Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 79


__ADS_3

Winter terus tersenyum saat privat jet miliknya berhasil mendarat dengan mulus. Dengan langkah cepat ia memasuki mobil hitam mewah miliknya. Sudah tidak sabar untuk segera sampai di mansion karena sangat merindukan sang istri dan ketiga jagoannya.


"Aku perhatikan kau begitu semangat, aku tak pernah melihatmu seperti ini sebelumnya." Ujar seorang wanita yang kini duduk di samping Winter.


"Aku merindukan istri dan anak-anakku. Bagaimana aku tidak senang? Lima hari aku aku tidak bertemu mereka secara langsung." Sahut Winter masih dengan senyumannya yang khas.


"Aku senang kau benar-benar mendapatkan wanita seperti istrimu itu. Aku rasa dia sangat istimewa. Aku menyesal karena tidak bisa hadir saat pernikahanmu." Wanita itu ikut tersenyum.


"Tidak jadi masalah Ele, aku mengerti kesibukanmu." Kata Winter pada sepupunya yang bernama Elena.


"Kau memang sepupu yang pengertian, aku rindu Aunty."


"Berapa tahun kau tidak berkunjung huh?"


"Entahlah, mungkin empat tahun. Aku sendiri lupa."


"Mommy selalu menantikan kehadiranmu." Ungkap Winter.


"Aku rasa sekarang tidak lagi. Aunty sudah punya menantu cantik, dia melupakanku. Buktinya dia sudah sangat jarang menghubungiku." Ujar Elena mengehela napas.


"Itu karena kau sulit di hubungi. Mungkin saja Mommy bosan menghubungimu lagi. Ditambah saat ini Lexa selalu menemaninya. Dan tiga jagoanku yang meramaikan mansion."


"Ya, aku tidak sabar untuk menggendong anak-anakmu. Mereka sangat menggemaskan."


Winter pun tertawa renyah. Dan tidak ada lagi pembicaraan. Sampai mobil yang mereka tumpangi memasuki pelataran mansion. Winter turun lebih dulu dan sedikit berlari memasuki mansion.


"Baby, aku pulang." Teriaknya berjalan cepat menuju kamar. Ia membuka pintu kamar dengan cepat. Seulas senyuman terbit dibibirnya saat melihat Alexa tengah menyusui anak-anaknya. Namun ada yang aneh. Wanitanya itu terlihat kurusan dengan wajah yang pucat pasi. Senyuman diwajah winter pun memudar.


"Baby." Winter duduk di sisi sang istri. Kemudian memberikan kecupan di kening Alexa.


"Sebaiknya kau mandi dulu, jangan sentuh anak-anak." Pinta Alexa dengan suara lemahnya.


"Baby, kau sakit? Kenapa tidak mengatakan apa pun padaku?" Winter terlihat cemas. Sedangkan Alexa malah tersenyum.


"Aku cuma kecapekan, honey. Kau tahu aku harus mengurus tiga anakmu ini. Semakin hari mereka semakin rewel. Sana mandi, setelah ini makanlah dulu. Aku tahu kau belum makan bukan?"


Winter tersenyum. "Kau memang selalu memahamiku, baby. Baiklah, aku akan mandi dan setelah itu makan. Apa kau tidak ingin menemaniku mandi?"


Alexa memelototi suaminya. "Winter, aku sedang flu. Kau ini seperti anak kecil saja. Lihat, putramu saja masih menyusu."


Winter ingin sekali mencium baby Dustin yang begitu menggemaskan. Mulut bayi mungil itu terus bergerak cepat seolah takut kehabisan jatah. "Kau sangat rakus."


"Winter." Alexa memperingati suaminya supaya cepat mandi.


"Baiklah Nnyonya cerewet." Winter mengecup pipi istrinya sebelum melesat pergi ke kamar mandi. Sedangkan Alexa kembali terdiam karena sejak tadi ia menahan sakit dikepalanya yang terus berdenyut. Alexa menghela napas berat.


"Dari mana aku harus memulai bicara? Maafkan aku, Winter." Air mata Alexa pun menetes dengan sendirinya. Bahkan sampai mengenai wajah Dustin. Alexa mengusap pipi Dustin dengan lembut. "Mommy minta maaf, sayang."

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Winter pun duduk kembali di tempat tadi. Lelaki itu terlihat lebih segar dari sebelumnya dan sudah mengenakan pakaian santai.


"Wah, sekarang gantian Mike huh? Lucas sudah?"


Alexa pun mengangguk. "Putramu yang satu itu selalu jadi yang pertama."


"Hey, Mike. Kau merindukanku tidak?" Winter menoel hidung mancung putranya.


"Jangan menganggunya, biarkan dia tidur. Aku lelah, Winter. Mereka semakin rewel saat kau tidak ada. Bahkan aku tidak bisa tidur."


"Apa perlu kita menyewa baby sitter?"


"Tidak, aku tidak mau orang lain ikut campur. Biarkan aku menghabiskan sisa waktuku bersama mereka."


Winter mengerut bingung. "Kau selalu bicara aneh, aku merasa kau akan pergi jauh dariku. Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu, karena aku akan mengejarmu sampai ujung dunia pun."


Alexa terdiam sejenak. "Memangnya aku mau pergi kemana? Aku tidak bisa pergi karena tiga putramu masih membutuhkanku."


Tangan Winter bergerak untuk merengkuh pundak istrinya. Memeluk wanita itu dengan penuh kehangantan. "Aku akan mati jika kau meninggalkanku, Lexa. Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri, kau adalah nyawaku. Aku akan mati jika kau pergi dari hidupku. Aku tak bisa hidup tanpamu. Kau sudah menjadi bagian hidupku."


