Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 13


__ADS_3

"Kenapa kau menatap kami seperti itu, Xella?" Tanya Alexa saat mendapat tatapan tak bersahabat dari sang adik. Saat ini keempat keturunan Digantara itu sedang berkumpul di salah satu ruangan favorit mereka. Ruangan yang mereka bangun khusus untuk bersantai di salah satu lantai perusahaan.


"Aku rasa kalian sama sekali tak menganggapku lagi di sini. Kalian melakukan semuanya tanpa sepengetahuanku, itu mengesankan." Ketus Alexella menyunggingkan senyuman miring.


Arez sama sekali tak menanggapi kekesalan adik bungsunya itu. Ia terlihat sibuk dengan benda pipih dipangkuannya.


"Ayolah, Xella. Apa kau akan setuju jika kami menyelidiki Sky? Sedangkan kau selalu memusuhinya sejak dulu." Ujar Alexa memutar bola matanya jengah. Kemudian menyambar toples cemilan kesukaannya.


Alexella terdiam sejenak. "Setidaknya kalian membahas itu denganku."


"Hentikan perdebatan kalian, kepalaku sedang sakit dan kalian malah berisik." Kesal Arel yang tengah berbaring di atas sofa panjang. Lelaki itu sedang badmood karena dirinya tak bisa bertemu sang kakasih.


"Cih, katakan saja kau gila karena tak bisa menyentuh kekasihmu itu. Kalau memang lelaki brengsek, akan selamanya brengsek." Sinis Alexa.


"Hentikan ocehanmu, Lexa." Arel melempar bantal ke arah Alexa dan mendarat di kepala gadis itu.


"Sialan kau, Arel." Alexa melempar bantal itu lagi tepat ke arah wajah Arel. "Rasakan itu."


"Jangan berisik, aku tidak bisa fokus." Kali ini Arez ikut menimpali. Spontan ketiganya pun terdiam. Sampai suara pintu terbuka pun menarik perhatian keempatnya. Di sana terlihat Jarvis menyembulkan kepalanya, dan sedetik kemudian lelaki itu masuk.


"Hai everybody, apa aku mengganggu kesenangan kalian?" Tanyanya seraya duduk di samping Alexella. "Morning, Baby."


Alexella sama sekali tak menanggapi lelaki di sampingnya.


"Ada apa kau kemari, Jarvis?" Tanya Arez tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku ingin mengajak kekasihku kencan, ini kan weekend." Sahut Jarvis masih setia menatap wajah cantik Alexella. Namun gadis itu masih asik dengan ponselnya.


"Jangan coba-coba memengaruhi hal buruk pada adikku, Jarvis. Aku tak akan segan memotong burungmu, supaya kau jadi lelaki feminim." Ketus Alexa.


"Owh, kau sangat mengerikan Kakak ipar. Kapan kau akan menikah? Hampir dua tahun kalian berpacaran kan? Aku rasa Winter sedang bersenang-senang dinegaranya saat ini. Menggempur gadis cantik di sana. Mana mungkin dia tahan menunggumu terlalu lama."


Alexa memutar bola matanya jengah. "Winter tidak sama sepertimu, Jarvis. Jika dia melakukan itu di belakangku, aku akan langsung membunuh wanita itu."


"Wow, kau benar-benar psikopat."


"Kau baru tahu? Bahkan aku bisa membunuhmu saat ini juga, ingin mencoba?" Tantang Alexa.


"Tidak, terima kasih Nona Digantara."


"Takut juga rupanya." Alexa tersenyum miring. Kemudian ponselnya bergetar dan wajah tampan Winter muncul di layar ponselnya. "Sudah aku katakan, dia tak sama sepertimu. Owh... dia panjang umur."


"Hy Baby," sapa Winter saat Alexa menerima panggilannya. Penampilan lelaki itu terlihat kusut dengan dasi yang sudah longgar dan rambut yang acak-acakan. Namun ketampanannya sama sekali tak memudar. Justru Alexa menyukai gaya Winter yang seperti itu.


"Baru pulang dari kantor huh? Bukankah di sana sudah jam sepuluh malam? Kau lembur, Sayang?"


"Ya, karena itu aku baru bisa menghubungimu. Miss you, Baby."


"Miss you to. Kau tahu apa, Baby? Jarvis mengataimu, dia bilang saat ini kau sedang bermain dengan wanita." Adunya. Jarvis yang mendengar itu mendengus kesal.


"Sebelum aku melakukan itu, aku rasa nyawaku lebih dulu melayang. Aku tahu kau menyewa mata-mata disisiku, Baby. Tapi aku tak keberatan, agar kau percaya kalau aku hanya mencitaimu seorang."


"So sweet, aku juga sangat mencintamu, Baby. Cepat kembali ke sini, sekalian bawa orang tuamu. Secepatnya, aku tidak mau tahu. Tahun baru akan segera tiba. Aku ingin melewati malam tahun baru denganmu dan statusku sudah menjadi istrimu, Winter." Alexa sedikit merengek.


