Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 52


__ADS_3

Khusus part kali ini cukup panjang, mungkin bonus buat kalian para pembaca setiaku.... Aku harap kalian tidak kecewa karena cuma satu bab yang aku update.... Tapi aku sudah berusaha menyiapkan semuanya dengan baik.... Mudah2han kalian suka... Selamat membaca sahabat onlineku... 🤗😘


...❤️❤️❤️...


"Nona, mobil sudah siap." Seorang lelaki paruh baya sedikit membungkuk. Memberi hormat pada seorang wanita yang merupakan atasannya.


"Terima kasih," ucap wanita cantik dengan balutan pashmina berwarna toska. Ia bangun dari kursi kerja, lalu berjalan keluar. Lelaki paruh baya itu pun mengikutinya dari belakang.


Wanita bermata coklat itu terus berjalan tanpa memperhatikan sekitarnya. Bahkan ia mengabaikan para karyawan yang memberi sapaan. Suara hentakan high heels yang ia kenakan memberikan kesan elegan pada dirinya. Siapa pun yang melihat, akan terpesona karena aura kecantikan yang ia miliki.


Kemudian, ia pun menghentikan langkahnya saat melihat seorang lelaki bertubuh jangkung sudah berdiri di depan pintu masuk. Tidak lupa sebuket mawar merah dalam genggamannya.


"Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu heran. Pasalnya sang pria tidak pernah bosan melakukan hal-hal yang aneh untuk menarik perhatiannya.


"Menunggu istriku, apa itu salah? Ini hadiah dariku," lelaki itu bergerak mendekat. Dan memberikan buket itu pada sang wanita.


"Aku alergi bunga," ujar sang wanita seakan tidak tertarik dengan hadiah yang diberikan. Lelaki itu seakan terbiasa dengan sikapnya, karena ia terlihat santai dalam menanggapi sikap dingin sang wanita.


"Pak, antar saya ke rumah sakit lebih dulu." Wanita itu bergerak menuju mobil yang sudah berdiri di depan pintu.


"Istriku, aku akan menunggumu malam ini."


Wanita itu sama sekali tidak menanggapi sang lelaki. Dan meminta driver untuk segera meninggalkan perusahaan.


"Nona Sweet, kedua Tuan Muda sudah menunggu Anda di sekolah. Apa lebih baik menjemput mereka lebih dulu?"


"Tidak perlu, aku ingin bertemu dengan putriku lebih dulu. Setelah itu kita jemput mereka," sahut wanita yang tak lain adalah Sweet.


Sweet memang merubah penampilannya seratus persen. Ia memutuskan untuk menutup aurat sejak empat tahun yang lalu. Setelah melahirkan ketiga anaknya. Ya, Sweet memang melahirkan tiga anak kembar. Dua laki-laki dan satu perempuan. Untuk putra petama ia beri nama Alfarez Zephanio, putra kedua bernama Alfarel Zephanio dan seorang putri yang di beri nama Alexa Zephanie.


Sweet benar-benar berubah, bahkan sifat dinginnya semakin menjadi. Semua orang merasa segan saat berhadapan dengannya. Bahkan Nyonya Sasmitha sendiri tidak dapat mencairkan hati cucu perempuannya. Sejak Sweet tahu dirinya tengah mengandung, sifatnya tidak lagi dapat di kontrol. Bahkan tidak jarang ia mengurung diri di kamar, untuk bicara saja begitu enggan.


"Baik, Nona."


Sweet menatap jalanan yang hampir di penuhi kendaraan roda empat. Tempat tinggalnya saat ini memang jauh berbeda dengan Jerman. Kendaraan di Jerman bisa dihitung jari, berbeda dengan kota yang saat ini ia tinggali. Sebuah kota besar di Indonesia, yaitu Kota Surabaya. Suasana terasa panas dan padat, bahkan tidak jarang terjadi kemacetan. Karena akses pulang pergi para pekerja perusahaan-perusahaan besar.


