
Dustin terus mengecupi punggung tangan Sheena yang masih belum sadarkan diri, sudah dua jam lamanya. "Maaf." Ucapnya lirih.
Dustin benar-benar bingung. Belum habis rasa terkejutnya karena baru mengetahui kehamilan Sheena, ia pun kembali dikejutkan dengan penjelasan sang dokter akan kondisi Sheena yang mengakibatkan janinnya tidak bisa bertahan.
Beberapa menit lalu...
"Setelah beberapa pemeriksaan, kami mendapatkan hasil yang mungkin akan membuat Anda kecewa, Tuan muda." Ujar sang dokter menatap Dustin ragu seraya menunjukkan hasil pemeriksaan pada lelaki itu.
"Katakan." Pinta Dustin penuh keyakinan. Ia akan menerima apa pun hasil yang akan dokter itu katakan.
"Hasil pemeriksaan mengatakan jika ada kelainan pada rahim Nona Sheena. Atau kami sering menyebutnya sindrom Asherman, leher rahim Nona Sheena sangat lemah. Karena itu juga janin dalam rahimnya tidak bisa bertahan dalam waktu yang lama. Kemungkinan besarnya juga, Nona Sheena akan kesulitan untuk memiliki anak. Karena kelainan ini menghambat tumbuh kembangnya janin."
Dustin mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar shock dengan apa yang terjadi. Belum lagi ia sama sekali tidak tahu jika kekasihnya itu sedang hamil.
"Tapi Anda jangan berkecil hati, Tuan. Untuk memiliki seorang anak, banyak cara yang bisa kita lakukan."
Dustin terdiam cukup lama. Bukan soal anak yang ia pikirkan sekarang, tetapi perasaan Sheena jika tahu soal kondisinya saat ini.
Apa dia tahu jika dirinya sedang hamil? Akan lebih bagus jika dia tidak tahu. Pikir Dustin.
"Tuan?" Panggil sang dokter yang berhasil membuat Dustin tersentak.
"Ah, maaf. Apa hal ini akan membahayakan kesehatannya?"
"Sepertinya tidak, seperti yang sudah saya katakan tadi. Kelainan ini hanya akan membuat Nona Sheena sulit memiliki anak."
Dustin mengangguk paham. "Baiklah, terima kasih, Dok. Tolong sembunyikan ini dari Sheena maupun keluargaku yang lainnya. Katakan saja Sheena keguguran karena terlalu lelah."
"Tapi...."
"Itu yang terbaik, Dok." Sela Dustin.
Dokter itu pun mengangguk paham. "Baiklah, saya akan berusaha menyembunyikannya."
"Terima kasih." Ucap Dustin yang kemudian meninggalkan ruangan itu.
Dustin tidak tahu harus bersikap bagaimana jika Sheena bangun dan bertanya apa yang terjadi. Bahkan ia tidak tahu Sheena menyadari atau tidak soal kehamilannya. Sepertinya ia hanya bisa menunggu sampai kekasihnya itu siuman. Lalu menanyakan itu langsung padanya.
Sheena mulai sadar satu jam kemudian, dan itu membuat Dustin lega. Lelaki tampan itu tersenyum begitu tulus.
"Dustin." Suara Sheena terdengar lemah.
"Shhtt... sebaiknya kau istirahat saja ya? Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak."
Sheena menatap Dustin lekat. "Apa yang terjadi? Apa bayi kita baik-baik saja?"
Dustin terkejut. "Jadi kau sudah tahu soal kehamilanmu huh?"
Sheena mengangguk. "Maafkan aku, Dustin. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan ini darimu. Aku berniat akan memberitahumu setelah hari pertunangan."
Dustin mengecup punggung tangan Sheena. "Tidak apa-apa."
"Dia baik-baik saja kan?" Tanyanya penuh harap.
Dustin terdiam sejenak, kemudian menggeleng.
Sheena tampak kaget. "Ma... maksudmu? Anak kita...."
__ADS_1
"Dia sudah tiada." Jawab Dustin penuh penyesalan. "Maaf karena tidak bisa melindungi kalian."
Tangisan Sheena pun pecah. Refleks Dustin pun langsung memeluknya. "Tidak apa-apa, sayang. Mungkin Tuhan belum mempercayakan seorang anak untuk kita."
"Maafkan aku, Dustin. Tidak seharusnya aku menyembunyikannya darimu. Kau pasti kecewa padaku kan?"
Dustin menggeleng. "Tidak sama sekali. Jangan menyalahkan dirimu, Sheena."
Tangisan Sheena pun semakin menjadi. "Padahal aku selalu berusaha menjaganya, Dustin. Tapi kenapa dia tetap pergi meninggalkanku? Aku juga baru tahu beberapa hari yang lalu. Apa mungkin ini terjadi karena dosaku, Dustin?"
