
Di rumah sakit, Arel terduduk lemas di bangku tunggu. Beberapa waktu yang lalu ia memukan Sky terjatuh di kamar mandi dengan bersimbah darah. Kini perasaannya seakan tak menentu. Menunggu kabar sang istri yang masih ditangani oleh dokter.
"Ya Tuhan, selamatkan istriku. Aku tahu, aku tak pantas meminta apa pun padaMu. Tapi kali ini aku memohon, selamatkan dia." Arel terus berdoa dan berharap tidak terjadi hal buruk pada istrinya. Wanita yang amat ia cintai.
"Arel." Sweet yang baru tiba pun langsung duduk di sebelah putranya. Memeluk lelaki itu yang terlihat rapuh.
"Mom, dia akan baik-baik saja kan?" Arel memeluk sang Mommy dengan erat. Ia benar-benar terlihat berantakan.
"Apa yang terjadi?" Tanya Sweet mengusap punggung Arel.
"Aku... aku tidak tahu Mom. Saat aku pulang, Sky sudah pingsan di kamar mandi. Dan dia berdarah, apa yang harus aku lakukan Mom?" Arel gemetar hebat.
"Jangan khawatir, Sky baik-baik saja. Dia wanita kuat." Sweet berusaha menenangkan putranya.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Sky meninggalkanku, Mom. Aku bisa mati, seharusnya aku mendengarkan Mommy. Membiarkan Sky di mansion." Suara Arel terdengar frustasi. Ia merasa bersalah karena meninggalkan istrinya di penthouse sendirian, sedangkan dirinya bekerja seharian. Setelah pesta itu, Arel membawa Sky ke penthouse sesuai rencananya. Namun ia tak pernah mengira hal ini akan terjadi.
"Jangan salahkan dirimu, ini kecelakaan, Sayang. Lalu di mana Gabriel?"
"Aku meminta Lexa menjaganya."
Sweet mengangguk dan kembali mengusap punggung Arel.
"Mom." Alexa hadir bersama sang suami. Juga Gabriel dalam gendongannya. Anak itu terus menangis sesegukkan. "Maafkan aku, aku tidak tahu cara menghentikan tangisannya. Karena itu aku datang ke sini."
Arel bangun dari posisinya dan mengambil alih Gabriel dari tangan Alexa. "Shhht, ini Daddy, Sayang. I'm so sorry." Ucap Arez mendekap putranya. Menciumnya dengan penuh kasih sayang. Tangisan Gabriel pun perlahan mereda. Arel agak menjauh dari sana, supaya Gabriel berhenti menangis.
Sweet mendekap suaminya dengan erat. Ia begitu tersiksa saat melihat putranya seperti ini.
"Kenapa Arel selalu melewati hal sulit? Aku tidak tega melihatnya, Mas."
"Ini ujian untuknya, biarkan dia melewati semua ini. Supaya dia bisa belajar dan tahu bagaimana kerasnya kehidupan. Selama ini dia terlalu banyak menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Sampai lupa curamnya jurang kehidupan. Ini akan menjadi pelajaran untuknya agar menjadi lebih dewasa. Disetiap musibah akan ada hikmah yang besar dibaliknya. Kau yang selalu mengatakan itu, Ana."
"Ya, kamu benar, Mas. Selama ini Arel terlalu manja. Ah, bahkan aku lupa jika putraku itu sudah dewasa." Balas Sweet dengan tatapan masih tertuju pada Arel yang tengah mengajak anaknya bermain.
"Hm. Aku yakin menantuku yang satu itu akan baik-baik saja. Dua bulan lebih dia tinggal bersama kita, aku sudah tahu wataknya. Dia bukan tipe wanita yang pantang menyerah."
"Hm." Sweet mengeratkan dekapannya pada Alex.
Tidak lama dari itu, seorang dokter wanita keluar dari ICU. Menghampiri Sweet dan Alex.
"Di mana suami pasien? Kami harus segera melakukan kuretase, pasien mengalami benturan keras dan janinnya tak bisa diselamatkan."
"Arel." Panggil Alex.
Arel menoleh, lalu bergegas mendekat saat melihat sang dokter. "Ya?"
"Kami harus segera melakukan kuretase, janinnya tidak dapat diselamatkan."
Arel memejamkan matanya karena terpukul dengan kenyataan pahit itu. Namun sedetik kemudian ia mengangguk kuat. "Lakukan saja, dok. Asalkan istri saya selamat."
Setelah mendapat persetujuan, dokter itu pun kembali masuk ke ruangan. Sedangkan Arel terduduk lemas di kursi.
"Sabarlah, Arel. Kalian masih bisa memiliki bayi lagi. Yang paling penting istrimu baik-baik saja." Ujar Sweet yang sebenarnya terpukul juga atas apa yang terjadi. Hanya saja ia tak ingin menunjukkan itu, karena akan membuat Arel semakin drop.
