Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 83


__ADS_3

Di kamar dengan penerangan temaram,


Alexella tampak gelisah karena sejak tadi matanya tak kunjung terpejam. Jarvis yang menyadari itu pun segera memeluk sang istri dari belakang karena posisi Alexella membelakanginya. "Apa yang kau pikirkan, baby?"


Perlahan Alexella bergerak dan memutar tubuhnya. Menatap wajah sang suami lekat. "Aku memikirkan Lexa, minggu depan mereka akan menjalankan operasi. Dan aku tidak bisa berada di sana." Lirihnya.


"Tidak jadi masalah, mereka memahami kondisimu, baby. Berjalan saja kau sulit, aku tidak ingin mengambil resiko." Jarvis mengelus pipi halus Alexella. Wanita itu pun mengangguk pelan.


"Tidurlah."


"Aku tidak bisa tidur."


"Aku akan memelukmu." Jarvis pun membawa Alexella dalam dekapannya. Kemudian ia pun kembali memejamkan mata.


"Jarvis."


"Hm."


"Kakiku kram lagi." Jarvis pun membuka matanya kembali. Kemudian bangkit dari tidurnya. Jarvis mengambil remot untuk menghidupkan lampu.


"Bersandarlah, biar aku memijatnya." Pinta Jarvis seraya membantu Alexella bersandar di kepala ranjang. Kemudian dengan hati-hati memijat kaki sang istri yang membengkak.


"Maaf merepotkanmu." Ucap Alexella menatap Jarvis lamat-lamat.


"Aku tak pernah merasa direpotkan sama sekali. Sudah kewajibanku membuatmu senyaman mungkin." Sahut Jarvis masih setia memijat kaki sang istri. Alexella pun tersenyum tipis.


"Sepertinya kakiku semakin bengkak. Rasanya tidak nyaman." Keluhnya.


"Dokter bilang itu wajar terjadi pada ibu hamil. Apa dia masih sering menendang?"


Alexella pun mengangguk. "Sepertinya dia akan menjadi anak yang aktif."


"Dan kita harus ekstra menjaganya."


"Besok aku ingin pulang ke Mansion. Aku merindukan Mommy."


Jarvis mengangguk pelan.


"Jarvis, tadi siang aku mendengar berita Aaric melakukan bunuh diri karena perusahaanya hancur. Apa kau yang melakukan itu, Jarvis?"


Jarvis terdiam sejenak. "Mungkin." Jawabnya asal.


Alexella menghela napas berat. "Aku harap kau tidak melakukan itu lagi. Aku tahu ini demi kebaikanku, tapi...."


"Aku tidak bisa berjanji." Sela Jarvis. "Aku akan melakukan segala hal untuk dirimu, Xella. Kau istriku, tanggung jawabku."


"Aku tahu, tapi...."


"Jangan membantah. Aku akan selalu menjadi garda terdepan untukmu." Jarvis kembali menyelanya. Membuat Alexella pasrah dan mengangguk kecil.


Jarvis tersenyum, kemudian membawa Alexella dalam dekapannya. "Aku mencintaimu, tak akan aku biarkan siapa pun menyakitimu."


"Termasuk dirimu huh?"

__ADS_1


"Ya, aku akan menghukum diriku sendiri jika aku menyakitimu."


Alexella tertawa renyah. "Aku penasaran seperti apa kau menghukum dirimu sendiri."


"Entahlah, yang jelas aku akan melakukan segala cara untuk membahagiakan dirimu karena kau adalah hidupku." Jarvis mengecup pucuk kepala istrinya.


"Aku tahu." Alexella membenamkan wajahnya di dada Jarvis. Menghirup aroma maskulin yang membuat merasa nyaman.


"Aku mengantuk, peluk aku terus."


Jarvis pun tersenyum. "Kalau begitu berberinglah."


"Lebih nyaman seperti ini."


"Terserah padamu, tidurlah." Jarvis kembali menghadiahi sebuah kecupan di pucuk kepala Alexella. Memeluk wanitanya itu sampai benar-benar tertidur.


****


"Ya Tuhan." Pekik Alexella saat merasakan kontraksi hebat. Ia pun bangkit dari tempat tidur. Namun tiba-tiba cairan bening mengalir deras dikakinya. Alexella mulai panik.


"Jarvis." Teriaknya. Namun lelaki itu sepertinya sudah berangkat ke kantor. Alexella pun meraih ponselnya dia atas nakas. Kemudian menghubungi Ayah mertuanya. Tidak butuh lama, Gerald pun muncul dengan wajah panik. Lelaki itu pun menghampiri menantu tersayangnya.


"Kau akan melahirkan. Aku sudah memanggil ambulan. Suamimu juga sudah aku hubungi."


"Dad, aku takut."


"Tidak usah takut, ayok. Aku akan membantumu keluar. Aku rasa ambulan akan segera tiba."


Tanpa banyak berpikir, Gerald pun memapah Alexella keluar dari kamar.


