
Alexella tampak memasuki kantor suaminya setelah pulang dari kampus. Karena Jarvis sendiri yang mengirim pesan padanya untuk datang.
Sayang, datang ke kantor secepatnya. Aku merindukanmu. Seperti itu lah kira-kira isi pesan yang Alexella terima.
Bumil yang satu itu masuk ke dalam lift khusus sang suami. Hanya hitungan detik ia sudah sampai di lantai atas, tempat di mana suaminya bekerja. Namun keningnya mengerut saat dirinya berpapasan dengan seorang wanita yang begitu familier. Dan yang anehnya kemeja wanita itu terlihat kusut dengan beberapa kancing terbuka.
Vanessa. Kapan dia datang ke Berlin? Pikir Alexella.
Wanita itu tersenyum penuh arti dan berjalan mendekati Alexella sembari memasang kancing kemejanya.
"Kau terlambat, seharusnya kau melihat adegan panas yang kami lakukan." Kata Vanessa sebelum melewati Alexella.
"Ah, seharunya aku mengirim pesan padamu lebih cepat supaya kau tak ketinggalan momen bahagia kami." Pungkas Vanessa tersenyum miring dan berlalu pergi dari sana.
Apa maksudnya? Jadi yang mengirim pesan itu bukan Jarvis, tapi wanita itu? Pikiran Alexella dengan perasaan berkecamuk. Seketika pikiran buruk tentang Jarvis dan Vanessa pun terlintas dalam bayangannya. Jantungnya berpacu hebat. Dengan langkah pasti Alexella menyeret kakinya menuju ruangan Jarvis.
"Jarvis ada?" Tanya Alexella pada sekretaris pribadi Jarvis. Lelaki itu segera bangkit dari duduknya.
"Mr. Schwarz ada, Ms. Hanya saja beliau sedang...."
Tanpa menunggu kelanjutannya, Alexella langsung mendorong pintu ruangan Jarvis yang tak terkunci. Sontak pemilik ruangan itu terkejut bukan main saat melihat kehadiran istrinya.
Alexella menatap nanar ke arah Jarvis yang tengah memakai kemejanya. Seketika hati Alexella berdenyut sakit karena membayangkan apa yang telah suaminya lakukan. Jarvis bebohong lagi padanya. Dia berani selingkuh? Membayangkan itu saja rasanya ingin muntah. Apa lagi wanita itu tak lain adalah adik tiri Jarvis sendiri.
"Brengsek!" Alexella meraih pas bunga di atas meja dan melemparnya ke arah Jarvis. Sedikit lagi pas bungan itu mengenai kepala Jarvis, beruntung ia berhasil menghindar.
"Baby, apa yang kau lakukan?"
"Aku ingin membunuhmu, Jarvis."
Jarvis menatap istrinya heran. "Ada apa denganmu, baby?"
"Berani sekali kau berselingkuh dengan adikmu sendiri, Jarvis."
"Selingkuh?"
"Ya! Apa yang sudah kalian lakukan huh?" Alexella menatap ke arah kemeja Jarvis.
Jarvis menunduk ke bawah. Sontak ia pun mengumpat saat menyadari penampilannya sendiri di mana kemeja dan celana yang ia kenakan belum terkancing.
"Baby, kau salah paham." Jarvis menghampiri istrinya. Ia hendak meraih tangan Alexella, tetapi wanita itu menghindar dengan cepat.
"Aku lupa kau brengsek, Jarvis."
"Baby, kau harus mendengarkan aku dulu."
"Apa yang harus aku dengar lagi? Kau brengsek, Jarvis." Alexella memukul dada Jarvis sekuat tenaga. Membuat sang empu meringis kesakitan.
"Kemari." Pinta Jarvis menarik tangan Alexella. Kemudian mendudukkan wanita itu di kursi kerjanya. Jarvis mencari sesuatu di macbooknya. Yaitu rekaman CCTV beberapa menit yang lalu.
"Lihat itu baik-baik." Pinta Jarvis menunjuk video di layar macbook. Alexella pun memperhatikannya dengan seksama.
"Apa yang Nessa katakan padamu huh?"
Alexella tak menjawan dan begitu serius menonton rekaman CCTV ruangan ini.
Ruangan Jarvis tampak kosong dan tidak lama Vanessa masuk. Wanita itu melihat kesekeliling ruangan, lalu menghampiri meja kerja Jarvis. Meraih ponsel Jarvis yang tergeletak di atas meja.
Alexella sangat yakin saat itu Vanessa sedang mengirim pesan untuknya.
Sesaat kemudian Jarvis terlihat keluar dari kamar mandi setelah Vanessa meletakkan kembali ponselnya di tempat semula. Lelaki itu tampak kaget melihat keberadaan sang adik. Namun itu tidak lama, Jarvis pun duduk kembali di kuris kebesarannya.
Tanpa di duga, Vanessa mendekati Jarvis dan hendak menciumnya. Namun Jarvis menolak dan mendoronya, alhasil kopi sisa milik Jarvis pun tersenggol dan tumpah mengenai kemeja dan celananya. Jarvis tampak marah dan mengusir Vanessa dari ruangannya. Menyeret kasar wanita itu sampai depan pintu. Jarvis pun bergegas mengganti pakaian dan tidak lama Alexella pun masuk ke ruangan.
Jarvis menghentikan video itu dan menutup macbooknya dengan kasar. Sedangkan Alexella tampak mematung. Ternyata ia sudah berburuk sangka pada suaminya. Semuanya hanya kesalahpahaman. Namun ia merasa sangat lega karena Jarvis benar-benar menolak wanita gatal itu.
