
Hari ini adalah hari tersibuk bagi keluarga Digantara. Hari di mana pernikahan putri pertama mereka akan dilangsungkan secara besar-besaran. Di sebuah kamar yang sudah di hias sedemikian rupa. Terlihat mempelai wanita sedang duduk di tepi ranjang. Ia sudah terlihat anggun dengan balutan gaun putih gading yang melekat indah di tubuhnya yang ramping. Karena beberapa menit lagi ia akan segera mengganti statusnya menjadi Nyonya Pramana.
"Ekhem." Mala tersentak kaget saat tiba-tiba Sweet duduk di sampingnya. Wanita itu terlihat sangat anggun dengan gaun berwarna dusty dan balutan hijab dengan warna senada.
"Mom," sapa Mala tanpa ekpresi. Sweet yang melihat itu merasa heran.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak terlihat bahagia?" Tanya Sweet mulai curiga.
"Aku cuma gugup," alibi Mala. Sweet yang mendengar itu tersenyum.
"Kau sangat beruntung, Mala. Karena mendapatkan suami yang benar-benar mencintaimu sebelum pernikahan. Apa kau lupa dengan kisahku? Begitu banyak tantangan yang harus aku lalui. Aku harap kau bahagia bersamanya. Karena dicintai seseorang itu sangat menyenangkan. Aku tahu kau belum sepenuhnya menerima Kakakku, tapi aku pastikan dia lelaki baik dan akan membahagiakanmu selalu."
"Ya, aku harap seperti itu." Sahut Mala sekenanya.
"Ya udah, senyum dong. Masak iya pengantin merengut gitu?" Sweet mengusap pundak Mala. Lalu bangun dari posisinya.
"Aku harus melihat anak-anak dulu," lanjut Sweet tersenyum begitu manis. Mala pun mengangguk. Kemudian Sweet meninggalkan kamar pengantin dan beranjak menuju kamar trio kurcaci. Namun saat hendak masuk ke kamar itu, seseorang lebih dulu menarik tanganya. Siapa lagi kalau bukan Alex. Lelaki itu membawa Sweet ke kamar.
"Mas, ada apa? Aku harus melihat anak-anak." Protes Sweet saat Alex mengunci pintu.
Bukannya menjawab, lelaki itu malah tersenyum miring. "Mas, jangan macam-macam. Acara akan segera di mulai." Ancam Sweet merasa waswas dengan tatapan nakal suaminya.
"Berbalik, Sayang." Perintah Alex yang berhasil membuat Sweet bingung.
Karena terlalu lama, Alex pun memutar tubuh mungil istrinya. Kini posisi Sweet membelakangi Alex. "Mas, mau ngapain sih?"
"Tunggu sebentar," kata Alex merogoh saku jasnya. Lalu mengeluarkan sebuah benda berharga. Alex mengangkat benda itu tepat di depan wajah Sweet. Sontak mata bulat itu semakin melebar. Benda itu tak lain adalah kalung warisan keluarga Sasmitha yang Alex beli dari lelang beberapa tahun silam.
"Mas...." Sweet menyentuh benda itu dengan mata yang mulai barair. Sudah sangat lama ia tak melihat benda itu lagi.
"Sudah lama aku ingin memberikan ini padamu. Tapi waktunya selalu saja tidak tepat." Alex pun langsung memasangkan kalung itu di leher Sweet yang terhalang hijab. "Awalnya aku ingin memberikan kalung ini sebagai hadiah first anniversary pernikahan kita. Tapi kau meninggalkanku saat itu. Jadi sekarang waktu yang tepat. Selamat ulang tahun, Sayang."
__ADS_1
Sweet membulatkan matanya karena kaget. Ia sama sekali tidak mengingat jika hari ini adalah hari ulang tahunnya. Karena terlalu sibuk dengan pernikahan Mala dan Bian. Ia pun berbalik, lalu menatap suaminya penuh cinta.
"Bahkan aku melupakannya, Mas. Terima kasih." Ucap Sweet sedikit berjinjit untuk menegcup bibir suaminya. "I love you."
"Happy birth day, Mommy." Sweet kembali dikejutkan oleh teriakan trio kurcaci yang tiba-tiba muncul dari walk in closet. Kemudian ia pun tersenyum bahagia.
"Jadi kalian juga ikut mengerjai, Mommy? Kemari." Pinta Sweet. Ketiga anaknya itu langsung behambur dalam pelukan Sweet. Mereka pun mengecup pipi Sweet dengan penuh kasih sayang.
"Thank you so much and i love you my triple amour." Ucap Sweet mengecupi ketiganya.
"Mommy, maaf ya kami tidak sempat membeli kue." Ucap Alexa dengan suara imutnya.
Sweet tersenyum saat mendengarnya. "Tidak apa-apa, kalian mengingatnya saja Mommy sudah senang. Ini adalah hari paling spesial buat Mommy." Ujar Sweet menatap mereka. Lalu beralih menatap suaminya. "Thank you."
"You're welcome, my heart." Sahut Alex tersenyum tulus. Sweet pun ikut tersenyum, lalu kembali menatap trio kurcaci.
"Kalian sudah rapi, siapa yang membantu huh?" Tanya Sweet saat melihat ketiga anaknya sudah memakai dress code keluarga. Kedua jagoan terlihat begitu tampan mengenakan tuxedo dengan celana selutut. Sedangkan Alexa memakai gaun yang persis dengan sang Mommy. Seluruh keluarga besar Digantara memang menggunakan tema dusty. Entah siapa yang memilih warna itu saat itu?
