Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 77


__ADS_3

Bugh!


Jarvis melayangkan sebuah tinjuan keras di rahang Aaric sampai lelaki itu terjungkal di lantai. Bahkan semua benda yang ada di atas meja ikut berserakan di lantai. Sontak semua pengunjung dan karyawan yang melihat itu pun panik.


Jarvis menarik kerah baju Aaric dengan kilatan amarah dimatanya. "Berani sekali kau menyentuh istriku, meski itu di masa lalu. Tapi kau melecehkan harga dirinya. Brengsek!" Bugh! Sebuah tinjuan kembali mendarat di rahang Aaric. Membuatnya lemas tak berdaya di lantai.


"Aku sangat berterima kasih kau datang padaku dan mengatakan kebenarannya. Dan aku bisa menghabisimu sesuka hati. Kau pikir dengan pengakuanmu di masa lalu, aku akan melepaskan istriku huh? Kau salah, justru pengakuanmu membuatku yakin jika wanitaku tak selemah yang aku pikir. Dia mampu melawan lelaki brengsek sepertimu."


Aaric meludahkan darah yang memenuhi mulutnya. Kemudian tersenyum licik. "Setidaknya aku pernah menyentuhnya meski tak sempat memasuki istrimu. Aku lebih dulu menjamah tubuhnya. Merasakan bibirnya yang manis, bahkan aku menyentuh setiap inci tubuhnya. Ah, aku belum bisa melupakan itu."


Jarvis mengeratkan rahangnya. Kemudian tersenyum devil. "Akan aku pastikan hidupmu menderita karena berani melecehkan istriku. Kau lihat saja, dalam hitungan jam kau akan mendapat kabar baik, Tuan Aaric Gilbert."


Jarvis kembali melayangkan tinjuan sebelum meninggalkan lelaki itu. Emosinya benar-benar tak bisa terkontrol. Tentu saja ia marah, lelaki itu sudah berani melukai harga diri istrinya.


"Sial!" Umpatnya seraya melangkah pasti meninggalkan restoran yang sudah heboh itu.


Kini Jarvis berada di sebuah bar yang ada di resort. Menyesap minuman memabukkan itu dengan perasana kesal. Ingin sekali rasanya ia membunuh lelaki itu. Beruntung ia masih sadar jika ini bukanlah negaranya. Jarvis mencengram erat gelas itu untuk menyalurkan rasa sakit dihatinya. Kemudian meneguk isinya sampai tandas.


"Lagi." Pintanya pada sang bartender. Lalu lelaki berambut cepak itu menuangkan minuman haram itu ke dalam gelas Jarvis.


"Xella." Dengan sekali tegak minuman itu lolos ke dalam tenggorokkanya. Bayangan Aaric menyentuh Alexella terus berkelebat dalam pikirannya. Membuat perasaannya tak menentu dan ingin segera menghabisi seseorang.


Jarvis pun mulai dikuasi alkohol, ia tersenyum sendiri saat mengingat malam pertamanya dengan Alexella. Ia masih ingat betul dirinyalah yang merenggut kesucian sang istri.


"Kau hanya milikku Xella, hanya milikku." Jarvis tersenyum devil. Setelah itu ia mengeluarkan beberapa lembar uang dolar dan meletakkannya dia atas meja bartender. Kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat itu dengan sempoyongan.


Di kamar, Alexella terlihat berbaring di sofa. Matanya tak kunjung terpejam meski ia merasa sangat mengantuk. Sudah hampir dua jam suaminya tidak kembali. Dan itu membuatnya takut setengah mati. Bagaimana jika Jarvis meninggalkannya? Atau mungkin mencari wanita lain? Alexella tak bisa membayangkan semuanya. Itu terlalu menyakitkan.


Ceklek!


Alexella terperanjat kaget dan langsung bangkit saat mendengar suara pintu terbuka dan tertutup. Ia merasa lega saat melihat Jarvis sudah kembali. Namun keningnya mengerut saat melihat Jarvis berdiri tak seimbang.


"Jarvis?" Alexella pun menghampiri suaminya.


Jarvis tersenyum dan langsung menciumnya. Lagi-lagi Alexella terkejut saat mencium aroma menyengat dari mulut suaminya. Dengan sekuat tenaga ia mendorong Jarvis.


"Kau mabuk? Sudah aku katakan berhenti minum, Jarvis."


Jarvis tersenyum lagi. "Kau milikku, Xella. Aku tak akan membiarkan orang lain menyentuhmu."


Alexella menatap Jarvis begitu dalam. "Berhenti mengoceh, bersihkan tubuhmu. Kau sangat bau, Jarvis."


