
Keesokan harinya Arez memboyong istrinya kembali ke Berlin. Wanita cantik itu terus diam sejak pesawat lepas landas tadi. Dan tentu saja hal itu membuat Arez bingung.
"Are you okay?" Tanya Arez menyentuh kening Sabrina, memastikan wanita itu baik-baik saja.
Sabrina menoleh, menatap Arez begitu dalam. Kemudian menghembuskan napas berat. "Al, sepertinya aku mabuk udara. Kepalaku sangat pusing, kenapa kali ini pesawatnya sangat lambat?"
Arez memperhatikan wajah pucat istrinya. "Aku akan meminta pilot untuk mempercepatnya." Lelaki itu melepas seat belt dan beranjak dari sana. Sedangkan Sabrina memilih untuk memejamkan mata. Karena kepalanya terus berdenyut sakit.
Sesampainya di apartement, Arez menggendong wanitanya ke kamar. Membiarkan Sabrina istirahat beberapa saat. "Kau sangat lemah, itu baru perjalanan singkat." Arez tersenyum tipis, lalu beranjak pergi dari sana.
Arez beranjak pasti menuju dapur, ia ingin membuat sesuatu untuk mereka makan. Karena sejak pagi ia memang belum sempat sarapan.
Kurang lebih satu jam lelaki itu berkutat di dapur, sampai tak menyadari sang istri sudah terbangun dan menghampirinya.
"Kau masak apa, Al?"
Arez menoleh ke samping sekilas. "Aku tidak tahu, yang penting kita bisa memakannya." Jawabnya asal. Karena memang tidak tahu sedang memasak apa. Ia membuat resep sendiri.
"Tapi aromannya sangat enak, cacing diperutku sudah berdemo. Apa masih lama?" Sabrina terus memperhatikan wajah serius suaminya. Arez terlihat semakin tampan dengan keringat yang menghiasi beberapa titik di wajahnya.
"Duduklah, sebentar lagi selesai."
"Apa kau terbiasa memasak sendiri? Bahkan aku saja tidak bisa memasak." Kata Sabrina masih setia memantau kegiatan suaminya.
"Aku tak memintamu untuk bisa memasak. Kau masih bisa makan itu sudah cukup." Sahut Arez dengan nada dingin.
"Ck, aku juga ingin mencobanya. Boleh aku yang mengaduknya, Al?" Pinta Sabrina merasa penasaran. Karena seumur hidupnya ia tak pernah terjun langsung ke dapur. Biasanya ia menyuruh orang untuk memasak.
Arez menggeser tubuhnya, membiarkan sang istri mengambil alih posisinya. Sabrina pun terlihat senang. "Apa seperti ini?"
Arez tersenyum tipis saat melihat istrinya bergerak kaku. Ia menempelkan diri di punggung sang istri, lalu menyentuh tangan Sabrina untuk memberi tahu cara mengaduk yang benar.
"Ah, ternyata tidak sulit. Sepertinya aku harus belajar memasak. Supaya aku bisa menyiapkan sarapan untukmu setiap pagi." Oceh wanita itu dengan senyuman lebar.
"Apa makanan kesukaanmu, Al?"
"Rendang."
"Hah? Apa itu? Aku tidak pernah mendengarnya. Apa itu sejenis makanan asing?"
"Hm."
"Ck, dimana aku bisa mendapatkan apa tadi itu?" Tanya Sabrina bingung dengan makanan yang Arez sebutkan.
"Rendang."
"Ya, itu maksudku. Di mana aku bisa membelinya?"
"Indonesia." Jawab Arez singkat padat dan jelas.
"Wah, jauh sekali, Al. Sepertinya kau begitu tergila-gila dengan makanan mereka. Apa kau pernah ke sana?"
"Mommy berasal dari sana dan Daddy masih memiliki darah Indonesia juga." Jawab Arez yang berhasil membuat Sabrina kaget. Karena ia memang tidak tahu terlalu jauh soal kehidupan suaminya. Yang ia tahu lelaki itu putra sulung seorang konglomerat di Jerman. Ya, hanya sebatas itu.
