Istri Yang Dingin

Istri Yang Dingin
IYD 58


__ADS_3

Sabrina menautkan jemarinya sambil sesekali melirik lelaki berusia 60-an yang kini duduk di hadapannya. Sedangkan lelaki itu sejak tadi terus menatap putrinya. Menatap wajah lembam Sabrina yang agak memudar. Ya, lelaki itu tak lain adalah Hanz, Ayah kandungnya. Hanz datang beberapa menit yang lalu setelah kepergian Arez.


Benar, Arez lah yang menghubungi lelaki itu untuk datang ke apartemennya. Arez tahu istrinya sangat merindukan sang Ayah. Karena itu ia memberikan waktu panjang untuk mereka berdua dengan alasan pergi ke kantor.


"Bagaimana bisa kau mendapat luka di wajahmu, Sabrina? Dia menempatkanmu dalam bahaya bukan?" Tanya Hanz menatap putrinya penuh kecemasan.


Sabrina yang mendengar itu langsung menggeleng pelan.


"Jangan membohongiku, aku tahu terjadi sesutu padamu beberapa hari ini bukan? Aku mencarimu sampai ke rumah mertuamu, tapi kau tidak ada.


Sabrina terkejut mendengar itu. "Daddy mencariku?"


"Ya."


"Untuk apa?"


"Apa kau melihat Mommy dan Queen? Mungkin mereka datang ke sini."


Sabrina tersenyum getir. Aku pikir kau benar-benar mencariku, ternyata aku terlalu percaya diri. Hah, apa yang kau harapkan Sabrina?


"Ya, mereka memang menemuiku tempo lalu. Setelah itu aku tak bertemu mereka lagi."


"Apa yang mereka katakan padamu?" Tanya Hanz penuh selidik.


"Seharusnya Daddy tak perlu bertanya apa yang mereka katakan padaku. Mereka hanya tak senang melihatku bahagia." Jawab Sabrina yang tak sadar menumpahkan air matanya. Cepat-cepat ia menghapus buliran bening yang membasahi pipinya. Hanz yang melihat itu merasa bersalah.


"Sab...."


"Jika Daddy datang hanya untuk menanyakan masalah itu, sebaiknya Daddy tidak perlu menemuiku. Aku tak punya jawabannya." Sanggah Sabrina seraya menyentuh pelipisnya yang terasa nyeri.


"Maafkan aku, Sabrina. Aku...."


Belum selesai Hanz bicara. Sabrina lebih dulu bangun dari posisinya dan berlari ke arah dapur. Menumpahkan sesuatu yang bergejolak dalam perutnya.


Hoek.


Hanz terkejut mendengar putrinya muntah-muntah. Dengan keberanian penuh ia menyusul Sabrina ke dapur. Ia memijat tengkuk putrinya dengan lembut.


"Kau sakit?" Tanyanya.


"Menjauhlah, Dad. Ini menjijikan." Sahut Sabrina yang kemudian memuntahkan lagi sisa isi dalam perutnya. Sampai hanya cairan kental yang keluar. Ia merasakan pahit yang semakin menjalar di seluruh rongga mulutnya. Namun Hanz masih setia menemaninya.


"Kau hamil?" Tanya Hanz lagi. Kali ini Sabrina mengangguk pelan. Setelah merasa baikan, ia membasuh mulutnya.


Hanz tersenyum lebar saat mendengar kabar baik itu. "Aku akan menjadi seorang Kakek?"


Sabrina membalik tubuhnya menghadap sang Daddy. Dan ia kembali mengangguk.


"Duduklah dulu." Titah Hanz menarik kursi dan membiarkan putrinya duduk. Sabrina menopang kepalanya dengan kedua tangan karena merasakan pusing.


"Apa kau baik-baik saja? Kita ke rumah sakit, aku tak ingin terjadi sesuatu padamu." Panik Hanz saat melihat Sabrina begitu lemah.


"Tidak perlu, Dad. Aku baik-baik saja. Mungkin karena aku terlalu lelah." Jawab Sabrina menatap wajah Hanz dengan tatapan teduh. Tatapan yang begitu mirip dengan mendiang Ibunya.


"Jangan menatapku seperti itu, aku merasa bersalah pada Ibumu, Sabrina." Ucap Hanz dengan nada pilu.


"Mommy tidak akan meminta perasaan bersalahmu, Dad." Lirih Sabrina yang kemudian bangun dari posisinya. Melangkah pasti menuju ruang tamu. "Aku tidak tahu di mana istri dan anakmu. Jangan mencarinya ke sini."


Hanz pun mengekori kemana putrinya pergi. Sabrina duduk kembali di sofa. Menyandarkan kepalanya di sana karena rasa pusing itu tak kunjung hilang.

__ADS_1


"Aku datang bukan sekadar menanyakan keberadaan mereka. Aku merindukanmu, sweety."