Winter tersenyum begitu manis. "Secepatnya aku akan kembali, Baby. Mommy and Daddy juga terus menanyakan dirimu. Mereka ingin cepat-cepat memboyongmu ke sini. Kau tahu sendiri mereka begitu menyayangimu, melebihi rasa sayangnya padaku."


Alexa tertawa renyah. "Itu artinya aku bisa menggantikan posisimu, Tuan Winston."

__ADS_1


"Tentu saja, Baby."


"Baby, aku ingin bicara empat mata denganmu." Bisik Jarvis pada Alexella. Gadis itu pun menoleh.


Alexella melirik ketiga Kakaknya yang tengah sibuk dengan urusan masing-masing. "Bicara apa? Kita sudah membahas masalah kontrak itu." Alexella mengecilkan suaranya.


"Bukan masalah itu, ini masalah lain."


"Masalah apa, Jarvis?"


"Ikutlah denganku." Ajak Jarvis menatap Alexella serius. Gadis itu tampak berpikir, lalu mengangguk setelahnya. Kemudian keduanya pun bergegas pergi dari ruangan itu tanpa di sadari Kakak-kakaknya.


"Ada apa?" Tanya Alexella saat mereka sudah di dalam mobil Jarvis.


"Kita akan bicara, tapi tidak di sini." Jawab Jarvis langsung melajukan mobilnya menuju sebuah tempat. Alexella sama sekali tak mengeluarkan penolakan.


Di sinilah mereka berada saat ini. Toko perhiasan mewah dengan nama brand yang sudah memanca negara.


"Buat apa kita ke sini?" Tanya Alexella mengerutkan keningnya. Jarvis tersenyum dan mengamit tangan kekasihnya. "Aku belum sempat memberikan hadiah ulang tahun untukmu, jadi ini waktu yang tepat."


"Jarvis." Alexella menghentikan langkahnya. Spontan Jarvis pun ikut berhenti, lelaki itu menatap Alexella bingung.


"Kau tak perlu memberiku hadiah, aku...."


"Baby, kau lupa kesepakatan kita? Kita akan membuat diri kita saling jatuh cinta. Aku akan memulai itu dari sekarang." Potong Jarvis.


"Tapi itu hanya berlaku setelah kita menikah, Jarvis."


"Aku tidak peduli, ikut denganku atau kontrak itu sama sekali tidak ada." Jarvis mengeluarkan sikap otoriternya.


Alexella melotot saat mendengar itu. "Kau ingin mempermainkanku, Jarvis?"


"Ayok," ajak Jarvis saat tak ada lagi penolakan dari gadis itu.


"Pesananku kemarin." Pinta Jarvis pada salah seorang karyawan di sana.


"Tunggu sebentar, Tuan." Wanita muda itu sedikit berjongkok untuk mengambil barang pesanan Jarvis. Sedangkan Alexella memilih diam tanpa ekspresi.


"Ini Tuan." Wanita itu memberikan sebuah kotak dengan pita merah jambu di atasnya. Jarvis langsung menerimanya dan membuka kotak itu. Di sana terdapat sebuah kalung berinisial JA. Jarvis tersenyum dan mengambil benda itu.


"Berbalik, Baby." Titahnya pada Alexella. Namun gadis itu malah memberikan tatapan bingung. "Berbaliklah, aku akan memasangkan kalung ini padamu."


Alexella menghela napas dalam, lalu menuruti perintah Jarvis. Membelakangi lelaki itu. Jarvis tak membuang kesempatan, ia menyibak rambut panjang Alexella dan memasangkan kalung itu di leher jenjang kakasihnya. Napas Jarvis tercekat saat melihat punggung mulus Alexella yang menggoda imannya. Dengan cepat ia menyelesaikan tugasnya. "Sudah."


Alexella bebalik, menatap Jarvis datar. "Kau suka itu?" Tanya Jarvis karena Alexella sama sekali tak memberikan tanggapan.


"Biasa saja. Apa itu JA?" Tanya Alexella bingung.


"Itu nama kita." Sahut Jarvis tersenyum senang. Ternyata kalung itu benar-benar cocok di leher gadisnya.


"Cih, kau terlalu kekanakan, Jarvis." Cerca Alexella. Namun Jarvis sama sekali tak tersinggung. Karena ia tahu gadis di depannya ini berbeda dari gadis lain yang selama ini ia temui. Mungkin gadis lain akan berteriak histeris saat mendapat kado spesial darinya. Bahkan mereka rela menyerahkan diri pada Jarvis dengan cuma-cuma. Namun tidak untuk Alexella, gadis itu terlalu jual mahal. Tapi Jarvis menyukainya. Sebuah tantangan besar baginya untuk menaklukkan hati gadis dihadapannya.


"Kau sangat cantik."


"Aku tidak tergoda dengan pujianmu." Sahut Alexella beranjak pergi dari sana. Jarvis tersenyum tipis, lalu mengeluarkan black card miliknya. Memberikan benda itu pada sang pegawai.


