Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 66


__ADS_3

Sweet berlari memasuki rumah sakit. Beberapa menit yang lalu, Sweet masih di kantor dan Joshua menghubunginya. Memberi kabar jika Alex sudah sadar. Dua minggu lebih Alex terbaring di rumah sakit dalam keadaan koma. Membuat wanita itu seperti orang gila. Terus mondar-mandir antara rumah sakit, kantor dan rumah. Namun, ia tidak pernah merasa lelah atau sekedar mengeluh. Karena ia selalu berharap Alex segera sadar. Dan hari ini semua doanya terkabul.


Sweet terus berlari menyusuri lorong rumah sakit, lalu berhenti tepat di depan rawat inap suaminya. Tanpa banyak berpikir, Sweet membuka pintu dengan kasar. Namun, ia kaget saat mendapat tatapan banyak mata. Ya, hampir semua keluarga Alex hadir di sana. Termasuk ke tiga anaknya. Sweet merasa malu karena menerobos masuk tanpa permisi.


"Maaf," ucap Sweet dengan napas tersengal. Lalu matanya bergerak, menangkap sosok lelaki yang masih terbaring di atas brankar. Tidak ada lagi alat bantu rumah sakit yang terpasang di tubuhnya. Lelaki itu bersandar di kepala ranjang, dan juga membalas tatapan Sweet. Sweet merasa lega melihat kondisi Alex jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Kenapa masih berdiri di sana?" tanya Alex dengan suara lemah. Tanpa permisi, air mata Sweet pun meluncur begitu saja.


"Brengsek!" Umpat Sweet seraya berjalan mendekat. Tatapannya tidak lepas dari Alex. Mendengar umpatan Sweet, Alex malah tersenyum senang.


"Em, sepertinya kami keluar sebentar. Ayok anak-anak," ajak Nissa pada semua orang yang ada di sana. Tanpa banyak bicara, mereka pun meninggalkan Sweet dan Alex. Si kembar pun ikut bersama mereka. Selama dua minggu, mereka mulai mengenal keluarganya lebih dekat.


Sweet masih berdiri di samping Alex. Menangis tanpa mengeluarkan suara.


"Kemari," perintah Alex. Sweet pun langsung berhambur dalam dekapannya. Membuat Alex mendesis, menahan rasa sakit akibat ulah istrinya. Sweet melupakan itu.


"Kau bodoh." Sweet terus mengumpati suaminya. Namun, tangisannya semakin menjadi.


"Kenapa kau menangis?" tanya Alex. Sweet mengangkat kepalanya, memberikan tatapan tajam.


"Aku membencimu," ucap Sweet dan kembali memeluk Alex. Alex pun tersenyum bahagia. Memeluk dan merasakan kembali kehangatan sang istri adalah impiannya selama ini.


"Bagaimana bisa kau bersikap bodoh? Dasar orang tua tidak tahu malu," timpal Sweet yang masih belum puas mengumpati suaminya.


"Ya, aku tahu itu." Alex mendorong tubuh istrinya dengan lembut. Menatap wajah sembab milik Sweet cukup lama. Lalu menghapus jejak air mata di pipinya.


"Maaf," ucap Alex seraya mengecup kening Sweet cukup lama dan penuh kemesraan.


Sweet mengalungkan kedua tangannya di leher Alex. Menatap dalam wajah Alex yang masih pucat. Ia benar-benar merindukan suami tampannya.


"Kau sangat jahat," ujar Sweet dengan tatapan menusuk. Ingin sekali rasanya melepaskan segala kekesalan yang selama ini ia pendam. Namun, ia tahu saat ini bukan waktunya untuk melepas amarah pada Alex.


"Kau membuatku seperti orang gila. Aku... Aku takut kehilanganmu, Mas."


Alex tersenyum lebar, lalu bergerak cepat mengecup bibir Sweet. Membuat sang empu kaget bukan kepalang.


"Sudah aku katakan, aku menginginkan sepuluh anak darimu. Jadi aku tidak akan mati begitu saja," ujar Alex begitu percaya diri. Sweet berdecak kesal mendengarnya.


"Aku bukan kucing yang bisa beranak banyak," kesal Sweet.


Alex tersenyum mendengarnya. Tangannya yang masih terinfus bergerak untuk mengusap wajah Sweet.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Alex memberikan tatapan penuh rindu.


"Bohong."


Alex terhenyak mendengar ucapan Sweet. Menatap wanitanya penuh tanda tanya.


"Jika kau rindu, kau tidak akan memberi surat cerai itu dengan mudah." Sweet memukul pelan lengan Alex. Membuat Alex tak berkutik untuk beberapa saat.

__ADS_1


"Kau yang meminta," sahut Alex apa adanya.


"Kenapa kau tidak menolak?" Sweet semakin kesal.


"Aku tidak ingin memaksamu, kau terlihat membenciku. Sudah cukup penderita yang aku berikan padamu. Aku berpikir kau akan bahagia, dengan mengabulkan keinginanmu, Ana."


"Bodoh! Siapa bilang aku bahagia? Aku terus menderita, merindukanmu setiap saat. Dan berharap kau datang menjemputku," ungkap Sweet penuh perasaan.


"Lalu, apa alasanmu meminta cerai dariku?" tanya Alex yang berhasil membungkam mulut Sweet.


"Aku... Aku terlalu kesal padamu, kau begitu dekat dengan wanita lain. Aku... aku cemburu," jawab Sweet gugup. Ia malu jika Alex harus mengetahui semua perasaannya.


Alex tertawa kecil mendengar ungkapan istrinya. "Ah, kau sangat lucu, Sayang. Bahkan aku tidak pernah menyentuh wanita lain."


