
Emilia tak menyangka jika Marvel menyiapkan resepsi yang begitu megah di sebuah ballroom hotel. Bahkan tamu yang hadir sepertinya orang-orang besar dan terpandang. Kini keduanya mempelai itu berjalan di atas karpet merah yang membentang sampai pelaminan. Dan dua kurcaci kecil sebagai pengiring pengantin. Kedua anak itu terlihat menggemaskan dengan balutan tuxedo.
Si kecil Prince terus menggenggam tangan mungil Noah. Seolah tak ingin adiknya itu jatuh. Tentu saja keduanya menjadi pusat perhatian semua orang karena begitu menggemaskan. Apa lagi si kecil Noah yang begitu polos.
Kini siisi ruangan pun dipenuhi dengan suara tepukan tangan para tamu undangan. Termasuk keluarga besar Digantara tentunya. Termasuk Eveline dan Lucas turut memberikan tepuk tangan untuk kedua mempelai.
"Ah, aku tidak pernah membayangkan sebelumnya si kaku itu akan menikah. Bahkan anaknya sudah sebesar itu. Sebuah keajaiban yang langka." Ujar Lucas.
"Wanita itu yang beruntung karena dipilih Kakaku." Sinis Eveline.
Lucas menoleh sambil tersenyum. "Jangan terlalu membencinya, kau sedang hamil, Sayang." Bisiknya seraya mengelus lembut perut istrinya itu.
Ya, beberapa hari lalu Eveline juga dinyatakan hamil lagi. Dan itu sebuah kabar bahagia untuk semua orang.
Eveline menoleh. "Kau terlalu percaya mitos."
Lucas tersenyum. "Kadang tidak semua mitos itu salah, Sayang. Kau ingin anak kita mirip dengannya hem?"
"Tentu saja tidak. Dia harus mirip denganku." Ketus Eveline.
"Tidak ingin mirip denganku?"
"Tidak perlu, kau menyebalkan." Eveline menyikut pelan perut suaminya. Tentu saja Lucas tesenyum geli dan kembali fokus pada kedua mempelai. Begitu pun dengan Eveline, ia menatap sang Kakak lekat.
Aku harap kau bahagia selamanya, Kak. Meski kau kaku, tapi aku tahu hatimu sehangat mentari. Batinnya dan tanpa sadar ia terenyum.
Tidak jauh dari sana, Zhea terlihat gemas melihat penampilan putranya sendiri. "Kau lihat, Bar. Dia sangat tampan bukan?" Katanya pada sang kekasih.
Bara tersenyum seraya merengkuh pinggang Zhea posesif. "Setampan Ayahnya."
Zhea langsung menoleh saat mendengar itu. "Dia sama sekali tidak mirip denganmu." Sinisnya.
Bara tersenyum geli lalu berbisik di telinga Zhea. "Kau tidak ingin seperti mereka hem?"
Seketika wajah Zhea merona. "Hentikan itu, fokus pada putramu. Dia berhasil menjadi pengiring pengantin kali ini."
Bara tersenyum geli. "Jangan terlalu lama menggantungku, Baby. Aku tidak bisa menahannya lagi."
Zhea menoleh lagi. "Berhenti mengoceh, kau mengalihkan fokusku." Protesnya.
"Jadi aku mengalihkan fokusmu hem?" Goda Bara dengan senyuman mautnya.
"Stop it!" Kesal Zhea menyikut kekasihnya itu karena kesal. Alhasil Bara pun tersenyum geli lalu mengecup pipi kekasihnya itu. Tentu saja Zhea semakin merona apa lagi saat tak sengaja memergoki Rhea tengah memperhatikannya dari seberang sana. Bumil itu tersenyum penuh arti, membuat Zhea semakin malu.
__ADS_1
"Ya ampun! Noah sangat menggemaskan. Dustin, apa anak kita akan selucu itu?" Seru Violet memasang wajah gemas.
Dustin tersenyum mendengarnya. "Tentu saja, dia akan menggemaskan seperti dirimu."
Mendengar hal itu Violet pun menoleh lalu tersenyum lebar. "Apa aku juga menggemaskan?"
Dustin tersenyum. "Kau lebih menggemaskan dari mereka, Baby. Sampai aku ingin terus menggigitmu."
Violet terkekeh lucu. "Dasar." Setelah itu ia kembali menatap ke depan hingga bertemu tatapa dengan Emilia. Violet langsung tersenyum seraya melamberikan jempol dan mengatakan jika Emilia sangat cantik.
Saat yang lain tengah sibuk menyaksikan pengantin, lain halnya dengan sepasang kekasih yang saat ini tengah memojok di sebuah tempat yang lumayan temaram. Kedua anak manusia itu terlihat sedang berciuman panas. Seolah melepas kerinduan satu sama lain.
Gadis itu mendorong kekasihnya karena mulai kehabisan napas. Napasnya tersengal dengan dada yang naik turuh. "Sudah cukup, kita harus masuk. Semua orang akan mencarimu," disentuhnya dada bidang kekasihnya itu lembut.
