
Alexella tampak duduk di sebuah kursi dengan kaki dan tangan yang tersilang. Sedangkan mata tajamnya terus tertuju pada wanita di depannya yang masih tertidur dengan kondisi terikat di atas ranjang. Entah berapa banyak lelaki yang sudah menidurinya? Ia sendiri tak tahu. Yang jelas wanita itu terlihat lemah tak berdaya, juga begitu banyak bercak merah kebiruan di bagian dadanya yang tak tertutup selimut.
Benar, wanita itu adalah Zhia. Wajahnya tak lagi seperti semula. Kini wajah itu sudah berganti wajah lain. Alexella sendiri tidak tahu apa yang suaminya lakukan sampai wajah itu kembali berubah. Apa mungkin menggunakan topeng kulit? Entahlah, Alexella tak peduli semua itu. Yang ia inginkan saat ini yaitu melihat wanita itu merintih kesakitan karena sudah berani merenggut nyawa Daddynya. Lelaki yang amat ia cintai.
"Kau sudah bangun?" Alexella menegakkan tubuhnya saat melihat wanita itu mulai bergerak. Sontak Zhia pun kaget melihat keberadaan Alexella.
"Xella, tolong selamatkan aku. Aku mohon. Aku tidak mau digilir mereka lagi. Mereka sangat banyak, Xella." Lirih Zhia menatap Alexella penuh permohonan.
Alexella masih tetap memasang wajah dingin. "Saat kau membunuh Daddyku, lalu menjebakku dengan lelaki itu. Apa kau pernah berpikir panjang? Ah, apa kau pikir kami lemah?"
Zhia sedikit merinding saat mendapat tatapan membunuh dari Alexella.
"Bahkan aku bisa membunuhmu, Zhia. Tapi aku harus bersabar menunggu waktu itu, sampai kau sendiri yang memohon padaku untuk kematianmu sendiri. Nikmati sisa hidupmu. Bukankah kau senang ditiduri para lelaki tampan huh? Anak buahku memiliki paras yang elok. Bersenang-senanglah." Pungkas Alexella seraya bangkit dari posisinya. Kemudian meninggalkan ruangan pengap itu, karena ruangan itu posisinya di bawah tanah.
"Dia sudah bangun." Kata Alexella pada beberapa anak buahnya. Para lelaki itu mengangguk patuh. "Jangan sampai dia hamil, itu merepotkan."
"Baik, Nyonya." Jawab mereka kompak.
"Pergilah." Titah Alexella yang juga pergi dari sana dengan langkah santai. Tidak lama ia mendengar suara riuh yang berasal dari kamar itu. Dan sedetik kemudian suara itu berubah menjadi suara erangan dan d*s*han si wanita. Sungguh menjijikan.
"Dasar j*l*ng." Geram Alexella mempercepat langkahnya. Rasanya mual mendengar suara menjijikan itu.
"Baby, aku pikir kau kemana?" Tanya Jarvis saat melihat istrinya keluar dari sana.
"Ada apa?"
"Aku ingin mengajakmu ke kantor sebentar, setelah itu kita ke markas. Arez meminta kita berkumpul siang ini." Jarvis mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kau kedinginan, Baby."
"Aku lupa memakai hoodie."
"Baiklah, ayok masuk. Kau juga belum sarapan. Dan aku merindukan sarapan pagi darimu." Jarvis tersenyum nakal. Sedangkan Alexella memutar bola matanya jengah mendengar itu.
"Tidak ada lagi sarapan pagi." Ujar Alexella bergegas meninggalkan suaminya. Jarvis tersenyum geli sebelum menyusulnya.
"Tunggu aku, Baby."
Kini Alexella, Jarvis, Gerald dan Vanessa tengah menikmati sarapan pagi mereka yang sebenarnya agak terlambat. Namun mereka masih tetap menikmatinya.
"Kapan kau kembali ke asalmu?" Tanya Gerald yang ditujukan pada Vanessa. Dan itu berhasil mencuri perhatian mereka.