"Lupakan itu, sekarang sudah waktunya turun. Akad nikah akan berlangsung sepuluh menit lagi. Kita hanya punya waktu lima menit untuk sampai ke sana." Kata Alex seraya melilrik jam di arlojinya. Sweet pun bangkit dari posisinya.
"Ayo anak-anak, kalian harus segera turun. Kalian bertiga akan menjadi pengiring Kakak. Jangan sampai mereka menunggu." Ujar Sweet yang dijawab anggukan oleh Alexa dan Arel.
"Mom, aku tidak ikut. Biarkan aku duduk dengan Daddy." Kata Arez dengan ekspresi datar. Sweet pun melirik Alex sekilas.
"Tidak jadi masalah, biarkan Alexa dan Arel menjadi pasangan romantis. Sana jemput Kakak kalian di kamarnya." Titah Sweet yang langung di jawab anggukkan oleh Alexa dan Arez. Dua kurcaci imut itu langsung berlari untuk keluar. Lalu pintu kamar pun terbuka secara otomatis. Keduanya langsung berlari menuju kamar Mala.
"Aku duluan," kata Arez berjalan dengan santai keluar kamar.
Sweet merasa heran dengan sikap putranya yang satu itu. "Mas, kenapa dia seperti itu?" Tanya Sweet merapatkan diri pada Alex.
"Jangan lupakan sifatmu yang dulu, sepertinya dia mewarisi sifat itu. Sebaiknya kita juga keluar, mereka akan berpikiran buruk karena kita tak kunjung keluar dari kamar." Ujar Alex menoel hidung istrinya. Sweet pun mengangguk, tetapi tak berniat untuk segera pergi.
__ADS_1
"Kamu sangat tampan, Mas. Sini aku benerin dikit dasinya." Sweet kembali berjinjit untuk merapikan kerah kemeja dan dasi kupu-kupu suaminya. Alex memang terlihat begitu menawan dengan balutan tuxedo berwarna dusty yang begitu pas ditubuh kekarnya. Hingga memperlihatkan otot besarnya.
"Kau juga sangat cantik, Honey. Apa lagi saat di atas ranjang." Goda Alex yang berhasil mendapatkan tatapan tajam dari Sweet.
"Buang jauh-jauh otak mesummu itu, Mas." Kesal Sweet yang langsung meninggalkan suaminya. Alex tersenyum lebar, kemudian segera menyusul istrinya.
Kini semua keluarga besar sudah berangkat menuju hotel. Karena akad nikah akan segara dilangsungkan. Berbagai mobil mewah pun sudah terparkir rapi di basement. Menandakan jika tamu undangan bukan orang sembarangan. Bahkan membutuhkan undangan khusus untuk masuk ke sana. Layaknya pernikahan konglomerat. Alex merupakan orang berpengaruh di Jerman, tentu saja ia tak ingin membuat acara hari ini terlihat cacat. Bahkan ia juga mengundang berbagai media. Sama sepeti pernikahannya dulu. Mala merupakan putri kesayangannya, tentu saja ia akan memberikan yang terbaik untuknya.
"Mas, kenapa aku yang gugup ya?" Tanya Sweet saat mereka memasuki ballroom mewah yang didominasi warna gold. Digan't Hotel merupakan hotel terbesar di Jerman, tentu saja bukan sembarangan orang yang bisa menyewanya. Hanya kalangan bangsawanlah yang mempu menyewa tempat itu.
"Mungkin karena Kakakmu yang akan melakukan akad nikah."
"Sepertinya." Kata Sweet mengeratkan gandengan di tangan suaminya. Lalu keduanya berjalan menuju tempat yang sudah disediakan sedemikian rupa. Seorang lelaki berpakain formal menunjukkan tempat khusus untuk mereka. Tentu saja mereka duduk di kursi paling depan.
Sweet tersenyum saat melihat Bian sudah berada di meja ijab kabul. Lelaki itu sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna gading. Tidak lama, Mala pun tiba bersama Milan disisinya. Tidak lupa dua kurcaci imut yang kini berjalan mengiringi mempelai wanita. Alexa terlihat begitu menggemaskan dengan sebuah buket bunga di tangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi menggandeng lengan Arel.
Saat ini bukan pengantin yang menjadi sorotan utama media dan para tamu undangan, melainkan dua kurcaci itu. Karena ini pertama kalinya Alex memperlihatkan anak-anaknya di depan publik. Semua orang bedecak kagum melihat ketampanan dan kecantikan yang dimiliki oleh keturuan Digantara.
Sweet melambaikan tangan saat mereka berjalan di depannya. Mereka benar-benar menggemaskan. Bahkan Sweet juga mulai mendengar pujian beberapa tamu undangan untuk putra dan putrinya.
"Ya Tuhan, apa mereka keturunan dewa dan dewi? Lihat itu, senyuman mereka begitu menawan. Masih kecil saja sudah bisa memikat hati orang, bagaimana jika sudah besar nanti?"
"Hey, apa kalian tidak tahu? Mereka adalah putra dan putri Tuan Alexander Digantara. Tentu saja mereka mewarisi ketampanan Tuan Digan. Tapi di mana putranya yang satu lagi?"
Mendengar itu, Sweet menyadari sesuatu. Ia melupakan Arez? Di mana anak itu? Sweet melihat sekeliling, tapi tak menemukan putra sulungnya. Padahal saat turun dari mobil tadi Arez masih bersama mereka.
"Mas, di mana Arez?" Tanya Sweet yang berhasil membuat Alex terkejut.
"Ya Tuhan, kita melupakan anak itu."
"Mas!"
__ADS_1