
Zhea lebih banyak termenung sejak lamaran dadakan hari itu. Setelah kejadian itu juga Zhea tidak pernah lagi berkunjung ke sana. Bahkan saat itu, dia meninggalkan kediaman Digantara tanpa berpamitan pada Sweet maupun Sky. Zhea benar-benar shok dan masih tak percaya Gabriel melakukan itu. Padahal dulu lelaki itu sangat membencinya.
Suara ketukan pintu berhasil membuyarkan lamunan gadis itu.
"Masuk." Sahutnya. Tidak lama sang asisten pun masuk.
"Miss, ada Pak Gabriel di depan."
Tentu saja Zhea kaget dan langsung bangun dari posisinya. "Gabriel?"
Asistennya yang bernama Ge itu pun mengangguk.
Zhea menarik napas panjang, lalu membuangnya perlahan. Setelah itu kembali menatap Ge. "Biarkan dia masuk."
"Baik, Miss." Wanita itu pun bergegas keluar.
Sepeninggalannya, Zhea panik sendiri dan jadi salah tingkah. Alhasil ia pun berpura-pura menggambar. Bagaimana pun ia gugup karena baru bertemu lagi dengan lelaki itu setelah apa yang terjadi. Ya, setelah kejadian itu mereka memang tak pernah bertemu lagi. Bahkan Gabriel pun tak mencarinya. Dan itu membuat Zhea berpikir jika Gabriel hanya main-main. Lalu apa tujuan lelaki itu datang sekarang?
Tidak lama Gabriel pun masuk, lelaki itu tersenyum saat melihat Zhea begitu serius. Dan tidak tahu betapa gugupnya gadis itu sekarang.
Zhea menoleh sekilas. "Duduk." Titahnya.
Gabriel pun langsung duduk dihadapannya.
"Ada perlu apa?" Tanya Zhea tanpa melihat lawan bicaranya. Seolah sibuk dengan pekerjaannya saat ini.
Gabriel tidak langsung menyahut. Dan itu membuat Zhea semakin gugup karena tatapan lelaki itu yang seolah mengintimidasinya. Bahkan ia tak berani meski hanya meliriknya sekilas.
"Sampai kapan kau akan terus menghindariku?" Akhirnya Gabriel pun membuka suara. Spontan Zhea pun mengangkat pandangan. Menggigit ujung bibirnya. Tanpa ia sadari apa yang dilakukannya itu membuat Gabriel menggeram kecil kerena gadis itu terlihat seksi saat menggigit bibir seperti itu.
"Aku tidak bisa menikah denganmu." Jawab Zhea dengan lirih.
"Kenapa?" Tanya Gabriel dengan santai dan pandangan yang tak lepas darinya.
Zhea menghela napas kasar, lalu memberikan tatapan serius. "Karena kau terpaksa menikah denganku, Gabriel. Aku tidak bisa menikah dengan laki-laki yang tidak mencintaiku."
__ADS_1
"Bagaimana jika sekarang aku katakan, kalau aku mencintaimu, Zhea?"
Zhea terkesiap beberapa saat. "Kau bercanda Gabriel. Jangan mempermainkan perasaanku." Kesalnya.
Gabriel tersenyum. "Jadi benar kau masih menyukaiku?"
Seketika Zhea sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. Ia kembali menggigit bibirnya karena malu. Gabriel yang melihat rona wajah Zhea pun semakin yakin jika gadis itu masih memiliki perasaan padanya. Dan ekspresi lucunya membuat Gabriel gemas sendiri. Jika saja itu bukan Zhea, ia sudah lebih dulu menerkamnya. Sayangnya Zhea tak sama seperti wanita yang pernah dikencaninya. Yang bisa ia mainkan sesuka hati. Kali ini ia sedang dihadapkan dengan gadis suci yang tak bisa dipermainkan sesuka hati.
"Zhea." Panggilnya yang behasil membuat gadis itu terhenyak.
"Ya?" Sahut Zhea gugup.
"Kau sudah menentukan jawaban?" Tanya Gabriel yang berhasil membuat Zhea bingung. "Aku sudah memberikanmu waktu beberapa hari, Zhe. Jadi sekarang aku butuh jawabanmu."
Mata Zhea berkedip beberapa kali. Ia tidak pernah menyangka jika itu alasan Gabriel tak mencarinya selama ini. Ia pikir lelaki itu hanya main-main dengan ucapannya.
"Kenapa diam? Kau masih mengira aku bercanda soal kemarin itu?" Imbuh Gabriel menatap gadis dihadapannya serius.
Zhea memberanikan diri menatap Gabriel. "A... aku tidak tahu." Jawabnya gugup.
Gabriel menghela napas. "Menikahlah denganku, Zhe. Kali ini aku benar-benar tulus, aku tidak punya waktu lagi untuk main-main. Aku ingin menikah denganmu dan menjalani kehidupan layaknya pasangan lain." Tegasnya tanpa ragu.
"Aku tahu kau ragu, karena itu aku datang ke sini untuk meyakinkanmu. Aku juga tahu, mungkin rasanya tak pantas lelaki sebrengek diriku bersanding dengan gadis baik-baik sepertimu."
Zhea menggeleng. "Aku tak sebaik itu, Gab. Kau salah menilaiku."
Gabriel tersenyum. "Mana ada orang baik mengaku dirinya baik, Zhe."
