Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 86


__ADS_3

"Mas, kita mau ke mana?" Tanya Sweet yang saat ini tengah duduk manis di sebelah sang suami yang sedang fokus menyetir. Alex tersenyum begitu manis, membuat jantung Sweet seakan melompat keluar. Kemudin sebelah tangan Alex terulur untuk mengelus perutnya.


"Kamu akan tahu nanti, aku tahu kamu bosan di mansion terus. Jadi hari ini kita berkeliling," sahut Alex.


"Ck, jangan buat penasaran dong, Mas. Jangan-jangan kamu mau buang aku ya?" Sweet memicingkan matanya penuh selidik. Dan hal itu berhasil mengundang tawa Alex.


"Memangnya kucing main buang aja huh? Lagian suami bodoh mana yang mau buang istri secantik kamu?"


"Huh, mana tahu aja kamu punya niat seperti itu. Apa lagi sekarang aku gemukan, pasti kamu bosan kan?"


Alex tersenyum mendengar ocehan istrinya itu. Pemikiran Ibu hamil tak ada yang bisa menebak.


"Anggap aja seperti itu." Sahut Alex dengan santai.


"Mas! Jahat banget sih." Kesal Sweet memukul lengan Alex dengan kuat.


"Sakit, Honey. Ternyata tenagamu besar juga. Lagian siapa yang mau buang kamu huh? Istri langka seperti kamu rugi kalau aku buang. Kita akan pergi ke suatu tempat." Jelas Alex seraya menggenggam tangan Sweet.


Sweet menghela napas kasar, dan tak lagi mengeluarkan seuara. Ia memilih diam dan menikmati perjalan.


Tiga puluh menit berlalu, mobil yang mereka tumpangi pun memsuki sebuah rumah sederhana dengan hamparan kebun anggur dan strawberry disekeliling rumah itu. Mulut Sweet sedikit terbuka saat melihat pemandangan indah itu.


"Ya ampun, apa ini mimpi?" Tanyanya seraya keluar dari mobil dengan begitu antusias. Alex yang melihat itu tersenyum dan ikut turun dari mobil.


"Aku tahu kamu akan menyukai tempat ini, kamu bisa panen sepuasnya di sini." Alex merengkuh pinggang sang istri dengan begitu mesra.


"Ini luar biasa, selama ini aku tidak pernah ke tempat seperti ini. Sejak kecil aku hanya berkutat dengan buku dan setelah besar aku sibuk bekerja. Seharusnya kita bawa anak-anak, Mas. Mereka pasti akan senang." Ujar Sweet terus berjalan menyusuri luasnya perkebunan yang entah milik siapa. Sedangkan Alex hanya mengekor di belakang.


"Kita bisa bawa mereka nanti, biarkan mereka belajar dengan rajin." Sahut Alex seraya mengambil buah strawberry berukuran jumbo. "Kau mau ini, Sweety?"


Sweet menoleh, menatap Alex heran. Untuk pertama kalinya Alex menyebut nama itu. "Ada apa? Apa aku salah memanggilmu, Sweety?"


Sweet tersenyum dan menggeleng pelan. "Terasa aneh ditelingaku saat Anda menyebut nama itu, Tuan."


"Hm." Alex menghampiri istrinya, lalu memberikan buah itu padanya. "Makanlah, ini lebih manis dari pada wajahmu."


"Apa? Jadi kamu mengatai aku kalah manis dari buah ini huh?" Seru Sweet seraya mengacak pinggang. Tatapan yang ia berikan pun berhasil membuat bulu kuduk Alex meremang.


"Tidak, maksudku buah ini sangat manis sama seperti wajahmu, Honey."


"Owh, jadi kau menyamakan aku dengan buah ini, begitu?"


Alex menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia bingung harus menjawab apa lagi. Tak seharusnya ia memancing kekesalan Ibu hamil itu. Dan tak lama seorang wanita lanjut usia menghampiri keduanya. Kehadiran wanita itu berhasil menyelamatkan Alex dari serangan Sweet.


"Sweet?" Sapa wanita itu menatap Sweet lamat-lamat. Sweet yang merasa terpanggil pun menoleh dan menurunkan kedua tangannya. Matanya juga ikut membulat saat melihat orang itu.


"Kepala pelayan? Benarkah itu Anda?" Seru Sweet seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ya, wanita itu merupakan mantan kepala pelayan, yaitu Nyonya Ge. Gerya Smith.


"Ya, ini aku, Sweet. Apa kabarmu?" Nyonya Ge terlihat bahagia dan memberikan pelukan singkat pada Sweet.

__ADS_1


"Seperti yang Anda lihat. Aku sangat sehat." Sweet tersenyum ramah. "Maafkan aku, aku hampir melupakanmu. Pantas saja aku tidak pernah melihatmu lagi di mansion."


