
Sabrina terus mondar-mandir di depan pintu mansion karena sudah larut malam putri bungsunya tidak kunjung pulang. Ditambah ponsel Eveline juga tidak bisa dihubungi, membuat hatinya semakin resah. Dan tidak lama Arez pun menghampirinya.
"Sayang, sebaiknya kita tidur. Aku sudah meminta anak buah untuk mencarinya." Ujar Arez merangkul bahu Sabrina.
"Ck, ini yang aku takutkan, Al. Putrimu itu seorang model, sudah pasti banyak yang mengincarnya. Bagaimana jika seseorang menculik anak kita? Sejak pertama aku tidak setuju dia menjadi seorang model."
"Siapa yang berani melakukan itu huh? Mereka melempar nyawanya sendiri ke hadapanku. Tenanglah, dia akan kembali. Ayok tidur."
Sabrina pun mengangguk pasrah. Lalu keduanya pun beranjak ke kamar. Sebenarnya Arez juga cemas dan terus memikirkan putri bungsunya itu. Hanya saja ia tidak ingin memperkeruh suasana. Lagi pula ia sudah mengutus beberapa anak buahnya yang cukup bisa di andalkan. Dan Arez tidak tahu jika kali ini musuhnya ada di kandang sendiri.
Di sebuah kamar yang luas dan megah. Eveline mengerang dan mulai tersadar dari tidurnya. Yang pertama kali ia rasakan yaitu sakit di kepalanya. Bukan hanya itu, ia juga tidak bisa melihat apa-apa saat ini. Semuanya gelap gulita. Dan ia merasa ada sebuah benda yang menutupi penglihatannya saat ini.
"Nghhh." Eveline berusaha bangun dari posisinya. Namun, lagi-lagi ia harus terkejut karena kedua tangannya terikat kuat. "Sialan! Siapa yang melakukan ini padaku?"
Eveline mulai marah dan berusaha melepaskan kedua tangannya dari ikatan itu. Akan tatapi semua itu percuma, tali itu begitu kuat. Dan apa yang Eveline lakukan justru melukai pergelangan tangannya.
"Tolong! Siapa pun yang ada di sini lepaskan aku." Teriaknya mulai frustasi. Ia juga meringis karena pergelangan tangannya mulai terasa perih.
Tidak jauh dari ranjang, terlihat seorang laki-laki duduk dengan angkuh di sebuah kursi empuk. Kedua kakinya disilangkan dan bertumpu di atas meja. Ia menghela napas pendek, dan kembali menyesap rokok. Lelaki tak lain adalah Lucas Winston.
"Siapa di sana?" Teriak Eveline saat mendengar ada suara. "Tolong, siapa pun itu. Tolong bantu aku, lepaskan ikatan di tanganku. Ini sangat sakit."
Lucas menjatuhkan puntung rokok tadi dan menginjaknya sampai tak berbentuk. Ia pun bangkit, melangkah pasti mendekati ranjang sambil membuka jaketnya. Lalu membuangnya asal.
Eveline terkejut saat mendengar suara jaket Lucas yang terjatuh ke lantai. Bahkan ia beringsut mundur ketika ranjang itu bergoyang. "Siapa kau? Apa tujuanmu menculikku huh?"
Lucas tidak bicara. Tangannya mulai bergerak meraih rembut panjang Eveline. Lalu menciumnya begitu dalam.
Kau sangat harum, sayang.
"Jangan sentuh aku, siapa kau?" Bentak Eveline menghindari sentuhan Lucas. Membuat lelaki itu menggeram kesal. Di tariknya dagu gadis itu dengan kasar. Lalu ia mendaratkan ciuman kasar di bibir Eveline.
Sang gadis pun berusaha menolak dengan menggigit bibir si penculik. Sontak Lucas menghentikan ciumannya. Lalu menjilat darah yang keluar akibat gigitan Eveline.
__ADS_1
"Brengsek! Siapa kau? Berani sekali menyentuhku. Kau tidak tahu siapa aku." Eveline terus menggerakkan tangannya berharap tali itu terlepas. Namun, dengan gerakan cepat Lucas mencekal kedua tangannya. Lalu menyatukan keningnya dengan gadisnya itu. Napas keduanya pun saling beradu.
"Luc? Kau kah itu?" Lirih Eveline saat mencium aroma khas sepupunya. Ia baru menyadari hal itu.
Lucas tersenyum, ia senang karena Eveline cukup mengenalinya. Dan itu membuatnya yakin jika gadis itu menyukai dirinya. Hanya saja gadis itu terlalu ego.
Karena sudah ketahuan, Lucas pun perlahan membuka penutup mata gadisnya. Eveline mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Lalu mata tajamnya itu langsung menusuk ke arah Lucas. "Jadi benar itu kau, Luc? Sialan kau? Lepaskan aku."
Eveline melihat kedua tangannya yang terikat di kedua sisi ranjang. Lalu ia kembali tersentak saat melihat penampilannya saat ini. Di mana ia hanya mengenakan pakaian super tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Lalu sebuah tatapan permusuhan pun ia layangkan pada sepupunya itu. "Kau!"
