Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 94


__ADS_3

Hari ini Mala harus mengantar suaminya ke Bandara. Karena Bian harus segera terbang ke Jakarta. Pekerjaannya sudah menumpuk dan tak mungkin ia tinggalkan lagi.


Mala memperhatikan Bian yang tengah berbincang dengan salah satu asistennya. Lalu lelaki itu menoleh, menatap Mala yang masih berdiri. Bian tersenyum dan membawa kursi rodanya mendekati Mala. "Aku harus pergi, jangan merindukanku. Hubungi aku jika kau merindukanku."


"Jangan terlalu percaya diri. Aku tidak mungkin merindukan lelaki jahat sepertimu." Ketus Mala.


"Aku jahat? Kejahatan apa yang aku lakukan padamu, Sayang?" Tanya Bian dengan senyuman khasnya.


Mala memalingkan wajah, juga tak berniat menjawab pertanyaan Bian. Pada dasarnya Bian memang tak pernah melakukan kejahatan apa pun padanya. Justru lelaki itu selalu bersikap manis. Selama seminggu ini, Mala tak pernah merasa terancam saat berdekatan dengan lelaki itu. Justru... ia sedikit nyaman.


"Aku harus pergi," kata Bian menatap istrinya dengan gemas.


"Pergilah," sahut Mala tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku pergi," ulang Bian seraya memundurkan kursi rodanya. Mala yang mendengar suara pergerakan Bian pun langsung menoleh. Dengan kesal ia melangkah pasti mendekati suaminya.


"Jangan lupa hubungi aku jika sudah sampai di sana." Katanya seraya meraih tangan Bian. Lalu mengecupnya dengan lembut. Tentu saja Bian terkejut. Untuk yang pertama kalinya Mala melakukan itu dengan tulus.


"Sana pergi," usir Mala yang berhasil membuat Bian tertawa geli.


"Aku rasa kau akan segera merindukanku, Sayang. Kau akan merindukan senyumanku, merindukan kecupanku dan merindukan perhatianku. Aku akan mendapatkan cintamu dalam waktu satu bulan. Aku yakin itu." Ujar Bian begitu percaya diri.


"Tak akan terjadi." Ketus Mala memasang wajah datar.


"Tapi itu akan terjadi, Sayang. I Love You." Ucap Bian sebelum memutar kursi rodanya. Dan berlalu meninggalkan Mala yang masih terpaku.


"Hati-hati," ucap Mala pelan. Mala tak langsung pergi, sampai suaminya benar-benar menghilang dari pandangan.


"Bagaimana jika aku benar-benar merindukan lelaki itu? Aku sudah terbiasa dengan perlakuan manisnya." Gumamnya dengan tatapan kosong. Lalu ia memutuskan untuk pulang. Namun langkahnya tertahan kala seseorang meneriaki namanya.


"Mala!"


Mala menoleh, lalu tatapan menajam saat menemukan seorang wanita cantik melangkah cepat ke arahnya. Wanita berambut pirang dengan wajah bule yang khas.


"Angel?"


"Ya, Sayang. Ini aku, apa kabarmu?" Tanya wanita bernama Angel itu seraya memberikan pelukan singkat.


"I'm good, bagaimana denganmu? Kau menghilang begitu lama." Jawab Mala tersenyum senang. Angelica Domani merupakan teman Mala sejak SHS. Mereka harus terpisah saat masuk perguruan tinggi. Selama itu pula keduanya hilang komunikasi karena kesibukan masing-masing.

__ADS_1


"I'm so good, hanya saja aku sangat sibuk. Aku harus ke luar negeri setiap saat untuk photo shoot." Ujar Angel yang notabennya seorang model.


"Ah, aku melupakan profesimu."


Angel mengangguk dan tersenyum. Lalu melihat kesekitar, seperti mencari seseorang. "Kau sendiri sedang apa di sini?"


"Ah, suamiku pulang ke Indonesia Jadi aku mengantarnya."


"Ah, maafkan aku, Mala. Bahkan aku tidak sempat menghadiri acara pernikahanmu. Bagaimana jika kita mengobrol dulu? Aku juga masih punya waktu kosong dua jam."


"Baiklah, kita cari kafe di dekat sini." Angel pun mengangguk. Lalu keduanya beranjak dari sana.


Di kafe bernuansa modrn, kedua wanita itu terus berbincang hangat. Bertukar cerita satu sama lain.


"Aku penasaran dengan suamimu, apa dia sangat tampan?" Tanya Angel di sela cerita mereka. Jujur, ia sangat penasaran dengan wajah suami temannya itu. Dan sangat menyesal karena tak sempat hadir di acara pernikahan Mala. Karena saat itu ia sedang melakukan pemotretan di Kanada.


"Kau bertanya tentang suamiku, tentu saja aku akan menjawab dia sangat tampan." Jawab Mala jujur. Angel yang mendengar itu tertawa renyah.


"Ah, kau benar. Pertanyaan itu sangat tak berguna."


Keduanya pun tertawa renyah, lalu kembali berbincang ringan. Sekitar pekerjaan dan pengalaman pribadi mereka.


"Mas, siapa wanita kemarin?" Tanya Sweet duduk di pangkuan Alex yang sedang sibuk bekerja. Ya, saat ini Alex dan Sweet berada di kantor. Alex terpaksa membawa istrinya kerena wanita itu terus merengek untuk ikut. Pada akhirnya Alex mengalah dan mengajak Sweet ikut ke kantor.