"Aku tidak peduli dengan mereka, yang aku pedulikan itu bagaimana caranya menikahimu sekarang juga," kata si lelaki kembali menyambar bibir kekasihnya itu. Namun si gadis kembali mendorong dadanya.
"Cukup. Kau sendiri yang mengatakan akan menikahiku jika usiaku sudah cukup untuk menikah, El." Kesalnya seraya memukul dada bidang Melvin.
Melvin berdecak sebal, sepertinya sekarang ia menyesal karena mengatakan hal itu. Melihat ekspresi lucu kekasihnya, Claire tersenyum geli lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Melvin.
"Kita harus kembali, kembaranmu sedang menikah dan kau malah di sini bersamaku. Apa yang akan mereka katakan jika tahu hem? Mereka pasti akan meledekku."
Melvin tersenyum kecil. "Biarkan saja. Aku masih merindukanmu."
"Ck, seminggu itu lama bagiku, Claire." Kesalnya seraya mengecupi seluruh wajah kekasihnya tanpa ada yang terlewatkan.
"Aku tahu." Sahut Claire menatap wajah tampan kekasihnya begitu dalam. "Ayo menikah." Ajaknya kemudian.
Melvin tersenyum. "Lalu kau akan melihatku digantung oleh Ibumu. Kau sanang hem?"
Lagi-lagi Claire terkekeh lucu. "Kau harus meyakinkannya lebih dulu. Aku yakin kau pasti bisa. Ayolah, aku ingin memiliki anak secepatnya denganmu. Pasti anak kita sangat menggemaskan."
Melvin tersenyum. "Bagaiman bisa kau memikirkan hal itu hem? Bahkan tubuhmu masih sekecil ini. Apa muat bayi di perutmu yang imut ini?" Ledeknya seraya mengelus perut rata Claire.
"Tentu saja, perutku akan menyesuaikan ukurannya. Ayolah, aku ingin tahu rasanya hamil. Pasti sangat lucu saat perutku buncit." Claire sudah membayangkan itu.
Marvel menggeleng. "Tidak, usiamu masih sangat muda, Sayang. Belum saatnya kau mengandung anakku. Tunggu sampai dua atau tiga tahun, kau baru boleh hamil."
Claire memasang wajah sedih. "Itu terlalu lama, El."
"Tidak masalah. Aku tidak ingin mengambil resiko besar. Kehilanganmu akan membuatku hancur, Claire."
Claire tersenyum lucu, lalu mengecup bibir Melvin gemas. "Baiklah, aku akan menunggumu meski itu penantian yang lumayan panjang."
__ADS_1
Melvin tersenyum lalu keduanya pun kembali beradu bibir. Dan kali ini terjadi cukup panjang.
****
"Kau di mana, Lea?" Sembur Sky saat putrinya melakukan panggilan video.
Lea tersenyum geli. "Coba tebak aku di mana, Mom?"
Sky terbelalak saat Lea menunjukkan menara Eiffle padanya. "Kau di Paris?"
Lea kembali mengrahkan kamera pada dirinya. "Yes, Mom. Aku sedang berada di kota impian banyak orang."
"Dasar anak nakal. Apa kau lupa hari ini pernikahan Marvel?" Lea mengangguk kecil.
"Tahu tapi kau di negeri orang. Dengan siapa di sana?" Omel Sky.
Lea terkekeh lucu, kemudian mendekati Paul yang tengah mengambil gambar pemandangan kota Paris.
"Siapa itu?" Sky menyipitkan matanya karena tak bisa melihat dengan jelas. Namun beberapa saat kemudian matanya terbelalak. "Paul?"
"Hai, Aunty." Sapa Paul tersenyum ramah.
Sky masih tak percaya putrinya bersama Paul. "Bagaimana kalian bisa berdua hem? Katakan, apa kalian pacaran?"
Lea tertawa mendengar pertanyaan sang Mommy barusan. "Mom, kau berpikir terlalu jauh. Aku dan Paul kebetulan bertemu di yacht. Oh iya, bagaimana pestanya? Lancar kan?"
Sky mengangguk yang diiringi senyuman manisnya. "Semuanya berjalan lancar. Dan kau tahu apa?"
Lea menatap sang Mommy penasaran. "Ada apa?"
"Marvel mengumumkan jika mereka akan memiliki anak kedua."
"Apa? Emilia hamil lagi?" Kaget Lea tak percaya.
Sky pun mengangguk. "Sepertinya mansion ini sebentar lagi akan dipenuhi tangisan bayi, anak Kakakmu, Marvel, Violet dan juga Eveline."
"Wait! Eveline juga hamil?"
Sky mengangguk lagi. "Tinggal dirimu, Lea. Cepat bawa kekasihmu untuk menemui Mommy dan Daddy. Usiamu sudah tua."
"Mom." Lea memelas. Namun siapa sangka Paul memberikan rengkuhan lalu mengecup pipinya. "Aku akan segera menikahi putrimu sebelum usianya expired, Mom."
"Paul!" Kesal Lea memukul lelaki itu karena sembarangan menciumnya dan itu dihadapan sang Mommy. Sky cuma bisa tertawa melihat tingkah keduanya.
__ADS_1