
Violet mendatangi bar tadi malam untuk mencari apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum itu ia sudah menghubungi pemilik Bar tersebut, yang merupakan teman lamanya.
"Ikut aku." Ajak lelaki berambut perak itu. Violet pun mengikutinya. Dan mereka pun menuju ruang keamanan.
"Periksa rekaman cctv tadi malam, jangan ada yang terlewatkan." Perintah lelaki bernama Gibson itu.
"Baik, Tuan." Sahut petugas keamanan yang langsung bergerak untuk memeriksa hasil cctv.
Baik Violet maupun Gibson tampak serius memperhatikan.
"Wait!" Seru Violet saat melihat kejanggalan dalam video yang dilihatnya. "Kenapa vidoe ini terpotong? Coba ulang sekali lagi." Pintanya.
Lalu mereka pun mengulang salah satu videonya. Dan benar saja, video itu terpotong selama 2 jam lamanya. Dan itu terjadi di saat Violet turun dari tempat duduknya. Setelah itu video langsung terpotong.
Gibson menghela napas. "Sepertinya seseorang telah menyabotase tempat ini."
Violet terdiam untuk beberapa saat. Jika dipikir-pikir, semua kejadian cukup ganjil. Mulai dari si pengirim misterius, penyabotase cctv, juga kejadian malam tadi yang seolah sudah direncanakan dengan matang.
Siapa sebenarnya orang itu? Lalu apa tujuannya?
"Begini saja." Kata Gibson yang berhasil membuat Violet tersadar dari lamunannya. "Aku akan berusaha mengembalikan hasil cctv yang hilang, mungkin butuh waktu. Aku akan langsung menghubungimu jika vidoenya berhasil dikembalikan."
Violet mengangguk. "Segera hubungi aku." Pintanya yang dijawab anggukan oleh Gibson. Lalu Violet pun langsung meninggalkan tempat itu.
Ketika keluar dari Bar, Violet kaget karena Dustin ada di sana seolah tengah menunggunya. Bersandar di mobilnya sembari menatap ke arah Violet, tatapan tak bersahabat tentunya.
Perlahan Violet mendekatinya. "Kenapa kau ke sini?"
Dustin tidak menjawab dan terus menatapnya. Merasa diabaikan, Violet pun beranjak ke arah mobilnya. Namun dengan cepat Dustin mencekal tangannya, sontak Violet pun langsung berbalik.
"Apa tujuanmu sebenarnya, hah?" Tanyanya penuh penekanan.
Violet menatapnya tak percaya. "Kau bertanya padaku, Dustin? Kau pikir aku yang menjebakmu hah? Apa dimatamu aku sepicik itu?"
Dustin tersenyum kecut. Lalu memberikan sebuah botol pil pencegah kehamilan pada Violet. "Minum ini, aku tidak ingin mengambil resiko."
Violet tertegun untuk beberapa saat. Kemudian ia tertawa hambar seraya menarik tangannya dengan kasar. "Apa kau pikir aku juga ingin mengandung anakmu? Jangan terlalu percaya diri, aku sudah minum pil pencegah kehamilan sebelum kau minta." Bohongnya.
Mendengar itu rahang Dustin pun mengerat.
"Kau akan menyesal karena sudah menuduhku, Dustin. Aku tidak akan memaafkanmu." Imbuh Violet dengan mata berkaca-kaca. "Kau melukai hatiku berulang kali. Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau pikir aku bodoh dengan mempertaruhkan masa depanku hanya untuk menjebakmu, hah? Jika aku ingin, sejak lama aku melakukan itu semua." Pungkasnya, setelah itu ia pun pergi meninggalkan Dustin yang masih berdiri diposisinya.
__ADS_1
Sepeninggalan Violet, Dustin kembali menghubungi seseorang. "Segera cari tahu kebenarannya, aku akan membunuhmu jika kau gagal. Brengsek!" Umpatnya dengan penuh amarah. Setelah itu ia pun ikut meninggalkan tempat itu.
Sepanjang perjalanan, Violet terus menangis karena rasa sakit dihatinya. Bagaimana mungkin Dustin terus menyalahkan dirinya? Sedangkan ia sendiri korban di sini. Tak ada yang menginginkan hal ini terjadi.
Rasanya ia ingin menghilang saja dari dunia ini.
Tidak lama ponselnya berdering, dan nama Paul yang keluar di sana. Namun gadis itu mengabaikannya. Lalu membelokan mobilnya ke tempat lain. Berulang kali Paul menghubunginya, tetapi dia terus mengabaikannya. Seolah tak peduli jika lelaki itu akan mencemaskan dirinya.
Kini Violet sudah berada di Bandara Internasional Frankfurt. Entah apa yang dipikirkannya saat ini sehingga memilih ke sana.
"Violet?"
Mendengar namanya disebut, gadis itu pun menoleh. Seketika matanya pun melebar.
"Hai, sedang apa kau di sini?" Tanya orang itu yang tak lain adalah Zhea. Gadis itu membawa sebuah koper kecil. Sepertinya ia akan melakukan perjalanan ke suatu tempat.
Violet menatap Zhea penuh arti. Membuat gadis yang satu itu merasa bingung.
"Zhe, bisakah kau membantuku?"
Mendengar itu Zhea pun semakin bingung. Lalu Violet pun langsung menjelaskan apa yang sedang dialaminya. Mendengar itu Zhea pun bersedia membantunya. Dan itu membuat Violet bernapas lega.
Setelah beberapa hari di Berlin, Dustin pun kembali ke Negaranya dengan perasaan yang kacau.
Sheena yang sudah menunggunya pun memberikan sambutan hangat. "Aku merindukanmu, Dustin." Katanya seraya memeluk Dustin dengan erat.
