Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
Season 3 (62)


__ADS_3

Rhea menghela napas panjang saat dirinya tiba di perusahaan Gabriel. Hari ini adalah hari terakhir waktu kesepakatan mereka, di mana Zhea harus memberi jawaban pasti pada Gabriel.


Rhea pun bergegas masuk dan mendatangi meja resepsionis.


"Permisi, saya ingin bertemu dengan Tuan Gabriel. Apa beliau ada?" Tanyanya pada sang resepsionis.


"Ah, apa Anda Nona Zhea?" Tanya sang resepsionis memastikan.


Rhea pun mengangguk kecil yang disambut senyuman ramah oleh resepsionis cantik itu. "Silakan langsung ke ruangan Tuan muda, ada di lantai teratas. Nona diperbolehkan naik lift pribadi CEO kami. Mari saya antar."


Rhea mengerutkan dahi, pasalnya ia belum membuat janji dengan Gabriel. Namun kenapa Gabriel seolah sudah menyambutnya. Apa mungkin lelaki itu tahu dirinya akan datang?


Rhea tak ingin ambil pusing, ia pun bergegas mengikuti intruksi gadis resepsionis. Yaitu menaiki lift khusus CEO.


Di dalam lift, Rhea terlihat gugup. Karena ini kali pertamanya ia mendatangi Gabriel secara pribadi di kantornya yang besar ini.


Ting!


Suara dentingan lift pertanda dirinya sudah sampai di lantai atas pun membuatnya semakin gugup. Gadis itu membuang napas perlahan, lalu bergegas keluar dari sana sambil memegang erat tasnya. Awalnya Rhea tampak bingung karena terdapat lorong panjang di sana. Sampai seorang laki-laki berjas hitam pun mendatanginya.


"Nona Zhea?" Tanyanya dengan sopan. Zhea pun mengangguk.


"Mari ikuti saya." Pintanya. Dan Zhea pun cuma bisa menurutinya. Mengikuti lelaki asing itu dan berusaha sesantai mungkin.


Langkah kaki mereka pun terhenti tepat di depan pintu ganda yang bertuliskan Chief Executive Officer Room.


Wait! Jangan katakan Gabriel sudah menjadi CEO sekarang? Ya Tuhan, kenapa aku tidak tahu soal ini? Batin Rhea keheranan.


"Silakan masuk, Nona. Tuan Gabriel sudah menunggu Anda."


Rhea pun tampak kaget. "Menungguku? Dari mana dia tahu aku akan datang?"


Lelaki asing itu cuma tersenyum dan kembali mempersilakan Rhea masuk. Dan tanpa banyak bertanya lagi Rhea pun bergegas masuk. Suasana hangat pun langsung menyentuh kulitnya, juga aroma khas Gabriel menyeruak dalam indera penciuman.


"Permisi." Ucapnya dengan sorot mata tertuju pada laki-laki tampan yang tengah berdiri menghadap ke luar jendela.


Gabriel pun berbalik, lalu bibirnya mengembangkan senyuman lebar. "Aku tahu kau akan datang padaku. Jadi duduklah, ayo kita bicara." Ajaknya seraya berjalan ke arah sofa mewah. Lalu duduk di sana dengan penuh wibawa.


Tanpa menunggu lagi Rhea pun ikut duduk di sana.


"Jadi?" Tanya Gabriel membuka pembicaraan.


Rhea menghela napas panjang. "Aku terima lamaranmu."


Mendengar itu Gabriel tersenyum puas.


"Tapi aku punya syarat." Imbuh Rhea yang berhasil membuat Gabriel kaget.


"Syarat?"


Rhea mengangguk. "Saat menikah nanti, aku tidak akan duduk di sampingmu saat ijab kabul dilangsungkan."


Gabriel tersenyum geli. "Hanya itu?"


Rhea mengangguk. "Hanya itu."


Gabriel mengangguk setuju. "Tidak masalah, asal kau tidak lari saja saat pernikahan berlangsung. Karena akan aku pastikan kau tak bisa pergi dariku setelah kita menikah."

__ADS_1


Rhea terdiam untuk beberapa saat. Dan itu membuat Gabriel merengut bingung.


"Atau... kau memang berencana kabur saat pernikahan nanti." Tebak Gabriel. Sontak Rhea pun menggeleng kuat.


"Aku tidak mungkin melakukan hal bodoh itu." Jawabnya dengan lugas.


Gabriel tersenyum lagi. "Seperti yang aku katakan, meski kau berniat seperti itu. Aku tak akan pernah membiarkanmu pergi."


Rhea menatapnya lekat tanpa mengeluarkan komentar apa pun.


