
Lea merentangkan kedua tangannya untuk menikmati angin laut yang begitu menyejukkan hatinya. Saat ini gadis itu berada di sebuah kapal pesiar. Seperti janjinya ia akan berkeliling dunia menikmati kesendiriannya.
"Kenapa tidak dari dulu aku melakukan ini?" Gumamnya merasa menyesal karena terlalu banyak membuang waktu untuk hal yang tak berguna sebelumnya.
"Kau berniat bunuh diri?" Celetuk seseorang yang berhasil mengagetkan Lea. Refleks gadis itu menurunkan kedua tangannya lalu berbalik.
"Kau!" Matanya membola saat melihat orang itu yang tak lain adalah Paul. Ditatapnya Paul penuh selidik. "Kau mengikutiku?"
Paul tersenyum menawan. "Percaya diri sekali. Aku juga ingin berlibur. Tidak menyangka melihatmu di sini." Alibinya.
Lea mendengus sebal lalu turun dari sana dan mendatangi Paul. "Bagaimana kau tahu itu aku? Aku membelakangimu."
"Feeling." Sahut Paul dengan santai.
Lea melipat kedua tangannya di dada. "Katakan kau berlibur dengan siapa?"
"Dengan calon istriku." Sahut Paul yang berhasil membuat Lea berbinar.
"Benarkah? Di mana dia?" Lea tampak melihat sekitar, mencari orang yang Paul maksud. Namun tidak ada siapa pun di sana selain mereka berdua.
"Di mana dia, Paul?" Tanya Lea lagi begitu antusias.
Paul tersenyum geli. "Dia ada di depan mataku."
Lea kaget mendengarnya, bahkan wajahnya merona sekarang. "Maksudmu aku?" Gugupnya seraya menunjuk diri sendiri.
Paul tertawa lucu melihat reaksi Lea seperti itu. "Aku hanya menggodamu, lihat kau langsung merona. Apa kau menyukaiku?"
Mata Lea melotot. "Paul!" Dipukulnya lelaki itu dengan kesal. Sedangkan Paul justru tertawa puas karena berhasil menggodanya.
"Aku akan membunuhmu, mencincangmu dan kulempar ke laut. Supaya kau jadi santapan hiu. Menyebalkan." Lea terlihat kesal setengah mati. Sedangkan Paul masih tergelak sendiri.
"Terus saja tertawa, aku benar-benar akan mencabikmu, Paul." Lea menarik lengan Paul lalu menggigitnya kuat.
"Aaaaarrgg." Jerit Paul karena Lea benar-benar menggigitnya seperti drakula.
"Rasakan itu." Lea tersenyum puas lalu meninggalkan Paul begitu saja.
"Hey, kau harus bertanggung jawab." Teriak Paul sambil meringis kecil. "Dia benar-benar mirip drakula. Drakula cantik." Katanya yang kemudian menyusul gadis itu.
Dan kini keduanya tengah makan siang bersama.
"Jadi kau berencana ke mana setelah ini?" Tanya Paul menatap Lea yang tengah asik makan.
Gadis itu menatapnya. "Em... mungkin Prancis atau Dubai. Entahlah, yang jelas aku akan pergi ke dua negara itu. Sudah aku bilang, aku ingin menikmati masa lajangku."
Paul tersenyum. "Jadi kau berencana menikah setelah ini?"
Lea mengangguk. "Aku akan minta Mommy mencarikan lelaki baik. Aku tidak mau membuang waktu lagi dengan hal yang tak berguna."
Paul terdiam beberapa saat. "Seperti apa tipemu?"
Lea tampak berpikir. "Yang jelas dia tulus mencintai diriku apa adanya. Aku tidak peduli dia tampan, kaya atau pun miskin. Yang pasti dia benar-benar menerimaku itu sudah cukup."
Paul tersenyum geli mendengar jawabannya.
"Kau sendiri bagaimana? Kapan akan melamar pujaan hatimu hem? Jangan terlalu lama, kau bisa kehilangan untuk yang kedua kalinya. Itu tidak lucu." Lea tersenyum mengejek.
"Aku sedang melihat waktu yang pas. Apa menurutmu dia menyukaiku?"