"Wanita mana, Sayang?" Tanya Alex menoel hidung istrinya.


"Wanita di pesta kemarin, kamu terus menatapanya. Begitu pun sebaliknya. Kamu menyukainya kan?" Tanya Sweet sedikit kesal.


Kemarin Alex meminta Sweet untuk bersiap, karena ingin mengajaknya ke pesta ulang tahu pernikahan rekannya. Tentu saja di sana banyak wanita dan pria tampan. Bahkan Sweet sempat memergoki seorang wanita terus menatap suaminya. Begitu pun sebaliknya. Istri mana yang tak cemburu melihatnya?


"Bahkan aku tidak tahu wanita mana yang kamu maksud, Sayang?"


"Owh, jadi saat itu bukan hanya satu wanita yang kamu lihat? Dasar mata keranjang, sudah punya istri juga masih jelalatan. Bahkan anak saja sudah mau empat." Omel Sweet sambil memukul dada Alex.


"Itu sakit, Sayang. Lukaku masih belum sepenuhnya sembuh." Keluh Alex merasakan sakit sungguhan.


"Kamu pikir aku tidak sakit?" Kesal Sweet yang mulai terisak. "Saat aku masih di samping kamu aja, kamu berani melirik wanita lain. Bagaimana jika aku sudah tidak ada di dunia ini? Mungkin kamu akan langsung menikah lagi sebelum tanah kuburanku kering."


Alex terkejut mendengar perkataan istrinya. "Sayang, apa yang kamu katakan huh? Jangan membahas kematian, aku tidak menyukai itu. Aku tahu kamu sedang cemburu, tapi jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku." Alex menghapus jejak air mata di pipi istrinya.

__ADS_1


"Kemarin aku hanya ingin membuat kamu cemburu, tidak ada niatku untuk benar-benar melirik wanita lain, Sayang." Imbuh Alex mengecupi pipi istrinya.


"Jangan lakukan itu lagi, aku sangat takut." Ucap Sweet yang langsung memeluk Alex. "Aku takut kamu berpaling hati."


"Tidak akan pernah, Sayang." Balas Alex memeluk istrinya dengan lembut. Kemudian keduanya terdian cukup lama. Dan tangisan Ibu hamil itu pun mulai reda.


"Mas, aku lapar." Rengek Sweet melerai pelukannya. Alex mengangkat sebelah alisnya. Lalu melihat arloji di tangannya.


"Ini masih pukul sepuluh, dan tadi pagi kamu sudah banyak makan. Sekarang masih lapar huh?"


Sweet mengangguk manja sambil mengelus perutnya.


"Biarkan aku bekerja sebentar lagi, setelah itu kita makan di luar."


"Jangan lama-lama," rengek Sweet yang kemudian turun dari pangkuan suaminya. Lalu meraih ponsel suaminya dan duduk di sofa. Alex yang melihat itu hanya bisa menggeleng. Dan ia pun melanjutkan pekerjaannya.


Tiga puluh menit berlalu, Alex bangun dari posisinya dan tersenyum geli saat melihat sang istri sudah tertidur. Alex mengambil ponselnya yang ada dalam genggaman Sweet. Lalu duduk di sisinya.


"Sayang," panggil Alex sambil mengusap pipi Sweet. Wanita itu sedikit menggeliat dan perlahan membuka matanya.


"Tidak jadi makan?" Tanya Alex.


"Jadi, aku masih lapar." Sahut Sweet bangun dari posisinya dengan bantuan Alex.


"Ayok kita cari tempat makan yang enak," ajak Alex membantu merapikan hijab sang istri. Sweet mengangguk pelan. Namun tiba-tiba ia merasakan kram perut.


"Akh...." Sweet meringis sambil menyentuh perutnya.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Alex mulai panik.


"Perutku sakit, Mas." Ringis Sweet mengigit ujung bibirnya.


"Kita ke rumah sakit ya?" Alex menggedong Sweet ala bridal Style. Lalu membawanya keluar dari ruangan. Joshua yang melihat itu ikut panik.


"Siapkan mobil," perintah Alex yang langsung di jawab anggukan oleh Joshua. Lelaki itu langsung berlari mendahului Alex.


"Masih sakit?" Tanya Alex yang hanya di jawab anggukan oleh Sweet. Dengan susah payah Alex menekan tombol lift. Sampai pintu baja itu terbuka sempurna. Bahkan saat ini wajah Alex terlihat pucat. Sweet yang melihat itu tersenyum tipis, ia sangat bahagia karena Alex benar-benar mencintainya. Sebelum ini ia tak pernah membayangkan mendapatkan cinta sebesar ini. Bagaimana mungkin Sweet tidak takut kehilangan lelaki itu?


Ternyata seperti ini menjadi ratu satu-satunya di hatimu, Mas? Kamu begitu manis dan selalu menuruti semua keinginanku. Meski aku sangat sering menyusahkanmu. Terima kasih ya Allah. Aku akan menjaga cinta ini sampai akhir hayatku.

__ADS_1


Sweet membebamkan wajahnya di dada bidang Alex dan mulai tertidur. Karena rasa sakit itu mulai menghilang perlahan dan berganti dengan rasa kantuk yang teramat berat.


__ADS_2