Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (74)


__ADS_3

Kini suasana mansion utama sudah disulap menjadi tempat pernikahan yang super megah. Juga terlihat ramai karena para tamu penting sudah hadir di sana. Dan tinggal menunggu kedua mempelai pengangtin tiba. Bahkan semua keluarga besar pun turut hadir dan memakai dress code berwarna putih gading.


Dari kejauhan, Zhea juga terlihat cantik dengan balutan dress warna serupa. Rambutnya disanggul rapi dengan hiasan bunga disisi kirinya. Dia terlihat sibuk mengawasi putranya yang sejak tadi tidak mau diam. Sesekali ia juga memberikan peringatan pada putranya itu agar berhenti berlari ke sana kemari.


Sampai beberapa saat kemudian, mobil pengantin pun tiba. Zhea tersenyum lebar karena sudah tidak sabar ingin melihat Rhea memakain gaun pengantin. Seminggu tak bertemu membuat rasa rindunya membuncah.


"Mommy, itu Aunty." Pekik Prince saat melihat Rhea keluar dari mobil pengantin bersama Gabriel. Seketika Zhea terkesiap melihat kecantikan saudarinya itu. Bahkan tanpa sadar air matanya menitik sangking terharunya.


"Kau sangat cantik, Rhe." Pujinga seraya menyeka air mata. Prince menggenggan jarinya. Dan itu berhasil menyita atensi Zhea tentunya.


Anak itu tersenyum padanya. "Mommy, Aunty sangat cantik kan? Aku juga ingin melihat Mommy seperti itu. Pasti Mommy juga sangat cantik. Mommy, cepat cari Ayah untukku. Semua orang punya Ayah. Hanya aku yang tidak punya."


Mendengar itu Zhea pun langsung berjongkok dan memeluk putranya. "Maafkan Mommy, Sayang."


Tanpa sengaja Rhea pun menyaksikan adegan itu. Ia tersenyum bahagia karena baru pertama kali melihat Zhea memeluk mesra putranya itu. Sepertinya hari ini memang hari yang dipenuhi kebahagiaan untuknya. Setelah acara selesai, Rhea ingin menghabiskan waktu bersama mereka lagi.


Gabriel pun mengikuti arah pandangan istrinya, lalu berbisik. "Setelah ini, kau boleh bercengkrama dengan mereka. Aku memberimu waktu satu malam saja, tidak lebih."


Rhea menatap Gabriel, lalu tersenyum senang. "Terima kasih. Aku sangat merindukan mereka, sungguh."


Gabriel balas tersenyum. "Aku tahu. Ayo masuk, semua orang sudah menunggu kedatangan kita." Rhea pun mengangguk. Lalu keduanya berjalan perlahan di atas karpet merah yang terbentang sampai ke dalam. Rhea benar-benar merasakan seperti apa rasanya menjadi ratu sehari. Ia tersenyum saat melihat Ibu mertuanya sudah berdiri untuk menyambutnya.


"Oh, akhirnya menantuku datang juga. Kau sangat cantik, Sayang." Sambut Sky memberikan kecupan di kening Rhea. Kemudian Rhea pun langsung memeluknya.


"Maafkan aku, Mom." Ucapnya dengan lirih.


Sky tersenyum seraya mengusap punggung Rhea dengan lembut. "Sudah, lupakan itu. Hari ini adalah hari bahagiamu, sayang. Jadi tidak boleh ada sedih-sedihan."


Rhea pun menarik diri, lalu tersenyum. "Terima kasih, Mom."


"Sama-sama, Sayang." Sky mengelus tangan Rhea.


Kemudian Rhea pun beralih pada Sweet yang sejak tadi ada di sana, duduk dikursi rodanya.

__ADS_1


Rhea membungkuk, lalu memeluknya hangat. Ia sangat merindukan kehangatan ini. Gabriel yang melihat itu tersenyum seraya merengkuh sang Mommy, lalu menghadiahi kecupan dipipi wanita terkasihnya itu. "Terima kasih karena memberikan aku pilihan terbaikmu, Mom."


Sky tersenyum tanpa mengurangi atensinya dari Rhea dan Sweet saat ini. "Dia memang takdirmu, Sayang. Sekuat apa pun kau menolak, dia akan tetap menjadi milikmu. Bagaimana? Benar kan Mommy bilang, dia masih perawan? Bagaimana rasanya memerawani istrimu hm?" Godanya.


Gabriel tersenyum geli. "Rasanya luar biasa." Sky tertawa pelan mendengar jawaban putranya itu. Lalu keduanya pun kembali menyaksikan pemandangan di depan mata. Yaitu interaksi antara Rhea dan Sweet.


"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu. Maaf karena membuatku kecewa, Grandma." Ucap Rhea dengan tulus.


Sweet tersenyum. "Kau sama sekali tidak mengecewakanku, sayang. Justru aku semakin bangga karena kau lebih mementingkan kebahagiaan orang lain ketimbang dirimu sendiri. Itu artinya hatimu sangat tulus, Sayang. Aku tidak salah memilihkan istri untuk cucuku. Bagaimana bulan madu kalian? Apa sudah membuahkan hasil, hm?" Godanya.