Lucas tertawa penuh kemenangan. Diusapnya rambut halus Eveline dengan lembut, meski gadis itu berusaha menghindarinya. "Sudah aku katakan, Eve. Kau itu hanya milikku seorang."
"Brengsek! Lepaskan aku, Luc. Daddy akan membunuhmu jika tahu kau menculikku."
Lagi-lagi Lucas tertawa kencang. "Bahkan aku rela mati untukmu, sayang. Kau hanya milikku." Lelaki itu kembali mendaratkan bibirnya di bibir Evelin. Dan kali ini ia menekan rahangnya sehingga Eveline tidak dapat menolaknya lagi.
"Nghh... lepasshhmmmfff." Eveline menggelengkan kepalanya ke kiri dan kanan. Namun, cengkraman Lucas begitu kuat sampai membuat rahangnya sakit dan memerah.
Lucas menghentikan aksinya saat melihat gadis pujaan hatinya menitikan air mata. "Ada apa? Kau takut padaku?"
Lucas mendesis pelan. Ia semakin merapatkan tubuhnya dengan gadisnya itu. Kemudian mendaratkan ciuman lembut di leher jenjang Eveline. "Lakukan sayang, bunuh aku dengan cintamu."
Eveline menggigit bibirnya saat Lucas memberikan h*s*p*n kecil di lehernya. Dan itu menimbulkan desiran aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Dan ciuman Lucas tidak sampai di sana saja, lelaki itu kini sudah menjelahahi dada menawan pujaan hatinya.
"Hentikan, Lucas." Pekik Eveline saat tangan Lucas mulai menyentuh aset berharganya itu. Bahkan sentuhan itu berubah menjadi r*m*s*n lembut.
"Ah... kau sangat cantik, Eve." Gumam Lucas mulai menggila saat melihat keindahan di depan matanya. Ia menempelkan bibirnya di kulit putih mulus Eveline, dan menciptakan sebuah makarya yang begitu indah.
Tanpa sadar Eveline m*nd*s*h pelan. Dan itu membuat Lucas tersenyum penuh kemenangan. Lelaki berparas tampan itu meloloskan kaosnya. Dan kini ia bertelanjang dada, mempertontonkan otot-ototnya yang indah. Eveline menelan air liurnya saat melihat itu.
"Kau tertarik?" Lucas mengungkingkan senyuman menawan. Eveline pun membuang wajahnya ke semping.
Lucas mengembangakan senyumannya. Kemudian dengan sekali gerakan ia mendudukkan Eveline di atas pangkuannya. Gadis itu memekik kaget. Akan tetapi ia terlihat semakin seksi dengan kedua tangan yang terikat seperti in. Ah... Lucas mulai gila.
__ADS_1
Lucas kembali menarik dagu Eveline dengan lembut. Kemudian memberikan kecupan tak kalah lembut di kening gadis itu. Tatapannya pun berubah hangat. Dan itu membuat Eveline bingung.
"Aku sangat mencitaimu, Eve. Aku hanya menginginkanmu dalam hidupku."
"Sadarlah, Luc. Aku sepupumu." Desis Eveline tidak habis pikir dengan sepupunya itu.
"Aku tahu, aku tahu, sayang. Dan itu adalah penyesalan dalam hidupku, kenapa kita harus lahir dengan darah yang sama."
"Luc... kau...."
"Shht...." Lucas menutup bibir tipis Eveline dengan jari besarnya. "Aku tidak ingin mendengar penolakan darimu, sayang."
"Kau gila, Luc."
"Ya, aku memang gila, Eve. Aku gila karena terus memikirkan dirimu. Aku gila saat kau tersenyum pada laki-lakin lain, aku tidak bisa menerima kenyataan jika kau sudah memiliki kekasih, Eve."
Eveline memejamkan mata, lalu membukanya lagi. "Lepaskan aku, Luc. Sebelum Daddy menemukan kita. Aku tidak akan mengatakan hal ini pada siapa pun."
Lucas terdiam sejenak. Kemudian mengangguk pelan. Dan rasa cemas di wajah Eveline pun langsung meluap.
"Ya, aku akan melepaskanmu." Lucas terus mengangguk.
"Terima kasih."
Lucas tersenyum miring. "Tapi tidak sekarang, aku belum memberikan pelajaran padamu, sayang. Berani sekali kau memiliki kekasih tanpa persetujuanku."
Mata Eveline pun membulat sempurna. Ia pikir Lucas benar-benar akan melepaskannya. Sampai ia lupa jika lelaki di depannya ini sangatlah licik.
"Aku akan menumbuhkan cinta dihatimu sebelum aku melapasmu, Eve. Kau akan mencintaiku."
"Kau gila, Luc! Lepaskan aku." Teriak Eveline karena kesal. Ia merasa dipermainkan oleh Lucas.
"Never." Lucas tersenyum devil. "Malam ini milik kita berdua, Eve. Akan aku pastikan kau tidak akan bisa melupakan malam indah ini."
__ADS_1
"Tidak!"