Jarvis masih bergeming. Menatap wajah sang istri cukup lama. Alexella membuka kancing kemeja suaminya dan berencana untuk membawa Jarvis ke kamar mandi. Namun tanpa di duga, Jarvis menarik tengkuk dan ******* bibirnya dengan rakus. Alexella memberontak karena tak tahan dengan aroma alkohol.


"Lepaskan aku. Kau harus membersihkan tubuhmu dulu." Protes Alexella memukul dada Jarvis.


"Aku menginginkanmu, Baby. Kau hanya milikku." Rancaunya seraya menarik resleting dress Alexella. Meloloskan pakaian istrinya dengan sekali hentakan.


"Kau sangat cantik, baby. Perutmu yang buncit membuatku semakin menginginkanmu."


Alexella menepis tangan Jarvis yang hendak menyentuh dadanya.


"Sadarlah Jarvis, kau mabuk."


"Ya... ya... aku mabuk karena cintamu, baby."


Alexella terkejut saat tiba-tiba tubuhnya melayang karena Jarvis menggendongnya tanpa aba-aba. Kemudian menidurkannya dia atas ranjang.

__ADS_1


"Jarvis." Alexella mengunci pandangan suaminya.


"Ya, baby?"


"Aku tidak ingin melakukannya. Kau mabuk, Jarvis."


"Aku tidak mabuk, baby. Aku sadar seratus persen. Kau hanya milikku." Jarvis membenamkan wajahnya di leher sang istri. Memberikan gigitan-gigitan kecil di sana. Tanpa sadar Alexella m*nd*s*h kecil dengan mata yang ikut terpejam. Jarvis menurunkan tangannya ke perut buncit Alexella. Kemudian semakin turun ke bawah.


"Jangan, kau mabuk, Jarvis."


"Aku tidak mabuk." Jarvis mengecup bibir Alexella sekilas. Dan tangannya terus bergerak nakal di bawah sana. Membuat Alexella seketika melayang ke udara. Untuk yang kesekian kalinya ia m*nd*s*h kecil. Menggigit ujung bibirnya saat merasakan gelombang cinta yang hampir sampai. Sedangkan Jarvis terus menggencarkan aksinya. Membuat Alexella tak mampu berkata-kata.


Jarvis melepas semua benang yang melekat ditubuhnya dan sang istri. Kemudian tersenyum nakal. "Kau sangat cantik, Xella."


"Jarvis, aku sedang hamil." Alexella berusaha menyadarkan suaminya.


"Aku tahu, sayang."


"Tolong jangan terlalu kasar. Itu akan menyakiti anak kita."


"Ya, aku akan bermain lembut." Jarvis memposisikan Alexella senyaman mungkin. Ia tak ingin menyakiti bayi sekaligus ibunya. Keduanya pun mengerang bersamaan saat berhasil melakukan penyatuan.


"Aku milikmu, baby." Bisik Jarvis menggigit kecil telinga istrinya. Alexella pun mengangguk pasrah dengan mata yang terpejam. Mencoba menyesuaikan pergerakan suaminya dibawah sana. Kini kedua tangannya juga melingkar sempurna di leher Jarvis. Meraih bibir sang suami dengan lembut dan penuh perasaan. Akh, Alexella tak pernah tahan saat Jarvis menyentuhnya.


"Lebih cepat," pinta Alexella saat akan mendapat pelepasan.


Jarvis tersenyum penuh kemenangan dan menuruti keinginan istrinya. Mempercepat gerakan pinggulnya seraya menyesap bibir manis sang istri. Keduanya pun terhanyut dalam permainan panas yang membara. Melupakan pertengkaran kecil yang terjadi beberapa waktu lalu. Pertengkaran adalah hal lumrah dalam rumah tangga, anggap saja itu adalah bumbu-bumbu pelengkap dalam kemesraan mereka.


****


Malam hari, Alexella terbangun dari tidurnya karena merasa sangat lapar. Ia sedikit menggeliat dibalik selimut tebal. Kemudian matanya menangkap wajah tampan sang suami. Alexella tersenyum saat melihat wajah tenang Jarvis. Jemari lentiknya tergerak untuk menyentuh bulu mata panjang sang suami, kemudian turun ke hidung dan berakhir di bibir yang menjadi favoritnya.


Jarvis sedikit menggeliat, tetapi matanya masih terpejam rapat. Ia juga mendengkur halus yang menandakan dirinya masih terlelap. Alexella tersenyum geli sambil terus memainkan bulu mata suaminya.


"Jarvis, aku lapar." Bisiknya agak ragu untuk membangunkan sang suami yang begitu lelap dalam tidurnya. Namun perutnya tak lagi bisa diajak kompromi. Ia benar-benar lapar dan ingin segera memakan sesuatu.