Tiga puluh menit berlalu, kendaraan yang Sweet naiki sudah terparkir di depan rumah sakit yang bertuliskan Adi Husada Cancer Center (AHCC). Sweet menghela napas berat, kemudian memutuskan untuk langsung turun dari mobil. Hatinya terasa perih setiap kali memasuki rumah sakit khusus para penderita Cancer. Bayangan wajah mungil putrinya yang pucat terus memenuhi kepalanya.


Alexa, anak perempuan Sweet yang saat ini tengah mengidap penyakit leukimia limfositik kronis stadium tiga. Gadis mungil itu memilih untuk tinggal di rumah sakit. Sudah sering kali Sweet membujuknya untuk di rawat di rumah. Namun, gadis kecil itu mewarisi sifat keras kepala dirinya. Sangat sulit di atur dan kokoh pada pendirian. Pada akhirnya Sweet menyerah dan membiarkan putrinya tinggal di rumah sakit selama beberapa bulan ini.


Sweet disambut oleh seorang suster cantik bernama Clara. Wanita muda itu tersenyum ramah. "Ibu Sweet, sejak pagi Alexa menunggu Ibu. Saat ini putri Ibu masih tertidur."


Sweet terdiam sesaat, "terima kasih sudah merawat putri saya, Sus."


"Sama-sama Ibu, mari saya antar."


Sweet pun mengikuti langkah kaki Suster Clara. Hingga langkah semakin berat saat mendekati ruangan di mana putri kecilnya dirawat.


"Silakan masuk, Buk." Suster Clara membukakan pintu untuk Sweet.


"Terima kasih," ucap Sweet masuk ke dalam ruangan dengan perasaan sakit. Terutama saat melihat seorang gadis kecil terbaring lemah di atas brankar yang di penuhi berbagai jenis boneka. Kedua mata mungil itu masih terpejam, memperlihatkan wajah yang penuh ketenangan.


Dengan penuh hati-hati Sweet duduk di sebelah putrinya. Tidak membiarkan gadis mungil itu terbangun. Hingga buliran bening pun meluncur, membasahi pipi.


"Maaf," hanya itu yang mampu Sweet ucapkan. Ia pun mengecup kening putrinya dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Perlahan bulu mata lentik itu bergerak, hingga memperlihatkan warna laut yang begitu indah.


"Mommy," ucapnya seraya tersenyum bahagia. Sweet menatap wajah putrinya begitu dalam.


"Mommy jangan nangis, Lexa tidak suka." Tangan mungil itu bergerak untuk menghapus air mata Sweet. Gadis berusia tiga tahun itu memang cukup piawai dalam bertutur kata. Siapa saja yang bertemu dengannya akan merasa senang dan takjub. Selain cerdas, ia juga cukup ramah pada semua orang. Terkadang Sweet merasa bingung, sifat siapa yang diwarisi putri satu-satunya itu. Bahkan usianya jauh dari kata layak untuk memahami semua itu.


"Apa masih sakit?" tanya Sweet mengusap tangan mungil Alexa yang terpasang jarum infus. Gadis mungil itu menggeleng sambil tersenyum.


"Lexa tidak sakit, apa lagi ada Mommy. Oh iya, Kak Arez dan Arel tidak ikut? Lexa rindu."


Sweet menggeleng pelan, lalu mengecup pipi cubby Alex dengan penuh kasih sayang.


"Sudah Mommy katakan, Lexa di rawat di rumah saja. Supaya bisa main dengan mereka, mau ya?"


Alexa menggeleng pelan, "di sini lebih enak, Mommy. Ada suster Clara, ada Umi Ara sama kak Ichal yang selalu datang buat lihat Lexa dan juga teman-teman yang lain. Kalau di rumah, Lexa tidak tahu main dengan siapa. Mommy sibuk, Opung juga sibuk, Kak Arez sama Kak Arel juga sering sibuk sendiri."


