
Sweet menyesap secangkir cappucino dengan lembut. Tatapannya terus menelisik pejalan kaki yang terlihat dari jendela kafe. Sweet memang memutuskan untuk mampir di sebuah kafe sebelum pulang. Sedikit memenangkan pikirannya.
"Sweet," panggil seseorang. Gadis itu langsung menoleh. Seorang lelaki berparas cantik menghampirinya. Ya, lelaki itu benar-benar cantik.
"Tuan Hanz," balas Sweet bangun dari duduknya. Tuan Hanz merupakan salah satu pemilik perusahaan yang bekerja sama dengan Jerome Group. Jika dilihat, usianya tak jauh dari Alex.
"Sendiri? Di mana tunanganmu?" tanyanya.
"Dia sibuk," sahut Sweet. Tuan Hanz tergelak mendengarnya. Sweet terlihat bingung.
"Dia benar-benar tidak tahu waktu. Bahkan dia membiarkan gadis cantik sepertimu sendirian di luar."
"Tidak jadi masalah," sahut Sweet.
"Kau kekasihnya, lebih bagus kau sita waktunya. Itu akan lebih baik, dia sudah terlalu tua untuk terus bekerja." Tuan Hanz pun tertawa setelah mengatakan tanggapannya. Sedangkan Sweet hanya tersenyum tipis.
"Sudahlah, aku harus segera pergi. Jaga dirimu, Sweet."
"Ya, terima kasih atas perhatiannya, Tuan."
Lelaki itu langsung beranjak pergi. Sweet menarik napas lega. Untung saja lelaki itu tak banyak tanya.
Sweet mengendarai Audi miliknya dengan kecepatan sedang. Membelah jalanan kota Berlin dengan santai. Tidak banyak kendaraan yang berlalu lalang. Karena penduduk kota banyak yang memilih naik sepeda atau kereta cepat. Jadi sangat langka kejadian macet di sini.
Sesampainya di mansion. Sweet memilih untuk langsung ke kamarnya. Namun langkah kakinya terhenti saat pintu kamarnya terbuka lebar.
Apa Mommy masih di dalam?
Sweet masuk ke kamarnya tanpa ragu. Ia tersentak saat menemukan Alex di sana. Lelaki itu tengan berdiri didekat jendela. Membelakangi dirinya.
"Dari mana?" tanya Alex datar. Ia berbalik, memberikan tatapan intimidasi pada Sweet.
"Kafe," sahut Sweet malas. Ia meletakkan tas miliknya di atas ranjang. Lalu beranjak menuju walk in closet. Sweet mengerutkan kening. Tidak ada perubahan di sana.
Mungkin Mommy tidak sempat membereskan pakaianku, batin Sweet.
Dia langsung berganti pakaian. Suara gedoran pintu kembali mengejutkannya. Sweet berdecak kesal dan langsung membuka pintu.
"Kemana saja kau?" tanya Alex yang sama sekali tak dihiraukan oleh Sweet.
Bukannya aku sudah menjawab tadi? Dasar orang tua pikun. Gerutu Sweet dalam hati.
Alex menarik tangan Sweet dengan kasar.
"Jawab!" Bentaknya. Sweet berusaha melepaskan tangan Alex.
__ADS_1
"Kafe, apa kau puas!" Sweet berhasil melepaskan tangannya yang sudah memerah karena ulah Alex.
"Sekarang pulang denganku, tidak perlu membawa barang murahanmu. Aku sanggup mambelikan segala keperluanmu." Ujar Alex, lalu melangkah pergi. Hingga langkahnya tertahan diambang pintu.
"Aku tunggu lima menit, jika terlambat kau akan mendapatkan hukuman," lanjutnya dan langsung bergegas pergi.
Sweet duduk ditepi ranjang. Ia mengambil album foto dalam laci. Hanya itu barang berharga yang ia miliki. Lalu ia pun langsung menyusul suaminya.
Sweet masuk ke dalam mobil Alex sambil memeluk album foto masa kecilnya. Yang juga terdapat foto kedua orang tua kandungnya.
"Barang jelek apa yang kau bawa?" Tanya Alex seraya melajukan mobil.
"Bukan urusanmu," sahut Sweet ketus. Ia memalingkan wajahnya. Memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. Hingga suasana pun menjadi sepi dan canggung.
Sweet terdiam cukup lama saat tiba di mansion mewah milik Alex. Yang membuatnya takjub yaitu sambutan para pelayan yang berbaris begitu rapih. Mereka membungkuk saat Alex memasuki mansion. Sweet yang tersadar pun langsung mengikuti langkah kaki suaminya.
Mata coklat Sweet bergerak menyusuri seluruh isi mansion. Bisa ditebak, harga perabot yang ada di sini diatas rata-rata. Bahkan di mansion lama tidak ada satu pun barang semahal itu.
"Ayah," panggil seseorang yang berhasil membuat Sweet terkejut.
Ayah? Siapa yang dia panggil Ayah? Tanya Sweet dalam hati.
Seorang wanita cantik menghampiri Alex. Senyumannya mengembang sempurna.
"Mana Milan?" tanya Alex.