"Sudah aku katakan berhenti menyalahkan diri sendiri. Semuanya diluar dugaan kita. Aku tidak menyalahkanmu." Dustin terus berusaha menenangkannya.
Sheena memeluk Dustin dengan erat. Hatinya benar-benar tersayat karena kenyataan yang dialaminya saat ini. Ia pikir dengan hadirnya bayi itu, ia bisa mengikat Dustin sepenuhnya. Tetapi bayi itu kini sudah tiada, itu artinya tidak ada kekuatan untuknya lagi agar Dustin terus berada disisinya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Dustin? Aku mohon." Lirihnya semakin erat memeluk Dustin. Ketakutan kembali menyelimuti hatinya, ia takut kehilangan cintanya.
Dustin terkejut mendengar itu. "Apa yang kau pikirkan huh? Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Jadi berhenti menangis, sayang."
Sheena berusaha menghentikan tangisannya, sayangnya itu sangat sulit. Rasa takut dihatinya semakin besar. "Aku bermimpi kau meninggalkanku, Dustin. Aku takut. Tidak ada siapa-siapa lagi di dunia ini yang aku punya selain dirimu."
Dustin melerai pelukannya, lalu menangkup wajah sembab sang kekasih. "Sudah aku katakan, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji."
Sheena mengangguk dengan air mata yang masih mengalir. "Jangan pergi."
"Tidak akan." Dustin mengecup bibir mungil gadisnya dengan lembut. "Sudah cukup menangisnya. Kau harus istirahat."
Sheena menatap Dustin lekat. "Dokter bilang apa? Kenapa aku bisa keguguran?"
Mulut Dustin tercekat kala mendengar pertanyaan itu. Namun, ia berusaha untuk tetap tegar dan tersenyum lagi. "Kau itu terlalu lelah, sudah aku katakan jangan terlalu memaksakan diri."
"Tapi aku tidak merasa lelah sama sekali, Dustin. Aku selalu menjaga pola makanku, bahkan aku juga tidur dengan baik. Sebelumnya aku juga tidak pernah merasakan apa pun."
Sheena tersenyum mendengarnya. "Aku sedang sedih, Dustin. Kau malah bercanda."
Dustin tersenyum geli. "Aku tidak sedang bercanda, sayang. Apa yang aku katakan benar adanya. Kita pasti akan membuatnya lagi setelah menikah. Yang kemarin itu pengecualian."
Sheena memukul dada Dustin pelan. "Kau ini."
"Aku lebih senang melihatmu tersenyum, kau itu jelek jika menangis. Jadi jangan menangis lagi okay?"
Sheena mengangguk. "Maaf."
Dustin menggeleng. "Jangan meminta maaf, aku yang merasa bersalah jika kau terus meminta maaf. Anak itu hadir karena kecerobohanku. Maaf soal itu."
Sheena tersenyum seraya mengusap pipi Dustin. "Aku tidak pernah menyesal melakukan itu denganmu, juga tidak pernah menyesal mengandung anakmu, Dustin. Aku sangat mencintaimu."
Dustin terbuai dengan kelembutan gadisnya itu. Karena tak tahan, ia pun mencium bibir mungil itu dengan lembut. Sheena sama sekali tidak keberatan, justru ia membalas ciuman itu tak kalah lembut.
"Ekhem!" Deham seseorang yang berhasil membuat keduanya tersentak kaget. Cepat-cepat Sheena mendorong Dustin agar menjauh darinya. Lalu menoleh ke arah pintu. Di mana Lea dan Violet sudah berdiri di ambang pintu.
Dustin berdecak sebal melihat kehadiran mereka yang membuat jantungnya hampir copot.
"Permisi, Tuan, Nyonya. Ini rumah sakit, apa kalian bisa melihat kondisi lebih dulu?" Sewot Lea seraya melangkah masuk yang diikuti oleh Violet.
Dustin sempat menatap gadis itu beberapa detik, kemudian menatap Lea malas. "Ada apa? Kalian mengganggu kesenagan kami."
Lea melotot mendengar itu. "Hei, kau lupa apa yang terjadi pada istrimu huh? Dia baru saja kehilangan bayi kalian. Dan kau masih ingin menyerangnya? Dasar brengsek."
__ADS_1
"Bukan urusanmu." Sinis Dustin.
"Hentikan perdebatan kalian." Seru Violet merasa jengah. Sejak kecil Lea dan Dustin memang tidak pernah akur. Dan ia cukup jengah dengan perdebatan keduanya.
"Bagaimana kondisimu, Sheena? Apa kau masih merasa sakit?" Tanya Violet duduk di bibir brankar. Tepat bersebrangan dengan Dustin. Sesekali Dustin mencuri pandang ke arahnya. Hanya ingin melihat mimik wajah dari gadis itu saja tidak lebih.