Sweet terdiam, apa yang Alexa katakan benar adanya. Sejak mereka lahir, Sweet sangat sibuk bekerja. Semua itu ia lakukan untuk menghidupi ketiga anaknya. Sweet tidak ingin mereka merasakan hidup susah. Sejak saat itu juga, Sweet memutuskan untuk tidak berhubungan dengan Alex. Bahkan lelaki itu tidak pernah datang, atau sekadar mencarinya. Rasa cinta yang dulu pernah hadir, kini berubah menjadi perasaan kecewa yang mendalam. Empat tahun lamanya, Alex tidak pernah muncul atau sekedar menemuinya.


"Mommy jangan cemas ya, karena ada super hero yang selalu jagain Lexa. Setiap malam, super hero selalu membacakan dongeng buat Lexa." Sweet cukup kaget mendengar pengakuan putrinya. Ia pun langsung menatap suster Clara untuk meminta jawaban.


"Maaf, Buk. Beliau merupakan salah satu donatur di sini. Orangnya cukup baik, dan dia seorang turis. Beliau juga sering datang untuk menemui Alexa. Saya tidak berani melarang, karena Alexa juga sangat bahagia saat beliau hadir. Kami menjamin keamanan Alexa. Orang tidak berkepentingan tidak diperkenankan untuk masuk," jelas suster Clara.


"Kenapa tidak memberi tahu saya lebih dulu? Seharusnya saya sebagai orang tua tahu lebih dulu tentang hal ini. Bagaimana jika orang itu memiliki niat untuk mencelakai putri saya?" Kali ini Sweet benar-benar tersulut emosi. Ia hanya takut terjadi sesuatu pada putri semata wayangnya.


"Maaf, Buk. Lain kali akan saya kabari Ibu lebih dulu." Suster Clara menunduk. Ia merasa bersalah pada Sweet selaku orang tua dari Alexa.


"Mommy, jangan larang Super hero datang ke sini. Lexa suka Super hero," rengek Alexa seraya menarik lengan Sweet.


"Lexa, sudah Mommy katakan jangan terlalu dekat dengan orang asing. Apa kamu sudah tidak mendengar perkataan Mommy?"


"Lexa, Mommy minta maaf. Mommy cuma takut kehilangan kamu, Mommy minta maaf." Sweet mencium punggung tangan Alexa dengan lembut. Air matanya kembali menetes, hatinya benar-benar hancur untuk menerima semua takdir hidup yang cukup rumit untuk dijalani seorang diri.


"Jangan larang Super hero untuk datang, Mommy. Lexa suka Super hero," rengek Alexa lagi. Hal itu berhasil membuat Sweet frustrasi.


"Baiklah, tapi Mommy harus bertemu dengan orang itu. Untuk memastikan keselamatan kamu," ujar Sweet menyerah pada putri kecilnya. Alexa terlihat senang, dan mengangguk antusias.


"Suster, tolong hubungi orang itu. Malam ini saya ingin bertemu dengannya," ujar Sweet pada Suster Clara.


"Baik, Buk. Akan saya sampaikan," sahut suster Clara. Dapat di lihat raut bahagia dari wajah cantik Alexa. Berbeda dengan Sweet, ia merasa cemas dan khawatir.


"Sayang, Mommy harus pergi. Jaga diri baik-baik, oke?" Sweet mengecup kedua pipi Alexa.


"Mommy mau jemput Kakak twin ya?" tanya Alexa dengan tatapan polos. Sweet tersenyum tipis seraya mengangguk pelan.


"Mommy akan kembali setelah bekerja," ucap Sweet sambil memeluk Alexa dengan penuh kasih sayang. Alexa pun mengangguk, lalu mencium pipi Sweet begitu mesra.


Dengan berat hati Sweet meninggalkan rumah sakit. Rasa rindu pada anaknya belum cukup terobati. Namun, masih banyak hal lain yang perlu ia selesaikan.


"Pak, jemput anak-anak. Setelah itu kembali ke kantor." Sweet memalingkan wajahnya ke luar jendela. Pikirannya mundur kembali pada ingatan beberapa tahun silam.


