
Mala terdiam cukup lama, menatap foto mendiang suaminya yang sengaja ia pajang di kamar.
"Aku merindukanmu, Mas." Ucapnya seraya memeluk dirinya sendiri.
Ceklek!
Perhatian Mala pun teralih pada seseorang di ambang pintu. Di sana Milan berdiri dengan senyumannya yang khas. Kemudian masuk ke kamar putrinya dan tak lupa menutup pintu kembali.
"Mama mau ngomong sesuatu," kata Milan duduk di sebelah Mala.
"Ngomong apa? Mama mau nikah?" Tanya Mala yang berhasil mengembangkan senyuman di bibir Milan.
"Mama sudah bilang, Mama tidak akan menikah sampai kamu menemukan seseorang." Sahut Milan menatap foto sang menantu.
"Ma, jangan memikirkan Mala. Mama juga berhak bahagia, Mala tahu Uncle Carles terus mendesak Mama untuk menikah dengannya kan?"
Milan menatap putrinya penuh arti. "Menikahlah dengan Bian, dia sudah mengutarakan niat baiknya pada Mama. Juga... Ayahmu."
Mala sangat kaget mendengar ungkapan Milan. "Ma...."
"Dengarkan perkataan Mama. Mama bisa melihat cinta yang begitu besar di matanya. Bahkan dengan keberanian yang besar juga dia meminta kamu pada Mama dan Ayahmu. Mama rasa sudah saatnya kamu membuka hati. Bian anak yang baik, meski fisiknya tidak sempurna. Dia juga sangat tampan, Mama yakin kamu juga mengakui itu."
Mala mendengus kesal mendengar Milan terus memuji lelaki itu. "Dia itu lelaki jahat, kejam dan tidak punya perasaan, Ma. Buktinya dia berhasil melukai, Ayah. Mama lupa itu?"
"Jangan membohongi diri kamu, Mala. Kamu tahu dengan jelas apa yang terjadi pada mereka saat itu. Pikirkan baik-baik untuk masa depan kamu, jangan asal mengambil keputusan. Saatnya membuka lembaran baru, tidak selamanya Mama ada di sisi kamu." Jelas Milan mengusap punggung Mala dengan lembut. Sebelum pergi meninggalkan kamar Mala.
Mala terus termenung, memikirkan semua perkataan Milan. Mungkinkah aku haru membuka lembaran baru? Tapi kenapa harus lelaki itu? Memang benar dia sangat tampan, tapi apa itu cukup? Bahkan aku tak memiliki perasaan apa pun padanya. Mala terus berperang dengan hatinya.
Karena terlalu pusing memikirkan semua itu, Mala memutuskan untuk segera bersiap dan pergi ke kantor. Mungkin dengan bekerja, ia bisa sedikit melupakan masalahnya.
"Kesiangan?" Tanya Sweet saat Mala baru bergabung di meja makan.
"Enggak, tadi ingin bersantai dulu." Jawab Mala seraya mengambil selembar roti tawar. Dan melahapnya perlahan.
"Kak Mala sangat cantik," puji Alexa dengan senyuman imutnya. Dan hal itu berhasil menarik perhatian semua orang. Termasuk Bian. Lelaki itu langsung memperhatikan penampilan wanita pujaan hatinya. Mala memang terlihat sangat cantik dengan setelan kantor berwarna merah. Menambah kesan elegan dalam dirinya.
"Terima kasih, Sayang. Kamu juga sangat cantik." Balas Mala tersenyum manis.
Bian yang melihat senyuman itu merasa senang. Sangat langka untuknya melihat senyuman manis itu. Karena Mala selalu bersikap dingin padanya.
"Kak, aku dengar Kakak akan kembali ke Indonesia? Apa itu benar?" Tanya Sweet pada Bian.
__ADS_1
Mala yang mendengar itu langsung menatap lelaki di hadapannya.
"Benar, aku akan pulang besok. Perusahaan tak bisa aku tinggalkan terlalu lama. Ditambah lagi aku harus mengurus perusahaanmu juga." Jawab Bian.
"Maaf sudah merepotkanmu, Kak. Tapi aku akan tetap bertanggung jawab pada perusahaan." Ucap Sweet tanpa beban.
"Kapan Kakak kembali ke sini?" Tanya Sweet lagi.
Sebelum menjawab, Bian sempat melirik Mala lebih dulu. "Aku akan kembali setelah mendapat jawaban dari seseorang. Aku tidak akan menyerah begitu saja."
Sweet yang mendengar itu berdeham, kemudian mengambil gelas susu dan meneguknya perlahan. Namun tatapannya tertuju pada Mala.
"Mala, setelah pulang kerja nanti. Temui Ayah di ruang kerja." Tegas Alex.
"Baik, Ayah." Jawab Mala tanpa ragu.
Kemudian suasana pun mendadak hening. Sampai semua orang hilang satu per satu dan hanya menyisakan Alex dan Sweet di sana.
"Mas, sepertinya sangat sulit membujuk putrimu itu. Aku harap kamu bisa membujuknya. Tapi ingat, jangan memaksanya." Ujar Sweet.