Alexa tersentak mendengar itu dan langsung menarik diri. "Kau tidak boleh mati, bagaimana dengan anak-anak? Mereka membutuhkanmu."


"Sudah aku katakan, aku akan mati jika kau pergi. Karena itu bertahanlah disisiku apa pun yang terjadi. Sampai rambutku memutih dan Tuhan memanggilku." Winter mengecup kening Alexa. Membuat tangisan wanita itu pecah seketika.


"Winter... aku...."


Tuhan, kenapa sangat sulit untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Tunggu sebentar." Winter pun bangkit dan melangkah pasti menuju pintu. Membukanya untuk melihat siapa gerangan yang mengganggu kebersamaan mereka.


"Winter, apa aku boleh masuk? Maaf jika aku mengganggu istirahatmu. Tapi aku tidak bisa menunggu lama untuk bertemu anak-anakmu." Ujar Elena yang kini berdiri di depan pintu. Memberikan tatapan memohon pada Winter.


Alexa pun segera menghapus air matanya saat mendengar suara asing itu.


"Masuklah, kebetulan istriku sedang menyusui mereka." Winter mundur untuk memberikan jalan pada wanita itu.


"Benarkah? Aku masuk ya?" Elena pun masuk dengan semangat. Wanita itu tersenyum pada Alexa. Dan tanpa rasa ragu duduk disamping Alexa. Sedangkan Winter memilih duduk di sofa.


"Hai... aku Elena. Kau sangat cantik, Lexa. Maaf aku tidak bisa datang saat pernikahan kalian. Aku harus melalukan pemotretan saat itu. Tapi aku sudah mengatakan itu pada suamimu."


Alexa tersenyum ramah. "Tidak jadi masalah."


"Ya ampun, bukankah ini Mike? Aku sedang belajar membedakan mereka." Elena mengusap pipi Mike yang sudah tertidur di pangkuan Alexa. Bayi itu pun sudah berhenti menyusu.


"Ya, Lucas dan Dustin sudah tertidur sejak tadi." Sahut Alexa.


"Ya ampun, sepertinya aku datang diwaktu yang tidak tepat. Padahal aku ingin sekali menggendong mereka. Tidak jadi masalah. Aku masih punya banyak waktu. Aku harap kau tidak keberatan jika aku sering datang ke sini. Sejak lama aku ingin bercengkrama denganmu. Dan sekarang baru bisa terlaksana. Aku senang bisa bicara langsung denganmu., Lexa."

__ADS_1


"Dia sama cerewetnya denganmu, baby. Aku rasa kalian cocok." Sambar Winter yang berhasil membuat Elena kesal.


"Sebaiknya kau diam, Winter. Aku sedang bicara pada kakak ipar."


Alexa tersenyum geli melihat pertengkaran adik dan Kakak itu. Lalu tak lama dari itu Lucas pun menangis.


"Ini semua salahmu, Ele. Kau sangat berisik, sekarang putraku yang cengeng terbangun." Tuduh Winter seraya bangun dari posisinya dan menghampiri box bayi di mana Lucas berada.


"Ya Tuhan, aku tidak tahu mereka sangat sensitif dengan suara. Lexa, maafkan aku."


"Tidak apa-apa, hanya Lucas yang seperti itu. Yang lainnya aman."


"Sepertinya aku harus pergi, ini bukan waktu yang tepat untuk mengunjungi mereka. Maafkan aku, Lexa, Winter. Aku akan kembali nanti. Kita harus mengobrol panjang lebar setelah ini, pokoknya aku senang bisa bicara padamu, Lexa." Elena memeluk Alexa singkat. Kemudian bergegas pergi dari sana. Alexa hanya bisa menatap punggung wanita itu dengan tatapan penuh arti.


"Winter, Elena sangat cantik bukan?"


"Ya, dia seorang model terkenal di negaranya." Sahut Winter duduk di sebelah Alexa bersama Lucas dalam gendongannya.


Alexa menatap Winter lekat. "Winter, apa kau tidak tertarik pada Elena?"


"Tertarik dalam hal apa, sayang? Pertanyaanmu itu sangat konyol."


"Mungkin saja kau menyukainya."


Winter tertawa renyah mendengar perkataan istrinya. Baginya itu sangat lucu, tetapi tidak untuk Alexa. Ia benar-benar serius menanyakan hal itu.


"Aku hanya mencintai dua wanita di dunia ini. Yang pertama itu Mommy dan yang kedua adalah dirimu, Lexa. Untuk Elena, aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri."


Alexa tersentuh mendengar itu. "Winter, ada yang ingin aku katakan padamu."


"Aku sedang tak mau mendengar ocehan konyolmu. Sekarang aku sedang merindukan kalian. Jangan membahas hal lain. Aku hanya ingin mendengar kata-kata cinta darimu." Winter memberikan senyuman menawan.


"Oh iya, kau sudah minum obat?" Imbuhnya.


"Aku tidak berani minum obat karena sedang menyusui mereka. Mommy membuatkan ramuan herbal untukku." Sahut Alexa apa adanya.


"Syukurlah. Besok aku akan membawamu ke rumah sakit."


Alexa menggeleng kecil. "Tidak perlu, besok sakitnya akan sembuh."


"Tetap saja kita harus ke dokter, aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."


"Tidak perlu, Winter. Aku baik-baik saja, percayalah."


Winter menghela napas berat. "Baiklah."


Alexa tersenyum senang. Maafkan aku Winter. Sikapmu membuatku takut untuk berkata jujur. Di antara kita harus ada yang hidup, demi anak-anak. Maafkan aku untuk semua rasa sakit yang akan kau terima, jika sesuatu yang buruk terjadi padaku kelak.

__ADS_1


__ADS_2