Alexa duduk di samping sang Kakak. Memeluk lelaki itu dari samping. Menyandarkan kepala di pundak Arel. "Sky wanita yang kuat, setelah ini dia akan melahirkan sepuluh anak untukmu. Percayalah."
Arel mengangguk. Mengusap kepala adiknya dengan lembut. "Jangan menangis, aku akan ikut menangis." Bisik Arel yang disambut tawa renyah oleh Alexa.
"Berjanilah untuk tidak melakukan kekonyolan seperti dulu lagi. Jangan menyakiti dirimu sendiri. Aku juga sakit saat kau sakit, Arel." Alexa semakin mengeratkan pelukkannya.
"Mimimimi...." oceh Gabriel menyentuh pipi Alexa. Dan hal itu berhasil menarik perhatian semua orang.
"Hey, aku bukan Mimimu. Aunty, aku aintymu. Ayok panggil aku aunty." Alexa menggenggam tangan mungil Gabriel.
"Didididi... mimimi...." teriak Gabriel sampai air liurnya mengenai wajah Alexa. Tentu saja itu menjadi hiburan tersendiri untuk mereka.
__ADS_1
"Di mana Xella?" Tanya Sweet saat menyadari putri bungsunya itu tidak ada. Alex terdiam saat mendengar itu.
"Tidak tahu Mom, aku sudah coba menghubunginya. Tapi ponselnya tidak aktif." Sahut Alexa apa adanya.
"Ya Tuhan, ke mana anak itu? Ini sudah hampir malam."
"Ck, dia sudah dewasa. Mungkin saja dia ke tempat Arez atau temannya." Ujar Alex meyakinkan istrinya.
"Kau selalu saja memanjakannya, bagaimana jika dia bergaul bebas di luar sana huh?" Ketus Sweet tak suka dengan sikap Alex yang selalu menutupi kesalahan putri bungsunya itu.
"Dia putrimu, saharunya kau percaya padanya."
"Mom, Dad, ini bukan saatnya untuk berdebat." Sanggah Alexa.
"Aku mengatakan hal yang benar, lalu di mana Kakakmu huh? Sejak pesta itu dia tak pernah pulang." Kesal Sweet karena anak-anaknya mulai melupakan mansion. Padahal ia sangat merindukan momen kebersamaan seperti dulu.
Alexa menatap suaminya dan saling melempar senyuman. "Dia sedang membuat penerus, Mom. Biarkan saja dia menghabiskan waktu dengan istrinya."
"Huh, aku punya banyak anak. Tapi tak ada satu pun yang menyayangiku. Yang satu melupakanku setelah punya istri, yang satu lagi sibuk bermain di luar."
"Mom, aku dan Arel masih ada di sini."
"Ya, dan kau juga secepatnya akan meninggalkanku kan? Pergilah sana, aku akan menghabiskan usiaku hanya berdua dengan Daddymu. Hanya dia yang setia padaku." Sweet memeluk suaminya dengan erat.
"Kau ini, seperti anak kecil saja." Alex mengecup pucuk kepala Sweet dengan lembut.
"Mom, besok aku dan Winter akan berangkat ke Jepang untuk honeymoon." Kata Alexa sedikit gugup.
"Kau lihat, Mas. Satu per satu mereka akan meninggalkan kita. Pergilah, Lexa. Dan segera kembali jika kalian punya kabar baik. Mommy selalu mendoakan kebahagian untuk kalian."
Alexa tersenyum senang mendengarnya. "Thank you, Mom."
"Dan kau, Arel. Mulailah jadi lelaki dewasa. Belajar dari apa yang telah terjadi. Tidak selamanya Mommy dan Daddy ada disisimu. Jangan sampai putramu jadi lelaki brengsek seperti dirimu. Ajarkan dia tatakrama dan cara menghargai wanita. Ini juga berlaku untuk kalian, Lexa, Winter."
"Ya, Mom." Sahut ketiganya kompak.
****
"Maafkan aku, Arel. Aku tidak bisa menjaganya dengan baik." Sky terus menangis sejak dirinya siuman dan mendengar kabar jika anaknya sudah tidak ada. Ia terpukul dan syok.
"Sayang, sudah aku katakan. Ini bukan salahmu, dia bukan rezeki kita. Kita bisa membuatnya lagi, aku siap dua puluh empat jam."
"Hiks... aku sedang bersedih, Arel. Kau malah menggodaku." Sky tertawa disela isakkannya.
"Kau pikir aku tidak sedih huh? Tapi apa gunanya kita sedih sampai berlarut-larut. Dia tidak akan kembali. Satu-satunya cara membuatnya hadir kembali dalam bentuk yang lain." Ujar Arel yang berhasil mendapat cubitan maut dari Sky.