__ADS_1
Lea menopang dagu dengan kedua tangannya lalu tersenyum. "Hey, Tuan. Siapa sebenarnya wanita itu hem? Apa aku mengenalnya? Beri tahu aku seperti apa dia? Mungkin aku bisa membantumu."
Paul tersenyum manis lalu meletakkan pisau dan garpunya perlahan. Setelah itu ia menatap Lea lekat. "Dia sangat manis, sedikit berisik, pemberani, juga sedikit gila."
Lea mengerutkan kening dan berusaha mencernanya. "Sepertinya aku tak pernah bertemu gadis seperti itu." Gumamnya.
Paul tertawa kecil kemudian lanjut makan. "Kau akan tahu saat waktunya tiba. Lanjutkan makanmu."
Lea berdecih sebal. "Kau membuatku penasaran. Menyebalkan."
Lalu keduanya pun lanjut makan sambil sesekali bercanda kecil.
****
Emilia menatap Marvel heran karena lelaki itu membawanya pergi entah ke mana. Dan sudah lima belas menit mereka masih diperjalanan. "Sebenarnya kita mau ke mana?"
Marvel menoleh sekilas. "Kau akan tahu nanti." Lalu ia melihat ke belakang di mana Noah berada. Anak itu tertidur begitu lelap.
Emilia pun ikut melihat kebelakang. "Ah, sepertinya dia lelah bermain."
Marvel tersenyum kecil. "Dia terlalu senang karena mainan baru."
"Hm. Kau dan Daddy terus memberinya mainan baru setiap hari. Bagaimana dia tidak senang?"
"Dia tidak akan pernah kekurangan kasih sayang. Semua orang mencintainya."
Emilia mengangguk. "Terima kasih." Ucapnya seraya menatap Marvel lekat.
Marvel menoleh. "Untuk?"
"Kau sudah menjadi Ayah yang baik untuk Noah."
Mendengar kata anak-anak pipi Emilia pun memanas. Alhasil ia pun cuma bisa tersenyum sambil menunduk malu.
Hingga beberapa menit kemudian mereka pun sampai di sebuah butik mewah. Emilia terlihat bingung karena Marvel membawanya ke tempat itu. Sampai matanya menangkap sebuah gaun pengantin yang cukup membuatnya takjub.
Ya Tuhan, apa wanita sepertiku bisa memakainya? Itu sangat indah. Batinnya.
"Kau suka yang itu?"
Emilia terhenyak dan langsung menoleh ke samping, di mana Marvel berdiri sambil menggendong Noah.
Emilia menggeleng pelan. "Sebenarnya buat apa kita ke sini? Siapa yang akan menikah?"
Marvel tidak menjawabnya. "Bawakan gaun yang itu, kami akan mencobanya." Pintanya pada salah satu staff di sana. Tentu saja Emilia kaget dibuatnya.
"Baik, Tuan."
Emilia menatap Marvel bingung. "Untuk apa?" Tanyanya lagi.
"Jangan banyak bertanya, ikut aku." Ajak Marvel beranjak dari sana menuju sebuah ruangan khusus. Emilia menghela napas berat lalu dengan terpaksa mengikuti jejak suaminya itu.
Saat memasuki ruangan itu, Emilia merasa takjub karena seluruh ruangan terbuat dari kaca. Bangunan tinggi itu benar-benar membuatnya terpesona.
Marvel menidurkan Noah di sofa, lalu menaruh bantal di sekelilingnya agar anak itu tidak jatuh.
"Mari saya bantu Nyonya mencoba gaunnya." Ajak salah seorang staff dengan ramah pada Emilia.
"Eh? Tapi...."
__ADS_1
"Tinggalkan kami di sini." Sanggah Marvel. Kedua staff tadi pun langsung undur diri.
Emilia menatap suaminya bingung. "Ada apa ini, Marvel?"
"Coba semuanya," sahut Marvel. Spontan Emilia langsung menatap ke arah deretan wedding gown yang ada di sana.
"Semuanya? Kau gila?"
"Jangan membantah, coba saja. Apa perlu aku yang melepas pakaianmu?"
