
"Thank you so much, Mr. A. Saya tidak tahu harus berkata-kata apa lagi. Saya sangat terharu." Ucap Sabrina dengan mata berkaca-kaca. Saat ini ia berada di galeri milik Mr. A untuk mengambil reward atas kemanangannya dalam kontes. Ia berhasil mengalahkan ribuan peserta dan itu sebuah penghargaan untuknya. Dengan senyuman lebar, Sabrina menggenggam erat trophy pertamanya. Saat ini kedua insan itu tengah duduk di sofa di ruangan berukuran besar.
"Jangan sungkan, kedepannya aku akan lebih sering menghubungimu. Bagaimana kalau siang ini kita makan bersama?" Tawar Mr.A menatap Sabrina menunggu jawaban.
"I'm so sorry, Mr. Saya sudah punya janji makan siang bersama seseorang." Sabrina menatap Mr. A penuh penyesalan.
"Pacar huh?"
Sabrina mendadak kaku. "Em, yah.... begitu lah." Jawabnya ragu.
Arez tersenyum penuh arti. Ia sangat senang karena istrinya itu tak melupakan janjinya untuk makan siang bersama.
"Jadi aku tidak punya kesempatan untuk lebih dekat denganmu, Sab?" Tanya Arez mencoba memancing istrinya. Wanita itu tersentak kaget mendengar pertanyaan itu.
"Sorry, sepertinya Anda harus kecewa, Tuan." Sahutnya gugup.
"Apa kau sangat mencintai kekasihmu?" Tanya Arez lagi memanfaatkan situasi untuk mencari tahu isi hati istrinya.
"Saya tidak bisa mengatakan hal pribadi pada orang lain, Tuan. Sekali lagi saya minta maaf." Jawab Sabrina yang berhasil membuat Arez kecewa.
"Baiklah, maaf atas kelancanganku." Ucap Arez penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa, saya memakluminya." Kata Sabrina tersenyum ramah.
"Kau datang dengan apa ke sini?"
"Kekasihku yang mengantar, mungkin sebentar lagi dia juga akan menjemputku. Ah, mungkin Anda ingin mengenalnya? Saya akan memintanya untuk menemui Anda, bagaimana?"
Aku tidak perlu mengenalnya karena dia adalah aku, Sayang.
"Aku rasa tidak perlu, aku tidak terlalu suka berbicara dengan orang asing." Alibi Arez.
Sabrina yang mendengar itu manggut-manggut tanda mengerti.
Arez mengeluarkan ponselnya dari balik saku celana, lalu menghubungi nomor istrinya. Sedetik kemudian ponsel Sabrina pun berdering.
"Owh, maaf, Tuan. Dia sudah menelponku. Sepertinya dia sudah di depan. Kalau begitu saya pamit dulu." Ujar Sabrina bangun dari posisinya. Arez merapikan jasnya dan ikut bangun dari duduknya.
"Silakan."
"Terima kasih, Tuan. Saya pamit dulu. Permisi." Sabrina bergegas meninggalkan tempat itu. Ia masih mengingat dengan jelas ancaman suaminya.
Terlambat satu detik, kau akan menerima hukuman dariku, Sabrina.
Dengan tergesa Sabrina beranjak dari sana. Ia tak ingin mendapat hukuman dari suami kejamnya itu. Ah, terlalu berlebihan jika ia mengatai suaminya kejam. Karena Arez tidak terlalu kejam juga, hanya saja lelaki itu selalu berbuat kasar dan sesuka hati.
"Apa aku terlambat?" Tanyanya seraya masuk ke dalam mobil mewah sang suami. Lelaki itu memasang wajah datar seperti biasanya.
Sabrina meletakkan trophy miliknya di atas dasboard.
"Kenapa kau tak menjawab panggilanku? Apa yang kau lakukan di dalam sana? Bermesraan dengan Mr. A jelek itu huh?"
Sabrina langsung menoleh saat mendengar tuduhan itu. "Hey, aku tidak serendah itu. Kau menuduhku, itu penghinaan. Apa kau tahu? Aku berlari dari sana supaya kau tidak terlalu lama menungguku. Jika aku menerima teleponmu, aku akan terlambat. Dasar suami tidak berperasaan. Jika tahu seperti ini lebih baik aku menerima tawaran Mr. A tadi."
Mendengar itu, Arez langsung melayangkan tatapan membunuh pada Sabrina. "Jadi kau ingin menerima tawarannya huh?"