"Maafkan aku, Sayang. Aku hanya tak ingin kau terus bersedih. Orang tua mana yang tak sedih saat kehilangan anaknya huh? Tapi bukan berati kita terpuruk seperti ini. Ikhlaskan, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Percayalah padaku." Timpal Arel mengecup kening istrinya.
"Aku percaya padamu, aku hanya syok, Arel. Siang tadi aku masih mengajaknya mengobrol, lalu malam ini dia sudah tidak ada. Aku merasa kehilangan." Lirih Sky seraya mengusap perutnya yang masih terasa ngilu dan sedikit sakit.
Arel memeluk Sky dengan penuh cinta. "Bagaimana kau bisa terjatuh huh?"
"Aku terpeleset," jawab Sky jujur.
"Sudahlah, lupakan itu dan fokus untuk pemulihanmu."
"Hm. Lalu di mana Gabriel?" Tanya Sky yang baru mengingat putranya.
"Mommy dan Daddy membawanya pulang, tadi dia tertidur setelah menghibur kita semua." Jawab Arel.
"Menghibur?"
"Ya, dia terus mengoceh seolah memberi kami nasihat supaya tidak bersedih. Dia juga seolah memahami apa yang kami bicarakan. Kau melahirkan putra yang pintar, Sky. Aku bangga padamu." Jelas Arel.
"Dia sepintar dan semanja dirimu, Arel. Semuanya ikut dirimu, wajah, sifat bahkan cerewetnya juga sama sepertimu. Itu tidak adil." Keluh Sky tersenyum penuh haru.
__ADS_1
"Itu hukuman untukmu karena berani meninggalkanku, putraku lebih pengertian darimu."
"Tapi sekarang aku sudah kembali bahkan menjadi milikmu, Arel." Sky memeluk suaminya begitu erat. Seakan tak rela untuk berjauhan dengannya.
"Hm. Itu pun harus aku jemput dulu."
Sky tertawa renyah. "Maafkan aku."
"Aku tidak ingin maaf dari mulutmu. Cepat sembuh, lalu berikan maaf yang tulus padaku. Setelah itu aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu atau tidak."
"Ck, memangnya mau maaf seperti apa huh?"
"Seperti malam pertama kita." Bisik Arel yang berhasil membuat Sky melotot.
"Ih... aku sedang sakit tahu. Berhenti memikirkan hal mesum, Arel. Bahas yang lain atau apa lah." Protes Sky memukul dada Arel pelan.
"Mana bisa, Sayang. Hampir semua isi kepalaku dipenuhi oleh dirimu saat berada di bawahku, memanggil namaku saat...."
"Stop! Kau sangat mesum, Arel. Aku akan berhenti bicara jika kau terus membahas itu." Potong Sky dengan bibir yang sedikit dimajukan.
"Kau melarangku membahas itu, tapi bibirmu dimajukan seperti itu. Membuatku gemas dan ingin melahapmu."
"Arel! Pergi saja sana, aku mengantuk." Kesal Sky menarik diri dari dekapan Arel. Kemudian bergerak pelan membelakangi lelaki itu.
"Kau yakin tak ingin aku peluk huh?"
Sky terdiam untuk beberapa saat.
"Aku akan pergi." Arel pura-pura bangun dari posisinya. Dan itu berhasil mematahkan pertahanan Sky.
"Peluk aku, Arel. Jika kau pergi, aku akan marah dan tak akan bicara selama satu bulan." Ancam Sky tanpa berniat untuk berbalik. Arel mengulum senyuman geli saat melihat tingkah menggemaskan istrinya.
"Hanya pelukan? Tidak ingin bibirku?"
"Arel! Please, aku sungguh mengantuk."
"Baiklah, aku akan memelukmu. Jangan pernah abaikan aku. Karena aku bisa gila kau tahu itu kan?" Pinta Arel yang ikut berbaring disisi istrinya. Memeluk tubuh ramping itu dengan mesra.
"Jangan bersisik, aku ingin tidur. Lebih dekat, di sini sangat dingin. Peluk aku dengan benar, Arel." Sky memeluk tangan Arel yang melingkar di perutnya.
"Begini?"
"Ya, jangan lepaskan aku. Temani aku sampai pagi. Aku merindukanmu, seharian penuh kau meninggalkanku."
"Jangan berisik, aku mengantuk." Ledek Arel menirukan suara istrinya.
"Arel!"
Arel tergelak karena berhasil menjahili sang istri. "Aku mencintaimu, Sayang."
"Aku juga, selamat tidur My hubby."
"Good night, My Beautiful Sky."
To be continue....
Tenang aja, aku kasih juga kok cast Arel sama Sky... plus baby Gabriel
...Alfarel ...
...Sky...
__ADS_1
...Baby Gabriel...