Mendengar itu Emilia melotot. "Dasar kaku. Tidak perlu, aku bisa mencobanya sendiri. Buat apa kau usir mereka tadi? Mereka bisa membantuku. Kau hanya tahu memerintah saja." Dumelnya panjang lebar.
"Sejak kapan kau jadi cerewet? Apa karena aku terlalu memanjamu sampai kau seberani itu?"
Emilia mendengus sebal lalu kembali menatap deretan gaun itu dengan lesu. "Bagaimana caranya aku memakai semua itu? Mereka terlihat tidak cocok untukkku." Gumamnya sangat kecil.
Melihat istrinya yang masih berdiam diri, Marvel pun berinisiatif mengambil salah satu gaun lalu memberikannya pada Emilia. "Pakailah, jangan membuang waktuku."
Emilia mengangguk dan hendak pergi ke ruang ganti. Namun Marvel langsung menahannya. "Coba saja di sini."
Sontak Emilia kaget.
"Jangan berlebihan. Aku sudah melihat setiap inci tubuhmu." Marvel menurunkan resleting gaun sang istri dengan kasar.
"Apa kau bisa lembut sedikit?" Cicit Emilia.
"Jangan mengaturku." Sahut Marvel seraya melembutkan perlakuannya, meloloskan pakaian sang istri hingga teronggok di lantai.
Beberapa saat kemudian Emilia pun sudah mengenakan gaun mewah itu tentu saja atas bantuan Marvel. Lelaki itu menaikkan resleting gaunnya dengan lembut.
"Ah, Marvel. Aku rasa gaun ini kekecilan. Dadaku sakit." Keluh Emilia tidak berbohong. Marvel pun menurukan kembali restletingnya. Kemudian mereka pun mencoba yang lainnya. Namun semua gaun itu memang sedikit kekecilan untuk Emilia.
"Apa mereka semua bodoh? Aku sudah mengirim ukuranmu tapi masih membuat kesalahan." Umpat Marvel yang berhasil membuat Emilia kaget. tentu saja bukan soal kekesalan lelaki itu melaikan gaun itu ternyata memang dibuat khusus untuknya.
"Marvel, kau membuat gaun ini khusus untukku?" Cicit Emilia menatap suaminya penuh haru.
Marvel menghela napas. "Lupakan itu. Aku kesal karena mereka semua tidak becus."
Emilia tersenyum lalu menahan Marvel yang hendak menghubungi pemilik butik. Tentu saja Marvel dibuat heran olehnya. "Kenapa kau menghalangiku?" Semburnya dengan tatapan kesal.
Namun Emilia malah tersenyum lalu menarik tangan Marvel dan menempelkannya di perut. Sontak Marvel pun semakin dibuat bingung.
"Aku hamil, Marvel." Ungkap Emilia yang berhasil membuat tubuh Marvel membeku. "Aku tidak tahu kapan dia hadir, tapi akhir-akhir ini aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Pagi tadi aku mengeceknya, dan aku hamil. Noah akan punya adik."
Marvel masih membeku ditempatnya karena tak percaya soal kehamilan Emilia. Semuanya seperti mimpi. Melihat keterdiaman suaminya, senyuman Emilia pun memudar. Ia mengira Marvel tak senang mendengar kabar baik itu. Seketika ia menjadi gugup.
"Ma___Marvel, aku...."
Namun tanpa diduga Marvel malah memeluknya erat. Sontak Emilia kaget bercampur bingung. "Marvel?"
"Diamlah. Aku masih tidak percaya kau hamil, Em." Sembur Marvel. Mendengar itu Emilia tersenyum penuh haru.
"Kau tidak menolak anak ini?"
"Dasar bodoh, aku menantikan kehadirannya sejak lama." Lagi-lagi perkataan Marvel itu berhasil membuat Emilia bahagia.
"Selamat kau akan menjadi Ayah dua anak." Ucapnya seraya membalas pelukan Marvel.
Marvel mengecup kepala istrinya lembut. "Berhenti mengoceh, biarkan aku memelukmu." Emilia terkekeh lucu lalu mengeratkan pelukannya. Tanpa Emilia ketahui Marvel pun tersenyum bahagia saat ini.
__ADS_1