Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 30


__ADS_3

Berlin, Germany


Di sebuah ballroom hotel mewah nan megah milik kelurga besar Digantara. Terlihat dua pasang pengantin tengah berdansa bersama pasangan masing-masing. Mereka tak lain adalah Alexa dan Winter, juga Arel dan Sky.


Alexa terlihat begitu anggun dan menawan dengan balutan wedding dress berwarna gading yang memperlihatkan punggungnya yang mulus. Sedangkan Winter mengenakan tuxedo warna senada dengan sang istri. Lelaki itu terus mengembangkan senyuman sangking bahagianya. Begitu pun sebaliknya.


Di sisi lain, Sky tak kalah cantik dan anggun dalam balutan wedding dress berwarna biru langit. Begitu pun dengan Arel yang mengenakan pakaian warna senada. Arel begitu posesif merengkuh pinggul sang istri dan terus bergerak pelan mengikuti alunan musik.


"Winter, hari ini kau benar-benar sangat tampan." Puji Alexa mengedipkan sebelah matanya. Winter tersenyum geli.


"Kau lebih menggemaskan, Baby. Siapkan dirimu untuk malam pertama kita."


"Aku sudah mempersiapkan diri sejak jauh-jauh hari, Baby. Aku sudah siap lahir dan batin." Balas Alexa tersenyum nakal.


"Aku harap kau tak menangis malam ini."


"Jika aku menangis, kau satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab."


Winter memberikan kecupan hangat dikening istrinya. Sedangkan sang empu hanya mampu memejamkan mata saat merasakan kehangatan yang mengalir disetiap nadinya. "Aku akan mempertanggung jawabkan jika perbuatanku nanti membuahkan hasil."


Alexa tertawa renyah. "Aku ingin punya lima anak kembar yang sama tampannya denganmu."


Winter tersenyum lebar. Kemudian mengecup bibir tipis sang istri. "Aku tidak sabar untuk memakanmu, Sayang. Kau sangat menggemaskan."


"Belajarlah bersabar, karena buah kesabaran itu sangat manis. Kau lihat Kakak iparku...." Winter menoleh ke arah pasangan pengantin yang tak jauh dari mereka. "Dia sudah mendapatkan buah kesabarannya selama ini, aku sangat bahagia melihat Arel sudah kembali seperti dulu. Tidak ada lagi lelaki brengsek yang kita kenal, dia sudah kembali pada dirinya sendiri."


Arel terlihat mengecup bibir istrinya dengan gemas.


"Hentikan itu, kau tidak malu dilihat orang?" Bisik Sky merasa jengah dengan sikap mesum suaminya. Bahkan tak mengenal tempat dan waktu.


"Kenapa aku harus malu? Kau sudah menjadi milikku seutuhnya." Balas Arel kembali mengecup bibir istrinya. Sky yang kesal pun memukul bahu suaminya. "Menyebalkan."


"Kau benar-benar cantik, My beautiful sky."


"Dan kau sangat tampan, suami mesumku."


"Aku hanya mesum saat bersamamu." Kata Arel tersenyum manis.


"Aku tidak percaya." Ketus Sky memalingkan wajahnya ke tempat lain. Namun dengan cepat Arez menarik dagunya.


"Jangan pernah memalingkan wajahmu saat aku di depanmu, Sayang." Arel menyatukan keningnya dengan sang istri. Hidung mancung mereka pun saling beradu.


"Arel, aku minta maaf. Kita belum sempat honeymoon, dan sekarang aku sudah hamil. Maaf sudah menghancurkan semua rencanamu, Arel." Ucap Sky penuh penyesalan.


"Kenapa harus meminta maaf huh? Justru kehamilanmu adalah kado terindah untukku, Gabriel akan memiliki seorang adik. Rumah kita akan di penuhi suara teriakan mereka. Aku tidak sabar menantikan itu, Sayang." Balas Arel dengan tulus.

__ADS_1


"Terima kasih, Suamiku. Kau selalu mengerti apa pun kondisiku, menerima segala kekuranganku. Kau juga memberikan begitu banyak cinta dalam hidupku. Sampai aku lupa seperti apa rasanya bernapas. Aku bahagia, Arel." Sky memejamkan mata saat hembusan napas berat suaminya meyapu wajah.


"Aku akan selalu memberikan kebahagian untukmu, sudah cukup kau menderita selama ini, Sayang. Seperti janjiku, besok pagi aku akan membawamu dan Gabriel kabur dari mansion. Aku juga akan kembali kerja diperusahaan. Kemudian membeli rumah besar untuk kita. Tidak mungkin selamanya kita tinggal di penthouse yang kecil itu. Anak-anak akan segera beranjak dewasa, kita harus memikirkan masa depan mereka."


