Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 27


__ADS_3

Berkali-kali Arez menekan tombol panggilan dan berkali-kali pula ia menekan tombol end. Dirinya menggeram jengkel karena sang istri begitu sulit dihubungi. Sudah lima hari mereka tak tatap muka atau sekadar memandang. Sepertinya wanita itu benar-benar menghindar atau berniat menjauhinya.


"Jadi kau benar-benar senang mempermainkanku huh? Jangan salahkan aku jika berlaku kasar padamu." Geramnya dengan kilatan amarah dimatanya.


"Tuan, rapat kita akan dimulai dalam lima menit lagi." Ansel mencoba mengingatkan Arez karena lelaki itu masih bergeming di tempatnya.


"Sampai pukul berapa jadwalku hari ini?"


"Pukul sembilan malam, Tuan."


"Hm." Arez bangun dari kursi kebesaranya menuju ruang meeting. Seperti biasa, Ansel terus mengekorinya di belakang.


"Siapkan tiket ke Swiss, aku akan membawanya berlibur selama satu bulan di sana."


Ansel tersentak kaget mendengar jangka waktu yang Arez sebutkan. Satu bulan? Apa Tuan benar-benar ingin menghabiskan waktu dengan Nona? Ah, mereka kan pengantin baru. Biarkan saja mereka menghabiskan waktu bersama. Lebih bagus lagi Alfarez junior segera hadir. Mungkin kantor ini tak akan sesunyi ini lagi.


"Tuan, apa Anda tidak ingin membuat program kehamilan untuk Nona?" Usul Ansel tanpa ragu. Arez menghentikan langkahnya secara tiba-tiba, membuat Ansel harus mengerem dadakan. Terlambat sedikit ia akan menabrak atasannya itu.


"Program kehamilan? Apa itu harus?" Tanya Arez mendadak bodoh. Ia sama sekali tak pernah memikirkan sejauh itu. Bahkan dirinya tak bisa membayangkan akan memiliki seorang anak diusianya yang masih muda.


Huh, ternyata Tuan masih awam dalam hal ini.


"Tentu, Tuan. Dengan adanya program ini, Anda bisa lebih cepat memiliki penerus."


"Hm. Aku akan membicarakan itu padanya." Sahut Arez melanjutkan langkahnya.


Aku ingin tahu seperti apa reaksinya saat mendengra usulan tentang kehamilan? Apa dia akan ketakutan seperti ekpresi biasanya? Ah, kenapa aku mendadak merindukannya.


Ansel mengelus dadanya karena merasa lega. Ia pikir Arez akan memarahinya. Ternyata usulannya kali ini diterima dengan baik. Ansel tersenyum geli melihat perubahan sikap Arez akhir-akhir ini.


Sepanjang meeting, Arez terlihat tak fokus karena dirinya tengah mendengarkan suara dari balik earphone. Sudah beberapa hari ia tak mendengar umpatan gadis itu dibelakangnya dan ia merindukan itu. Memutar semua hasil sadapannya selama lima hari terakhir. Namun seketika ekspresi wajahnya datar saat mendengar semua percakapan sang istri. Rahang lelaki itu mengerat dengan sorot mata yang tajam. Ansel yang melihat perubahan itu merasa heran. Padahal beberapa menit yang lalu Tuannya itu terlihat baik-baik saja.


Ansel menjawab semua pertanyaan yang ditujukan untuk Tuannya. Karena atasannya itu terlihat tak fokus dan sibuk sendiri. Beruntung Ansel peka dan pintar. Jika tidak meeting kali ini akan sia-sia saja. Padahal sebelum ini Arez selalu fokus pada pekerjaannya.


****


Nyaris dua jam lebih Sabrina terbaring pasrah di atas sofa setelah kedatangan suaminya yang tiba-tiba. Menyerangnya tanpa ampun atau rasa kasihan. Sabrina mengerang pasrah saat lelaki itu terus malancarkan asksinya nyaris tanpa kelembutan. Entah apa yang membuat lelaki itu selalu bersikap kasar padanya. Kesalahan apa yang ia perbuat sebenarnya sampai suaminya itu tak pernah bersikap lembut layaknya suami yang mencintai sang istri? Sabrina sendiri tidak tahu.

__ADS_1


"Hentikan, Al. Aku kesakitan." Lirih Sabrina dengan air mata yang mulai menetes dipelupuk matanya.


"Kau menikmatinya, Sayang."


"Apa salahku kali ini, Al? Beberapa hari yang lalu kau menamparku di depan adikkmu. Malam ini kau datang ke tempatku dan menyiksaku seperti ini. Aku manusia, bukan boneka." Sabrina mengusap wajah tampan suaminya. Mengunci netra tajam itu dengan netra abunya. Berharap Arez memperlembut perlakuan padanya. Karena ini sangat menyakitkan. Meski mereka sudah melakukannya dua kali, tetap saja itu sangat sakit.


"Kau membuatku marah, Sabrina. Kau menghindariku sepanjang waktu, bahkan kau berani menolak panggilanku. Aku tak suka sikap pembangkangmu. Bersikaplah layaknya seorang istri penurut, aku akan menjadi suami yang baik untukmu." Jelas Arez penuh penekanan. Arez membawa tubuh polos istrinya ke kamar. Melanjutkan aksinya di sana.


Sabrina memejamkan matanya. Kemudiam membukanya perlahan. "Kau yang membuatku terus menghindar. Aku benci laki-laki otoriter dan kasar. Aku membencimu, Al. Sunggung."