"Sekarang kau percaya padaku, Xella?"
Alexella masih bergeming.
"Apa sangat sulit untuk mempercayaiku, Xella? Aku selalu berusaha menjadi yang kau inginkan. Aku menjauhi semua wanita demi dirimu. Kau masih saja tak percaya padaku?"
Alexella bangkit dari posisinya. Menatap sang suami lamat-lamat. Dan sedetik kemudian ia memeluknya dengan erat. "Maafkan aku, aku hanya takut kau kembali seperti dulu."
__ADS_1
Jarvis menghela napas dengan kasar, lalu mengusap surai halus sang istri. "Aku mencintaimu dan tak akan pernah mengkhianatimu. Aku sudah bersumpah padamu untuk tidak menyentuh wanita manapun selain dirimu. Aku melakukan semua itu, Xella. Demi dirimu dan masa depan kita. Cobalah untuk terus mempercayaiku." Jelas Jarvis.
"Maafkan aku, Jarvis."
"Sudahlah, lupakan semua itu." Jarvis mendorong kedua bahu istrinya dengan lembut. Kemudian membingkai wajah cantik Alexella dengan kedua tangannya. Memberikan kecupan hangat dibibir manis itu.
"Aku akan meminta seseorang merapikan ruanganku. Sebaiknya kita cari tempat makan, aku sangat lapar."
Alexella mengangguk kecil. Kemudian membantu Jarvis mengancingkan kemejanya. Setelah itu mereka pun beranjak pergi untuk makan siang bersama.
"Jarvis, apa kau membeciku? Sikapku tadi sangat kekanakan." Alexella menatap suaminya yang masih fokus mengemudi.
Jarvis menoleh sekilas. "Aku tidak bisa membencimu. Justru aku senang kau begitu posesif. Itu artinya kau sangat mencintaiku."
"Aku hampir mencelakaimu."
"Dan aku baik-baik saja. Jangan khawatir okay?" Jarvis mengusap pipi mulus Alexella.
"Bagaimana hari ini, masih mual-mual?" Tangan Jarvis pun berpindah pada perut Alexella yang menyembul. Alexella pun mengangguk sebagai jawaban. Di kampus tadi ia memang sempat muntah-muntah.
"Setelah makan siang, aku akan membawamu ke dokter supaya rasa mual itu hilang."
"Tidak perlu, aku rasa itu wajar untuk kehamilan diusia ini." Tolak Alexella.
"Kita harus tetap konsultasi dengan dokter. Aku tidak tega melihatmu tersiksa seperti ini."
"Jarvis, aku tidak merasa tersiksa sama sekali. Aku menikmatinya, ini pengalaman untukku."
"Kau memang keras kepala."
Alexella menyandarkan kepalanya di bahu Jarvis. "Aku merindukan Daddy, Jarvis. Aku rindu pelukannya."
"Kau bisa memelukku, anggap saja aku Daddymu. Meski itu tak sama." Sahut Jarvis mengusap kepala istrinya.
"Jika Daddy ada bersama kita. Daddy akan sangat bahagia karena anak-anaknya sudah bahagia."
"Dia melihat kebahagian itu, baby. Percayalah. Daddymu juga bahagia di surga."
"Baiklah, kita akan mampir nanti."
"Aku mencintaimu, Jarvis."
"Aku juga mencintaimu, baby."
****
Jarvis menggandeng istrinya memasuki sebuah restoran berbintang. Lalu membawanya duduk di salah satu meja dekat dinding kaca.
"Kau ingin makan apa?" Tanya Jarvis saraya membuka buku menu.
"Samakan saja."
"Aku pesan yang ini dua." Kata Jarvis pada sang waiters menunjuk sebuah menu. "Orange jusnya juga dua."
"Masih ada yang lain, Mr?"
"Tidak, terima kasih."
Sang waiters itu mengangguk dan segera meninggalkan mereka. Jarvis menatap sang istri yang tengah melihat ke arah panggung di mana beberapa anak muda bernyanyi di sana.
"Jarvis, aku ingin mendengarmu bernyanyi." Alexella mengalihkan perhatian pada sang suami.
"Nyanyi?" Alexella mengangguk antusias.
"Aku tidak bisa."
"Aku ingin sekali kau menyanyikan sebuah lagu untukku. Ayolah."
Jarvis menghela napas gusar. "Baiklah, tapi jangan marah saat suaraku menganggu para pengunjung lainnya."
"Kau belum mencobanya."
"Okay, aku akan mencobanya."
__ADS_1
"Thank you."
Jarvis pun tersenyum, kemudian beranjak menuju panggung. Lelaki itu tampak berbincang dengan para musisi. Dan tidak lama Jarvis pun berdiri dengan posisi menghadap ke semua orang. Namun matanya setia pada Alexella.
"For you my wife."
Look into my eyes
You will see
What you mean to me
Search your heart
Search your soul
And when you find me there
You'll search no more
Don't tell me it's not worth tryin' for
You can't tell me it's not worth dyin' for
You know it's true
Everything I do
I do it for you
Look into your heart
You will find
There's nothin' there to hide
Take me as I am
Take my life
I would give it all
I would sacrifice
Don't tell me it's not worth fightin' for
I can't help it, there's nothin' I want more
You know it's true
Everything I do
I do it for you
There's no love
Like your love
And no other
Could give more love
There's nowhere
Unless you're there
All the time
All the way, yeah
Look into your heart, baby
Alexella tidak pernah menyangka jika suaminya memiliki suara yang begitu merdu. Setiap bait yang Jarvis bawa membuat hatinya menghangat. Menyentuh relung hatinya yang terdalam.
__ADS_1