Gerald memang tak pernah menyukai wanita kecentilan itu. Ia tak suka cara Vanessa mendekati Jarvis. Apa lagi sekarang sudah ada menantu kesayangannya. Jika bukan karena Jarvis, mungkin sudah ia usir wanita itu jauh-jauh hari. Namun Jarvis begitu menyayangi adiknya itu.
Vanessa menatap Jarvis, sedangkan yang di tatap malah asik menggoda istrinya. Tentu saja Vanessa kesal setengah mati. "Mungkin bulan depan."
"Hm, bagus itu. Mansion ini sudah punya Nyonya. Jadi jangan mengharapkan apa pun dari putraku." Ceplos Gerald tanpa memikirkan perasaan wanita itu. Alexella dan Jarvis pun langsung menatap sang Daddy.
"Dad, lanjutkan sarapanmu. Kita akan bahas ini nanti."
"Tidak perlu bermain api di belakangku. Aku tahu apa yang sedang kau rencanakan. Jangan coba-coba mencelakai menantuku, atau kau yang akan celaka, Nessa. Kau sama saja seperti Ibumu. Serakah dan tak tahu malu."
__ADS_1
"Dad, please." Jarvis menatap sang Daddy penuh permohonan.
"Aku kenyang." Nessa bangun dari duduknya dan berlari menuju kamarnya. Jarvis hendak bangun, tetapi Gerald langsung menahannya.
"Tetap pada posisimu, Jarvis. Istrimu ada di sini." Tegas lelaki paruh baya itu menatap putranya tajam. Jarvis menghela napas berat dan mematuhi perintah sang Daddy.
Alexella mengusap lengan suaminya sekilas untuk menenangkan lekaki itu. Kemudian memberi isyarat pada Jarvis agar melanjutkan makannya. Selanjutnya tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Suasana pun mendadak canggung. Sampai mereka bubar tanpa sepatah kata pun.
"Jarvis." Panggil Alexella saat melihat suaminya hendak masuk ke kamar Vanessa. Lelaki itu pun menoleh.
"Jangan lama, aku menunggumu." Lanjut Alexella yang kemudian beranjak menuju kamar. Jarvis menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu kamar. Setelah itu ia melanjutkan niatnya untuk melihat kondisi sang adik.
Jarvis menghampiri Vanessa yang tengah duduk di bibir ranjang. Wanita itu termenung begitu jauh. Jarvis duduk tepat disebelahnya. Lalu merangkul pundak wanita itu.
"Aku minta maaf atas sikap Daddy. Kau tahu konflik antara Daddyku dan Mommy tak pernah usai. Aku menyayangimu, kau adikku satu-satunya." Jarvis mengecup kepala Vanessa dengan lembut. Dan beberapa detik kemudian wanita itu berhambur dalam pelukkannya.
"Apa aku salah jika ingin berdekatan denganmu, Kak? Aku kesepian di sana. Mom and Dad selalu sibuk sendiri, melupakan aku sebagai putrinya. Aku butuh seseorang untuk menjadi sandaran."
Jarvis menghela napas gusar. "I know. Tapi apa yang kau rencanakan pada Xella sampai Daddy semarah itu huh?"
Vanessa terkejut mendengarnya. Lalu menarik diri dari dekapan Jarvis, menatap lelaki itu begitu dalam. "Apa kau percaya padaku Kak? Aku tak merencanakan apa pun untuknya. Sungguh."
Jarvis memperdalam tatapan di mata wanita itu. Mencari sebuah jawaban. Jelas wanita itu tengah berbohong. "Jangan pernah melakukan hal yang tak aku sukai. Aku menyanyangimu sebagai adikku, dan kau harus menganggapku layaknya seorang Kakak. Tidak lebih, Nessa. Kau tahu aku tak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanitaku. Termasuk kau dan Daddy sekali pun."