Arez menatap wajah pucat istrinya dengan seksama. Masih ada bekas goresan di pipi mulus istrinya itu. "Siapa yang mengizinkanmu meminum pil kontrasepsi huh? Kali ini kau membuat kesalahan besar, Sabrina."


Mata Sabrina terbelalak saat mendengar itu. "Lalu apa yang harus aku lakukan, Al? Aku tidak ingin mengandung anakmu secepat ini. Sikapmu sama sekali tak menunjukkan jika kau serius padaku. Aku tidak akan menjatuhkan diri ke dalam jurang kehancuran. Aku masih punya impian. Bagaimana jika kau meninggalkanku saat anakmu bersarang dirahimku huh? Aku tak akan membiarkan dia bernasib sama denganku, Al. Itu menyakitkan."


Tatapan tajam Al langsung berubah teduh kala mendengar itu. Sabrina menangis dalam diam. Memukul dada polos suaminya dengan kasar. "Aku membencimu, Al."


Arez mengecup bibir istrinya dengan lembut. Membuat wanita itu jauh lebih tenang. Kemudian kecupan itu perlahan menjadi cecapan penuh kelembutan dan kehangatan. "Belajarlah untuk mencintaiku, mengenalku lebih dalam. Kau akan tahu siapa diriku, Sabrina."


"Jangan pernah menghindariku lagi, jika kau ingin kuperlakukan dengan lembut. Aku bukan tipe lelaki yang bisa menahan amarah, Sabrina." Desis Arez penuh penekanan.


"Tergantung sikapmu, Al. Aku akan menjauhimu jika kau masih kasar padaku. Aku masih marah karena kau menamparku." Refleks Sabrina mendorong dada Arez saat lelaki itu menyentaknya dengan kasar.


"Hm. Please, it's hurt. Tolong lembut sedikit." Sabrina memejamkan matanya dengan kedua tangan yang mencengkram erat punggung Arez.


"Berhenti berteman dengan wanita itu."


"Siapa?" Tanya Sabrina membuka matanya lagi.


"Wanita yang terus bersamamu, aku sudah mengubah sandi pintu. Hanya aku dan dirimu yang bisa masuk ke sini."


"Maksudmu Deena? Hey, dia sahabatku."


"Jauhi dia, aku tidak menyukainya. Dia terus memberikan pengaruh buruk padamu." Arez menarik tubuh ramping sang istri duduk di atas pangkuannya.


Sabrina tertawa renyah. "Kau memintaku untuk meninggalkan sahabat kecilku hanya demi dirimu yang baru aku kenali dua hari? Kau bercanda, Al?"


"Dia bukan wanita baik-baik."

__ADS_1


"Apa aku harus percaya padamu?" Sabrina tersenyum sinis. Kemudian mencium bibir suaminya dengan lembut.


"Tentu, aku suamimu, Sayang."


"Seorang suami akan memperlakukan istrinya dengan lembut."


"Aku tidak bisa bersikap lembut pada kucing liar sepertimu."


Sabrina terdiam cukup lama. "Al."


"Hm."


"Kau mencintaiku?"


Arez menatap netra kelabu itu dalam. "Kenapa kau bertanya hal itu?"


"Aku akan berhenti meminum pil itu setelah kau mencintaiku." Jawab Sabrian mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang Arez. Kini tubuh mereka sudah dibanjiri peluh kenikmatan.


Arez tak berniat menjawab pertanyaan istrinya itu. "Malam kita masih panjang. I think still wanna play with you, my wife. Karena besok kita akan melakukan perjalanan panjang."


Sabrina memberikan tatapan bingung. "Kemana?"


"Ke tempat yang kau mau."


Sabrina masih bingung, tetapi ia malah mengangguk pasrah. Arez tersenyum dan melanjutkan malam panjang mereka yang seakan tak berujung. Sabrina tidak munafik, ia menyukai sentuhan Arez ang selalu memambukkan jiwanya. Meski terkadang lelaki itu bermain terlalu kasar. Entahlah, mungkin itu ciri khasnya. Lelaki itu seperti teka teki yang sulit dipecahkan. Namun cukup membuatnya penasaran dan ingin mengenalnya lebih jauh.


Pagi hari Sabrina terbagun dalam pelukan hangat seseorang, siapa lagi kalau bukan suaminya. Wanita itu tersenyum tipis sembari menatap wajah tenang suaminya. Lelaki itu jauh lebih baik saat ia tidur ketimbang terbangun yang akan membuatnya jengkel.


"Morning," suara serak dan berat Arez berhasil mengejutkan Sabrina.


"Morning." Balasnya dengan nada gugup. Arez masih terpejam. Kemudian merengkuh tubuh ramping itu untuk mencari kehangatan.


"Kau bilang kita akan pergi."


"Sebentar lagi."


"Hm." Sabrina tak banyak bicara karena tak ingin berdebat di pagi hari. Memilih diam dan membenamkan wajahnya di dada bidang Arez. Ia tersenyum saat medengar suara detak jantung suaminya yang begitu kencang.

__ADS_1


Apa dia juga gugup? Tapi kita sudah melewati malam yang panjang. Huh, dia sunguh sulit di tebak. Tapi semakin sukar mencari jawaban itu, aku ingin semakin jauh mencarinya. Sampai aku tahu jawaban sesungguhnya. Tentang siapa dirimu sebenarnya, Al.


__ADS_2