"Aku sudah berhenti bekerja sejak dua tahun yang lalu. Usiaku sudah tak mampu lagi untuk mengurus semuanya." Jelas Nyonya Ge.


"Hm. Lagian aku tak mengizinkanmu terus bekerja di usia lanjut. Kau sudah aku anggap seperti Ibuku sendiri. Jadi nikmatilah masa tua Anda, Nyonya Gerya." Ungkap Alex merangkul wanita tua itu.


Nyonya Ge tertawa renyah. "Aku bahagia bisa melihat kalian lagi. Apa lagi melihatmu kembali ke sisinya, Sweet. Aku tidak tenang saat pergi dari mansion. Karena lelaki ini terlihat seperti orang gila sata kau tidak ada."


"Jangan membongkar aibku, itu sudah berlalu." Protes Alex seraya menatap sang istri. Sweet tersenyum bahagia dan terlihat menikmati suasana saat ini.


"Tunggu dulu! Apa kebun ini milikmu?" Tanya Sweet mulai menyadari sesuatu.


"Ya, inilah hasil kerja kerasku selama mengabdi pada keluarga Digantara. Aku bisa membeli sepuluh hektar tanah dan membuat kebun anggur dan strawberry."


Sweet tercengang menedengarnya. "Mas, sepertinya kamu kalah kaya dengan Nyonya Ge." Ujar Sweet mengejek suaminya.


"Tidak jadi masalah, dia Ibuku dan itu artinya tempat ini milikku juga. Aku bisa berkunjung ke sini kapan aku mau." Balas Alex dengan nada angkuh. Sweet yang mendengar itu memutar bola matanya jengah.


"Lupakan lelaki itu, mari kita mengobrol." Ajak Sweet menarik lengan Nyonya Ge dan beranjak meninggalkan Alex.


"Sayang, aku akan memetik beberapa buah untuk anak-anak. Selamat menikmati hari panjang." Teriak Alex seperti anak kecil.


"Kau lihat, dia masih seperti anak kecil." Kesal Sweet mengadu pada Nyonya Ge.


"Memang seperti itu jika lelaki sudah menemukan pawangnya. Dia akan menunjukan sikap aslinya yang tak pernah dilihat orang lain. Jadi sekarang kau percaya kan ucapanku dulu? Alex anak yang baik dan penyanyang. Sangat mirip dengan mendiang Ibunya."


"Ya, aku percaya padamu. Terima kasih sudah banyak membantuku saat itu." Ucap Sweet dengan tulus.


"Aku tinggal seorang diri di sini. Suamiku sudah lama meninggal dan anak-anak juga sudah menikah semua." Ujar Nyonya Ge seakan memahami apa yang Sweet pikirkan. Lalu ia pun mempersilakan Sweet duduk di sebuah sofa sederhana.


"Tempat ini sangat nyaman," ucap Sweet seraya meneliti seluruh ruangan.


"Ya, karena itu aku betah di sini. Ah iya, kenapa kalian tak membawa anak-anak? Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Aku hanya melihat foto mereka saat bayi."


"Hari ini adalah hari pertama mereka belajar, jadi kami tidak membawanya. Mungkin lain kali kami akan kembali ke sini, mereka akan senang."


"Ya, kalian harus membawanya. Aku ingin memeluk dan mecium mereka." Ujar Nyonya Ge seraya beranjak menuju dapur. Dan tidak berapa lama ia kembali dengan sebuah nampan berisi dua gelas minuman dan beberapa cemilan.


"Di mana suamimu? Kenapa tidak masuk?" Tanya Nyonya Ge meletakkan nampan di atas meja. Lalu duduk di sebelah Sweet.


"Sepertinya dia sedang menghancurkan kebunmu." Gurau Sweet yang disambut tawa oleh Nyonya Ge.


"Kau tahu, Sweet? Aku selalu berdoa, supaya kalian bisa terus bersama hingga anak cucu. Kau kembali menghidupkan bunga yang layu itu hingga bermekaran indah."


Sweet tersenyum mendengarnya. "Ini sudah takdir Tuhan. Karena itu aku masih berada di sisinya. Aku juga selalu berharap kedepannya kami masih bisa terus bersama." Kata Sweet menggenggam tangan keriput itu dengan lembut.


"Hm. Aku doakan kalian selalu dilimpahi kebahagiaan."


"Aamiin, terima kasih." Ucap Sweet dengan tulus.

__ADS_1


Setelah mengobrol panjang lebar, Sweet pun beranjak dari rumah itu untuk mencari keberadaan suaminya yang tak kunjung muncul. Kemudian ia tersenyum lebar saat melihat Alex yang sedang sibuk memetik buah strawberry.