Vanessa tertunduk. "Jadi kau tak percaya padaku, Kak?"
"Aku percaya padamu, jadi jangan patahkan rasa percayaku itu. Sulit bagiku mempercayai orang lain."
"Kau memang adikku, tapi kita dibesarkan oleh orang yang berbeda. Kita tak pernah tahu kehidupan masing-masing."
Vanessa terdiam seribu bahasa.
"Aku pergi dulu, istriku sedang menunggu. Untuk masalah tadi, jangan terlalu kau pikirkan. Kau tahu kan Daddy memang seperti itu." Jarvis bangun dari posisinya.
Venessa mengangguk kecil. Jarvis tersenyum tipis seraya mengusap rambut sang adik. Setelah itu ia pun beranjak dari sana.
Di kamar, Alexella terus termenung di depan meja rias. Menatap wajahnya lamat-lamat. Wajah itu terlihat sayu, bahkan lingkar hitam di matanya terlihat jelas. Tangan lentiknya bergerak untuk mengoleskan sedikit makeup di wajah untuk menyamarkan lingkaran hitam itu. Setelah itu ia juga memoleskan lisptik dibibirnya yang sedikit pucat.
Jarvis yang baru masuk dan melihat itu pun tersenyum lebar. Ia mendekati istrinya, berdiri tepat di belakang Alexella. Meletakkan kedua tangannya di pundak sang istri.
"Cantik." Pujinya yang diiringi dengan seulas senyuman menggoda.
Alexella menatap pantulan wajah tampan suaminya di cermin. Kemudian menarik lengan Jarvis, memeluk dua tangan kekar itu dengan erat. Jarvis meletakkan dagunya di pucuk kepala sang istri. Mata keduanya saling mengunci satu sama lain.
"Setelah semua urusan selesai, bisa kita mampir ke tempat Mommy? Aku merindukanya." Pinta Alexella.
"Bisa, jika kau ingin menginap di sana pun tidak jadi masalah. Aku akan ikut ke mana kau mau." Jawab Jarvis masih setia memandang wajah bidadari cantiknya.
"Thank you."
__ADS_1
"Aku ingin ucapan yang lebih tulus." Bisik Jarvis tepat di telinga Alexella. Membuat darah wanita itu berdesir panas. Alexella mendongak karena bingung. Dan tanpa di duga Jarvis langsung meraih bibirnya. Memberikan gigitan kecil di bibir bawahnya, membuat sang empu mend*s*h lembut. Alexella memejamkan matanya saat Jarvis semakin memperdalam ciuamannya. Lelaki itu selalu saja pandai membuatnya terbuai.
Jarvis menyudahi aksinya saat tahu Alexella mulai kekurangan oksigen. Wanita itu terengah-engah dengan sorot mata yang sayu. Jarvis tersenyum jahil. Lalu membenamkan wajahya di ceruk leher Alexella. Mengecupi leher jenjang itu penuh sensual. "Aku tidak tahan, Sayang."
"Sabar, Jarvis. Dokter meminta kita untuk puasa selama dua minggu. Cepatlah bersiap, kau harus ke kantor dulu kan?"
"Hm." Lelaki itu masih asik dengan leher wangi istrinya. Memberikan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Jangan lakukan itu, Jarvis. Bagaimana jika orang lain melihatnya?"
"Tutup saja pakai syal."
"Stop it! Kita bisa terlambat Jarvis."
"Sebentar lagi, Sayang. Aku merindukanmu."
"Kau pikir aku tidak? Aku juga merindukanmu, tapi aku bisa bersabar." Protes Alexella mulai kesal. Dan Jarvis seolah tak peduli. Lelaki itu masih gencar menjamah istrinya. Bahkan tangan besar itu mulai nakal. Alexella menepis tangan suaminya.
"Bersiaplah, atau aku akan pergi sendiri." Tegas Alexella.