Sky mengangguk pelan. "Jika sudah berkerja, jangan seperti Kakakmu yang lupa waktu dan menghabiskan masa di sana. Kau harus pulang karena punya aku dan Gabriel. Dia juga akan selalu membutuhkan sentuhanmu." Sky menempelkan tangan suaminya di perut.


"Tentu, Sayang. Aku bukan penggila kerja sepertinya. Tapi aku dengar, dia sudah mulai tak fokus bekerja. Seprtinya aku punya kesempatan untuk merebut posisinya." Gurau Arel tertawa renyah.


"Jangan pernah berebut apa pun dengan saudaramu, Arel. Kau harus mengalah, jangan membuat permusuhan dalam ikatan darah. Aku tidak suka itu. Aku tidak butuh kemewahan, Arel. Aku hanya butuh kasih sayangmu."


"Tidak akan terjadi permusuhan diantara kami, karena kami sudah bersumpah untuk selalu terikat satu sama lain. Wajar jika dalam persaudaraan terdapat pertengkaran kecil. Tapi itu tak akan berlangsung lama, karena ikatan itu akan menarik kami kembali dalam satu lingkaran. Lingkaran merah yang tak akan bisa dirobohkan oleh apa pun dan siapa pun, kecuali kematian. Siapa pun yang lebih dulu pergi di antara kami, maka lingkaran itu akan cacat selamanya dan perlahan melapuk."


Sky terharu mendengar itu. Ia tak pernah mendengar ikatan persaudaraan seerat itu. "Aku bahagia karena menjadi bagian hidup kalian."


"Hm." Arel mengangguk dan memberikan kecupan hangat di kening istrinya. Lalu pandangan Arel pun menangkap sosok yang sejak tadi mereka bicarakan. "Kau lihat, dia selalu muncul saat kita membicarakannya." Bisik Arel. Sontak Sky langsung menoleh.


Arez kini sudah berdiri di sisi meja panjang dengan berbagai jenis minuman. Lelaki itu terlihat tampan dengan balutan tuxeo hitam. Ia bergerak mengambil segelas minuman, lalu meneguknya sampai tandas. Matanya elangnya terus menyelisik ke setiap kerumunan orang. Entah siapa yang sedang ia cari?


"Aku tebak dia baru sampai dan akan pergi dalam dua atau tiga puluh menit lagi. Cih, bahkan dia tak berani membawa istrinya." Komentar Arel tersenyum miring.


"Mungkin saja istrinya sedang sibuk, jangan berburuk sangka dulu." Kata Sky yang juga masih memperhatikan Kakak iparnya itu.


"Dia bukan tipe orang yang mudah di tebak, tapi tebakkanku tidak pernah meleset. Dia datang hanya ingin memperlihatkan wajahnya di depan Mommy and Daddy. Setelah itu dia akan pergi lagi. Aku berani bertaruh, Sayang."


Sky menatap suaminya dengan senyuman lebar. "Aku percaya padamu, tapi aku sangat penasaran dengan istrinya. Aku yakin dia sangat cantik."


"Apa karena itu dia enggan menunjukkan Kakak ipar?" Tanya Sky semakin penasaran.


"Tidak ada yang memahami isi hatinya, termasuk Mommy sekali pun. Sejak kecil dia memang aneh." Ujar Arel menaikkan kedua bahunya.


"Apa pun alasannya, dia pasti punya alasan yang kuat. Dukung dia apa pun keputusannya."


"Hm."


****


Winter dan Alexa mengerut bingung karena beberapa saat yang lalu mereka mendapat sebuah kiriman hadiah berbentuk segi empat dengan ukuran yang lumayan besar.


"Siapa yang mengirimkan hadiah ini? Tidak ada nama pengirimnya." Kata Alexa meneliti benda itu. Kemudian perlahan ia membuka kertas pembungkus itu dengan hati-hati.


"Winter, ini sebuah lukisan. Aku rasa Arez yang mengirimkan ini." Pekik Alexa tersenyum lebar. "Ternyata dia sangat romatis."


"Tunggu, aku rasa ini bukan lukisan Arez. Dia bukan tipe pelukis yang menggunakan gaya ini. Cobak buka semua pembungkusnya." Winter membantu istrinya membuka pembungkus itu. Lalu mereka pun mendapat sepucuk surat dari balik lukisan itu. Alexa langsung membuka isi surat itu.


Hai... Alexa, Winter.

__ADS_1


Happy Wedding day for you.


Em... sorry jika aku memebuat kalian terkejut dengan datangnya hadiah ini secara tiba-tiba. Sebenarnya aku juga canggung memberikan hadiah ini karena aku belum pernah bertemu kalian secara langsung. Tapi aku ingin menjalin hubungan baik dengan kalian sebelum kita bertemu. Aku harap kalian senang dengan hadiahku. Jika kalian tidak menyukainya, kalian bisa membuangnya. Aku tidak akan marah.