"Aku tidak sejahat itu, Sayang. Aku akan bicara baik-baik padanya. Kakak sepupumu itu juga tidak tahu diri, bagaimana bisa dia mencintai putriku? Jika mereka menikah, apa dia harus memanggilku Ayah? Atau bahkan aku akan terus memanggilnya Kakak? Sungguh membingungkan." Alex mendengus kesal saat mengingat posisinya saat ini sebagai seorang Ayah untuk Mala.
"Kamu pikir aku tidak berpikir ke sana? Setelah mereka menikah, Kak Bian akan memanggilku Mommy dan aku memanggilnya Kakak. Sangat lucu bukan? Beginilah resiko menikah dengan pria tua sapertimu, Mas."
"Sedikit," gurau Sweet tersenyum geli.
Alex bangun dari posisinya, dan itu membuat Sweet kaget. "Mas." Panggilnya saat Alex pergi dari sana. Sweet pun mulai khawatir jika Alex marah. Ia pun menyusul sang suami.
"Mas, aku cuma bercanda." Ucap Sweet bergelayut manja di lengan Alex. Namun lelaki itu masih diam. Alex tidak benar-benar marah pada Sweet, ia hanya ingin mengerjai istrinya.
"Mas, mana mungkin aku menyesal. Bahkan saat ini kita sudah punya tiga anak dan akan bertambah satu lagi. Jangan marah ya?" Jelas Sweet yang berhasil mengembangkan senyuman di bibir suaminya.
"Mas," panggil Sweet saat tak kunjung mendapatkan sahutan dari Alex. Saat ini mereka sudah berada dalam kamar.
Alex mengambil kemeja miliknya di atas ranjang. Kemudian mengenakannya dengan bantuan Sweet tentunya.
"Hari ini aku ada pertemuan khusus. Jaga diri di rumah." Akhirnya Alex mengeluarkan suara setelah sekian lama. Sweet mendongak, untuk menatap wajah suaminya.
"Jadi aku tidak boleh ikut?" Tanya Sweet memberikan tatapan kecewa. Alex yang melihat itu langsung memberikan kecupan singkat di bibir Sweet.
"Gerald ingin membicarakan hal penting, pertemuan ini hanya aku dengannya saja. Jangan menatapku seperti itu, aku terlihat seperti suami yang ketahuan berselingkuh." Jelas Alex merengkuh pinggang ramping sang istri.
__ADS_1
"Cepat pulang, aku merindukanmu." Ucap Sweet.
Alex menaikkan sebelah alisnya. "Bahkan aku masih di sini, Honey."
"Aku tahu, cepat kembali. Aku tidak mau terlalu lama berjauhan denganmu. Siang ini aku ingin makan di luar, kita cari restoran yang menyediakan masakan Indonesia. Aku ingin makan rendang." Rengek Sweet begitu manja.
"Aku tidak yakin ada yang menjual makanan itu di sini." Sahut Alex mencoba mengingat restoran yang menyajikan hidangan khas Indonesia itu.
"Aku tahu tempatnya, dulu sering ke sana. Tapi itu sudah lama, aku rasa masih ada sekarang."
"Baiklah, akan aku usahakan cepat pulang. Jangan terlalu merindukanku." Alex menyecap bibir istrinya penuh perasaan. Membuat sang empu tak bisa berkutik.
"Aku pergi," kata Alex mengusap bibir Sweet yang basah karena ulahnya.
"Sebentar lagi," pinta Sweet yang langsung memeluk Alex.
"Sayang, aku sudah terlambat."
"Ck, aku mengalah." Kesal Sweet mendorong tubuh suaminya dengan kasar. "Pergilah."
"Jangan merajuk, aku pergi dulu." Alex memberikan kecupan di kening Sweet sebelum dirinya pergi. Sedangkan Sweet hanya bisa menghela napas saat melihat kepergian Alex.
***
"Gambar apa ini?" Tanya Sweet menunjuk sebuah lukisan hasil karya putranya. Ia benar-benar tak memahami arti lukisan yang Arez buat. Semua gambar yang ada di sana terlihat abstrak. Sweet jadi mengingat lukisan yang ada si setiap penjuru kantor suaminya. Mungkinkah itu hasil karya Alex sendiri?
"Tanyakan saja pada Daddy," sahut Arez tanpa ekspresi. Sweet menghela napas panjang. Ia tak bisa berkata-kata jika sudah berhadapan dengan Arez.
"Mulai besok, kalian akan kedatangan guru privat. Daddy tidak mengizinkan kalian sekolah di luar. Sebelum semuanya membaik."
"Hm."
"Mommy tidak mau dengar dari mulut guru kalian, jika kalian nakal dan tidak menghormatinya."
"Ya, Mom."
"Selama ini Mommy sudah mengajari kalian bahasa Jerman yang baik dan sopan. Gunakan itu dengan baik."
"Ya."
Sweet merasa jengah dengan sikap dingin putra sulungnya. Padahal ia sudah bicara panjang lebar. Namun jawabannya hanya sebatas 'Ya'. Membuatnya jengkel saja.
__ADS_1
"Jangan lupa makan dan minum vitaminnya. Mommy harus melihat adik-adik kamu. Mommy mencintaimu." Pungkas Sweet mengecup pucuk kepala Arez. Kemudian beranjak pergi dari sana.