Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 19


__ADS_3

Sabrina mengigit ujung jari telunjuknya karena gugup. Saat ini dirinya sudah berdiri di depan apartement Arez. Ingin membahas masalah tawaran Arez malam kemarin. Toh mereka sama-sama membutuhkan satu sama lain, bahkan kasus mereka juga sama. Lari dari perjodohan orang tuanya. Sabrina juga sudah memikirkan semuanya dengan matang.


Dengan gemetar Sabrina menekan bell beberapa kali. Hingga suara pintu terbuka pun membuatnya tersentak kebelakang. Kini Arez sudah berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Ia juga sudah rapi dengan setelan kantor.


"Apa tebakkanku benar, Nona? Kau setuju menikah denganku huh?"


Sabrina menunduk dengan jemari yang saling terpaut. Ia gugup dan bingung harus memulai dari mana.


Arez terus menatapnya penuh selidik. "Kau cuma punya waktu lima menit untuk bicara," kata Arez sembari melihat jam ditangannya. Sontak Sabrina pun langsung mendongak.


"Kita bicara di sini?" Tanya Sabrina sambil mengawasi kesekelilingnya.


Arez berdecih kesal, kemudian menggeser tubuhnya untuk memberi jalan pada gadis itu. Sabrina langsung mengerti dan masuk ke dalam tanpa ragu atau curiga Arez sedang menjebaknya.


"Dasar ceroboh." Arez pun menutup pintu dan menyusul gadis itu.


Sabrina berdecak kagum saat melihat isi apartement Arez yang jauh lebih mewah dari miliknya.


"Waktumu hanya tersisa tiga menit."


Sabrina yang mendengar itu langsung berbalik menghadap Arez. "Aku baru masuk dan sudah menghabiskan waktu dua menit? Sepertinya Anda sedang korupsi waktu, Tuan."


"Bicaralah."


Sabrina berdecak kesal. "Okay, aku menerima tawaranmu."


"Aku sudah menebaknya."


"Tapi aku punya syarat." Kata Sabrina dengan cepat. Arez sama sekali tak bertanya atau menanggapi. Dan itu membuat Sabrina semakin gugup bercampur bingung.


"Kita hanya menikah kontrak." Imbuhnya tak kalah cepat dari sebelumnya.


"Kau ingin tawar menawar denganku?" Tanya Arez datar.


"Tidak, kau sendiri yang bilang pernikahan itu hanya satu tahun. Lalu aku akan terbebas." Sabrina memberanikan diri menatap Arez.


"Jadi kau mematahkan prinsipmu, Nona Roberto?"


"Ya, aku terpaksa."


"Tapi sayang, tidak pernah ada pernikahan kontrak. Jika ingin menikah ya menikah saja." Ujar Arez dengan nada santai.


Sabrina yang mendengar itu langsung melayangkan tatapan permusuhan pada lelaki di hadapannya.


"Jika aku keberatan, aku bisa mencari gadis lain." Timpal Arez kembali melipat tangannya di dada. Sabrina mulai panik saat mendengar itu.

__ADS_1


Tidak, jika dia mencari wanita lain. Lalu bagaimana denganku? Aku tidak ingin menikah dengan lelaki tua itu. Dan aku tidak mungkin mencari lelaki lain. Bahkan aku tidak mempunyai teman laki-laki.


Arez tersenyum miring saat melihat gadis itu terlihat panik.


"Baiklah, aku setuju. Kapan kita akan manikah?"


"Kau sangat tidak sabaran, Sayang. Tenang saja, kau masih punya banyak waktu untuk membunuhku. Aku akan memberikan banyak kesempatan padamu." Jawab Arez melenceng dari pertanyaan yang gadis itu lontarkan.


Sabrina mengepalkan kedua tangannya. "Aku bukan pembunuh, berhenti menuduhku."


"Waktumu sudah habis, silakan keluar dari sini." Usir Arez dengan entengnya.


Brengsek! Jika bukan karena perjodohan itu, jangan harap aku mau datang ke sini. Memalukan.


Karena tak kunjung bergerak, Arez langsung menarik gadis itu keluar. Kemudian menutup pintu dengan kasar.


