
"Claire." Melvin meraih tangan kekasihnya itu yang sedang mencuci sayuran. Namun, lagi-lagi Claire mengabaikannya. Dan itu membuat Melvin tersiksa. "Ada apa denganmu huh?"
Claire berbalik, lalu memberikan tatapan nyalang. "Sebaiknya kau pulang, El."
Dahi Melvin mengerut. "Kau mengusirku?"
"Ya." Jawab Claire melanjutkan pekerjaannya.
Melvin tersenyum kecut. "Jadi kau mengusirku setelah aku membantumu huh?"
"Ya! Dan aku mengucapkan terima kasih karena kau sudah membantuku. Sepertinya hubungan kita harus berakhir sampai di sini." Melvin terkejut mendengarnya. Lalu Claire hendak pergi, tetapi Melvin langsung menahannya.
"Ada apa denganmu, Cliare?" Tanya Melvin mengamit tangan kekasihnya itu. "Kau membuatku bingung setengah mati."
Deena yang sejak tadi ada di sana pun cuma bisa menggeleng dan tak berniat ikut campur.
Claire memalingkan wajah dan berusaha melepaskan tangannya dari Melvin.
"Sayang." Melvin menarik dagu gadisnya itu. Dan lagi-lagi Claire memberikan tatapan nyalang padanya. "Ada apa huh?"
"Sebaiknya kita berhenti sampai di sini, El."
"Apa yang kau bicarakan huh?"
"Sejak awal hubungan kita tidak jelas kan? Ayo kita jalan di jalur masing-masing." Claire menatap Melvin serius.
Melvin tertawa hambar. "Alasanmu tidak logis, Claire."
Claire menjauhkan tangan Melvin darinya, lalu mundur beberapa langkah. "Aku rasa kita tidak cocok." Setelah mengatakan itu Claire pun berlari meninggalkan Melvin yang masih kebingungan.
Deena berdeham, spontan Melvin pun menoleh. "Apa kau tahu apa yang terjadi?"
Deena mengedikkan kedua bahunya.
Melvin menghela napas berat, lalu beranjak pergi dari sana dengan raut kecewa.
Deena menghela napas berat. "Dasar bocah." Kemudian ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Di kamar, Claire duduk di tepi ranjang dengan wajah kesal. "Dasar brengsek. Enak saja dia ingin menjadikanku mainan, meskipun tidak jadi tetap saja menyebalkan. Memangnya dia sehebat apa? Kita lihat, sejauh mana kau bertahan huh?"
Tok tok tok
Claire menoleh saat mendengar ketukan pintu.
"Sayang, kau mendengarku? Buka pintunya, ayo kita bicara." Suara Melvin terdengar samar di luar sana.
Claire tersenyum penuh kemenangan. "Pergi, tidak perlu pedulikan aku." Teriaknya.
Melvin yang mendengar itu menempelkan keningnya di daun pintu dengan mata terpejam. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, Claire? Kenapa kau menjauhiku seperti ini?"
"Aku bilang pergi, El. Pulang saja ke rumahmu." Teriak Claire lagi.
"Claire, jangan menyiksaku." Lirih Melvin.
__ADS_1
"Sebaiknya kau pulang, El." Teriak Claire lagi.
Mendengar itu Melvin pun menyerah. "Baiklah, aku akan pulang malam ini."
"Ya, pergilah." Sahut Claire yang berhasil membuat Melvin kaget.
"Aku benar-benar akan pulang, Claire."
"Ya sudah pulang saja sana." Claire tertawa kecil. "Memangnya kenapa kalau dia pulang? Aku kan bisa menyusulnya kapan saja. Dia pikir aku akan goyah huh? Tidak akan pernah. Enak saja dia pernah berpikir untuk mempermainkanku." Gerutunya karena mengingat ucapan Melvin malam tadi. Semalam memang ia tidak benar-benar tertidur ketika Melvin masuk ke kamarnya. Karena itu ia bisa mendengar apa pun yang dikatakan kakasihnya itu. Tentu saja ia senang karena tahu soal perasaan Melvin padanya, akan tetapi ia juga kesal karena lelaki itu sempat ingin menjadikannya bahan koleksi. Menyebalkan.
Melvin menghela napas gusar. "Aku pergi." Ulangnya, berharap Claire keluar dan menahannya untuk pergi. Sayangnya gadis itu begitu teguh dengan pendiriannya. "Aku pulang sekarang."
"Ya, jangan lupa bawa barang-barangmu." Sahut Claire lagi.
Melvin kembali mengetuk pintu. "Claire, aku akan benar-benar pulang."
Claire tidak meyahut, dan itu membuat Melvin berpikir jika gadisnya itu luluh. Pintu kamar pun terbuka, seketika senyuman Melvin pun mengembang. "Sa...."
Bruk!
Claire melempar baju Melvin yang tertinggal di kamarnya begitu saja dan kembali menutup pintu.
Melvin terperangah karena hal itu. Sikap Claire membuatnya bingung setengah mati. "Baby, kau yakin membiarkanku pergi?"
"Ya." Teriak Claire lagi.
Melvin mendengus sebal. "Baiklah, aku akan pergi." Dan tidak ada sahutan, membuat Melvin semakin kesal dan beranjak pergi dari sana.
Namun, sedetik kemudian ia tersenyum senang. "Jadi dia sungguh mencintaiku? Aaaa...." gadis itu berteriak kesenangan sembari membingkai kedua pipinya.
Sedangkan Melvin, lelaki itu benar-benar memutuskan untuk pulang malam ini. Toh iya juga harus kembali bekerja. Dan masalah gadisnya, ia pasti akan kembali lagi. Untuk sementara ia akan membiarkan Claire mengobati kerinduan pada keluarganya. Jika waktunya sudah tepat, ia akan membawa semua orang kembali ke Ibu Kota.
