemas. "Apa sakit?"
Alex menggeleng. Mendapatkan perhatian Sweet adalah hal paling indah dalam hidupnya. Sweet kembali merubah ekspresinya saat Alex memberikan senyuman.
"Aku cuma tidak mau Lexa khawatir padamu," sangkal Sweet. Ia tidak ingin Alex tahu jika dirinya benar-benar khawatir. Sweet menjauh dari Alex, dan menghampiri kedua lelaki yang saat ini masih mematung di tempat masing-masing.
"Mommy...."
Sweet terhenyak. Kini dua jagoannya muncul dari balik kursi roda Bian.
"Bagaimana kalian bisa ada di sini?" tanya Sweet langsung menghampiri Arez dan Arel. Apa mereka melihat semuanya? Batin Sweet.
Sweet langsung memberikan tatapan tajam pada Bian dan Hanz bergantian. Apa kalian sengaja melakukan ini? Begitu lah yang dapat Bian dan Hanz lihat dari ekspresi wajah Sweet.
"Mommy, kami merindukan Lexa." Arel berbicara dengan tatapan tertuju pada Alex. Tentu saja lelaki itu juga tengah menatap kedua putranya.
"Aku sudah melarangnya, Mom. Dia terlalu keras kepala seperti Mommy." Kali ini Arez ikut andil.
"Aku mengizinkan mereka ikut, karena mereka berhak untuk menemui adiknya. Dan melihat betapa buruknya...."
"Cukup Kak!" Sweet menyanggah perkataan Bian. Ia tahu ke mana arah pembicaraan Kakak sepupunya. Sejak awal Sweet tidak menginginkan anak-anaknya membenci Alex.
Sweet menarik kembali perhatiannya pada Arez dan Arel. Kedua anak itu masih setia menatap Alex. Begitupun sebaliknya. Sweet menyadari hal itu.
"Lebih baik kalian temani Lexa," pinta Sweet. Arez pun mengangguk, dan menarik Arel menuju tempat pembaringan Alexa.
"Aku tidak tahu, sepertinya dia buka orang baik." Arez naik ke atas brankar, dan diikuti oleh Arel.
"Bagaimana jika dia benar Daddy?" tanya Arel masih penasaran.
"Itu tidak mungkin, Mommy tidak menyukai lelaki itu." Arez menatap tajam ke arah Alex. Karena ia melihat dengan jelas saat Alex memaksa Sweet tadi.
"Hmmm, aku berharap dia benar-benar Daddy." Arel tampak kecewa. Karena harapannya harus pupus di tengah jalan.
"Lebih baik kita selesaikan ini di luar, keberadaan kalian akan mengganggu kesehatan putriku." Pinta Sweet pada ketiga laki-laki yang ada di sana.
"Tidak perlu, aku harus segera pergi. Sebaiknya kau usir juga lelaki itu." Tegas Bian. Tatapan penuh kebencian ia berikan pada Alex.
"Tidak perlu khawatir. Aku juga tidak ingin melihatnya di sini," ujar Sweet seraya menatap Alex tajam. Alex yang melihat itu sama sekali tidak berekspresi.
"Ingat! Aku tidak akan membiarkan dia kembali padamu." Setelah mengatakan itu, Bian dan Hanz pun meninggalkan ruangan Alexa.
"Pergilah," perintah Sweet pada Alex. Namun lelaki itu mengabaikan perintah Sweet. Perhatiannya masih tertuju pada si kembar.
"Kau tahu Ana? Sejak dulu aku memimpikan momen langka seperti ini. Berkumpul dengan keluarga kecilku, itu sangat menyenangkan." Alex beralih menatap Sweet yang masih berdiri tak jauh dari pintu.
"Jangan terlalu banyak bermimpi," ketus Sweet. Wanita itu pun bergerak mendekati anak-anaknya.
Alex tersenyum, dan melupakan rasa sakit diujung bibirnya. Saat ini kebahagiaan tengah menyelimuti hatinya.
__ADS_1
"Kau tidak ingin memperkenalkan aku pada mereka?" tanya Alex menatap Sweet penuh harap. Namun lagi-lagi Sweet mengabaikannya.
Alex menghela napas panjang, lalu bangkit dari sofa. "Maaf aku sudah membuat kekacauan, tapi aku tidak akan menyerah, Ana. Sampai kau kembali padaku, aku akan terus menemuimu."
Sweet terdiam. Berusaha untuk terus mengabaikan Alex, meski hatinya meronta ingin meluapkan rasa kesal pada lelaki itu. Memukul lelaki itu hingga puas, melepaskan segala kekesalan yang sudah lama terpendam.