"Sialan! Kau tak perlu mengusirku. Aku membencimu, sungguh." Teriak Sabrina menendang pintu itu dengan kesal. Namun tiba-tiba pintu itu terbuka kembali dan berhasil menbuatnya terperanjat kaget.


Apa yang akan dia lakukan? Membunuhku kah?


"Aku akan menghubungimu saat hari itu tiba." Ujar Arez yang kemudian menutup pintu itu lagi. Mulut Sabrina ternganga saat melihat tingkah lelaki itu.


"Ya Tuhan, yang benar saja aku harus menikahi lelaki otoriter sepertinya? Kenapa Kau tak mengirimkan lelaki romantis saja padaku, Tuhan? Bukan lelaki kutub utara sepertinya. Kenapa hidupku sesadis ini?" Dengan rasa kesal Sabrina meninggalkan tempat itu. Pagi ini ia juga harus masuk kelas.


****


"Masih menyangkut perjodohan itu?" Imbuh Deena. Sabrina menatap Deena, kemudian mengangguk pelan.


"Kau masih ingat Alfarez? Lelaki yang aku cium tempo lalu? Yang kita jumpai di galeri?" Tanya Sabrina sembari mengambil nampan dan mengisinya dengan makanan yang ia inginkan. Kemudian ia pun duduk di salah satu meja kantin.


"Ya, ada apa dengannya? Dia mengganggumu lagi?" Deena pun duduk tepat di hadapan Sabrina.


"Tidak, tapi kami sudah membuat kesepakatan untuk menikah." Jawab Sabrina dengan nada lemah.


"What?" Pekik Deena terkejut dengan ungkapan sahabatnya. "Bagaimana bisa, Sab? Kau tahu mereka bukan orang yang mudah, kau harus siap mental karena berhubungan dengan orang berpengaruh di negara ini."


"I know, tapi gak ada pilihan lagi, De. Kita sama-sama kejebak dalam perjodohan yang tak diinginkan. Well, aku dan dia hanya saling memanfaatkan keadaan. Tidak perlu cemas, aku rasa semuanya akan baik-baik saja, Okay."


Deena berdecih kesal saat mendengar ujaran Sabrina yang sama sekali tak masuk akal. "Bagaimana jika kalian terjebak satu sama lain, misalkan kau jatuh cinta padanya, atau sebaliknya?"


Sabrina terdiam sejenak. "Itu urusan belakang, De. Aku rasa tidak akan ada cinta di antara kita, kamu tahu sendiri setiap kali kami bertemu. Dia selalu bersikap acuh dan menyebalkan. Aku paling benci lelaki dingin dan otoriter." Ujarnya dengan penuh kayakinan.


"Kau yakin, Sab? Bukankah kau sendiri yang mengatakan, cinta dan benci itu saling terikat satu sama lain. Kalian akan terus bersama dalam waktu yang kita tidak tahu sampai kapan. Bisa saja cinta itu hadir tanpa kalian sadari." Protes Deena masih tak setuju dengan pemikiran sahabatnya.


"Entahlah, kalau memang kami saling mencintai ya jalankan saja pernikahan itu semestinya. Kita hidup bersama, punya anak dan menua bersama. Mudah kan?" Ujar Sabrina dengan entengnya.

__ADS_1


"Ugh... terserah kau saja, Sab. Berhati-hatilah dengan keluarga mereka. Kau harus menghadapi ketiga saudaranya yang memiliki karakter yang berbeda-beda. Terutama Alexella, dia bukan orang yang mudah untuk diajak berteman."


"Hm. Aku sudah memikirkan itu." Sahut Sabrina menyedot minumannya. "Oh iya, besok lusa ada pameran lukisan dipusat kota. Apa kau mau ikut denganku lagi? Aku dengar semua seniman ternama akan ikut berpartisipasi dalam kontes yang diadakan. Hadianya juga lumayan fantastis. Aku tidak sabar untuk melihat karya mereka, terutama karya Mr. A." Imbuhnya dengan tatapan berbinar.


"Boleh, aku juga penasaran. Kau tidak ikut berpartisipasi? Mana tahu ada yang melirik karyamu." Sahut Deena menaruh harapan besar pada Sabrina.