Aku sengaja melukis bunga tulip putih untuk kalian. Yang memiliki arti kesucian, penghoramatan dan kerendahan hati. Sangat cocok untuk kepribadian kalian berdua. Sekali lagi aku ucapkan selamat menempuh hidup baru. Salam kenal dariku.


^^^Sabrina, your sister-in law.^^^


Mulut Alexa terbuka lebar setelah membaca surat itu. "Omg, jadi ini pemberian Kakak ipar? Wah, dia sangat romantis. Dan ternyata dia juga seorang pelukis hebat. Aku menyukainya, Winter. Bahkan aku belum bertemu denganya, tapi aku langsung jatuh hati padanya. Si pangeran es itu benar-benar kelewatan karena terlalu lama menyembunyikan istrinya. Aku semakin penasaran siapa dia sebenarnya? Apa wanita bertopeng itu?"


"Aku tidak tahu, Sayang." Jawab Winter sekenannya.


"Aku akan menghubungi Arez besok, bahkan aku tak melihat batang hidungnya tadi. Sialan, dia membuatku mati penasaran." Omel Alexa sambil melipat kertas itu kembali. Lalu menatap lukisan itu dengan senyuman penuh kebahagiaan. "Aku akan memajangnya di kamar kita, Winter."


"Terserah padamu, sekarang saatnya kita melanjutkan tugas kita, Sayang. Ayolah, aku sudah tidak tahan." Rengek Winter seperti anak kecil.


"Bersabarlah sedikit, Winter. Aku harus meletakkan ini dulu. Jangan sampai dia lecet." Alexa membawa lukisan itu dengan hati-hati ke pojokan kamar hotel. Sedangkan Winter mendengus kesal karena waktunya sudah terbuang sia-sia.


Alexa tersenyum geli saat melihat wajah suaminya yang ditekuk. Ia merangkak naik ke atas pembaringan. Duduk di pangkuan Winter yang masih bersandar di kepala ranjang. Mengelus rahang tegas suaminya dengan gerakan menggoda. "Sudah aku katakan, kau harus belajar bersabar."


"Bagaimana aku bisa bersabar saat melihat santapan lezat di depan mataku huh? Kau sangat seksi malam ini, Baby." Winter langsung menyambar bibir tipis istrinya dengan rakus. Sejak tadi ia menahan gelora yang tengah membara dalam dirinya. Ditambah lagi pakaian Alexa yang super tipis itu kembali menggoyahkan pertahanannya.


"Aku milikmu, Winter." Alexa terlihat pasrah saat suaminya mulai menanggalkan pakain tipis itu dan melancarkan akisnya. Kedua insan itu benar-benar menyalurkan hasratnya yang sudah lama terpendam. Meraup malam panjang dengan penuh kehangatan.


Di lain tempat, lebih tepatnya di kamar hotel dengan nuansa malam pengantin. Sky dan Arel tampak tengah duduk bersandar di kepala ranjang. Membaca sepucuk surat yang didapat dari sebuah lukisan yang diterimanya beberapa menit yang lalu.


"Sudah aku tebak, dia gadis misterius. Sangat cocok dengan si pangeran es dari kutub utara. Keduanya memiliki jiwa yang sama." Kata Arel tersenyum geli.


"Tapi aku suka lukisan ini, Gabriel sangat lucu di sini. Dia tersenyum dengan dua gigi kecilnya yang menggemaskan." Sky mengusap wajah putranya yang terdapat di dalam lukisan.


"Kakak ipar memang memiliki pesona yang luar biasa, dia berhasil memikat hati orang lain tanpa harus bertatap muka. Pantas saja si es balok terus menyembunyikannya, dia takut ada yang merebut Kakak ipar. Siapa tadi namanya?"


"Sabrina." Sahut Sky masih setia menatap lukisan itu. Ia benar-benar menyukainya. Arel yang melihat itu tersenyum lebar.


"Kita akan memajangnya di kamar, bagaimana?"


Sky langsung mengangguk antusias. "Gabriel juga akan menyukai ini."


"Hm. Dan sekarang kau harus tidur, Sayang." Arel menaruh lukisan itu di dekat nakas. Kemudian kembali memusatkan perhatian penuh pada istrinya.


"Seharian penuh kau terus berdiri di saat hamil muda seperti ini. Tidurlah, aku akan memelukmu sepanjang malam." Arel memberikan kecupan hangat diperut rata istrinya. Karena usia kandungan Sky baru memasuki tiga minggu.


"Aku melewatkan waktu saat kau hamil Gabriel, kali ini aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk memanjakanmu." Arel terus mengecupi perut istrinya dengan penuh kasih sayang.


Sky tersenyum bahagia. "Aku ingin memelukmu." Sky berbaring dan memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


"Tidurlah, aku mencintaimu." Ucap Arel mengecup kening Sky. Wanita itu tersenyum dan memejamkan mata. "Aku juga mencintaimu, suamiku." Balasnya sebelum benar-benar terlelap.


__ADS_2