Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Bab 45


__ADS_3

Jangan lupa follow ig aku ya


@desihnurani324


Happy reading All....


...❤️❤️❤️...


"Aku pergi," ucap Alex seraya mengecup kening Sweet. Sedangkan Sweet hanya mengangguk kecil sebagai jawaban.


"Tidak akan lama," lanjut Alex yang dapat membaca jika Sweet tidak rela dirinya pergi. Wanita itu terus mencengkram erat jas miliknya.


"Kabari aku jika sudah sampai," ujar Sweet menatap wajah Alex begitu dalam.


"Tentu, jaga diri baik-baik." Alex mengecup bibir Sweet dengan begitu mesra. Sweet tersenyum kecil, lalu memeluk erat tubuh kekar Alex.


"Ingat, jangan tinggalkan lagi kewajibanmu sebagai seorang muslim. Kamu adalah surgaku sekarang, aku berhak mengingatkanmu, Mas." Sweet menghirup dalam aroma maskulin dari tubuh Alex. Entah lah, saat ini aroma tubuh Alex bagaikan candu untuknya.


"Aku mengerti. Sepertinya aku harus segera pergi," sahut Alex perlahan mendorong tubuh mungil Sweet. Sebelum benar-benar pergi, Alex kembali mengecup kening sang istri. Jujur ia juga tidak rela jika harus meninggalkan Sweet. Setelah itu, ia pun langsung beranjak pergi.


"Aku akan menunggumu," ucap Sweet saat mobil yang Alex naiki mulai meninggalkan mansion. Lalu ia pun memilih untuk kembali ke kamar. Perasaan yang tak karuan sangat memengaruhi kondisinya. Merasa tubuhnya begitu lemas dan tidak semangat untuk melakukan apa pun.


***


Keesokan harinya, Sweet terlihat sedang berkeliling di taman belakang. Hingga langkahnya terhenti di pinggiran kolam ikan. Kolam itu memang tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman untuk dipandang. Berbagai ikan hias pun tengah bermain riang di pinggiran kolam.


Sejak tadi Sweet hanya diam, seakan begitu banyak beban yang ia pikirkan. Termasuk rasa rindu akan kehadiran lelaki yang sudah menyelusup dalam hatinya. Hingga ia tidak menyadari seseorang datang menghampiri.


"Apa kabar Nyonya Alexander?" sapa seseorang yang berhasil mengejutkan Sweet. Sontak Sweet pun membalikkan badan. Matanya membulat saat melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini.


"Cherry?" ucap Sweet tidak percaya. Bagaimana mungkin wanita itu ada di sini? Bukankah ia sedang melakukan pemotretan untuk waktu yang panjang. Pikirannya.


"Kenapa kau kaget? Aku lebih berhak ada di sini." Cherry menatap Sweet remeh.


"Aku tidak peduli," ucap Sweet santai. Lalu ia pun bergerak pergi dari sana. Namun langkahnya terhenti saat Cherry mengatakan sesuatu.


"Aku rasa waktumu di sini tidak akan lama lagi."


Sweet berbalik, memberikan tatapan tajam pada Cherry. "Apa aku harus percaya padamu?"


"Tentu, kau akan segera percaya." Cherry tertawa lepas. Seakan kemenangan ada di tangannya.


"Ana," panggil seseorang. Ke dua wanita yang sedang beradu argumen itu seketika menoleh bersamaan. Di sana Nissa terus bergerak menghampiri keduanya. Cherry yang melihat kehadiran Nissa pun tersenyum penuh kemenangan.


"Ana, siapa ini?" tanya Nissa melihat Sweet dan Cherry bergantian. Nissa pun mengulas senyuman tulus pada Cherry. Sedangkan wanita itu membalasnya dengan seringaian.


Ah, pucuk dicinta, ulampun tiba. Tidak perlu berusaha keras, umpan sudah muncul lebih dulu. Batin Cherry.


"Tamu kehormatan," sahut Sweet malas. Nissa mengerutkan kening, ia memang tidak mengenal siapa Cherry.


"Hy, aku Cherry. Sepupu suamimu dan juga suami dia," jawab Cherry sambil menunjuk Sweet. Mendengar jawaban angkuh Cherry, Nissa sudah dapat menebak jika wanita itu memiliki perangai buruk.

__ADS_1


"Ana, lebih baik kita masuk. Ini masih pagi, kau belum sarapan bukan?" ujar Nissa hendak menarik tangan Sweet. Namun dengan cepat Cherry menahannya.


"Aku masih punya urusan dengannya," ujar Cherry sedikit mendorong Nissa hingga berada tepat di bibir kolam. Sweet kaget melihat sikap Cherry pada Kakak iparnya.


"Jaga sikapmu, kau harus menghormati siapa yang lebih tua. Aku rasa usiamu sudah cukup matang untuk faham semua itu." Sweet memberikan tatapan tidak suka pada Cherry. Wanita itu sudah keterlaluan menurutnya.