"Tapi aku belum menyiapkan apa pun, lihat dulu kondisinya deh. Boleh dicoba juga sih, siapa tahu aku bisa masuk dalam nominasi pelukis terfavorit. Atau masuk dalam tiga besar." Sabrina pun tergelak setelah mengatakan itu.


"Kau ini. Tapi kau sudah memikirkan temanya kan?" Tanya Deena menatap Sabrina serius.


"Sudah, kalau masalah tema kepalaku selalu dipenuhi dengan itu. Banyak yang harus aku tuangkan, jika tidak kepalaku akan pecah, De." Jawab Sabrina begitu semangat.


"Baguslah, aku akan selalu mendukung kesuksesanmu, Sab."


"Hm, kau memang sahabat terbaikku, De. Love you."


"Love you to, bawel." Sabrina terkekeh geli mendengar ledekan temannya. Kemudian keduanya pun segera melahap makanan yang sudah hampir dingin.


Di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di sebuah perusahaan otomotif besar. Arez berjalan pasti menuju ruangan khusus. Siang ini ia mengadakan rapat penting untuk membahas rencana peluncuran mobil terbaru.


"Apa semua ambassador sudah dihubungi?" Tanyanya pada Ansel.


"Sudah, Tuan."


"Suruh mereka datang ke sini, dalam waktu lima menit kita akan langsung memulai meeting. Karena aku ada urusan lain," titah Arez yang kemudian duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan Ansel segera menghubungi stafnya.


Beberapa menit kemudian meeting pun di mulai, seluruh kepala staf dan jajaran lainnya sudah berkumpul di sana. Termasuk beberapa model yang terpilih. Arez sempat kaget saat Clara termasuk dalam deretan para model. Bahkan gadis itu menjadi model utama dalam peluncuran produk kali ini. Bukan hanya Arez, Ansel sang Kakak pun sempat kaget karena adiknya ikut serta kali ini. Tentu saja Ansel juga tahu tentang perjodohan itu.


Apa ini rencana Mommy? Cih, jadi kalian masih ingin melanjutkan perjodohan ini? Kita lihat sampai mana kalian bisa mempermainkan aku. Pikir Arez


Ya tuhan, kenapa dia terus melirikku? Apa dia marah karena aku yang mengambil posisi ini? Xella, kau harus bertanggung jawab jika Kakakmu memarahiku. Pikir Clara saat melihat Arez terus memperhatikannya dengan tatapan dingin. Membuat tubuhnya seketika membeku.


Meeting itu berlangsung selama satu jam lebih, Arez sudah menjelaskan secara rinci tentang acara launching kali ini. Kini satu per satu dari mereka mulai meninggalkan ruangan.


"Clara, aku ingin bicara denganmu."


Clara yang hendak bangun dari posisinya pun mengurungkan niatnya dan kembali dalam posisi semula. Ansel yang memahami itu segera mengunci pintu dan berdiri tepat di sisi Arez.


"Mommy yang memintamu ke sini?" Tanya Arez to the point. Clara tersentak dan langsung menggeleng.


"Aku sendiri yang ingin menjadi ambassador perusahaan ini. Bagaimana pun ini kesempatan untukku menjadi terkenal. Maaf jika kehadiranku membuatmu salah paham." Ujar Clara berusaha untuk tetap santai. Ia juga sempat melirik sang Kakak yang sama sakali tak memberikan ekspresi. Ansel memang sangat profesional dalam hal pekerjaan, ia tak akan menyangkutkan masalah pribadi dan pekerjaan.


"Aku harap kau tidak merencanakan apa pun, kau tahu siapa aku kan? Jika aku bilang tidak, maka seterusnya keputusan itu tetap tidak." Pungkas Arez bangun dari posisinya dan langsung meninggalkan ruangan itu.


Ansel menatap sang adik sekilas, kemudian menyusul atasannya. Clara menghela napas panjang, jantungnya berdegup kencang karena rasa takut.

__ADS_1


"Huh, bersabarlah Cla. Apa pun yang terjadi, ini sudah menjadi pilihanmu." Ujarnya. Kemudian ikut meninggalkan tempat itu dengan perasaan yang campur aduk.


__ADS_2