Sabrina terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan langka dari mulut Daddynya. Wanita itu menegakkan tubuhnya sambil menatap lelaki yang amat ia cintai itu. Tubuhnya ikut menegang.


"I miss you, really really miss you." Imbuh Hanz menatap putrinya sendu.


"Dad?"


"I am so sorry, Sweety. I am so sorry." Air mata Hanz pun meluap begitu saja. Ia tak kuasa menahan rasa sakit dihatinya karena terlalu lama mengabaikan putri cantiknya itu.


Sabrina yang melihat itu bangkit dari sofa dan langsung berhambur dalam dekapan sang Daddy.


"I miss you to, Dad." Balasnya ikut menangis sesegukkan. Hanz memeluk putrinya dengan penuh kehangantan. Mengecup pucuk kepala putrinya untuk yang pertama kali.


"Daddy menyayangimu, Sabrina. I love you so much. Tapi Daddy bingung harus mengatakannya bagaimana? Maafkan aku, tidak ada maksud untuk membuangmu. Daddy hanya ingin menjauhkanmu dari kecaman mereka. Daddy tidak sanggup melihatmu terus mengalami penderitaan di saat Daddy tak bisa melindungimu. Karena itu Daddy mengirimmu ke Berlin." Jelas Hanz terus menghujani kecupan di kepala putrinya. Sabrina semakin mengeratkan pelukkannya kala mendengar itu. Ia tak pernah menyangka jika dugaanya selama ini benar, sang Daddy begitu mencintainya.


"Aku tahu, aku tahu Daddy menyayangiku. Buktinya Daddy selalu memberikan fasilitas mewah padaku. Aku tahu, Dad."


Hanz merasa lega mendengar itu. Ia mendorong bahu Sabrina perlahan. Kemudian membingkai wajah cantik itu dengan tangan kekarnya. Menghapus jejak air mata Sabrina dengan ibu jarinya. "Andai Ibumu masih hidup, aku akan bersujud untuk meminta maaf padanya. Juga berterima kasih karena sudah menghadirkan malaikat cantik sepertimu, Sayang."


Hanz mengecupi kening Sabrina dan kembali memeluknya. Menyalurkan rasa rindu yang tengah membuncah dalam hatinya.


"Tinggalah bersamaku, Dad. Walau hanya satu malam. Aku ingin merasakan memiliki seoarang Ayah sungguhan. Selama ini aku hanya melihatmu sekali dua kali." Pinta Sabrina penuh harap.


"Ya, aku akan menemanimu. Aku akan tinggal di sini beberapa hari."


Sabrina tertawa senang dalam tangisannya. Ia sungguh bahagia karena apa yang selama ini ia impikan menjadi kenyataan. Tinggal satu atap dengan sang Daddy adalah impiannya. Sejak kecil Sabrina selalu diasingkan di rumah kecil yang berada di halaman belakang mansion. Karena itu ia amat menginginkan momen itu. Momen di mana ia bisa bercanda ria dan menghabiskan waktu bersama dengan sang Daddy. Sejak dirinya lahir, hanya lelaki itu satu-satunya harta yang ia punya. Mendiang Ibunya juga seorang yatim piatu dan hidup sebatang kara. Karena itu ia tak memiliki tempat berteduh selain sang Daddy.


Thank you, God. Kau mengabulkan setiap doaku. Mom, lihatlah. Benar bukan perkataanku? Daddy mencintaiku, Mom. I am happy.


****


"Ya," sahut Arez singkat bahkan tanpa ekspresi.


"Dia lelaki posessif, Dad. Pergerakkanku terbatas setelah menikah dengannya. Aku rasa tak akan bisa keluar dari sini setelah dia tahu aku hamil, bahkan selama dua hari penuh dia mengurungku." Sabrina mengadu dengan senyuman yang mengembang.


"Dan kau sangat cerewet." Timpal Arez.


Hanz yang mendengar itu tersenyum lebar. "Aku harap kalian selalu diberikan kebahagiaan."


"Thank you, Dad. Love you." Ucap Sabrina dengan tulus.


"Love you to, Sweety. Lanjutkan makanmu. Buat dirimu gemuk supaya bayi dalam perutmu menjadi bayi gembul dan menggemaskan."


"Aku tidak mau gemuk, Dad. Aku takut suamiku akan mencari wanita lain saat istrinya di rumah gemuk dengan perut yang membuncit." Gurau Sabrina. Arez yang mendengar itu mendengus sebal.


"Jika dia melakukan itu, cari saja suami lain." Saran Hanz melirik menantunya. Arez yang mendengar itu melirik Hanz sekilas.


"Aku akan membunuh semua laki-laki di dunia ini," ketus Arez. Dan hal itu berhasil mengundang gelak tawa Sabrina dan Ayah mertuanya.


"Kau lihat, Dad. Dia sangat mecintaiku, benarkan Sayang?"