Sweet memasang wajah kesal. "Ck, karena saat itu aku belum tahu kebenarannya."


"Aku minta maaf," ucap Alex menarik Sweet dalam pelukan.


"Tolong jangan pernah ceraikan aku, meski aku memintanya. Aku mencintaimu."


"Tidak akan pernah, aku juga mencintaimu, Ana."


Sweet mengeratkan pelukannya. Melepaskan segala rasa rindu yang telah lama membelenggu.


Perlahan Alex melepas pelukannya. Mengunci mata coklat Sweet begitu dalam. Wajahnya mulai mendekat perlahan, memberikan kecupan mesra di bibir mungil Sweet. Lalu kecupan itu pun berubah menjadi ******* lembut. Membuat sang pemilik tak berdaya dan memilih untuk memejamkan mata. Memberikan kesempatan pada Alex untuk mengobati segala kerinduan. Begitu pun untuk dirinya.


Alex maupun Sweet langsung melihat ke sumber suara. Di ambang pintu, ketiga anaknya sedang menatap mereka dengan tatapan yang amat polos.


"Mommy, Daddy, apa yang kalian lakukan?" tanya Alexa begitu polos.


Wajah Sweet merona saat mendengar pertanyaan putrinya. Berbeda dengan Alex, ia terlihat tenang. Seakan tak pernah terjadi apa-apa.


"Kami sedang melepaskan rasa rindu," jawab Alex tanpa berdosa. Tentu saja ia mendapat cubitan halus dari Sweet.


"Sakit, Sayang." Ucap Alex pelan.


Arez dan Arel pun mendorong kursi roda Alexa. Menghampiri kedua orang tuanya.


Seminggu yang lalu, Alexa sudah diizinkan pulang. Dan sekarang kondisinya jauh lebih baik. Meski ia masih harus di bantu oleh kursi roda.


"Lexa juga rindu Daddy," ucap Alexa yang berhasil membuat kedua orang tuanya saling menatap.


"Daddy juga rindu, kemarilah."


Sweet pun membantu Alexa naik ke atas brankar. Membiarkan anak dan ayah itu saling melepaskan rasa rindu. Alex mengecup kedua pipi Alexa dengan mesra. Lalu beralih mengecup bibir mungil putri kesayangannya.


"I miss you my princess," ucap Alex memeluk Alexa dengan mesra.


"Dad, kami juga merindukanmu." Arel ikut menimpali. Sweet dan Alex pun tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


"Naiklah, kalian bebas melakukan apa pun pada Daddy." Sweet membantu mereka untuk naik.


Tanpa permisi, Arel pun mengecup bibir Alex.


"Kami ingin Daddy terus bersama kami," ungkap Arel. Alex tersenyum mendengarnya. Kemudian pandangan Alex pun beralih pada putra sulungnya.


"Hey, kau tidak ingin mencium Daddy?" tanya Alex. Arez yang mendengar itu malah melirik Sweet.


Sweet mengangguk. Lalu Arez pun melakukan hal yang sama. Mencium dan memeluk Alex.


"Kau sangat mirip dengan Ibumu, Son." Alex mengecup pucuk kepala Arez dan bergantian mengecup yang lainnya.


"Daddy, ikut pulang bersama kami kan?" tanya Alexa sambil menatap Alex.


"Tentu, kalian adalah rumah Daddy."


"Yey, Lexa mau tidur bareng Daddy." Alexa terlihat antusias. Membuat Sweet maupun Alex tersenyum bahagia.


"Daddy juga harus tidur bersama kami, kamar kami lebih luas." Arel tidak mau kalah dari adiknya.


"Tidak, Daddy cuma milik Lexa. Kak Arez dan Kak Arel kan cowok, jadi harus tidur sendiri." Alexa langsung memeluk Alex dengan erat.


Arel yang tidak mau kalah pun ikut memeluk Alex dari sisi lain. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam.


"Berhenti! Daddy bisa bergantian tidur di kamar kita." Arez si bijak pun mulai bersuara. Dan berhasil membuat keduanya berhenti debat. Lalu mereka pun tersenyum dan mengangguk.


"Bagaimana dengan Mommy?" tanya Sweet ikut menimpali.


"Mommy tidur sendiri aja," ujar Arel begitu polosnya. Membuat Alex tertawa renyah.


"Baiklah, Mommy akan tidur sendiri." Sweet pura-pura ngambek. Namun, hal itu malah membuat keempatnya tertawa secara bersamaan.


"Sudah bermainnya, sekarang biarkan Daddy kalian istirahat." Sweet bangun dari posisinya. Menurunkan kembali anak-anaknya. Lalu merapikan selimut Alex. Tentu saja hal itu tak lepas dari pengawasan Alex.


"Terima kasih," ucap Alex tersenyum penuh ketulusan.


"Untuk apa?" tanya Sweet duduk di samping Alex.


"Untuk semuanya, kau memberikan kebahagiaan yang luar biasa dalam hidupku, Ana. Aku sangat mencintaimu," ungkap Alex.


"Aku juga berterima kasih padamu, Mas. Kamu sudah berkorban banyak untukku, anak-anak dan untuk keluargaku."


Alex menggenggam tangan Sweet, mengecupnya penuh kehangatan. "Sudah kewajibanku untuk melindungi kalian."


Sweet mengangguk, mengusap punggung tangan Alex dengan lembut.


"Istirahatlah, kondisimu belum cukup pulih."


Alex mengangguk dan menuruti perintah istrinya. Sweet membantu Alex berbaring. Dan lelaki itu pun mulai memejamkan mata. Sweet menunggu hingga Alex benar-benar terlelap. Lalu membawa anak-anaknya keluar.

__ADS_1


__ADS_2