"Dan aku juga lahir di sana." Imbuhnya.
"Hah? Tapi wajahmu sama sekali tak menunjukkan wajah campuran, Al. Aku akui kau memang mirip dengan Daddymu."
"Matikan kompornya." Titah Arez yang berhasil membuat Sabrina kalang kabut. "Bagaimana caranya, Al?"
"Seperti ini." Al menarik dagu istrinya dan mencecap bibir tipis itu dengan lembut. Lalu tangan sebelahnya bergerak cepat untuk mematikan kompor.
Sabrina terbelalak dengan apa yang Arez lakukan. Ia memukul lengan sang suami yang masih menahan dagunya. Arez langsung menghentikan aksinya itu.
Sabrina terbatuk karena oksigen diparu-parunya mulai menipis. Napasnya terputus-putus karena menahan rasa sesak di dada. Tanpa aba-aba, Arez mengangkat tubuh ramping itu dan mendudukkan Sabrina di atas meja makan. Membuat sang empu kaget setengah mati.
"Al! Apa yang kau lakukan?" Pekik Sabrina memukul bahu Arez. Namun lelaki itu malah menatapnya dengan tatapan yang menggelap.
__ADS_1
"Pagi ini aku belum mendapat hakku, Sabrina." Bisik Arez dengan suara seraknya. Seolah Sabrina sudah menjadi candu untuknya. Aroma tubuh wanita itu selalu membangunkan sesuatu dalam dirinya.
"Al, aku masih lelah dan juga lapar. Apa harus melakukan itu setiap pagi? Aku malu, Al." Rengek Sabrina menunduk malu. Ia benar-benar malu jika terus menjajakan tubuhnya di depan lelaki itu hampir setiap hari. Meski saat ini Arez sudah menjadi suaminya. Tetap saja ia masih punya rasa malu. Apa lagi pernikahan mereka masih seumur jagung.
"Aku suamimu, untuk apa kau malu huh? Kau harus terbiasa melakukan itu denganku. Karena aku hanya akan memintanya padamu." Bisik Arez menghembuskan napas berat.
Sabrina langsung mendongak saat mendengar itu. "Al, jika aku tidak bisa memberikannya padamu, apa kau akan meminta pada wanita lain?" Tanya Sabrina gugup. Ada perasaan takut dalam hatinya, takut jika suaminya itu akan berpaling darinya.
"Sudah aku katakan, aku hanya akan memintanya padamu." Arez mengecupi leher Sabrina yang mengeluarkan aroma candu untuknya.
"Bagaimana jika kau mulai bosan padaku?" Tanyanya lagi. Ia juga memberanikan diri untuk menyelipkan jemarinya di rambut Arez. Sedangkan lelaki itu masih asik di tempat favoritnya. Juga tak berniat menjawab pertanyaan Sabrina.
"Al."
"Berhenti bertanya, Sabrina. Aku tak akan menjawab pertanyaan konyolmu."
Seketika Sabrian terdiam mendengar itu. Membiarkan Arez memperlakukannya sesuka hati. Lagi pula ia tak akan bisa menolaknya, Arez selalu bersikap otoriter dan sulit di kalahkan. Percuma saja ia mengeluarkan tenaga dan memberontak, karena lelaki itu akan memenangkan permainan.
"Ekhem...."
Baik Arez maupun Sabrina terperanjat kaget saat mendengar dehaman seseorang. Arez langsung menaikkan kemeja istrinya yang sudah setengah terbuka. Sedangkan Sabrina tidak berani berbalik atau sekadar menoleh. Ia sangat malu pada siapa pun yang saat ini ada dibelakangnya.
Apa itu Alexella? Pikirnya.
"Lexa, apa yang kau lalukan di sini?" Tanya Arez memberikan tatapan tajam pada wanita yang kini berdiri di pintu dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Dan tentu saja bersama Winter dibelakangnya.
Alexa?