"Jadi kapan kita langsungkan pernikahan? Grandma ingin pernikahan ini dilangsungkan secepat mungkin. Kau tidak perlu memikirkan semuanya, aku dan keluargaku yang akan mengatur pernikahan ini. Katakan saja kau ingin konsep pernikahan seperti apa."


Rhea mengangguk. "Kita bicarakan ini di depan keluargamu."


Gabriel mengangguk setuju.


"Oh iya, untuk gaun pengantin. Apa boleh aku yang mengatur sendiri?" Imbuh Rhea.


Gabriel pun kembali mengangguk. "Sepertinya kau sudah punya rancangan sendiri untuk pernikahan kita, huh? Aku tahu sejak lama kau menunggu momen ini bukan?"


Rhea memutar bola matanya jengah. "Dasar narsis." Gumamnya sangat pelan.


"Baiklah, mari kita tentukan jadwal pertemuan keluarga. Lebih cepat lebih baik bukan?" Ujar Gabriel.


Rhea pun cuma bisa menyetujuinya. "Lusa bagaimana? Untuk hari ini dan besok aku masih sibuk."


"Tidak masalah." Sahut Gabriel yang diiringi senyuman lebarnya. "Aku akan bicara pada Mommy nanti."


Rhea mengangguk. Dan keduanya pun mendadak diam untuk beberapa saat. Lalu pandangan Gabriel pun tertuju pada penampilan Rhea saat ini. Ia baru sadar jika Rhea berpakaian formal.


"Aku ada appointment dengan beberapa klien. Kenapa?"


Gabriel menggeleng kecil. "Hari ini kau terlihat sangat cantik. Bagaimana jika hari ini aku menemanimu?"


Rhea mengerutkan dahi. "Kau yakin? Bukankah kau juga harus bekerja?"


Gabriel tersenyum. "Aku pemilik perusahaan ini, jadi aku bisa masuk kapan pun aku mau."


Rhea menghela napas. "Terserah kau saja, tapi aku benar-benar sibuk hari ini. Kau pasti akan bosan jika bersamaku."


"Selama aku bisa melihat wajah cantikmu, rasanya aku tak akan bosan." Gombalnya yang berhasil membuat Rhea mual.


"Berhenti menggombal, itu tak akan berguna untukku. Simpan saja itu untuk wanitamu di luar sana." Ketus Rhea.


Mendengar itu Gabriel tertawa puas. "Kau cemburu?"


"Tidak sama sekali."


Gabriel tersenyum geli. "Kau tenang saja, aku sudah memutuskan untuk berhenti mengganggu wanita lain. Karena saat ini aku sudah punya istri yang cemburuan."


Rhea menatap Gabriel malas, lalu bangun dari duduknya. "Sudahlah, aku tidak punya waktu untuk meladeni gombalanmu. Aku harus bertemu klien setengah jam lagi."


"Baik, aku akan ikut denganmu." Gabriel pun ikut bangun dari duduknya.


Rhea pun bergegas pergi dari sana yang susul oleh Gabriel.


****

__ADS_1


"Apa mereka sudah datang?" Tanya Rhea pada sang asisten setibanya di butik.


"Sudah, Miss. Mereka ada di ruang tunggu." Jawabnya seraya melirik ke arah Gabriel. Gadis bernama Ge itu merasa heran karena keduanya datang bersama.


Rhea pun langsung mengajak Gabriel masuk.


Sepeninggalan mereka, salah satu karyawan lain menghampiri Ge. "Ya Tuhan, Apa aku salah lihat? Mereka datang bersama? Wah, aku harap mereka benar-benar berjodoh. Yang satu cantik dan satunya lagi tampan. Bukankah itu pasangan serasi?" Histerisnya dengan wajah penuh harap.


Ge menggelengkan kepalanya. "Sudah jangan mengosipi atasan, sebaiknya kau kembali bekerja." Titahnya. Sang karyawan itu pun mengangguk patuh, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Rhea saat memasuki ruang tunggu bersama Gabriel tentunya.


Spontan pasangan yang sejak tadi menunggu pun bangkit dan terlihat kaget saat melihat keberadaan Gabriel di sana. Bukan hanya mereka, Gabriel juga langsung kaget melihat mereka. Seketika air wajahnya langsung berubah dingin saat bertemu tatap dengan pria tua yang beberapa hari lalu ia temui.


Rhea yang tak mengenali keduanya pun tampak bingung dengan raut wajah mereka. Namun, detik berikutnya si wanita yang tak lain Ibu kandungnya itu pun langsung memeluk Rhea.


Tentu saja Rhea kaget bercampur bingung.