"Hm." Hanya itu sahutan yang keluar dari mulut Dustin. Membuat Sheena merasa aneh. Ia pun langsung mendongak, menatap wajah kekasihnya dengan penuh selidik.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanyanya bingung.
Dustin tetap tersenyum. "Tidak apa-apa, aku cuma lelah."
Sheena ikut tersenyum. "Ya sudah, kau istirahat sana." Dustin mengangguk kecil, lalu tanpa kata ia pun meninggalkan Sheena.
Gadis itu menatap kepergiannya dengan sendu. "Apa yang terjadi padamu, Dustin?"
Alih-alih pergi ke kamarnya, Dustin justru memilih pergi ke ruang gym. Di mana kedua kembarannya tengah berolah raga di sana.
Tanpa aba-aba Dustin menarik Lucas dengan kasar. Lalu melayangkan tinjuan tepat di wajah lelaki itu. Sontak Mike yang melihat itu kaget dan langsung melerai keduanya.
"Apa yang kau lakukan?" Serunya seraya menatap Dustin tajam.
__ADS_1
Dustin juya balas menatapnya tajam, kemudian kembali menghajar Lucas tanpa ampun.
"Hei! Hentikan." Lagi-lagi Mike berusaha memisahkan keduanya. Dan beruntungnya ia berhasil memisahkan mereka meski butuh effort yang besar.
"Sialan! Brengsek kau, Luc." Umpat Dustin dengan tatapan permusuhannya yang kental.
Lucas tersenyum kecut seraya mengusap ujung bibirnya yang mengeluarkan darah. "Dalam sejarah, keluarga kita tidak pernah melahirkan seorang pecundang. Lari dari tanggung jawab adalah perbuatan seorang pecundang."
Mendengar itu amarah Dustin semakin memuncak. Ia kembali menghajar Lucas dengan brutal. Sedangkan Mike terlihat kebingungan melihat semua itu.
"Apa yang kalian lakukan hah?" Teriaknya seraya menarik Dustin, lalu bergantian menatap kedua kembarannya itu. Sayangnya tak ada yang menjelaskan apa pun padanya. Bahkan Dustin meninggalkan tempat itu begitu saja.
Kini harapan Mike pun tertuju pada Lucas. "Katakan apa yang terjadi, Luc."
Lucas menatapnya lekat. "Kau akan tahu nanti. Bantu aku berdiri."
Dengan sigap Mike menariknya.
"Sebaiknya kau awasi calon Kakak iparmu yang polos itu. Pastikan dia tidak membuat kekacauan." Lucas menepuk pundak Mike, setelah itu ia pun berlalu begitu saja. Dan itu membuat Mike kebingungan.
"What the.... argh... sial." Umpat lelaki itu yang kemudian ikut menyusul kepergian Lucas.
"Luc! Apa yang terjadi padamu?" Panik Alexa saat melihat kondisi putranya yang keluar dari ruang gym dalam keadaan babak belur. Tidak lama Mike pun keluar dari sana. Spontan pandangan Alexa pun langsung tertuju padanya.
Mike yang melihat tatapan sang Mommy pun langsung menggeleng. "Bukan aku yang melakukannya, tanyakan saja padanya." Jelasnya.
Alexa pun kembali menatap Lucas. "Apa yang terjadi, Luc?"
Lucas menatap sang Mommy lekat. "Katakan pada putramu yang penyayang itu. Jangan terlalu memanjakan kucing liar yang akan menggigit dirinya sendiri." Ujarnya yang kemudian berlalu begitu saja. Meninggalkan Alexa dan Mike yang masih kebingungan.
Lagi-lagi Alexa menatap Mike untuk meminta penjelasan. Namun Mike cuma bisa mengedikkan bahunya karena ia juga tak memiliki jawaban.
Di kamar, Dustin melempar jaketnya dengan kasar. Lalu mengumpat kasar. "Sialan!"
Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu duduk di sofa dengan wajah murung.
Dua hari lepas, Dustin menerima sebuah hasil rekaman cctv di Bar yang lengkap dari Violet. Dimana video itu menunjukkan jika Violet sama sekali tidak bersalah. Di dalam Video itu juga terlihat jelas seorang laki-laki asing membawa Violet keluar dari bar dalam keadaan mabuk berat. Bukan hanya itu saja, diwaktu yang sama ia juga menerima video lain dari anak buah kepercayaannya. Yaitu sebuah rekaman cctv di hotel tempat di mana mereka menghabiskan malam bersama.
Di dalam video itu, terlihat seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dengan pakaian serba hitam mamapah Dustin ke sebuah kamar hotel. Tidak lama dari itu lelaki yang membawa Violet pun datang ke sana dan masuk ke kamar yang sama. Setelah itu video itu pun menunjukkan bagai mana Dustin dan Violet menghabiskan malam panjang mereka dalam keadaan tak sadar. Sampai di pagi harinya Violet terbangun lebih dulu dan pergi begitu saja dengan wajah pucat pasi karena shock.
"Maafkan aku, Vi." Lirihnya seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia terlihat frustrasi sekarang. Ditambah Violet tidak bisa dihubungi setelah mengirim video itu padanya. Ia benar-benar menyesal karena sudah menuduh Violet atas apa yang terjadi pada mereka. Padahal Violet juga korban dalam kejadian itu. Dan semua kejadian itu disebabkan oleh Lucas. Dari hasil penyelidikan Dustin, Lucaslah yang memerintahkan kedua lelaki asing yang membawanya dan Violet ke hotel. Karena itu Dustin langsung menghajarnya sampai babak belur. Entah apa tujuan Lucas melakukan semua itu? Dustin benar-benar pusing dan tak bisa berpikir jernih sekarang.
__ADS_1