Alexa sama sekali tak merasa bersalah karena sudah mengganggu kesenangan Kakak kembarnya. Netra biru itu terus tertuju pada punggung Sabrina. Membuat rasa penasarannya semakin menggebu-gebu.
"Morning, Kakak ipar." Sapanya berjalan mendekat.
Dengan tangan gemetar Sabrina memasang kancing kemejanya kembali. Ia juga masih segan untuk berbalik. Lebih tepatnya ia malu karena terciduk sedang bermesraan dengan Arez.
"Ada apa?" Tanya Arez masih dengan tatapan yang sama.
Arez membantu Sabrina turun dari posisinya. Kemudian Sabrina perlahan berbalik. Seketika Alexa terbelalak saat melihat kecantikan paras yang dimiliki Kakak iparnya itu. Begitu pun dengan Winter.
Ya Tuhan, apa aku tidak salah lihat? Apa dia seorang bidadari? Batin Alexa.
Cih, sudah kutebak. Seleramu itu terlalu tinggi, Arez. Ternyata dia menikahi seorang malaikat cantik. Semoga kau bahagia, Arez. Batin Winter yang merasa senang karena teman kakunya itu sudah menemukan cinta sejatinya.
"Ha__hai, Lexa." Sapa Sabrina gugup. Dan tanpa sadar ia menautkan jemarinya pada jemari Arez. Menggenggam lelaki itu dengan erat.
"Omg, kau sangat jauh dari apa yang aku bayangkan Kakak ipar. Kau sangat cantik dan... kenapa kau menikahi lelaki kaku itu huh?" Alexa bangun dari posisinya dan berlari kecil untuk mendekati Sabrina. Sontak Sabrina sedikit mundur. Ia masih trauma dengan sikap Alexella padanya. Ia pikir Alexa sama seperti gadis itu.
"Lexa. Kau membuatnya takut." Arez mencoba memperingati adiknya.
"Hey, kenapa kau takut padaku? Aku adik suamimu, adikmu juga. Kau begitu manis di surat itu, kau berhasil membuatku jatuh cinta sebelum aku melihat wajahmu. Ah, aku ingin memelukmu... Sabrina." Alexa sempat lupa nama Kakak iparnya itu.
"Surat?" Tanya Arez bingung. Lalaki itu langsung menatap istrinya.
"Ya, dia mengirimkan sebuah lukisan di malam pengantin kami. Juga sepucuk surat dengan isi yang begitu manis. Karena itu aku datang ke sini, aku yakin kau menyembunyikan Kakak ipar di sini. Kemarin aku menghubungimu, Kak. Tapi kau sangat sulit dihubungi. Menyebalkan."
"Dan kau mengganggu kesenangan kami, Lexa." Sinis Arez yang tak mengharapkan kehadiran wanita cerewet itu.
Alexa memutar bola matanya jengah. "Kalian bisa melanjutkannya nanti. Sekarang biarkan aku berkenalan dengan Kakak ipar. Apa kau tak ingin memelukku, Sab?"
Sikap Alexa berhasil menepis rasa takut dalam diri Sabrina. Ternyata Alexa sangat jauh berbeda dengan Alexella. Wanita itu sangat manis dan begitu baik hati. Berbeda dengan Alexella yang arrogant.
Sabrina melepaskan tautan tanganya dari sang suami. Lalu memberikan pelukan hangat pada adik iparnya itu. Alexa tersenyum senang. "Aku senang bisa bertemu langsung denganmu. Salam kenalmu aku terima."
Sabrina tersenyum bahagia. "Thank you."
Kedua wanita itu saling menarik diri dari dekapan masing-masing. Lalu menukar pandangan. Alexa menarik kedua tangan Sabrina dnegan lembut.
"Kau benar-benar sangat cantik, Sab. Aku menyukaimu. Pantas Kakakku terus menyembunyikanmu. Dia takut kau direbut orang lain." Ujar Alexa mengusap kedua tangan Sabrina.
__ADS_1
Sabrina menatap Arez dengan senyuman lebar. Sedangkan lelaki itu masih memasang wajah kesal.
