
Alexa terkejut bukan main saat melihat Mike dan Dustin membawa Lucas dalam keadaan lemah.
"Ada apa ini, Mike?" Tanya Alexa panik.
"Mom, biarkan kami membawanya ke kamar dulu." Ujar Dustin.
"Baiklah, cepat bawa dia. Mommy akan menghubungi dokter."
Kedua lelaki tampan itu pun membawa Lucas ke kamarnya. Ya, Mike dan Dustin mendapat kabar dari Melvin jika Lucas berada di pulau pribadi mereka. Bahkan Melvin juga mengatakaan jika Lucas tidak baik-baik saja karena itu kedua kembarannya langsung menjemput Lucas. Benar saja, saat mereka tiba di villa. Lucas sudah dalam keadaan lemah tak berdaya dengan dikelilingi botol minuman.
Alexa menghampiri putranya itu dan duduk di sisinya. "Lucas, apa yang sebenarnya terjadi?"
Mike dan Dustin yang melihat itu merasa iba. Keduanya hanya bisa saling memandang.
Lucas sedikit menggeliat sambil bergumam tak jelas. Tubuhnya juga terasa begitu panas, sepertinya ia demam.
"Luc, kau mendengar Mommy?" Tanya Alexa mengusap kening putranya.
"Eve." Gumam Lucas. Sontak Alexa pun melempar pandangan pada kedua putranya yang masih berdiri di sana.
"Mom, sebenarnya...." Mike pun mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Termasuk penculikan Eveline yang Lucas lakukan.
"Ya Tuhan. Bagaimana ini bisa terjadi? Jadi Lucas benar-benar menginginkan Eveline? Mommy pikir itu hanya candaan saja."
"Lucas sangat mencintainya, Mom. Bahkan dia sampai menyewa seorang pengawal hebat untuk melindungi Eveline saat di London. Tapi... sepertinya Eveline tidak mengetahuinya."
Alexa menggenggam erat tangan putranya. "Bagaimana bisa kau terjebak cinta terlarang seperti ini, Luc?"
"Biarkan dokter menanganinya dulu, Sweetie." Ujar Winter yang baru saja datang bersama dokter pribadi keluarga Winston. Karena sebelumnya Winter sudah mendapat kabar dari Alexa.
Alexa bangkit dari posisinya dan membiarkan dokter memeriksa Lucas. Terlihat jelas kecemasan di wajah Alexa. Winter yang melihat itu langsung merengkuh istrinya.
"Tuan muda mengalami stres ringan. Dia terlalu banyak minum alkohol dalam kondisi perut kosong. Demam yang terjadi bisa jadi karena ia kurang istirahat. Saya akan membuat resep obat pereda demam dan vitamin." Ujar sang dokter.
"Hm, ikut denganku." Ajak Winter mengajak dokter kepercayaannya itu ke ruang kerjanya.
Alexa kembali mendekati putranya. Air matanya luruh seketika. "Kenapa kau lakukan ini, Luc? Masih banyak wanita yang menggilaimu, kenapa herus adikmu?"
__ADS_1
"Mom, apa tidak sebaiknya kita bicarakan ini dengan Uncle dan Aunty? Mungkin saja mereka bisa memahami perasan Lucas dan membiarkan Eveline hidup bersamanya." Saran Dustin.
"Itu akan sulit, Mommy tahu seperti apa Unclemu. Bukan hanya mereka, kita juga harus menghadapi keluarga yang lainnya."
"Mungkin situasinya akan berbeda jika Eveline juga menginginkan hal yang sama." Ujar Mike. Sontak ia pun mendapat tatapan dari sang Mommy dan kembarannya.
"Tapi kau tahu sendiri Eveline tidak tertarik padanya. Bahkan dia sudah punya kekasih." Sahut Dustin.
"Mingkin kau tidak memperhatikan mereka sejak dulu. Lucas dan Eveline begitu dekat sejak kecil. Bahkan mereka seperti pranko. Tapi hubungan mereka agak renggang saat Lucas mengungkapkan persaannya pada Eveline. Dan aku sering melihat Eveline mencuri pandang ke arah Lucas saat kita sedang berkumpul setelah pengungkapan itu. Aku rasa Eveline juga memiliki perasaan yang sama. Hanya saja dia tidak meyadarinya." Jelas Mike mengungkapkan hasil analisisnya selama ini.
"Jadi makdumu ada kemungkinan mereka bersama?" Tanya Dustin memastikan.