"Zhea, Mommy sangat merindukanmu. Kau kemana saja huh? Mommy dan Daddy mencarimu kemana-mana." Histeris Berta memulai dramanya.


Rhea yang sejak awal tak mengenali wajah Ibunya pun kini menyadari siapa wanita yang saat ini memeluknya itu. Tubuhnya mendadak kaku. Pertama kalinya ia dipeluk oleh wanita yang sudah melahirkannya. Juga wanita yang tega meninggalkannya dengan sang Ayah dalam keadaan susah.


Perlahan manik mata Rhea bergerak ke arah Liam. Seketika tatapan itu berubah dengan penuh kebencian. Liam yang menyadari hal itu pun mendadak panik. Ditambah ia juga mendapat tatapan yang sama dari Gabriel.


Sial! Kenapa semuanya jadi begini? Wanita bodoh ini juga kenapa jadi menakutkan? Aku seperti melihat orang lain dalam dirinya. Batin Liam.


Kenapa dia diam saja. Apa dia sangat membenciku? Tidak, aku harus meyakinkannya. Zhea yang aku kenal sangat lemah jika melihat tangisanku. Kali ini Berta yang membatin karena Zhea yang dia pikirkan itu tak memberikan respon apa pun.


Tak ingin dicurigai, Berta pun melanjutkan aktingnya. "Zhea, Mommy minta maaf. Dulu Mommy salah karena sudah mengusirmu dari rumah. Tapi setelah kau pergi, Mommy dan Daddy terus mencarimu." Tangisan palsu pun mulai ia perankan agar bisa meyakinkan putrinya. Ia tidak tahu saja jika yang saat ini ada dalam pelukannya bukanlah Zhea, melainkan Rhea. Putrinya yang sudah ia buang tanpa ingin tahu bagaimana kondisinya sampai detik ini.


Rhea mendorong tubuh Berta, lalu mundur beberapa langkah. "Mencariku? Sampai mana kalian mencariku? Saat itu aku masih berada di sekitar rumah kalian. Bagaimana cara kalian mencariku sampai aku tak terlihat? Bahkan kau mengabaikanku meski tahu aku kelaparan di pinggir jalan." Bentaknya dengan kilatan amarah di matanya.


Berta cukup terkejut mendengarnya. "Zhea, aku...."


"Cukup! Apa tujuanmu datang kesini? Apa karena uang?" Tanya Rhea dengan tatapan tak bersahabat. Gabriel merengkuh pundaknya, seolah memberikan dukungan pada wanitanya itu agar tak merasa takut sedikit pun.


"Zhea, bukan seperti itu." Berta hendak mendekati Rhea, tetapi Gabriel langsung menahannya.


"Jangan dekati istriku, kau tidak ada hak untuk mendekatinya lagi." Tegas Gabriel.


Berta pun langsung menatapnya tajam. "Aku Ibunya, siapa kau berani melarangku?"


Gabriel tersenyum miring. "Apa kau tuli? Dia istriku, itu artinya aku suaminya." Sahutnya penuh penekanan.


Liam yang tahu situasi tak aman pun langsung menarik istrinya pergi dari sana.


"Tunggu, Liam. Kita belum mendapat apa yang kita inginkan." Histeris Berta menoleh ke arah Rhea dan Gabriel yang masih diam ditempatnya. Namun Liam tak peduli dan terus menariknya pergi dari sana.


"Terima kasih." Ucap Rhea menjauhkan tangan Gabriel darinya. Lalu beranjak duduk di kursi kerjanya. Memijat batang hidungnya karena kepalanya terasa pening. Sepertinya ia sangat shock karena tiba-tiba Ibu kandung muncul diwaktu yang tak ia harapkan. Ah, sampai kapan pun ia tak pernah menginginkan pertemuan ini. Rhea terlalu membenci Ibunya itu. Setelah semua yang Berta lakukan pada Ayah, kembaran dan juga dirinya.


Gabriel duduk dihadapan gadis itu, lalu menatapnya lekat. "Bagaimana kau tidak tahu mereka akan datang ke sini? Beruntung aku ikut denganmu. Jika tidak, kemungkinan besar mereka sudah memiliki rencana licik untukmu."


Rhea menatap Gabriel lekat dengan tatapan sayunya. "Aku tidak tahu sama sekali. Mereka megaku klien yang ingin mendiskusikan soal rancangan gaun."


Gabriel mengguk paham. "Kondisimu sedang tidak baik. Cancel saja pertemuanmu dengan klien hari ini. Aku bisa membantumu bicara dengan mereka."


Rhea mengangguk patuh karena ia memang butuh waktu untuk menenangkan diri.

__ADS_1


__ADS_2