"Tentu, dia lebih baik darimu. Dia juga sangat lembut dan menghargai wanita tentunya. Aku menyukai lelaki penyayang." Jawab Sabrina yang berhasil membuat Arez mengeratkan rahangnya.
"Beruntung sekali wanita yang mendapatkannya." Imbuh Sabrina menambah kekesalan Arez.
"Kau memuji orang lain di depan suamimu huh? Apa saja yang sudah kalian lakukan? Berciuman, saling menyentuh atau...." perkataan Arez terpotong karena dengan tiba-tiba Sabrina duduk dipangkuannya dengan posisi mengangkang. Wanita itu melepaskan topengnya dan melemparnya asal. Lalu mencium bibir Arez dengan kasar. Arez cukup kaget dengan apa yang Sabrina lakukan.
"Aku sudah menunjukkan padamu apa yang kami lakukan tadi. Apa kau ingin tahu kelanjutannya huh?" Sabrina benar-benar kesal kali ini. Namun kekesalan itu malah menjadi hiburan untuk suaminya.
"Bagaimana kelanjutannya, Sayang? Aku ingin tahu?" Arez tersenyum miring seraya menyibak rambut istrinya ke belakang. Sabrina menyadari sesuatu, ia sudah melakukan kesalahan besar karena membangunkan singa tidur.
"Tidak ada kelanjutannya." Jawab Sabrina yang hendak menjauh dari Arez. Namun bukan Arez namanya jika dengan mudah melepaskan mangsa yang sudah masuk dalam perangkap.
Sial! Aku sudah salah bertindak. Umpat Sabrina dalam hati.
"Lanjutkan," titah Arez dengan sengaja meletakkan kedua tangannya di pinggang ramping sang istri. Memberikan peringatan jika dirinya tak akan melepasnya dengan mudah.
"Sudah aku katakan tidak ada kelanjutannya, tadi itu... yang tadi juga tidak terjadi. Aku... aku berbohong padamu." Cicit Sabrina yang ingin terlepas dari lelaki berbahaya yang berkedok suaminya.
"Apa yang kalian lakukan selanjutnya huh? Tunjukkan padaku dengan jelas."
"Ck, sudah aku katakan tidak terjadi apa pun di antara kami, Al. Kau harus percaya padaku." Ucap Sabrina dengan nada sedikit merengek. Kedua tangan wanita itu kini sudah melingkar indah di leher Arez. "Kenapa kau begitu tak percaya padaku, Al? Apa wajahku terlihat seperti seorang penipu huh?"
__ADS_1
Arez tersenyum samar. "Sedikit."
"Hah? Kau bercanda kan, Al?"
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda?" Sahut Arez memasang wajah datar andalannya.
"Wajahmu selalu sama setiap saat, Al. Aku tidak tahu kau sedang serius, bercanda atau bahagia. Yang aku tahu kau selalu marah setiap saat." Jawab Sabrina dengan kejujurannya.
Arez terdiam beberapa saat. "Kita akan makan siang di mansion."
"What?" Pekik Sabrina kaget setengah mati. "Al, kenapa kau baru mengatakan itu sekarang? Aku...."
"Ibuku tidak akan membunuhmu, Sayang. Kenapa kau sangat ketakutan huh?" Arez mengusap pipi mulus Sabrina. Mencoba menenangkan kepanikan wanita itu.
"Bagaimana jika Ibumu menolakku?"
"Aku percaya padamu, lakukan yang terbaik untuk menarik perhatian Ibuku." Jawab Arez yang sama sekali tak memberikan solusi.
"Al, apa harus hari ini?"
"Hm. Kita tidak punya waktu lain."
Sabrina terdiam cukup lama. "Baiklah, aku akan berusaha menjadi sosok menantu yang baik. Kau senangkan?"
Lagi-lagi Arez tak memberikan ekspresi. Wajahnya benar-benar datar dan dingin. Membekukan hati siapa saja yang melihatnya. Terkadang Sabrina merasa aneh dengan sikap datar suaminya itu.
"Kau sangat tampan, tapi akan lebih tampan lagi saat tersenyum. Aku ingin sekali melihat senyuman lebarmu, Al."
"Berhenti memikirkan hal yang tak mungkin terjadi. Duduk di posisimu kembali, Sabrina." Titah Arez penuh penekanan.
Sabrina mendengus sebal. "Kenapa aku harus punya suami sepertimu sih? I hate you." Kesal Sabrina turun dari pangkuan Arez dan duduk di posisinya.
"Itu lebih baik."