"Jarvis." Akhirnya Alexella pun menepuk pipi suaminya. Lelaki itu mengerjap beberapa kali. Kemudian memijat batang hidungnya karena merasa pusing akibat mabuk.


"Ada apa, baby?" Tanyanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Aku lapar." Rengek Alexella menatap Jarvis lamat-lamat.


Jarvis ikut menatap wajah istrinya lumayan lama. Kemudian melihat jam dinding. "Masih jam sembilan. Kau ingin turun atau makan di sini?"


"Di sini saja. Aku masih lelah."


"Baiklah. Aku akan memesan makanan." Jarvis mengubah posisinya menjadi duduk. Kemudian meraih gagang telepon di atas nakas dan memesan makanan. Setelah itu ia kembali memusatkan perhatian pada sang istri.


Alexella tersenyum dan memeluk Jarvis dengan erat. "Aku pikir kau akan marah dan meninggalkanku, Jarvis. Aku sangat takut."


Jarvis mengusap lembut rambut halus sang istri. "Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu huh? Bahkan aku tak bisa meninggalaknku walau sedetik."


"Pembohong. Kau meninggalkan aku hampir dua jam." Ketus Alexella sambil mendongak. Jarvis yang merasa gemas pun mengecup bibir istrinya.


"Aku ada urusan."


"Urusan apa huh? Kita bertengkar dan kau kembali dengan keadaan mabuk. Aku khawatir padamu."

__ADS_1


Jarvis menanggapinya dengan senyuman. Memeluk wanitanya itu dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Alexella.


"Aku tidak marah padamu, aku hanya kesal karena kau menyembunyikan masalah besar itu dariku. Jika tahu dari awal, aku akan menghabisinya."


"Itu yang aku takutkan, kau akan berbuat nekad. Aku tidak mau terjadi sesuatu padamu."


"Dia pantas mendapatkan pelajaran. Berani sekali dia menyentuhmu. Bahkan saat itu aku tak berani menyentuhmu."


"Itu artinya kau tidak terlalu brengsek."


Jarvis tersenyum dan mengecup pucuk kepala Alexella. "Aku harap kau selalu terbuka padaku, Xella. Jangan sembunyikan apa pun dariku lagi. Aku suamimu dan berhak tahu apa yang terjadi padamu."


"Aku janji."


"Aku akan menghukummu seperti sebelumnya jika berani menyembunyikan apa pun dariku." Ancam Jarvis.


"Itu tidak cocok dikatakan hukuman, Jarvis."


"Lalu hukuman apa yang kau mau huh?"


"Kau bertanya hukuman pada orang yang dihukum? Dasar aneh."


"Benar juga, buat apa aku bertanya padamu?"


"Itu artinya kau bodoh, Jarvis."


"Ya, kau yang membuatku menjadi orang bodoh."


Alexella tersenyum lagi seraya menarik tangan suaminya. Namun senyuman itu seketika memudar saat melihat tangan suaminya yang lembam. Alexella beringsut bangun.


"Kenapa dengan tanganmu? Kau berkelahi?" Tanyanya dengan nada panik.


"Tidak." Jarvis menarik tangannya kembali. Namun dengan sigap Alexella meraihnya lagi.


"Kau memukul Aaric? Katakan padaku, Jarvis."


"Ya, dia berhak mendapatkannya."


Alexella terkejut mendengar itu. "Kau tidak harus melakukan itu? Bagaimana jika dia melapor polisi? Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu."


"Dia tak akan berani melakukan itu. Masih bernapas saja dia sudah untung." Sinis Jarvis.


"Apa maksudmu? Kau...." Perkataan Alexella pun terputus karena suara bel pintu lebih dulu berbunyi.


Jarvis tersenyum penuh kemenangan. "Makanan datang. Tunggu sebentar."


Jarvis meraih bokser dan memakainya dengan cepat. Kemudian berjalan pasti untuk membukakan pintu. Menerima hidangan yang dibawakan oleh seorang waiters. Setelah mengucapkan terima kasih. Ia pun kembali ke ranjang. Memberikan nampan berisi makanan itu pada sang istri.


"Makanlah."


"Kau tidak ikut makan?" Tanya Alexella.


"Tidak, aku sudah kenyang melahapmu tadi."


"Ck, kau memang brengsek. Baiklah, aku akan menghabiskan semuanya sendiri."

__ADS_1


"Ya, habiskan saja. Buat dirimu gemuk. Kau sangat jelek jika kurus."


Alexella pun mengangguk dan kemudian segera menikmati makanannya. Sedangkan Jarvis hanya menonton istrinya makan dengan begitu lahap.


__ADS_2