Sheena tersenyum pada Violet. "Aku tidak bisa menjelaskan apa yang aku rasakan, Vio. Rasanya sangat menyakitkan."
Violet meraih tangan Sheena dengan lembut. "Aku mengerti perasaanmu, Sheena. Tapi jangan berlarut dalam kesedihan okay? Dustin pasti bisa memberikan banyak anak padamu."
Sheena tersenyum geli mendengar perkataan Violet yang seperti hiburan untuknya itu. "Kau benar, setelah menikah aku akan meminta banyak anak darinya." Ia melirik Dustin. Lelaki itu pun cuma bisa tersenyum.
"Tentu saja dia dengan senang hati melakukannya, semua keturunan Digantara itu gila soal ranjang." Sinis Lea.
"Termasuk kau sendiri, Lea." Balas Dustin tak kalah sengit.
Violet menutar bola matanya jengah. "Kau harus bisa memisahkan dua anak ini, Sheena. Sejak kecil mereka seperti kucing dan anjing."
"Dan kau tikusnya." Timpak Lea yang kemudian beranjak duduk di sofa.
Sheena tertawa kecil. "Mereka lucu juga saat bertengkar."
Violet terkekeh lucu mendengar itu. "Kau orang pertama yang mengatakan itu, Sheena."
Keduanya pun tertawa bersama. Dustin yang melihat itu tersenyum lega. Ia tidak pernah menyangka dua wanita itu akan seakur ini. Bolehkah ia memiliki niat serakah? Ah, sepertinya itu tidak mungkin. Dustin tidak ingin menyakiti hati mereka berdua.
"Kapan kau akan menikah?" Tanya Dustin pada Violet.
Violet menoleh, menatap Dustin lekat. "Secepatnya. Tapi aku akan membiarkan kalian menikah lebih dulu. Setelah itu aku akan menyusul."
Dustin mengangguk. "Semoga kau bahagia, Vi."
Violet mengangguk, kemudian mengalihkan perhatiannya pada Sheena. Namun, ia langsung terkejut saat melihat tatapan penuh luka dari wanita itu. Spontan ia kembali menatap Dustin. "Kita harus bicara. Lea, bisakah kau biarkan kami di sini?"
Lea yang paham situasi pun mengangguk, kemudian bergegas meninggalkan tempat itu. Violet berjalan ke arah pintu, lalu menguncinya. Setelah itu ia kembali ke brankar.
Dustin menatap Violet bingung. "Apa yang ingin kau katakan?" Begitu pun dengan Sheena yang memberikan tatapan bingung sekaligus penasaran.
"Apa kau mengatakan semuanya pada Sheena?" Tanya Violet dengan kedua tangan terlipat di dada.
Dustin menantap kekasihnya, lalu menjawab. "Ya. Aku rasa tidak ada yang perlu disembunyikan darinya." Menggenggam tangan Sheena erat.
Violet mendengus sebal. "Sialan! Pantas dia menatapku seolah aku ini saingannya."
Sheena tersenyum mendengar itu. "Maafkan aku, Vio. Aku tidak bermaksud seperti itu? Aku...."
"Dengarkan aku, Sheena. Aku dan lelaki ini mungkin saling mencintai. Tapi dia lebih memilihmu. Itu artinya dia sudah mencampakkan aku. Jadi jangan pernah berpikir aku adalah sainganmu. Lagi pula aku tidak ingin berebut pria brengsek sepertinya denganmu. Ambil saja untukmu." Sela Violet menatap Sheena tajam.
Dustin berdecih mendengar ucapan Violet yang lebih cocok sebagai hinaan itu. "Cukup, sebaiknya kau keluar, Vi."
Violet tertawa hambar. "Kau lihat kan, Sheena? Bahkan dia mengusirku didepanmu. Sudah jelas aku ini tidak ada arti untuknya. Jadi berhenti memikirkan hal buruk tentangku. Aku tidak akan merebutnya darimu. Semoga kau lekas sembuh. Aku harus pergi sebelum si brengsek ini mengusirku untuk yang kedua kalinya. Selamat tinggal." Dengan penuh percaya diri gadis itu meninggalkan sepasang kekasih itu.
Sheena menatap Dustin dengan senyuman. "Sekarang aku tahu kenapa kau sangat mencintainya, Dustin."
"Omong kosong. Sebaiknya kau istirahat. Aku harus menemui keluargaku. Mereka ingin melihatmu, tapi aku melarangnya. Mereka semua pasti akan membuatmu tidak nyaman." Dustin membenarkan posisi selimut Sheena.
Sheena mengangguk. "Jangan terlalu lama. Aku takut sendirian." Dustin pun mengangguk. Sebelum pergi ia memberi kecupan mesra di kening kekasihnya. "Aku akan segera kembali."
__ADS_1
Bersambung....