Sabrina memalingkan wajahnya keluar jendela. Ia benar-benar kesal pada Arez. Ah, lelaki itu selalu membuatnya jengkel setengah mati.
Kemudian mobil hitam itu melesat cepat menuju mansion utama. Dan tentu saja jantung Sanbrina terus berdegup kencang karena gugup. Ia belum sepenuhnya siap untuk bertemu keluarga besar Arez.
Menit selanjutnya, mobil mewah ini terparkir cantik tepat di depan pintu utama mansion. Arez turun lebih dulu dan disusul oleh istrinya. Sabrina terdiam untuk beberapa saat, menatap keindahan manison milik keluarga besar suaminya. Mansion mewah nan megah itu seolah menghipnotis dan membuatnya takjub.
"Ayok." Arez merangkul pinggang ramping Sabrina dan langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam mansion dengan langkah sensual.
Arez menatap wajah Sabrina cukup lama. "Menurutmu?"
"Aku tidak tahu." Sahut Sabrina menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Mencoba meyakinkan diri jika ia bisa melewati semuanya dengan mudah.
Dua insan itu terus melangkah pasti, melewati beberapa ruangan megah dan berakhir di ruang makan yang tak kalah mewah. Meja panjang itu kini sudah di penuhi berbagai jenis hidangan super lezat.
"Di mana Ibu dan Ayahmu?" Bisik Sabrina saat tak menemukan keberadaan mereka.
"Sebentar lagi mereka akan turun, duduklah." Titah Arez seraya menarik salah satu kursi kedua paling ujung. Lalu menitah Sabrina duduk di sana. Sabrina begitu patuh, ia duduk di sana sambil menatap berbagai jenis hidangan yang membuat cacing diperutnya berdemo. Ah, Sabrina tidak pernah tahan jika melihat makanan lezat. Katakan saja dia doyan makan.
Arez ikut duduk di sebelahnya. Lalu mengangkat sebelah tangannya untuk melihat jam di tangannya.
"Wah, lihat siapa yang datang, Ana?" Suara bariton milik Alex pun berhasil menarik perhatian keduanya. Refelks Arez dan Sabrina pun bangkit dari posisinya. Mata Sabrina terpaku pada wanita cantik di depannya.
"Mom," sapa Arez memberikan pelukan singkat dan mengecup kening Sweet. "I miss you."
"Miss you to, Honey. Mommy pikir kau sudah lupa jalan pulang." Sindir Sweet pada putranya yang mulai melupakan mansion.
"Aku sibuk, Mom."
"Sibuk dengan istrimu atau pekerjaan?" Sindir Alex melirik menantu cantiknya. Sabrina yang merasa di sebut pun menunduk malu.
Sweet menatap Sabrina lamat-lamat. "Kemari, Sayang." Titahnya.
Sabrina terlihat kaget dan langsung menatap suaminya. Arez mengangguk, meminta Sabrina untuk memenuhi keinginan Ibunya.
Istri dari Arez itu melangkah pelan mendekati Ibu dan Ayah mertuanya dengan kepala menunduk.
"Angkat wajahmu, cantik." Pinta Sweet menarik dagu menantunya. Sabrina pun memberanikan diri untuk menatap Ibu mertuanya.
"Cantik." Puji Sweet mengusap pipi Sabrina dengan lembut. Namun wanita paruh baya itu terus memperhatikan wajah Sabrina. "Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Kenapa wajahmu seperti tak asing lagi?"
Sabrina terkejut mendengar itu dan meggeleng pelan.
"Aku juga merasakan hal yang sama, siapa Ibu dan Ayahmu?" Tanya Alex penasaran.
__ADS_1
"Ibunya sudah tidak ada, Mom, Dad." Jawab Arez yang berhasil membuat Sweet dan Alex kaget.
"Ah, maafkan kami, Sayang. Kami tidak tahu itu." Ucap Alex dengan tulus.
"Tidak apa-apa, Tuan."
"Panggil aku Daddy, kau gadis yang dipilih putraku. Itu artinya kau memiliki kedudukan spesial di sini." Ujar Alex tersenyum ramah.
Sabrina menatap suaminya sekilas, kemudian menatap Alex dan Sweet bergantian. Entah mengapa mulutnya seperti terkunci saat melihat mereka. Mungkin karena rasa gugupnya karena itu ia mendadak bisu.
"Sebaiknya kita makan dulu, setelah itu kita lanjut mengobrol." Ajak Sweet merangkul menantunya.
Sabrina melihat kiri dan kanan karena merasa aneh jika mereka hanya makan berempat. Lalu di mana yang lainnya?