"Ana, jangan terlalu ditanggapi. Mari masuk," ajak Nissa.


"Baiklah-baikalah, aku minta maaf." Cherry sedikit bergerak mendekati Nissa. "Aku rasa sudah waktunya untuk kau pergi dari sini, Sweet."


Byur!


Cherry berhasil mendorong Nissa masuk ke dalam kolam yang memiliki kedalaman lebih dari dua meter. Sweet terhenyak dan mulai panik bercampur cemas.


"Kak Nissa!" Sweet berteriak kencang saat Nissa tidak muncul dari permukaan. Hanya ujung tangan Nissa yang dapat ia lihat. Ia bingung, karena dirinya juga tidak bisa berenang. Jika ia ikut masuk, sama saja bunuh diri.


"Cherry cepat kau...." Sweet kaget karena tidak melihat keberadaan Cherry di sana. Hingga suara seseorang masuk ke dalam kolam kembali mengejutkannya. Ternyata Alex lah yang terjun langsung untuk membantu Nissa. Dengan cepat Alex membawa Nissa keluar dari kolam. Karena panik, Sweet pun menghampiri mereka.


"Kau...." Langkah kaki Sweet tertahan saat mendapat tatapan membunuh diri Alex.


"Bukan aku yang melakukannya," ucap Sweet mendadak gugup.


"Aku kecewa padamu, Ana!" Alex langsung pergi meninggalkan Sweet yang masih terpaku. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Apa lagi ini? Apa kebahagiaan yang baru saja aku dapat akan sirna kembali? Batin Sweet. Ia terduduk lesu.


Joshua hanya bisa menatap sedih Nyonya besarnya. Maaf, Nyonya. Masalah kali ini aku tidak dapat membantumu. Lelaki itu pun kembali mengekori sang Tuan.


"Ya tuhan!" seru Arnold saat melihat Alex membawa Nissa dalam gendongannya. Wanita itu sudah dalam keadaan pingsan.


"Bawa dia ke rumah sakit," ucap Alex memberikan Nissa pada Arnold. "Aku akan menceritakan semuanya padamu nanti. Setelah semua urusanku selesai."


"Bawa wanita itu kehadapanku." Perintah Alex pada Joshua.


"Baik, Tuan." Lelaki itu pun langsung bergegas pergi untuk menjemput Sweet.


Sweet masih diam di tempatnya dengan wajah yang memucat. Pikirannya melayang kemana-mana. Rasa takut bercampur cemas menggerayangi pikirannya. Dan tidak menyadari kehadiran Joshua di sana.


Melihat keadaan Sweet saat ini, Joshua tampak ragu utuk mengusiknya. Namun perintah Tuan adalah prioritasnya.


"Maaf, Nyonya. Tuan meminta saya untuk membawa anda ke dalam." Joshua sedikit membungkuk untuk membantu Sweet bangun.


"Jo, kau percaya padaku kan? Aku tidak melakukan itu," lirih Sweet seraya menggenggam erat tangan Joshua. Bayangan Alex yang menatapnya penuh kebencian kembali melintas dalam ingatannya.


Joshua bingung, ia tidak tahu harus menjawab apa? Untuk pertama kalinya ia melihat wanita tegar seperti Sweet begitu rapuh dan menyimpan sejuta rasa takut. Bukan takut di salahkan yang Sweet rasakan, ia takut jika Alex benar-benar membuangnya.


"Nyonya bisa menjelaskan semua itu di depan Tuan. Mari, Nyonya." Joshua membantu Sweet untuk bangun. Wanita itu benar-benar sangat rapuh.


Sesampainya di ruang kerja Alex, Sweet kembali dikejutkan dengan kehadiran Gilly dan beberapa pelayan lainnya. Juga beberapa para penjaga ikut hadir di sana.


Alex kembali memberikan tatapan penuh kebencian pada Sweet. Semakin menggores luka dalam hati Sweet, mulutnya terkatup rapat seakan memahami situasi.


"Aku memberikan kepercayaan penuh padamu, menjadikanmu seseorang yang berharga dalam hidupku. Tapi apa balasan yang aku dapat? Kau melukai keluargaku. Apa semua perkataan manismu itu perangkap yang sudah kau siapkan untukku, Ana?"

__ADS_1


Sweet terhenyak mendengar perkataan Alex. Matanya menusuk tajam hingga ke iris milik Alex. Sweet tidak menyukai jika seseorang menuduhnya tanpa bukti. Ia juga tidak ingin menjelaskan apa pun, karena tidak ada yang perlu ia jelaskan. Semua ini bukanlah salahnya.


"Apa yang kalian lihat di taman belakang?" tanya Alex pada para pelayan yang hadir di sana. Empat orang pelayan itu menjatuhkan lututnya secara bersamaan.


"Maaf, Tuan. Saya melihat Nyonya Sweet bertengkar dengan Nyonya Nissa. Lalu saya juga melihat bagaimana Nyonya Sweet mendorong Nyonya Nissa hingga tenggelam di kolam. Kami tidak berani bertindak, karena kamu takut melihat kemarahan Nyonya Sweet." Pengungkapan Gilly benar-benar menguji kesabaran Sweet. Dari mana dialog penuh kebohongan itu berasal?