Ayah, Mama? Apa lelaki tua ini sudah beristri dan gadis itu anaknya? Lalu kenapa dia menikahiku. Dasar lelaki brengsek!
"Ayah, apa gadis itu istri ayah?" tanya Mala sedikit berbisik. Sweet yang masih bisa mendengar pun seakan tak mendengarnya.
Sejak tadi mereka menggunakan bahasa Indonesia. Apa mereka juga orang Indonesia?
"Bukan, dia akan membantu kalian di sini. Anggap saja dia sama seperti maid di sini." Setelah mengatakan hal yang begitu menyakitkan. Alex langsung bergegas pergi meninggalkan Sweet yang sempat terpaku.
.
Mala ikut bingung mendengarnya. Namun ia tidak mempermaslahkan perkataan Alex. Mala pun menghampiri Sweet.
"Hi, aku Mala. Kau gadis yang ada di tv semalam bukan? Ternyata kau lebih cantik dari pada di tv." Mala mengulurkan tangannya.
"Ya, aku Sweet." Sweet membalas uluran tangan Mala.
"Namamu cukup manis, sama sepertimu. Ayo aku antar ke kamar," ajak Mala yang langsung menarik tangan Sweet.
"Kau tahu Sweet, aku sangat senang kau datang. Aku memiliki teman baru. Aku kira kau sudah berumur, ternyata tidak. Sepertinya usiamu tak jauh dariku," oceh Mala sambil menuntun Sweet menuju kamar Alex.
__ADS_1
"Berapa usiamu?" tanya Sweet.
"Dua puluh tahun, kau?"
"Beda tiga tahun diatasmu," sahut Sweet.
"Hmmm, tapi wajahmu seperti anak remaja. Ayah sangat beruntung bisa mendapatkan istri semuda kamu. Bahkan saat ini usia ayah sudah empat puluh tahun. Tapi dia masih tampan kan?"
"Ya," jawab Sweet singkat. Jika boleh jujur, Alex memang sangat tampan. Bahkan wajahnya masih seperti lelaki berusia tiga puluhan.
Kini mereka sudah berdiri di depan kamar dengan pintu yang penuh dengan ukiran unik.
"Ini kamarmu, aku sangat canggung untuk memanggilmu Mama atau Mommy. Kau terlalu muda, tapi aku harus terbiasa. Bagaimana menurutmu, aku panggil Mama atau Mommy?" tanya Mala panjang lebar.
"Terserah kamu. Oh iya, kenapa kau memanggilnya Ayah? Bukankah kalian bicara bahasa Indonesia, apa kalian berasal dari Indonesia?" tanya Sweet penasaran.
"Ya, aku asli Indonesia. Mamaku juga, kalau Ayah sih campuran."
Sweet sangat terkejut. Ia tidak menyangka jika Alex memiliki darah Indonesia.
"Tunggu! Kamu paham bahwa Indonesia?" tanya Mala yang baru menyadarinya.
Sweet hendak menjawab pertanyaan Mala. Namun, pintu kamar sudah terbuka lebih dulu. Alex kini sudah berganti pakaian.
"Eh, kalau begitu aku pergi dulu," Mala mendekati Sweet dan berbisik. "Mom, kau harus berhati-hati dengan Ayah. Dia sangat kejam." Setelah mengatakan itu, Mala pun langsung bergegas pergi.
Sweet menatap kepergian Mala. Suana yang tadinya hangat kini kembali canggung.
"Mau sampai kapan kau berdiri di situ?" tanya Alex. Sweet langsung menatap netra biru milik Alex.
"Di mana kamarku?" tanyanya.
"Masuk," titah Alex mengabaikan pertanyaan Sweet.
"Tidak, aku tidak mau satu kamar denganmu. Sebelum kita benar-benar menikah secara agama," tolak Sweet. Alex yang mendengar itu langsung naik pitam.
"Ini rumahku, jadi hanya aku yang bisa membuat peraturan. Masuk atau kau memilih tidur di luar?" Alex berusaha menahan amarahnya.
"Aku tidur di luar," sahut Sweet tanpa ragu.
"Kau ...." Alex benar-benar geram dibuatnya.
"Baiklah, kau tidur saja dengan para maid di sini, posisi itu lebih cocok untukmu. Para maid di sini lebih terhormat dari pada wanita murahan sepertimu," bentak Alex yang langsung membanting pintu. Sontak Sweet pun kaget dan sedikit mundur. Ia menarik napas panjang. Lalu berjalan menyusuri mansion mewah tanpa arah. Di sini cukup luas, Sweet bingung harus berjalan ke arah mana.
Di mana kamar Mala? Apa di bawah? Lebih baik aku meminta bantuannya.
__ADS_1
Sweet menuruni anak tangga satu per satu. Matanya terus menyisir seisi mansion. Sesampainya dianak tangan terakhir. Kakinya tak sengaja terpleset, hingga ia pun hilang keseimbangan. Sweet terjatuh dan kepalanya terbentur penyanggah. Ia meringis kesakitan. Bahkan orang-orang sebanyak tadi hilang entah ke mana. Hingga gadis itu berusaha untuk bangun dengan mengandalkan diri sendiri.