Sudah dua bulan lebih Sweet berada di Indonesia. Hal aneh pun sering terjadi padanya. Sweet terus terbangun dari tidurnya, karena rasa mual yang berlebihan. Hampir sepuluh kali ia terus mondar-mandir ke kamar mandi. Namun hanya cairan bening yang keluar. Sweet mengira rasa mual itu disebabkan karena asam lambungnya yang kambuh. Tetapi ada yang berbeda, Sweet merasa ada yang aneh dalam dirinya. Ia merasa agak gemukan dan perutnya sedikit membuncit.


"Rasanya aneh," gumamnya seraya mengusap perut yang sedikit timbul. Ia juga sering merasa sakit pada bagian dada.


Sweet berjalan perlahan menuju meja yang terletak di bagian pojok kamar. Lalu meraih kalender, melihat deretan angka dan menghitungnya satu per satu.

__ADS_1


"Ya Allah, aku belum datang bulan selama dua bulan lebih. Apa mungkin...." Sweet menggantung ucapannya dan menyentuh kembali perutnya.


"Aku hamil?" lanjutnya dengan perasaan tak yakin. Namun ingatan di mana Alex sering minta hak padanya, menguatkan semua dugaan saat ini yang masih buram. Karena merasa lelah, Sweet memilih untuk tidur kembali.


Keesokan harinya, Sweet mendatangi sang Nenek. Untuk menanyakan masalah dugaan tentang kehamilan. Dengan perasaan ragu, Sweet masuk ke dalam kamar Nyonya Sasmitha. Sweet cukup kaget, karena Nyonya Sasmitha sudah menunggunya sejak tadi. Pandangan mereka pun bertemu dan saling mengunci satu sama lain.


"Nek, ada sesuatu yang ingin Sweet bicarakan." Sweet membuka pembicaraan.


"Nenek juga ingin membicarakan sesuatu sama kamu, duduklah." Nyonya Sasmitha berjalan menuju sofa, kemudian duduk di sana. Lalu menepuk bagian sofa yang kosong, meminta Sweet untuk duduk di sampingnya. Sweet pun menurut, dan duduk di samping sang Nenek.


Nyonya Sasmitha sedikit mencondongkan tubuhnya, mengambil sebuah amplop berlogo rumah sakit yang ia letakkan di atas meja. Lalu memberikan benda itu pada Sweet. Tentu saja Sweet merasa bingung.


"Apa ini Nek?" tanya Sweet penasaran.


"Buka dan lihatlah," perintah sang Nenek. Karena penasaran, Sweet pun langsung membuka isi amplop tersebut. Mengeluarkan selembar kertas, dan membaca isi surat itu dengan seksama.


Awalnya Sweet terdiam, matanya terus bekedip dan membaca ulang hasil lab yang tertuju untuknya.


Sweet tidak dapat bekata-kata, isi surat itu seakan menampar dirinya bertubi-tubi. Di dalam surat itu, ia dinyatakan positif hamil. Air mata Sweet luruh, dan tanpa sadar tangannya kembali menyentuh perut.


"Maaf, Nenek tidak bermaksud untuk menyembunyikan semua ini. Keadaan kamu saat itu cukup kacau, Nenek takut terjadi sesuatu sama kamu karena kaget mendengar kabar ini... Tidak perlu takut, ada Nenek dan Bian di sini. Kami akan selalu ada untuk kamu, dan juga calon anak kamu." Nyonya Sasmitha menarik Sweet dalam dekapan. Membiarkan Sweet menumpahkan segala aral dalam hatinya.


"Kenapa dia hadir di saat seperti ini, Nek?" seru Sweet tidak dapat menahan rasa sakit dalam hatinya. Tentu saja bukan kehamilan yang membuatnya sakit. Tetapi hubungannya dengan Alex saat ini di ambang kehancuran. Lalu hadir malaikat dalam rahimnya? Apa ia sekuat itu?


"Takdir tuhan tidak akan pernah salah, mungkin saja kehadiran malaikat kecil mampu memperbaiki hubungan kalian. Nenek memang marah pada suamimu. Tapi Nenek tidak akan membiarkan cicit Nenek tidak memiliki ayah," ujar Nyonya Sasmitha mengusap punggung Sweet.