"Benar, Tuan. Kami juga melihat semua itu," ketiga pelayan lainnya itu ikut menimpali.


Sweet kembali menatap Alex, ia cukup kaget saat melihat pacaran amarah dari tatapan Alex. Lelaki yang sudah ia anggap sebagai pelindungnya.


"Bagaimana dengan CCTV?" tanya Alex begitu geram.


"Maaf, Tuan. CCTV bagian belakang tidak berfungsi. Mohon maaf atas kelalaian kami," ujar salah satu penjaga keamanan.


"Lalu apa kerja kalian?" Alex memukul meja dengan kasar. Membuat semua orang terkejut. "Ambil gaji kalian, dan jangan pernah kembali."


Ketiga penjaga itu kaget bukan main, mereka hanya bisa pasrah dan nerima hukuman atas kelalaiannya.


"Keluar kalian semua!" Alex kembali berteriak. Membuat semua orang yang ada di sana bergetar ketakutan. Para pelayan dan penjaga itu pun langsung beranjak pergi.


Sweet yang merasa terusir pun hendak pergi dari sana. Namun suara barithon milik Alex berhasil menahan langkahnya.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi?"


Sweet memejamkan matanya, mencoba untuk mengatur napas yang sempat tercekat. Kemudian ia pun berbalik, menghadap sang suami yang sedang dikuasai amarah.


"Kau tidak ingin menjelaskan sesuatu padaku?" tanya Alex.


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan, karena aku tidak melakukan kesalahan apa pun." Sweet berusaha untuk tetap tenang di depan Alex. Meski hatinya terus memberontak untuk mengatakan apa yang terjadi. Tetapi semua itu percuma, Alex tidak akan mempercayainya saat ini. Keadaan lelaki itu sedang tidak bisa diajak kompromi.


Jawaban yang Sweet lontarkan semakin memicu kemarahan Alex. Terlihat jelas dari matanya yang memancarkan warna merah menyala.


"Aku tahu kau tidak mungkin mempercayaiku, karena di hatimu sama sekali tidak ada namaku, Mas. Aku tidak akan pernah menjelaskan apa pun," lanjut Sweet dengan tutur kata yang lembut.


"Ya, Aku tidak akan pernah percaya padamu. Mungkin hari ini kau menyakiti Nissa, besok siapa lagi yang akan kau sakiti, huh?" Perkataan Alex begitu penuh penekanan.


Aku tidak pernah menyakiti siapa pun, tapi kamu yang menyakiti hatiku, Mas. Dengan ketidak percayaanmu padaku, kamu menunjukan jika aku tidak ada artinya dalam hidupmu. Karena kepercayaan adalah kunci utama dalam sebuah ikatan cinta. Batin Sweet.


"Demi kebahagiaanmu, demi masa depanmu, kau tidak akan membiarkan siapa pun menghancurkannya bukan? Kau akan menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalanmu, itu yang kau katakan bukan?"


Sweet terhenyak mendengar setiap kata yang Alex keluarkan. Perkataan yang pernah ia ucapkan pada seseorang. Bagaimana mungkin Alex bisa tahu setiap kata yang ia tujukan untuk seseorang?


"Katakan padaku, apa kau menemui orang itu?" tanya Sweet melangkah cepat mendekati Alex. Menarik kerah kemeja milik suaminya dengan begitu erat.


"Jadi benar kau sudah menemukan ke dua orang tuaku?" lanjut Sweet menatap Alex penuh selidik. Tatapan penuh harap juga ia berikan pada Alex.


Bukanya menjawab, Alex malah mendorong Sweet agar menjauh darinya. Lalu mengapit erat rahang Sweet dengan jemarinya. Membuat Sweet meringis kesakitan.


"Awalnya aku tidak percaya dengan ucapan tua bangka itu, tapi sekarang kau mengatakan itu dari mulutmu sendiri. Kau memang wanita licik, Ana. Benar kata orang, darah lebih kental dari air. Dan tidak akan merubah siapa dirimu."


Sweet sama sekali tidak mengerti dengan perkataan Alex. Ia terus berusaha agar Alex melepas cengkraman erat di rahangnya.

__ADS_1


"Aku memang bodoh, terbuai dengan mulut manismu. Tanpa aku sadari, kau memiliki bisa yang mematikan." Alex berbisik tepat di telinga Sweet. Wanita itu semakin bingung ke mana jalan pembicaraan Alex.


"Pergi dari hadapanku, aku tidak ingin melihat wajahmu!" Alex mendorong tubuh Sweet hingga terhuyung dan hampir terjatuh. Beruntung sebuah sofa menahan tubuhnya. Sweet pun berjalan pelan, meninggalkan ruang kerja dengan perasaan sedih. Ia masih belum mengerti dengan semua yang terjadi.


__ADS_2