Dengan langkah berat Alex keluar dari ruangan. Memang berat meninggalkan orang-orang yang ia cintai. Tetapi ia sadar, keberadaannya hanya akan memperkeruh suasana.
Alex duduk di bangku tunggu, tepat di depan ruangan putrinya. Luka dalam di bagian dadanya kembali berdenyut, mungkin efek dari dorongan Sweet tadi. Alex bersandar dan memejamkan mata, mencoba mengabaikan rasa sakit.
Hingga suara pintu terbuka pun mengejutkannya. Alex membuka mata, dan kini kedua putranya sudah berdiri di ambang pintu.
"Kenapa kalian keluar?" tanya Alex saat tak melihat keberadaan Sweet. Bagaimana bisa anak kecil seperti mereka berkeliaran tanpa pengawasan orang dewasa?
Arez sedikit berjinjit untuk menutup pintu, lalu menghampiri Alex dengan tatapan datar.
"Mommy tidak menyukaimu, jadi jangan mengganggunya lagi." Arez mengeluarkan sebuah ancaman untuk Alex. Sedangkan Alex malah tersenyum mendengarnya.
"Jika Mommy kalian tidak menyukaiku, mungkin kalian tidak akan ada di sini sekarang," ujar Alex. Arez dan Arel sama sekali tidak mengerti perkataan Alex. Otak kedua anak itu belum sampai ke sana.
"Siapapun dirimu, jika Mommy tidak menyukainya. Maka aku juga tidak akan menyukainya." Kali ini Arez menggunakan bahasa Jerman.
Alex tertegun mendengar perkataan anaknya yang masih berumur tiga tahun lebih itu. Sikapnya sudah seperti orang dewasa. Bahkan ia mampu menguasai bahasa asing dengan bagus.
Ya tuhan, kenapa dia begitu mirip dengannya? Bahkan mulutnya cukup lantang dalam berkata. Tidak buruk, dia mengajari anak-anakku dengan baik. - batin Alex.
Lalu pandangan Alex beralih pada si kecil Arel. Anak itu memberikan tatapan aneh, tetapi cukup menggemaskan.
"Kau juga ingin memarahiku?" tanya Alex pada Arel. Anak itu pun langsung menggeleng kuat.
"Kau tahu siapa aku?" tanya Alex lagi. Dan lagi-lagi Arel menjawab dengan gelengan.
"Kemarilah," pinta Alex pada Arel untuk mendekat.
"Jangan Arel," larang Arez. Namun Arel sama sekali tidak mengindahkan larangan sang Kakak. Arel mendekati Alex dan duduk disampingnya.
Kemudian Alex mengeluarkan ponsel, dan membuka kamera. Kini wajah mereka terpampang di layar.
"Kita sangat mirip," ucap Alex seraya mengusap kepala Arel. Tentu saja Arel menyukai sentuhan itu.
"Jadi kau benar Daddy?" tanya Arel menatap Alex lekat. Alex tersenyum dan mengangguk. Kedua mata Arel pun langsung berbinar.
"Sekarang aku bisa panggil Daddy?" tanya Arel lagi.
"Tentu, Son. Kau putraku dan bebas memanggilku Daddy kapan saja." Alex mengecup pucuk kepala Arel dan dibalas pelukkan oleh Arel. Hal itu tak luput dari pengawasan Arez.
Sebenarnya Arez juga ingin melakukan hal yang sama. Tetapi rasa gengsi menghalangi segala keinginannya. Sepertinya Arez benar-benar mewarisi sifat Sweet sepenuhnya.
"Kau tidak ingin memelukku?" tanya Alex pada Arez yang sejak tadi terus menatapnya.
"Tidak, sebaiknya kita masuk Arel." Arez menarik Arel untuk turun. Terlihat jelas rasa tidak rela di wajah Arel. Ia masih ingin berlama-lama dengan sang Daddy. Namun tarikan Arez cukup kuat, dan membawa mereka kembali masuk.
"Kau sangat mirip seperti Ibumu, keras kepala." Alex tersenyum menatap pintu yang tertutup rapat. Mungkin ia akan lebih sering bertemu dengan anak-anaknya kali ini. Walaupun Arez belum sepenuhnya menerima dirinya. Alex akan terus berusaha untuk mengambil hatinya.
__ADS_1
Sekarang bertambah satu lagi tugasku, mengambil hati Ibunya, sekaligus anaknya.