Jarvis menyusul Alexella yang ternyata sudah berdiri di depan mobilnya. Namun gadis itu tidak sendirian, ia tengah berbincang dengan seorang pemuda yang sepertinya seumuran dengan Alexella. Wajah Jarvis berubah datar, kemudian menghampiri keduanya.

__ADS_1


"Maaf aku terlalu lama, Baby." Ucap Jarvis merangkul pinggang ramping Alexella. Membuat gadis itu terperanjat kaget. Jarvis memberikan tatapan tak suka pada pemuda dihadapannya saat ini.


"Siapa dia, Baby?" Tanya Jarvis masih setia menatap pemuda itu. Sedangkan yang ditatap cuma tersenyum tipis.


"Jonathan, teman kampusku." Jawab Alexella jujur.


"Owh, aku Jarvis. Calon suami Alexella." Jarvis mengulurkan tangannya pada pemuda itu.


"Jonathan," balas pemuda itu menerima uluran tangan Jarvis. "Aku tidak pernah tahu Xella punya calon suami." Jonathan menatap Alexella bingung.


"Dia tak ingin orang lain tahu, karena dia pecemburu berat." Jawab Jarvis yang berhasil membuat Alexella terbelalak.


Jonathan tergelak mendengar itu. "Pantas saja dia tak banyak bicara di kelas, aku baru tahu dia memiliki sifat posesif. Aku salut padamu, Xella. Ya sudah, aku harus pergi. Selamat bersenang-senang." Pemuda itu pun langsung pergi dari sana.


Alexella menepis tangan Jarvis dari pinggangnya. Lalu memeberikan tatapan membunuh pada lelaki disampingnya. "Berhenti membuat rumor tentangku."


Jarvis sama sekali tak merasa takut, justru ia tersenyum penuh kemenangan. "Tapi aku sama sekali tak membuat rumor, kau itu cemburuan. Buktinya kau marah saat ada wanita lain menciumku."


"Cih, aku sama sekali tak peduli." Ketus Alexella yang langsung masuk ke dalam mobil Jarvis.


"Akan aku pastikan kedepannya kau selalu peduli padaku, My little princess." Jarvis ikut masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan sedang. Ia tak ingin terlalu cepat membawa Alexella pulang.


"Bagaimana jika kau ikut denganku ke area balapan? Satu jam lagi aku ada jadwal balapan, kau bisa duduk disampingku. Aku yakin kau pembawa keberuntungan untukku."


"Aku tidak tertarik."


"Kita lihat, kau akan tertarik atau tidak."


Jarvis melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju area balapan.


****


Mansion Utama


Sky terus memperhatikan Sweet yang kini tengah mengajak putranya bermain. Sesekali ia tersenyum saat Gabriel terus berceloteh tak jelas seolah mengajak Sweet bicara. Lalu Sky kembali memperhatikan penampilan Sweet, wanita paruh baya itu masih terlihat cantik dengan balutan hijabnya.


"Mom." Panggil Sky menarik perhatian Sweet.


"Ya, Sayang?" Tanya Sweet mendekati calon menantunya.


"Em... apa Mommy tidak gerah pakai itu?" Tanya Sky menunjuk hijab yang Sweet pakai dengan ragu.


Sweet tersenyum mendapat pertanyaan itu. "Kenapa? Kamu tertarik memakainya?"


Sky langsung menggeleng kuat.


"Ck, kalau kamu mau mencobanya. Kita ke kamar sekarang, Mommy tahu kamu penasaran kan?"


Sky tampak berpikir keras.


"Tidak ada salahnya mencoba, memakai hijab tak akan membuat keyakinanmu berpindah. Karena keyakinan itu datangnya dari hati." Sweet menunjuk hati Sky dengan lembut. "Tapi Mommy juga senang kalau kamu ingin bergabung dengan kami. Mommy tidak pernah memaksa, semua anak Mommy bebas memilih pasangan. Meski mereka berbeda kayakinan sekali pun. Mommy sadar lingkungan kita seperti apa, dimana muslim itu menjadi minoritas."


Sky masih terdiam untuk beberapa saat. "Sebenarnya sejak lama aku tertarik dengan agama islam."


Sweet terkejut mendengarnya. "Benarkah?"


"Ya, Mom. Tidak tahu kenapa hati ini selalu condong ke sana. Rasa ingin tahu itu semakin dalam saat mengenal Arel."

__ADS_1


Sweet tersenyum mendengarnya. "Mommy akan membantumu mengenal-Nya lebih dekat. Tapi ingat, Mommy tidak berniat menghasut kamu atau memaksa kamu ikut keyakinan ini. Seperti Mommy bilang tadi, kayakinan itu datangnya dari hati."


Sky tersenyum dan mengangguk pelan. Sweet membalas senyuman itu, menggenggam tangan Sky dengan penuh kehangatan.


__ADS_2