"Hm." Sahut Arez tak sepenuhnya berniat menjawab. Lebih tepatnya ia malu untuk berkata jujur soal perasaannya pada sang istri.


"Aku juga mencintaimu, Al. We love you, Daddy." Ucap Sabrina mengusap perutnya dengan gaya memutar. "Aku berharap dalam perutku ada banyak Alfarez junior. Jadi aku hanya perlu melahirkan sekali saja."


Arez memutar bola matanya malas mendengar ocehan istrinya. Sedangkan Hanz semakin tergelak mendengar kebawelan putrinya.


"Jika kau melahirkan banyak anak, bersiaplah untuk menangis saat mereka menangis secara bersamaan." Kata Hanz tersenyum geli.

__ADS_1


"Tenang saja, Dad. Aku akan meminta bantuan suamiku. Dia harus bertanggung jawab, jangan hanya ingin enaknya saja. Dia juga harus ikut andil merawat hasil kemesumannya." Ujar Sabrina menyindir suaminya. Lagi-lagi Hanz merasa terhibur dengan ocehan putrinya.


"Selesaikan makan kalian." Titah Arez dengan ekspresi datar.


"Huh, aku harap wajah datarmu itu cepat luntur, Al. Aku ingin melihatmu tersenyum dan tertawa seperti kebanyakan suami lainnya." Keluh Sabrina memasang wajah sendu.


"Jangan berharap hal yang tak mungkin terjadi, Sabrina. Habiskan makananmu." Perkataan Arez pun menutup pembicaraan mereka.


Setelah selesai makan, mereka pun beranjak menuju ruang keluarga. Sabrina menjadikan paha suaminya bantal karena dirinya sedang menonton serial televisi. Sedangkan Arez terlihat sibuk dengan iPadnya.


Dan Hanz sendiri baru selesai menelepon seseorang. Lelaki itu duduk di sofa tunggal. Kemudian menatap menantunya.


"Al." Panggilnya dan berhasil menarik perhatian Arez dan Sabrina.


"Ya?"


"Apa aku bisa meminta bantuanmu?"


Arez mengangkat sebelah alisnya.


"Apa kau bisa membantuku mencari keberadaan istri dan putriku? Mereka menghilang tanpa kabar. Sudah sekian kali aku menghubungi mereka tetapi tak ada jawaban." Ujar Hanz memberikan tatapan memohon pada Arez. Sedangkan yang diminta bantun malah terdiam.


Sabrina mendongak. Menatap Arez yang masih terdiam. Sampai ia mengingat sesuatu.


Kalian akan membayar mahal karena sudah berani menghina istri dan mendiang Ibunya. Besok, kalian akan mendapat hadiah sepesial dariku.


Sabrina bangun dari posisi tidurnya saat mengingat perkataan Arez untuk kedua wanita itu.


"Al, apa kau melakukan sesuatu pada mareka?" Tanya Sabrina dengan cepat.


"Apa maksudmu?" Tanya Hanz bingung.


"Ya, aku membuang mereka ke sebuah pulau tak berpenghuni." Jawab Arez sejujurnya.


"Apa?" Pekik Sabrina dan Hanz bersamaan.


"Mereka mengusik ketenanganku, mencoba menjebakku dengan trik murahan." Arez mendengus kesal saat mengingat kejadian di mana Ibu dan anak itu datang ke kantor dan menaruh obat perangsang dalam minuman Arez. Beruntung ia bukan lelaki sembrono dan mampu menahan diri.


"Menjebak seperti apa maksudmu?" Tanya Hanz penasaran.


"Mereka menaruh obat perangsang dalam kopiku. Setelah menghinaku, mereka masih berniat mencari keuntungan dariku. Aku tak akan memaafkan mereka dengan mudah. Beruntung aku hanya membuangnya ke pulau, bukan penangkaran macan."


Sabrina melotot saat mendengar penjelasan suaminya. "Jadi karena itu kau tak biasanya pulang di siang hari dan menerkamku habis-habisan?"


"Hm."


Hanz memijat batang hidungnya saat mendengar ulah anak dan istrinya itu. "Kalau begitu biarkan saja mereka di sana untuk beberapa saat, mereka harus mendapat pelajaran."


Arez dan Sabrina kaget mendengar itu. "Aku menyita semua aset berharga mereka, seperti ponsel, paspor, visa dan kartu identitas lainnya. Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Tanya Arez dengan alis terangkat sebelah.


"Ya."


"Jika itu keputusanmu maka aku tak akan melarang." Pungkas Arez.


"Bagaimana jika mereka mati?" Tanya Sabrina.


"Tinggal dikuburkan." Jawab Arez sekenannya.


"Al!"

__ADS_1


Arez tersenyum tipis sebelum beranjak menuju kamar. Sedangkan Sabrina dan Hanz melanjutkan menonton seolah melupakan dua wanita itu.


__ADS_2