Mike mengangguk. "Lucas hanya butuh dukungan kita. Aku tidak tahu Mommy dan Daddy akan mendukung atau tidak?" Mike menatap sang Mommy.
Alexa menatap Mike, lalu bergantian menatap Lucas yang masih terbaring lemah. "Lucas anak yang paling manja dari pada kalian sejak dia bayi, setelah besar dia juga yang paling nakal dan sulit diatur. Dan saat dirinya beranjak dewasa, dia juga masih menimbulkan masalah sebesar ini. Bagaimana Mommy bisa mengabaikan saudara kalian? Entah apa yang akan dia lakukan jika kita mengabaikan perasaannya. Mommy tidak ingin kehilangan kalian. Kalian anak-anak Mommy."
Mike tersenyum lega. "Jika memang begitu, mari kita bicarakan ini dengan keluarga besar."
"Tunggu sampai Lucas membaik, kita pergi sama-sama." Ujar Winter yang berhasil mencuri perhatian semuanya.
Alexa mengangguk. "Aku tidak keberatan jika Eveline menjadi menantu rumah ini. Dia akan menjadi keponakan sekaligus menantuku."
Winter merangkul kedua putranya itu. "Benar juga, dan tugas kalian adalah memantaunya. Pastikan kabar baik yang kami peroleh." Mike dan Dustin mengangguk bersamaan.
****
Sabrina terlihat gelisah dalam tidurnya. Arez yang menyadari itu pun kembali membuka matanya.
"Ada apa denganmu huh?" Tanya Arez.
Sabrin pun menatapnya lekat. "Aku merasa ada yang aneh dengan Eveline akhir-akhir ini. Dia lebih sering termenung dan menguring diri di kamarnya. Itu buka sifatnya, Al."
Arez tidak langsung menanggapi. "Mungkin dia masih lelah karena liburannya."
Sabrina terdiam beberapa saat. "Aku juga belum melihat Summer datang ke sini dan mengajaknya jalan. Apa mungkin mereka putus? Karena itu Eveline terus mengurung diri."
Arez menghela napas berat. "Berhenti ikut campur masalah asmara mereka, sayang. Kita tidak perlu ikut campur, tapi cuma bisa mengawasinya."
__ADS_1
"Ck, kau selalu saja seperti itu."
Arez menarik Sabrina dalam dekapan. Dikecupnya pucuk kepala istrinya itu dengan lembut. Sabrina pun mendongak.
"Al."
"Hm."
"Kau tidak merindukan aku? Sudah hampir seminggu kau mengabaikanku."
"Bukan aku yang mengabaikanmu, kau yang terlalu berlarut dalam kesedihan karena kehilangan putrimu."
Sabrina mendengus sebal. "Semua ibu pasti panik saat putrinya menghilang."
"Tapi dia tidak hilang."
"Ck, itu kan sebelum aku tahu. Oh iya, aku tidak melihat keponakan keras kepalamu itu. Ke mana dia?"
"Siapa?"
"Ck, siapa lagi kalau bukan Lucas. Bagus jika dia sudah kembali ke negaranya, aku hanya kasihan pada Alexa yang terus memikirkan anak nakalnya itu. Jika Marvel dan Melvin seperti itu aku sudah memukulnya." Oceh Sabrina.
"Dia punya uang dan segalanya, biarkan dia bebas melakukan apa pun. Lagi pula meski dia nakal, dia cukup andal dalam hal bisnis. Buktinya dia bisa menaklukkan ratusan perusahaan besar dalam jangka waktu satu tahun."
Sabrian mengerut bingung. "Tumben kau banyak bicara dan memuji orang lain? Aku saja tidak pernah kau puji sejak kita menikah." Kesalnya.
"Aku selalu memujimu setiap saat, kau saja yang tidak peka." Arez menutup matanya kembali.
"Ish... kau ini memang tidak pernah berubah, Al. Tapi bodohnya aku semakin mencintaimu."
"Hm."
"Ck, setidaknya beri aku ciuman sebelum tidur, Al. Kau ini sama sekali tidak romantis."
Gemas dengan ocehan istrinya, Arez pun langsung mencumbu bibir istrinya itu dengan rakus. Meski sudah cukup lama mereka menikah. Namun, rasa manis itu tidak pernah berubah. Arez selalu dibuat mabuk oleh rasa manis dari bibir istrinya itu.
"Kau mengganggu tidurku, jadi jangan harap kau bisa tidur."
__ADS_1
Sabrina tersenyum geli. "Siapa takut. Aku rela jika lembur di bawahmu." Tantangnya.
"Dasar istri nakal."