Zhea menatap Gabriel serius kali ini. "Aku serius, Gab. Aku bukan gadis baik-baik seperti yang semua orang pikirkan. Dulu aku juga pernah nakal, bahkan lebih nakal darimu. Sebelum kau yakin dengan keputusanmu. Aku akan memberikan satu rahasia yang mungkin bisa membuatku mengambil keputusan bulat."
Gabriel memandang gadis itu bingung.
Zhea menghela napas kasar. Lalu kembali bicara. "Apa kau tahu penyebab hubunganku dengan orang tuaku renggang?"
Gabriel menggeleng karena memang tidak pernah tahu soal itu.
__ADS_1
Mata Zhea berkaca-kaca. "Lelaki yang semua orang pikir Ayahku, dia bukan Ayah kandungku, Gab. Dia Ayah tiriku. Dan... dia juga orang pertama yang merenggut kesucianku."
Deg!
Jantung Gabriel seolah copot mendengarnya. Ia tak pernah menyangka jika gadis dihadapannya itu pernah mengalami hal buruk seperti itu.
"Aku... aku tahu kau kecewa bukan? Aku bukan gadis suci seperti yang kau pikirkan. Jadi sekarang semua keputusan ada di tanganmu." Zhea menyandarkan tubuhya dengan kedua tangan terlipat di dada. Hatinya kembali perih karena luka lama itu terpaksa ia korek lagi. Mungkin kejadian itu sudah sangat lama. Tapi luka itu sebenarnya belum benar-benar sembuh.
Saat kejadian itu Zhea masih duduk dibangku sekolah menengah atas. Tidak pernah terpikir olehnya jika sang Ayah tiri yang selama ini ia kagumi dan banggakan dengan tega melakukan semua itu padanya. Bahkan sang Mommy tak percaya saat dirinya mengadukan semua itu. Alhasil Zhea dan sang Mommy pun bertengkar hebat dan malah mengusir Zhea. Juga mengatakan jika Zhea anak tidak tahu balas budi.
Sejak saat itu kehidupan Zhea hancur dan tak tau arah. Gadis itu juga harus bekerja paruh waktu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Bahkan ia juga sempat menjual diri karena begitu frustrasi dengan kondisi hidupnya yang kacau. Sampai ia dipertemukan dengan Sweet dan Sky. Kehidupannya pun berubah drastis. Zhea merubah semua kebiasaan buruknya ke hal yang lebih positif. Juga melanjutkan studynya ke Negara asing atas dukungan Sweet tentunya. Setelah mengemban pendidikan yang lumayan lama. Zhea pun kembali ke Berlin untuk bertemu orang tua angkatnya yaitu Sky dan Sweet. Hingga dirinya pun dipertemukan dengan Gabriel. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada lelaki itu.
Gabriel tersenyum samar. Mungkin ia kaget dengan pengakuan gadis itu. Tetapi ia sama sekali tidak kecewa. Justru ia tertawa dalam hati karena kembali mengingat kata-kata sang Grandma. Jika jodoh itu cerminan diri.
"Kau tahu, Zhe?"
Zhea pun menoleh ke arahnya. "Apa?"
"Dengan pengakuanmu itu, aku semakin yakin dengan keputusanku." Gabriel tersenyum, membuat Zhea semakin salah tingkah bercampur bingung. "Menikahlah denganku, aku tidak peduli masa lalumu dan siapa dirimu. Bukankah kita seri sekarang?"
Zhea menatap Gabriel sendu. "Gab, aku...."
Gabriel menyela ucapan gadis itu. "Kau juga tahu aku bukan laki-laki baik, Zhe. Tapi aku percaya, hanya bersamamu aku bisa menjadi orang yang lebih baik. Hati kecilku yakin soal itu. Aku percaya hanya kau wanita yang mampu merubah hidupku. Bantu aku untuk meninggalkan semua kehidupanku yang sekarang, Zhe." Gabriel memberikan tatapan penuh harap.
Zhea bingung sekarang. Ia tak punya jawaban untuk sekarang. "Gab, sebaiknya kau pikirkan lagi keputusanmu. Mungkin kau bisa mencari wanita yang jauh lebih baik dariku."
Gabriel tersenyum geli. "Di mana aku bisa mendapat wanita sebaik dirimu huh? Bahkan kau masih memikirkan masa depanku, padahal kau sendiri membutuhkan itu."
Zhea memeluk dirinya sendiri sambil menunduk. Apa yang dikatakan Gabriel memang bebar. Ia menginginkan lelaki itu, tetapi tak ingin memaksa jika Gabriel menolaknya.
Gabriel menghela napas panjang. "Baiklah, mungkin aku akan memberikanmu waktu. Dua hari, apa cukup? Jangan membuatku terlalu lama menunggu, sayang. Karena aku tak tahan ingin segera mencicipimu."
Mendengar itu Zhea pun langsung melayangkan tatapan membunuh yang kental. "Dasar brengsek!"
Gabriel tertawa puas karena berhasil menggoda gadisnya itu. "Okay, aku akan kembali dua hari lagi. Aku harap jawabanmu tak membuatku kecewa, Baby. See you next time. Nice to meet you."
__ADS_1
Setelah itu Gabriel pun langsung meninggalkan ruangan Zhea.
Sepeninggalan Gabriel, Zhea tersenyum. "Bagaimana aku bisa menolakmu, Gab? Kau cinta pertamaku. Aku harap kau benar-benar mencintaiku."