Sweet terdiam, mencoba untuk memahami semua perkataan sang Nenek.


"Kembalilah, jelaskan semuanya. Nenek yakin dia akan mendengarkan kamu. Suasana hati kalian sedang buruk, karena itu tidak ada hal baik yang kalian terima. Nenek rasa suasana hatinya sudah membaik, kembalilah dan bicara perlahan. Harus ada yang mengalah di antara kalian."


Sweet menarik diri dari dekapan Nyonya Sasmitha. Menatap mata teduh sang Nenek sejenak.


"Tapi, sejak awal dia tidak percaya pada Sweet, Nek. Dia lebih percaya pada orang lain, dibanding Sweet sebagai istrinya." Sweet menangis pilu. Bayangan di mana Alex membentak dan memberikan perlakuan kasar terputar kembali dalam ingatan.


"Semua itu terjadi karena kalian menyelesaikan masalah dengan kepala panas, sama-sama keras dengan pendirian masing-masing. Apa kamu sudah menjelaskan semua yang terjadi?"


Sweet menggeleng, karena kenyataannya Sweet pergi tanpa menjelaskan apa pun pada Alex. Sweet terlalu ego, menginginkan Alex untuk percaya padanya tanpa sebuah penjelasan.


Nyonya Sasmitha menghela napas berat saat melihat keterdiaman Sweet.


"Sekarang, hubungi suami kamu dan minta maaf padanya. Jangan mempermasalahkan siapa yang salah dan benar, karena semua itu hanya akan memperkeruh suasana." Nyonya Sasmitha memberikan senyuman tulus.


"Tidak perlu cemas tentang Bian, Nenek yang akan menghadapinya."


Sweet masih terdiam, merenungkan semua nasihat sang Nenek. Benar, saat ini keadaan sudah berbeda. Anak dalam kandungannya membutuhkan seorang ayah. Jujur, setiap saat Sweet sangat merindukan Alex. Namun egonya terlalu besar untuk mengakui semua itu.


Setelah berpikir panjang, Sweet pun kembali ke kamar. Sudah saatnya untuk menghubungi Alex. Dan memberi tahu tentang kehadiran malaikat kecil, hasil dari buah cinta mereka.


Sweet membuka laci nakas, mengambil ponselnya yang sudah lama tidak ia gunakan. Sweet mengisi daya ponselnya yang sudah tak bernyawa. Setelah beberapa menit, benda pintar itu menyala. Detak jantung Sweet mulai tak beraturan. Sesungguhnya ia belum siap untuk menghadapi sang suami.


Sweet terhenyak, begitu banyak notifikasi pesan masuk dalam kontaknya. Tangannya mulai bergetar, dan membuka perlahan ponselnya. Iris matanya melebar, saat melihat siapa saja yang mengirim pesan padanya. Hampir semua rekan kerjanya di kantor mengirim sebuah pesan. Termasuk Grace, wanita itu pun ikut mengirim sesuatu padanya.


Dengan ragu, Sweet membuka satu persatu isi pesan mereka. Jantung Sweet seakan berhenti berdetak. Hampir semua pesan berisi kabar buruk tentang Alex. Bahkan air mata Sweet kembali meluncur deras. Semua pesan itu berisi mengenai kabar pernikahan Alex dengan orang lain. Tentu saja pukulan terberat untuk Sweet.


Keadaannya yang tengah sensitif pun memudahkan Sweet untuk marah. Dengan kesal, Sweet menarik ponselnya dan melemparnya asal. Kini ponsel itu benar-benar tak bernyawa dan tidak yakin dapat diperbaiki. Sweet berteriak frustrasi. Hatinya hancur. Harapan yang ia bangun runtuh tanpa sisa. Rasa kecewa dan benci memenuhi hatinya.

__ADS_1


"Kau memang bajingan, Alex. Aku membencimu!" Sweet berteriak sekeras mungkin. Lalu menjatuhkan diri di lantai, dan menangis pilu. Hingga kesadaran dalam dirinya pun mulai berkurang. Cahaya terang mulai berubah hitam.


__ADS_2