Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (95)


__ADS_3

Eveline menegak sisa minumannya dengan kasar. "Tambah lagi." Pintanya. Tentu saja sang bartender menurutinya. Entah sudah berapa gelas ia habiskan, yang jelas Eveline mulai dikuasi alkohol saat ini.


"Brengsek!" Umpatnya seraya menaruh gelas itu dengan kasar. Lalu air matanya menitik. "Semua orang mempermainkanku."


Tidak lama Lucas pun duduk di sebelahnya lalu menahan sang bartender yang ingin menuang minuman ke dalam gelas istrinya. "Sudah cukup."


Eveline menoleh, ditatapnya wajah Lucas lemat-lamat. "Cih, buat apa kau kemari?"


Lucas balas menatapnya. "Ini alasanku menyembunyikan semuanya, kau tidak pernah bisa mengendalikan emosimu. Harusnya tidak minum, kau masih dalam pemulihan."


Eveline tertawa hambar seraya menarik kerah kemeja suaminya. "Kau senang hem?"


Lucas mengerutkan kening. "Kau bicara apa?"


Lagi-lagi Eveline tertawa hambar. "Kau senang kan aku menggila seperti ini? Jadi kau punya alasan untuk lari dariku. Kau bisa mencari wanita yang lebih cantik dan lembut. Aku ini kasar. Kau tidak suka kan?"


Lucas mendengus sebal mendengar perkataan konyol istrinya itu. "Kau mabuk, Baby."


Eveline membenamkan wajahnya di dada Lucas. "Aku tidak mabuk, Sayang. Aku sedang melampiaskan amarahku. Kau mempermainkanku, Luc. Ah, semua orang membodihiku. Apa aku terlihat bodoh? Oh... atau anak kita tak penting untukmu? Yah, kau tidak akan peduli soal anak kita yang sudah mati."


"Cukup." Lucas mendorong pelan istrinya itu. Ditatapnya wajah Eveline yang sudah memerah karena mabuk. Namun detik berikutnya wanita itu menangis tersedu.


"Aku kehilangan anakku, tapi tidak ada satu orang pun yang merasa simpati padaku. Mereka justru menerima pembunuh itu dengan lapang dada, bahkan kau juga, Luc. Aku membencimu." Eveline memukuli suaminya dengan sisa tenaga yang ia punya.


Lucas yang sadar tempat itu tak baik untuk istrinya pun segera membayar dan menggendong Eveline untuk pergi dari sana. Sepanjang jalan Eveline terus merancau tak jelas. Lucas hanya bisa mendengarkannya tanpa memberikan komentar. Apa yang bisa dia lakukan disaat istrinya mabuk selain diam dan mendengarkan keluh kesahnya. Meski setelahnya ia yakin akan mendapat amukan dari wanitanya itu.


Di tempat lain, Lea terlihat duduk termenung di halaman belakang mansion. Tempat di mana pesta akan digelar, sayangnya tempat itu kini terbengkalai sia-sia.


"Ekhem." Deham seseorang yang berhasil mencuri atensinya. Lea menoleh dan menemukan Paul berdiri di sana dengan gagah.


"Boleh aku duduk?" Tanyanya yang langsung dijawab anggukkan oleh Lea. Lalu keduanya pun duduk berdampingan.


Paul menoleh ke samping di mana Lea masih diam dengan tatapan lurus ke depan. "Aku kaget saat datang dan acaranya batal."


Lea tersenyum kecut. "Aku yang melakukan itu."


Paul pun tersenyum. "Aku tahu."


Mendengar itu Lea pun langsung menoleh. "Kau...."


"Ya, aku tahu kau yang mengirim hardisk itu pada Eveline." Sanggah Paul.


Lea tertawa sumbang. "Kau menguntitku?"


"Mungkin." Sahut Paul dengan santainya seraya menatap pelaminan yang terabaikan di depan matanya. "Kau ingin pernikahan seperti apa?"

__ADS_1


Lea terdiam beberapa saat. "Aku melakukan itu demi kebaikan semuanya. Tidak seharusnya ada yang disembunyikan sesama saudara. Lebih cepat lebih baik. Aku tidak mau Eveline akan semakin murka jika dia tahu dari orang lain. Begini lebih baik meski harus ada perang dingin dalam keluarga ini. Aku sudah lelah melihat pertumpahan darah dalam keluarga ini. Perang dingin jauh lebih baik. Bagaimana menurutmu?"