Tidak berapa lama Jarvis pun masuk ke ruangan itu dengan wajah paniknya. Penampilannya juga terlihat acak-acakan, dasi yang ia kenakan sudah longgar dan tak lagi berada di posisinya.


Dengan langkah cepat ia menghampiri istrinya. Duduk di bibir brankar, meraih dan menggenggam erat tangan Alexella. "Baby."


"Sakit, Jarvis." Ringis Alexella mecengkram erat tangan suaminya. Air matanya perlahan menitik sangking sakitnya.


"Aku disini, kau pasti kuat."


Alexella memejamkan matanya mencoba meredam rasa sakit. Namun itu tak berguna sama sekali, kontraksi diperutnya semakin parah.


"Katakan pada dokter, cepat keluarkan bayinya. Sakit, Jarvis. Rasanya seperti mau mati." Jerit Alexella seraya menjambak rambut suaminya.


"Sabar, baby. Semuanya butuh proses. Jangan panik, okay?"


"Kau enak bicara, coba kau yang ada di posisiku. Ini sakit, Jarvis. Ya Tuhan." Keluh Alexella dengan keringat yang bercucuran.


"Aku tahu." Jarvis terlihat bingung bercampur panik melihat kondisi istrinya.


"Panggil dokter tadi, Jarvis. Aku tidak tahan lagi." Rengek Alexella mulai menangis. M*r*m*s ujung brankar dengan erat, sampai ujung jarinya memucat.


"Sabar, baby."


"Sakit, Jarvis. Aku gak kuat."

__ADS_1


"Dengarkan aku, baby akan segera hadir. Kau harus semangat, demi anak kita." Jarvis mendekap Alexella dengan lembut.


Alexella membenamkan wajahnya di dada Jarvis. Ia juga mulai tenang sambil sesekali menarik dan membuang napas. Sedangkan Jarvis terus mengelus perut Alexella. Mengecupi pucuk kepala istrinya bertubi-tubi.


"Sakit, Jarvis."


"Aku tahu."


Selama berjam-jam Alexella menahan rasa sakitnya. Dan tepat di malam hari, Alexella berhasil melahirkan bayi cantik. Ia menangis tersedu karena haru saya bayi mungil itu menangis untuk pertama kalinya.


"Bagaimana rasanya menjadi seorang Ibu huh?" Tanya Sweet mengusap kening putri bungsunya itu. Alexella menitikan air matanya lagi.


"I am so sorry, Mom. Selama ini aku selalu membantah perkataanmu. Sekarang aku tahu betapa sakitnya melahirkan. Maafkan aku, Mom."


Sweet tersenyum dan memeluk Alexella. Mengecup kening putrinya dengan lembut. "Tidak apa, sayang. Sekarang nikmati masa-masa menjadi seorang Ibu."


"I love you, Mom."


"Me to, honey." Sweet kembali mengecup kening putrinya.


"Istirahatlah, sebelum putrimu bangun dan menyita istirahatmu."


Alexella pun mengangguk.


"Dia sangat cantik, perpaduan antara kamu dan Jarvis." Puji Sweet pada cucu barunya.


"Di mana Sky dan Sabrina? Aku belum melihatnya sejak tadi." Tanya Alexella.


"Mereka akan menyusul. Anak-anaknya masih rewel." Jawab Sweet apa adanya.


Alexella pun mengangguk lagi. Matanya terlihat sayu karena mengantuk.


"Tidurlah, Mommy dan Jarvis yang akan menjaga anak kamu."


"Thank you, Mom." Ucap Alexella yang kemudian menutup matanya karena sudah mengantuk berat.


Sweet menghampiri box bayi di mana Gerald dan Jarvis ada di sana. Menatap bayi mungilnya itu dengan senyuman bahagia.


"Kau senang bukan cucumu perempuan? Sejak lama kau terus merengek meminta putriku." Ledek Sweet pada Gerald.


"Ya, karena aku tahu putrimu itu akan memberikan cucu cantik seperti ini."


"Cih, kau bukan Tuhan yang tahu masa depan. Kau hanya melihat kecantikan putriku."


Gerald tersenyum. "Bukan itu alasanku.


Aku memilih putrimu karena aku tahu dia bibit yang baik. Kau mendidiknya dengan caramu, aku tahu kau hebat. Itu salah satu alasanku menginginkannya jadi menantuku. Aku tahu dan sadar, aku bukan orang suci dan baik. Mungkin dengan menjalin hubungan dengan kalian, keturunanku tak akan sebejad kami."


Sweet ikut tersenyum mendengar itu. "Itu tergantung putra dan putriku mendidik anak-anaknya. Aku tidak tahu Xella mengikuti jejakku atau tidak. Dia termasuk gadis modern. Kadang mengabaikan ajaranku."


"Tapi aku yakin dia bisa mendidik anak-anak dengan baik. Aku percaya pada menantuku."


"Aku harap putramu tidak mengecewakanku." Sweet melirik menantunya sekilas.

__ADS_1


"Aku yang akan membunuhnya jika dia berani menyakiti menantu kesayanganku." Tegas Gerald. Sedangkan yang dibicarakan hanya bisa diam dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


__ADS_2