"Kau lihat itu, dia selalu memasang wajah esnya. Apa kau tidak bosan terus berada di dekatnya?"
"Lexa, jangan pengaruhi istriku."
"Wah... baru kemarin kau mengatakan tak butuh seorang wanita dalam hidupmu. Kau sudah punya aku, Xella dan Mommy. Lalu bagaimana dengan Sabrina huh?" Goda Alexa mengulum senyuman jahil.
Sabrina yang mendengar itu mengerutkan kening, menatap Arez dengan tatapan bingung.
"Tidak perlu dengarkan dia." Arez merengkuh pinggang ramping Sabrina. Mengikis jarak di antara mereka.
"Sekarang kau percaya padaku? Jatuh cinta itu indah bukan?" Timpal Alexa lagi.
"Al, kau jatuh cinta padaku?" Tanya Sabrina dengan polosnya. Tentu saja Alexa kaget mendengar itu.
"What? Jadi kau belum mengatakan cinta pada istrimu, Kak? Ya ampun, aku meragukan jika kau itu laki-laki. Tidak mengatakan cinta tapi kau mencumbunya dengan rakus." Ledek Alexa yang beranjak duduk di pangkuan suaminya. "Sayang, aku beruntung memiliki suami sepertimu. Setiap saat kau mengatakan cinta padaku."
"Tentu, Sayang. Karena aku sangat mencintaimu." Balas Winter mengecup bibir Alexa.
Arez berdecih sebal. "Apa tujuan kalian datang ke sini?"
Alexa dan Winter langsung menoleh bersamaan. "Aku lapar, merindukan masakanmu, Kak." Sahut Alexa dengan senyuman penuh arti.
"Ah, maafkan aku. Aku lupa menawarkan makan pada kalian. Kebetulan suamiku masak. Tunggu sebentar." Sabrina hendak bergerak. Namun dengan cepat di tahan oleh Arez.
"Tidak perlu melayani mereka, dia bisa mengambil sendiri apa yang dia mau." Protes Arez menatap istrinya lekat. Sabrina menatap Alexa dan Winter yang tengah tersenyum geli.
"Aku cuma bercanda, Sab. Aku dan Winter sudah makan. Lagian aku akan mengambil sendiri jika aku membutuhkan sesuatu. Tadi kami iseng ingin mampir ke sini. Sudahlah, aku harus pergi jalan-jalan. Selamat bersenang-senang. Ayok Sayang, jangan mengganggu kesenangan mereka." Alexa bangkit dari posisinya. Yang disusul oleh Winter. Sebelum pergi Winter sempat memberikan senyuman penuh arti pada Arez. Setelah itu sepasang suami istri itu pun beranjak pergi dari sana.
Sepeninggalan mereka, Sabrina melingkarkan kedua tanganya di pinggang sang suami. Menatap Arez dengan senyuman penuh arti. "Jadi kau mencintaku, Al? Kau malu mengatakannya huh?" Goda Sabrina.
Arez berdecak kesal. "Sudah aku katakan jangan menanggapi perkataan Lexa."
Sabrina tertawa renyah. "Baiklah, aku sangat lapar. Bisa kita makan sekarang?" Rengeknya dengan bibir yang mengerucut. Arez yang melihat itu merasa sangat gemas. Tanpa sadar ia tersenyum dan mengelus pucuk kepala istrinya.
"Duduklah, kita makan bersama."
Sabrina tersenyum senang dan lansung duduk di kursi menunggu suaminya menyiapkan makanan. Ia merasa menjadi seorang putri spesial karena Arez selalu memperlakukannya dengan baik akhir-akhir ini. Meski kadang sikap kasar Arez muncul di saat-saat tertentu. Namun Sabrina sudah terbiasa dengan itu.
To be continue....
Aku kasih cast mereka ya buat kalian... maaf kalau gak sesuai ekspetasi. Karena imajinasi kita berbeda-beda.
...Alexander Digantara...
...Sweet Alexandra...
...Alfarez Zephano Digantara...
...Sabrina...
...Alexa Zephanie Digantara...
...Winter ...
__ADS_1