"Arez, apa kau tahu Sky masuk rumah sakit?" Tanya Sweet menatap putranya. Sabrina yang tengah menyantap hidangan lezat itu pun ikut menatap suaminya.
Arez menatap kedua orang tuanya. "Ya."
"Sky kehilangan bayinya." Imbuh Sweet yang berhasil membuat Sabrina kaget. Namun tak berani menanggapi.
"Sebaiknya kalian temui mereka, bagaimana pun dia istri kembaranmu, Arez." Titah Alex menatap Arez lekat.
"Kenapa kau tidak bilang padaku soal ini, Al?" Bisik Sabrina merasa kesal karena Arez sama sekali tak memberi tahu soal kondisi Sky.
"Kita akan mengunjunginya setelah ini." Balas Arez dengan nada datar.
"Hm." Sabrina mengangguk pelan dan melanjutkan makannya.
"Di mana Alexella?" Tanya Arez merasa janggal atas ketidak hadiran adiknya itu.
"Entahlah, sejak kemarin sore dia tidak pulang. Mommy sudah menghubunginya tapi anak itu mematikan ponselnya. Anak durhaka, membuatku cemas setengah mati." Omel Sweet memasang wajah kesal.
Sabrina yang melihat itu tersenyum tipis. Sejak lama ia sangat ingin mendengar omelan seorang Ibu.
Beruntung sekali Alexella memiliki Ibu sebaik ini. Mencemaskannya saat dia tidak pulang. Berbeda denganku, tidak akan ada yang cemas saat aku tidak pulang selamanya. Ah, aku merindukan Mommy.
Arez bisa membaca raut sedih di wajah istrinya. "Cepat habiskan." Bisik Arez yang berhasil memecah lamunan Sabrina. Wanita itu mengangguk pelan dan kembali makan.
Usai makan, keempat orang itu beranjak menuju ruang keluarga. Arez terus merengkuh pinggang istrinya. Seolah tak membiarkan wanitanya jauh-jauh.
"Oh iya, Sabrina. Kau kerja atau kuliah?" Tanya Alex menatap menantunya dengan seksama.
Sabrina hendak menjawab, tetapi Arez lebih dulu menjawab pertanyaan yang ditujukan untuknya. "Dia kuliah, Dad."
"Al, aku bisa bicara sendiri. Kau yang memintaku untuk bisa mengambil hati mereka kan? Lalu kenapa kau terus menjawab pertanyaan yang ditujukan untukku?" Kesal Sabrina dengan nada berbisik.
"Aku tidak rela orang lain mendengar suara indahmu." Balas Arez yang mendapatkan cubitan halus dari Sabrina.
"Mereka orang tuamu, Al."
Alex dan Sweet yang melihat itu tersenyum geli.
"Sabrina, Mommy ingin bicara padamu. Apa kamu keberatan? Kita bicara empat mata." Sweet menatap menantunya penuh harap.
"Mom, jangan menakuti istriku." Pinta Arez menatap Sweet penuh harap.
"Aku bukan penjahat, Arez. Kami hanya ingin lebih dekat satu sama lain. Apa Mommy salah?"
"Aku mau, Mom." Sahut Sabrina memotong Arez yang hendak mengeluarkan kata-kata.
"Lihat, istrimu lebih pengertian. Ayok, Sayang." Sweet bangun dari posisinya sambil mengulurkan tangan pada menantunya. Dengan senang hati Sabrina bangun dari posisinya dan menerima uluran tangan Sweet. Lalu keduanya pun beranjak entah kemana.
Arez tampak menghela napas berat. Dan itu tak luput dari pengawasan Alex.
"Mommymu tak akan melukainya, mungkin hanya sedikit membongkar aibmu." Kata Alex tertawa renyah.
Arez mendengus sebal.
"Aku pikir tidak ada wanita yang ingin mejadi pasanganmu, Son. Tapi nyatanya kau mendapatkan bidadari cantik. Siapa dia sebenarnya? Kenapa wajahnya seperti tak asing lagi huh?"
"Kalian akan segera tahu, tapi jangan membahas orang tua di depannya. Dia akan terluka."
"Wah, sejak kapan putraku jadi sepeduli ini pada seorang wanita huh? Biasanya kau hanya akan bereaksi saat orang lain mengusik saudari dan Mommymu. Dan sekarang sudah bertambah satu orang lagi dihatimu, Arez?"
"Dad, she's my wife."
"Ah, I forgot that." Alex tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Lagi-lagi Arez mendengus kesal.