Paul menatapnya lekat. "Kau melakukan yang terbaik. Aku baru sadar, dari semua saudaramu. Kaulah yang paling bijak dalam segala hal. Diam-diam kau memberikan hal baik untuk mereka. Mereka harusnya tahu kau terlibat dalam semua hal."


Lea tersenyum. "Aku hanya ingin keluarga ini tentram dan damai, tidak ada lagi drama memuakkan. Aku lelah, Paul. Aku ingin harapan Grandma terkabul. Membuat keluarga ini utuh tanpa gangguan."


Paul mengangguk paham. "Semuanya sudah berjalan sesuai keinginanmu. Apa yang ingin kau lakukan sekarang? Khususnya untuk dirimu sendiri?"


Lea menoleh, dan pandangan mereka pun bertemu. "Hidup bahagia. Aku akan pergi ke beberapa negara. Kau tertarik ikut denganku?"


Paul tertawa kecil. "Aku tidak ingin disebut perebut kekasih orang."


Lea tertawa hambar. "Aku sudah putus. Dia mengkhianatiku setelah apa yang aku berikan padanya. Cih, bahkan dengan bodohnya aku memberikan hal paling berhagaku padanya, aku pikir dia adalah cinta sejatiku. Ternyata dia sama berengseknya. Menyebalkan."


"Kau menyesal?"


Lea menggeleng. "Aku mencintainya. Lagipula untuk apa aku menyesal sekarang, semuanya sudah terlambat. Lalu bagaimana denganmu? Kau menyesal sudah menyerahkan cintamu pada orang lain hem?"


Paul tersenyum lagi. "Tidak sama sekali, justru aku bahagia saat melihatnya tersenyum lepas seperti sekarang ini."


Lea menatap Paul lamat-lamat. "Kau lelaki baik, Paul."


"Kau juga wanita baik. Kau ingin menikah denganku?" Lea tertawa geli mendengar candaan garing Paul. Paul pun ikut tertawa karena dia memang hanya bergurau.


Lea kembali menatap lurus ke depan lalu menarik napas panjang dan membuangnya perlahan. "Seperti yang aku katakan, aku akan pergi ke beberapa negara akhir bulan ini. Ah, sudah saatnya aku menikmati hidup dan mencari suasana baru."


Mendengar itu Lea pun kembali menoleh. "Kau sendiri bagaimana? Sudah menemukan orang baru? Katanya pria itu paling cepat move on. Apa itu berlaku padamu?" Tanyanya dengan senyuman mengejek.


Paul tertawa pelan. "Sebenarnya sudah, hanya saja aku tak yakin dia tertarik padaku."


Mata Lea melotot mendengarnya lalu mengubah posisi duduknya menjadi miring ke arah Paul. "Siapa dia? Apa lebih cantik dari Violet? Ya ampun, aku tidak menyangka pria benar-benar cepat sekali move on. Tapi itu lebih bagus, sudah saatnya kau mencari yang baru. Katakan padaku siapa dia?" Ditatapnya Paul penuh harap.


Paul menatap wajah Lea lekat, lalu menyentil kening gadis itu. Sontak saja Lea meringis kesakitan. "Kurangi rasa ingin tahumu itu."


Lea berdecak sebal sambil mengusap keningnya.


Paul tersenyum geli kemudian bangkit dari duduknya. "Kau tidak ingin berfoto?"


Lea tersenyum lalu ikut bangkit. "Tidak buruk. Ayo." Ajaknya langsung merengkuh lengan Paul dan membawanya naik ke pelaminan. Lalu keduanya pun berselfie ria. Lea terlihat senang karena kehadiran Paul cukup menghibur hatinya yang tadi sempat kacau.


****


"Gab." Panggil Rhea seraya duduk di sebelah suaminya yang tengah bermain gawai.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Gabriel mengecup pucuk kepala istrinya itu.

__ADS_1


Rhea memeluknya manja. "Kau yakin Eveline dan Emilia akan baik-baik saja? Aku khawatir mereka tidak akan akur setelah kejadian ini."