"Sayang," panggil Sweet menghampiri suaminya.


"Hey, aku sedang memetik buah untuk anak-anak." Sahut Alex tanpa melihat lawan bicaranya. Sweet yang melihat itu terlihat kesal.


"Mas, aku ingin makan rujak." Rengek Sweet berdiri di sebelah suaminya.


"Rujak?" Kini Alex mengalihkan perhatiannya pada sang istri. Menatap Sweet lamat-lamat.


"Hm." Sweet menganguk pelan.


"Di mana kita akan mencari rujak huh?" Tanya Alex tampak bingung.


"Kamu yang buat," sahut Sweet dengan entengnya. Mulut Alex terbuka mendengar itu.


"Honey, kau tahu aku tidak bisa membuat makanan Indonesia yang kau sebutkan itu. Rujak? Bahkan aku belum pernah melihatnya secara langsung. Aku memang tinggal di Indonesia lumayan lama. Tapi aku tidak pernah makan yang namanya rujak." Omel Alex panjang lebar. Sweet yang mendengar itu pun memutar bola matanya jengah.


"Kamu bisa melihatnya di youtube kan? Sudah ah, aku mau pulang sekarang. Aku tuh pengen benget rujak, Mas." Rengek Sweet menggunakan bahasa Indonesianya.


"Honey, kau membuatmu hampir gila. Ayok pulang, aku akan melahapmu sampai habis." Ajak Alex menarik tangan istrinya. Sweet tersenyum geli dan mencoba menyeimbangkan langkah besar suaminya.


Setelah berpamitan dengan Nyonya Ge, mereka pun langsung pulang dengan beberapa kantung buah strawberry dan anggur segar.


***


"Emmm... ini enak banget. Kamu memang jago, Mas." Seru Sweet saat mencicipi rujak buatan suaminya.


"Habiskan itu, aku sudah susah payah mencari mangga muda dan apa itu namanya?"


"Asam jawa," sahut Sweet tanpa merasa bersalah sama sekali. Bagaimana tidak, hampir dua jam Alex berkeliling kota Berlin untuk mencari yang namanya mangga muda dan asam jawa. Ini bukan Indonesia, jadi tak semudah itu ia mendapatkannya. Bahkan ia harus melibatkan Joshua demi memenuhi keinginan buah hatinya.


"Ini sangat enak, kamu harus mencobanya." Lanjut Sweet menyuapi Alex. Namun lelaki itu langsung menolaknya.


"Apa tidak asam?" Tanya Alex dengan air liur yang hampir tumpah.


"Asam, tapi enak banget, Mas. Kamu harus icip dikit aja, gak bohong deh." Jawab Sweet kembali menggunakan bahasa Indonesia.


"Melihatnya saja aku sudah hampir gila. Habiskan itu, aku ingin mandi sebentar." Alex pun beranjak dari sana menuju kamarnya.


"Mas, jangan sampai GTK ya?" Teriak Sweet yang berhasil menahan langkah suaminya.


"GTK? Apa itu?" Tanya Alex bingung.


"Gila tingkat kronis." Sahut Sweet dengan tawa riangnya. Alex yang mendengar itu hanya bisa menggeleng dan kembali melanjutkan langkahnya. Sejak hamil, ada saja tingkah baru yang istrinya perbuat. Membuat kepalanya hampir pecah.


Berbeda dengan Sweet, ia terlihat menikmati rujak itu dan melahapnya tanpa tersisa. Ia tak pernah merasakan kebahagiaan seperti ini. Siapa sih yang tidak bahagia? Ketika memiliki suami yang begitu baik dan penuh perhatian. Meski pada awal pertemuan, begitu banyak konflik yang harus mereka lalui.


Sweet mengelus perutnya dengan lembut. "Baby, Mommy rasa kamu memiliki dendam pada Daddy. Kamu terus menginginkan hal aneh dan itu sangat menyulitkan Daddymu. Apa kau tahu? Daddy selalu menuruti semua keinginanmu. Beruntung Daddymu itu tidak marah pada Mommy. Kalau saja itu terjadi, mungkin Mommy akan kabur lagi." Oceh Sweet mengadu pada calon bayinya. Ia pun tersenyum geli saat membayangkan wajah kusut Alex saat pulang tadi. Itu sangat menggemaskan untuknya. Namun sedetik kemudian wajahnya berubah sendu.

__ADS_1


"Huh, Mommy merasa takut. Jika suatu hari nanti Mommy pergi. Apa Daddy akan sebahagia itu? Atau Daddy akan kembali seperti dulu? Mommy sangat takut, Sayang." Sweet terus mengusap perutnya dengan lembut. Namun tatapannya menerawang begitu jauh.


__ADS_2