"Ok fine." Akhirnya Jarvis mengalah. Lelaki itu menarik diri dan bergegas menuju kamar mandi. Alexella menghela napas gusar, ia tahu Jarvis marah. Tetapi mau bagaimana lagi? Kondisinya memang belum bisa melakukan apa yang diinginkan suaminya. Ini semua bukan kehendaknya. Ia pun kembali termenung. Bingung harus bersikap apa dengan karakter Jarvis yang tak memiliki jiwa sabar sedikit pun.
****
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Jarvis benar-benar tak mengeluarkan sepatah kata pun. Sepertinya ia benar-benar kesal karena Alexella selalu saja menolaknya.
"Aku tahu kau marah, tapi itu bukan keinginanku, Jarvis. Aku masih dalam kondisi pemulihan. Kau dengar sendiri kan dokter meminta kita untuk tidak melakukan itu? Jika tadi aku tak menghentikanmu, kau tak akan berhenti di sana. Tolong mengerti kondisku, Jarvis. Aku bingung harus bersikap apa lagi jika kau terus seperti ini?" Tangisan Alexella pun pecah seketika. Wanita itu berubah rapuh setelah apa yang dialaminya. Mungkin ia belum sepenuhnya sembuh dari trauma itu.
Jarvis menghela napas panjang, lalu meraih tangan istrinya. "Maafkan aku, sayang." Mengecup tangan istrinya. Ia menyesal karena sudah bersikap kekanakan. Padahal ia tahu istrinya itu masih labil.
Tubuh Alexella bergetar karena menahan tangisan. Hatinya begitu sakit karena ia tak mampu memenuhi keinginan suaminya.
"Jangan menangis lagi, aku minta maaf. Aku tak akan menuntutmu lagi. Aku akan sabar menunggu, okay?" Jarvis mulai panik.
"Aku tidak percaya, kau selalu berubah setiap saat. Kau pikir aku tak memikirkan semuanya huh? Aku selalu memikirkan semuanya, Jarvis. Bagaimana caranya supaya kau senang saat disisiku, bagaimana cara supaya aku bisa menjadi istri yang baik. Bagaimana caranya supaya kau tak berpaling dariku. Aku selalu berusahan menjadi yang terbaik untukmu, Jarvis." Jelas Alexella mengeluarkan segala aral dalam hatinya.
"Xella...."
"Aku tahu, aku bukan wanita sempurna yang bisa membuatmu selalu nyaman bersamaku. Aku wanita keras kepala dan egois, yang selalu mementingkan diri sendiri. Aku tahu itu."
"Cukup. Aku tidak ingin mendengarnya lagi." Pinta Jarvis seraya mengusap pipi mulus Alexella.
"Aku mencintaimu, Jarvis. Aku mencintaimu." Ungkap Alexella menangis sesegukkan. Jarvis menepikan mobilnya. Lalu menarik Alexella dalam dekapannya.
"Aku tahu kau mencintaiku, Xella. Begitu pun denganku. Aku mencintaimu. Jangan menangis lagi. Mulai saat ini aku akan belajar untuk memahmi isi hatimu. Aku berjanji padamu." Ujar Jarvis mengecupi kening istrinya bertubi-tubi.
"Jangan tinggalkan aku, Jarvis. Aku takut kau akan meninggalkanku. Ditambah aku bukan lagi wanita bersih. Aku kotor, Jarvis."
"Nope. Bagiku kau wanita suci sampai kapan pun. Kau milikku seorang, Xella. Aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhmu lagi, maafkan aku."
__ADS_1
Alexella memeluk Jarvis begitu erat. Bahkan tagisannya semakin kencang. Jujur ia takut kehilangan lelaki yang dicintainya untuk yang kedua kali. Itu amat sangat menyakitkan.
Jarvis membiarkan Alexella menumpahkan segala rasa sakit dalam pelukkannya. Ia tahu wanitanya itu masih terguncang. Dan penyesalan untuknya karena sudah membuat wanita itu bersedih seperti sekarang ini.