Gabriel merengkuh pundak istrinya. "Jangan khawatir, cepat atau lambat semuanya akan kembali normal. Hanya butuh waktu untuk saling menerima keadaan satu sama lain. Kau tahu Eveline itu paling kecil di keluarga ini, tapi dia yang paling keras kepala. Sejak kecil emosinya selalu meledak-ledak. Aku percaya Lucas bisa menananginya."


Rhea menghela napas. "Aku kasihan pada mereka berdua, dua-duanya korban. Jika aku berada di posisi mereka, mungkin aku tak akan sekuat itu."


Gabriel tersenyum kecil. "Aku tak akan membiarkanmu dalam posisi seperti itu."


Rhea mendongak. "Lagipula aku akan membunuhmu lebih dulu jika kau membuangku."


Gabriel tertawa lucu. "Aku tidak menyangak istriku ini sangat menakutkan. Bagaimana kau membunuhku hem? Dengan cintamu? Atau jepitanmu?"


Rhea mendengus sebal. "Otakmu selalu saja ngeres. Mesum."


Lagi-lagi Gabriel tertawa geli. "Jika aku tidak mesum, bagaimana junior bisa hadir hem?" Dielusnya perut Rhea dengan gerakan memutar.


Rhea tersenyum. "Aku penasaran, kira-kira anak kita laki-laku atau perempuan ya?"


"Dua-duanya tak ada bedanya, Sayang." Jawab Gabriel mengecup mesra pucuk kepala istrinya.


Rhea mengangguk. "Aku harap dia laki-laki dan wajahnnya mirip denganmu, Gab. Pasti sangat menyenangkan karena aku dikelilingi pria tampan." Ia sudah membayangkan itu semua. Sungguh membuat hatinya tergelitik.


"Tapi aku lebih senang dia lahir sebagai gadis cantik sepertimu. Gadis manja yang akan terus berteriak Daddy saat ada yang mengganggunya." Rhea tertawa geli membayangkan hal itu.


"Tidak buruk. Lalu dia akan mengadu padaku saat kau menggoda wanita lain. Itu artinya aku punya mata-mata yang handal. Benar kan?"


Gabriel mendengus sebal, sedangkan Rhea terkekeh lucu. "Baiklah, kau selalu menang dan aku kalah."


Rhea semakin mengeratkan pelukannya. "Aku mencintaimu, Gab. Sangat mencintaimu."


"Me too, Honey." Balas Gabriel kembali memberikan kecupan mesra di kepala istrinya itu.


"Sekarang aku tinggal memikirkan Zhea. Sepertinya dia masih ragu untuk menerima Bara." Ujar Rhea saat mengingat sodarinya.


"Beri dia waktu, Sayang. Perlahan mereka pasti akan bersatu jika Tuhan mengizinkan. Bara pasti akan menunggunya dengan sabar." Jelas Gabriel yang langsung dijawab anggukan oleh Rhea.


"Berhenti memikirkan orang lain. Sekarang pikirkan nasib suamimu ini. Dokter bilang aku tidak boleh menyentuhmu sampai kandunganmu benar-benar siap. Aku tidak bisa menahannya terlalu lama, Sayang." Keluh Gabriel memasang wajah sedihnya.


Rhea tertawa geli. "Kau harus belajar sabar, Gab. Lagi pula dokter bilang hanya beberapa bulan."


"Hanya kau bilang? Bahkan satu hari saja aku tak bisa menahannya." Kesal Gabriel. Lagi-lagi Rhea pun tertawa renyah. Ditoelnya hidung Gabriel gemas.


"Sabar dong, Daddy. Ini demi kebaikan Baby. Memangnya Daddy mau Baby kenapa-napa hem?"


Gabriel mengecup bibir istrinya itu gemas. "Tentu saja tidak, Sayang. Baiklah, aku akan belajar untuk lebih banyak bersabar. Tapi... bukankah masih ada cara lain?" Seulas senyuman penuh muslihar pun terbit di bibirnya. Sontak Rhea yang paham pun langsung mendelik.

__ADS_1


"Gab! Kau memang mesum." Kesalnya seraya memukul dada suaminya. Gabriel pun tertawa puas karena berhasil menggoda istrinya. Dipeluknya Rhea penuh cinta. Lalu keduanya pun kembali berpelukan mesra.


__ADS_2