****
Sepulangnya Melvin ke Ibu Kota, Claire merasa sedikit menyesal karena mengusir lelaki itu dengan kasar. Bahkan ia tak menemuinya saat lelaki itu hendak pergi. Kini Claire duduk termenung di rooftop, menatap jauh gelapnya malam.
"Ekhem." Deham Jef yang berhasil menarik atensi sang adik. Pemuda itu pun berjalan pelan mendekati adiknya, lalu dufuk disisinya. "Galau huh?"
Claire menatap Kakaknya. "Apa sikapku keterlaluan?"
Jef tersenyum sembari menggenggam tangan Claire. "Aku rasa iya."
Claire berdecak sebal dan menarik tangannya dengan kasar. Lalu kembali melempar pandangan ke arah laut lepas. "Tapi ini juga salahnya, enak saja dia ingin menjadikanku bahan mainan. Memangnya aku ini barang?" Gerutunya.
Jef terus menatap adiknya lamat-lamat. "Bukankah itu memang sifatnya?"
"Iya sih, tapi tetap saja membuatku kesal." Sahut Claire dengan bibir menyebik.
"Apa kau benar-benar mencintainya?" Tanya Jef serius.
Claire menoleh, lalu mengangguk. "Sepertinya dia akan menjadi cinta pertamaku. Entahlah, rasanya aku ingin terus bersamanya. Bahkan sekarang aku sudah merindukannya."
Jef menghela napas. "Kau yakin dengan reskio yang akan kau ambil? Dia bukan orang sembarangan, bahkan kita tahu dia itu playboy."
__ADS_1
Claire menghela napas berat. "Aku tidak peduli dengan wanita-wanita simpanannya itu. Karena aku yakin dia hanya akan mencintaiku."
"Cih, dasar narsis. Aku tidak percaya kau sepercaya diri ini." Ledek Jef tersenyum jahil.
Claire tertawa kecil. "Tentu saja kita harus percaya dan yakin pada diri sendiri. Buktinya dia mengatakan cinta untukku, padahal pertemuanku dengannya terbilang singkat. Apa mungkin dia memang takdir untukku? Bagaimana tanggapanmu, Kak?"
Jef mengedikkan kedua bahunya. "Entah."
"Ck, dasar. Lalu... bagaimana denganmu huh? Kau sudah punya keksih?" Claire memeberikan tatapan mengejek.
"Aku belum berpikir ke sana." Sahut Jef sekenanya. Sontak Claire pun berdecih sebal.
"Aku tidak percaya. Pasti ada seseorang dihatimu. Ayo katakan, siapa gadis beruntung itu huh?" Pinta Claire yang begitu penasaran dengan kehidupan pribadi Kakaknya itu.
Jef mendengus kecil. "Sudah aku katakan tidak ada."
Claire tertawa lagi. "Jangan membohongiku. Ayo jujur, siapa dia huh? Jangan bilang kau masih perjaka huh?" Godanya lagi.
Jef memasang wajah kesal, karena tebakan adiknya itu sama sekali tak meleset. "Aku baru tahu kau sangat meyebalkan."
Mendengar itu tawa Claire pun semakin menjadi. Dan itu membuat hati Jef terasa hangat. Seolah jiwanya yang selama ini hilang telah kembali. Ia benar-benar bahagia karena bisa melihat tawa adiknya lagi. Rindu yang selama ini menggunung seolah menguap di udara. Tanpa sadar ia pun tersenyum bahagia.
****
Setibanya di mansion, Melvin pun langsung disambut oleh sang Mommy.
"Ya Tuhan, kamu dari mana saja sih?" Tanya Sabrina menatap putranya curiga.
Melvin tersenyum, lalu berhambur memeluk Sabrina. "Miss you, Mom."
Sabrina memukul punggung putranya pelan. "Kau rindu padaku, tapi sebentar-sebentar menghilang. Jawab pertanyaanku dulu, dari mana saja huh?"
Melvin melerai pelukannya, dan kembali menyunggingkan senyuman menawan. "Coba tebak."
"Jangan membuat Mommymu bingung, El. Cepat katakan dari mana?" Lagi-lagi Sabrina memukul anak nakalnya itu.
Melvin tertawa senang. Setelah itu ia mengeluarkan sebuah kalung. Sontak mata Sabrina pun terbelalak dan langsung meraih benda itu. Ditatapnya benda itu lamat-lamat. Ia amat mengenali benda itu. "Dari mana kau dapat benda ini? Ini...."
"Ya, Aunty Deena yang memberikannya."
Ya, sebelum Melvin pergi, Deena sempat menitipkan benda itu padanya. Dan meminta Melvin menyampaikannya pada Sabrina.
Sabrina tersentak. "Deena?"
Melvin mengangguk. Seketika mata Sabrina berkaca-kaca. "Ya Tuhan, di mana kau bertemu dengannya, El?"
Melvin membingkai wajah sang Mommy dengan lembut. "Secepatnya aku akan mempertemukanmu dengannya, Mom. Bersabarlah sedikit okay?"
Mendengar itu Sabrina langsung memeluk putranya. "Ah, Mommy bahagia ternyata dia masih hidup. Mommy akan menunggu waktu itu, El. Secepatnya bawa dia ke sini."
"Tentu."
Aku akan membawanya bersama menantumu, Mom. Imbuh Melvin dalam hati. Lalu ia pun tersenyum dan mengeratkan pelukannya pada sang Mommy.
__ADS_1