Rhea tertawa kecil, juga enggan melepaskan pelukannya. Dikecupnya pipi keriput Sweet dengan mesra. "Jangan menggodaku, Grandma."


Sweet pun tertawa kecil. "Hah, aku lega karena kalian sudah menikah. Semoga kalian selalu bahagia, Sayang."


"Aamiin." Balas Rhea seraya melerai pelukkannya.


Sweet menatapnya lekat. "Kau cantik sekali, Sayang." Pujinya.


Sweet tersenyum. "Mau kau atau pun Zhea. Bagiku sama saja, Sayang. Kalian berdua adalah wanita hebat dalam versi masing-masing."


Rhea mengangguk dan kembali mengecup punggung tangan Sweet.


"Haish... sudah cukup. Hentikan drama kalian. Sekarang sudah waktunya acara dimulai. Bisa-bisa para tamu pulang karena bosan menunggu." Tegur Lea seraya merengkuh lengan Kakak iparnya. Lalu membawa wanita itu berdiri di sebelah Gabriel.


"Selamat untuk kalian berdua, aku harap rumah tangga kalian selalu diberi kebahagian dan keharmonisan. Doakan aku segera menyusul." Ucap gadis itu menatap keduanya bergantian.


"Terima kasih, adik ipar. Secepatnya kau juga pasti memakai gaun seperti ini." Balas Rhea.


"Terima kasihnya transfer saja, lagian kalian harus membayarku lebih. Demi acara ini waktu tidurku tersita." Canda Lea yang berhasil membuat sepasang pengantin itu tertawa lucu. Lalu ia pun ikut tertawa.


Tidak lama sang MC pun memulai acara dan mempersilakan kedua mempelai menaiki pelaminan. Tentu saja sepasang kekasih halal itu mendapat perhatian penuh dari semua orang yang hadir. Kecantikan dan ketampanan mereka berhasil membuat semua orang berdecak kagum.


Di sudut ruangan, Zhea menatap mereka penuh haru bersama Prince dalam genggamannya.

__ADS_1


"Mommy, Aunty tidak mau menemuiku lagi ya?" Lirih anak itu terus memandang ke arah Rhea yang tengah bahagia di atas pelaminan.


Zhea menatap putranya. "Auntymu sedang bahagia, Prince. Kau jangan mengganggunya. Sudah cukup selama ini kita menyusahkannya. Ayo kita cari makanan, Mommy sangat lapar."


Prince pun mendongak. "Ayo, aku juga lapar, Mom."


Zhea tertawa kecil. Lalu bergegas membawa putra kecilnya itu menuju area resto. Sejak kepergian Rhea, hubungannya dengan Prince jauh lebih baik dari sebelumnya meski kadang Zhea masih bersikap tegas pada putranya itu.


Zhea terlihat bingung memilih makanan apa karena terlalu banyak makanan enak di sana.


"Kau ingin makan apa, Prince?" Tanya Zhea sambil menimbang-nimbang ingin makan apa.


"Aku ingin itu, Mom." Tunjuk Prince ke arah es krim.


"Ck, itu bukan makanan yang mengenyangkan, Prince. Pilih yang lain." Tolak Zhea.


Prince menyebikkan bibirnya. "Aku ingin itu." Rengeknya.


"Berhenti merengek, pilih makanan yang mengeyangkan." Tegas Zhea lagi.


Tidak lama dari itu seorang laki-laki berdiri di samping Prince. Lalu sedikit membungkuk. "Ini es krim untukmu, Son."


Spontan Zhea pun menoleh. "Prince, siapa yang mengizinkanmu menerima pemberian orang asing?" Tegurnya saat Prince hendak menerima es krim dari orang itu. Sontak Prince pun mengurungkan niatnya itu karena takut dimarahi. Lalu menatap lelaki itu dengan takut-takut.


Lelaki itu kembali berdiri tegak, lalu menghela napas. "Kau terlalu keras mendidik anak, itu tidak baik."


Zhea memutar bola matanya malas. "Itu bukan urusanmu, dia putraku." Ketusnya seraya mengambil beberapa makanan secara random. Ia ingin segera pergi dari sana.


Lelaki itu mengacak rambut Prince gemas. Prince pun mendongak untuk menatapnya. "Kasihan sekali kau mendapat Ibu galak." Ledeknya yang sengaja ingin menyindir Zhea.


Zhea menghela napas, lalu menatap lelaki itu tanpa minat. "Kau itu siapa hm? Sebaiknya kau pergi, jangan mengganggu kesenangan kami. Ayo, Prince." Setelah mengatakan itu ia langsung menarik Prince pergi dari sana.


Lelaki itu tersenyum penuh arti. "Jadi dia sudah besar? Aku tidak menyangka benihku benar-benar sudah sebesar itu. Menakjubkan." Gumamnya, lalu meninggalkan tempat itu dengan senyuman manisnya.

__ADS_1


__ADS_2